JANGAN MUDAH BERBALIK DARI INJIL

JANGAN MUDAH BERBALIK DARI INJIL

Minggu IX Setelah Trinitatis
Tanggal 29 Juli 2018

1. Bernyanyi : BN.28,1+6 “Firman Tuhan Allah”
2. Doa Pembuka
3. Pembacaan Nas Alkitab : GALATIA 1,6-10
4. Pengantar :

Surat Galatia ditulis Paulus karena alasan tertentu. Tidak terlalu lama, sejak ia meninggalkan jemaat-jemaat di Galatia yang baru didirikannya itu, Paulus diberitahu bahwa jemaat-jemaat itu dikacaukan oleh pengajaran yang justru merupakan kebalikan dari Injil. Untuk mengerti sedikit perkembangan-perkembangan yang terjadi, kita harus ingat akan kenyataan bahwa Rasul Paulus mulai mengabarkan Injil pada masanya, dimana telah tumbuh tradisi-tradisi tertentu dalam golongan jemaat-jemaat Kristen. Tetapi Paulus tidak menyesuaikan diri kepada semua tradisi itu dan akibatnya bermunculannya hal-hal yang menggelisahkan gereja. Orang-orang Yudais (=Orang yang beranggapan bahwa Hukum Taurat masih berlaku bagi umat Kristen) ingin meyahudikan segala jemaat dan mereka juga memasuki jemaat yang didirikan Paulus. Maka Paulus menentang usaha mereka dengan sekuat tenaga. Surat Galatia ini dituliskan justru di tengah hangat-hangatnya pergumulan ini. Orang-orang Yudais itu mencoba meyakinkan orang-orang Galatia bahwa keselamatan harus dikerjakan dengan jalan menaati Hukum Taurat. Untuk memperkuat pengajarannya mereka berusaha menghasut orang-orang Galatia melawan Paulus, dengan jalan menggugat kerasulannya. Paulus tidak diteguhkan (bnd.1,1) oleh para Rasul, sedangkan ia tidak menjadi murid waktu Yesus masih hidup, bahkan Paulus barangkali tidak pernah melihat Yesus dengan mata kepala sendiri. Jadi rupa-rupanya kerasulan Paulus dapat diragukan dengan mudah, apalagi dengan pengajarannya berbeda dengan apa yang dikabarkan oleh rasul-rasul ‘biasa’. Dari isi surat Galatia ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa orang Kristen Yahudi itu hampir-hampir berhasil (1,6). Oleh karena itu reaksi Paulus adalah sangat penuh emosi, tegas dan terus terang, tetapi serentak juga mempunyai argumentasi yang kuat dan asasi.
Sebagaimana disebutkan di atas, Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Galatia karena ia mendengar ada guru-guru palsu yang menanamkan ajaran sesat atau ‘injil lain’ ke tengah-tengah jemaat. Mereka dengan sengaja menghasut jemaat agar menolak ajaran kebenaran yang disampaikan Paulus dan melawan dia dengan mempertanyakan status kerasulannya. Itulah sebabnya di awal suratnya rasul Paulus menegaskan bahwa dirinya adalah “…seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati,” (ayat 1). Disebut ‘injil lain’ karena ajaran yang disampaikan guru-guru palsu tersebut telah menyimpang dari esensi Injil sejati yang menegaskan bahwa manusia dibenarkan melalui iman kepada Yesus Kristus. “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus.” (Galatia 2:16). Sementara guru-guru palsu mengajarkan bahwa keselamatan dapat diperoleh bukan hanya melalui iman kepada Kristus saja, tapi perlu ditambahi dengan menaati hukum taurat, melakukan tradisi Yahudi dan juga merayakan hari-hari raya. Semua ajaran atau gagasan yang bersumber dari pikiran manusia, agama dan juga tradisi tidak bisa dicampuradukkan dengan isi Injil yang sejati. Jika hal itu dikompromikan sama artinya memutarbalikkan Injil Kristus. “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.” (Galatia 1:8-9).

Terkutuk berarti berada di bawah hukuman Allah atau akan dimurkai Allah. Karena hasutan guru-guru palsu, keyakinan jemaat di Galatia terhadap Injil Kristus menjadi goyah dan mereka pun melakukan tindakan kompromi. Terkadang kita sulit membedakan keaslian atau kepalsuan suatu pengajaran. Apa upaya kita untuk terhindar dari meyakini pengajaran yang salah? Paling tidak sudahkah kita secara pribadi tekun membaca sumber kebenaran, yaitu Alkitab? Kebiasaan untuk bergaul dengan Injil yang murni akan mempermudah kita mengenali yang tidak murni.

5. Diskusi :
1. Menurut cerita, ada kebiasaan unik di lingkungan bank untuk melatih pegawainya mengenali uang palsu. Selama     beberapa bulan mereka diminta untuk menghitung uang, yang tentunya asli, dalam jumlah banyak. Kemudian           setelahnya, diselipkan beberapa lembar uang palsu didalam tumpukan yang harus dihitung. Menarik sekali,               dengan mudah para pegawai ini mengenali uang palsu tersebut. Kebiasaan memegang uang asli menolong               mereka dengan cepat merasakan adanya uang palsu. Menurutmu apakah yang harus kita lakukan atau biasakan,     agar kita mampu membedakan Injil yang asli dan yang palsu?
2. Berdasarkan nas Alkitab saat ini dan keterangan bahas PA kita, bisakah kita menerangkan bagaimanakah yang       disebut Injil yang asli dan bagaimana pula injil yang palsu. Berikan pendapatmu.

6. Bernyanyi BN.184,1+3 “T’lah Kutemukan Dasar Kuat”
7. Doa syafaat
8. Bernyanyi BN.216,1-2 “Biar Gunung Batu Runtuh”
9. Doa Bapa Kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *