KALAU KITA HIDUP, KITA HIDUP BAGI TUHAN. KALAU KITA MATI, KITA MATI BAGI TUHAN”

KALAU KITA HIDUP, KITA HIDUP BAGI TUHAN. KALAU KITA MATI, KITA MATI BAGI TUHAN”

Minggu Reminiscere
Tanggal 17 Maret 2019

1. Bernyanyi : KJ.400:1+ 3 “ Kudaki jalan Mulia”
2. Doa Pembuka
3. Pembacaan Nas Alkitab : ROMA 14:7-8
4. Pengantar :

Sebagai orang Percaya (Kristen) sudah seharusnya hidup harmonis dengan orang lain. Namun dalam situasi kehidupan berjemaat di Roma, ada beberapa orang Kristen kritis terhadap sesama orang percaya karena makanan tertentu. Paulus mendesak mereka untuk tidak saling menghakimi pada isu-isu seperti itu. “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, “katanya, “tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan suka cita dalam Roh Kudus (ay.17). Namun mengapa Paulus tiba-tiba berbicara tentang hidup dan mati? Paulus mengambil hidup dan mati dalam ayat 7 dan 8 kemungkinan besar karena hidup dan mati ini adalah 2 hal yang paling berseberangan di dalam dunia, juga kekontrasan dari makan dan tidak makan. Hidup dan mati itu dialami oleh orang-orang Kristen dan bisa sama-sama untuk memuliakan Tuhan. Dalam Filipi, Paulus mengatakan bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Jikalau harus memilih, Paulus mengatakan lebih baik mati karena ketika mati kita akan bertemu dengan Kristus, menikmati Dia selamanya. Kematian ini seharusnya merupakan keuntungan bagi kita semua karena walaupun ketika kita mati kita harus meninggalkan semuanya tetapi kita mendapatkan Kristus dan hal ini jauh lebih baik. Paulus juga mengatakan hidup juga adalah Kristus itu sendiri. Ketika Tuhan masih memberikan kita hidup, itu artinya kita hidup memberi buah, menghasilkan buah, menyatakan Kristus, membawa orang-orang kembali kepada Kristus. Mengalami Kristus bukan hanya waktu mati, bertemu dengan Kristus, menerima Dia sebagai harta yang paling berharga. Tetapi juga sekarang ini ketika kita masih hidup di dalam dunia, Kristus juga menjadi harta yang begitu berharga dan mulia, mengalami Kristus dalam hidup ini sekarang juga.

Bagaimana bisa terjadi bahwa hidup dan mati untuk Tuhan? Dalam ayat ke 9, Paulus mengatakan: “Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.” Kristus mati di atas kayu salib menebus kita dengan harga yang tak ternilai, dengan darah-Nya yang dicurahkan bagi kita, menjadikan kita milik Dia. Melalui kematian Tuhan, kita bukan milik kita sendiri, tapi milik Kristus. Ini menjadi pondasi bagaimana kita bisa mengalami hidup itu adalah Kristus dan mati itu adalah keuntungan karena kita sudah ditebus oleh Kristus, kita adalah milik-Nya. Ketika kita menjadi milik-Nya, tidak ada apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Kuasa kebangkitan Kristus sudah mulai dialami oleh orang-orang yang di dalam Kristus, yang percaya dan beriman di dalam Dia, yang dipersatukan dengan kematian-Nya. Karena Kristus bangkit, hidup yang baru, hidup yang kekal itu sudah dimulai, meskipun belum sempurna. Kita masih akan mati di dalam dunia ini. Tetapi sekarang bagi anak-anak Tuhan, mati itu menjadi tidak menakutkan lagi. Mati itu tidak menjadi akhir dari hidup manusia. Bukan berarti mati itu menjadi sahabat kita karena mati itu adalah akibat dosa. Mati tetap menjadi kesedihan bagi kita dan kesedihan ini adalah sesuatu yang wajar dan bahkan respons yang tepat sesuai dengan prinsip firman Tuhan. Orang-orang Kristen boleh bersedih tetapi bukan kesedihan yang tanpa pengharapan. Kematian secara fisik adalah sarana, caranya Tuhan menyempurnakan hidup kita.

Dalam konfessi HKBP tahun 1996, kita semakin diberi pemahaman tentang kematian itu sendiri. Didalam konfessi tersebut dinyatakan bahwa kematian adalah akhir dari hidup manusia di dunia ini, dia berhenti dari segala pekerjaannya. Ada keselamatan bagi orang percaya. Yesus Kristus yang telah bangkit itulah membangkitkan orang dari kematian, Dialah Tuhan dari orang yang hidup dan yang mati, sehingga dengan ajaran ini gereja menekankan pengharapan keselamatan manusia dari antara orang yang mati di dalam Yesus Kristus. Karena itu baiklah kita hidup untuk Dia dan mati bagi Dia. Kita adalah milik Tuhan, biarlah hikmatNya dan kehendakNya itu menguasai seluruh kita. Biarlah setiap bagian dari hidup kita berjuang ke arah Dia, satu-satunya tujuan yang benar.

5. Diskusi:
1. Hidup kita adalah milik Tuhan. Kita sudah tidak “berhak” lagi atas hidup kita. Artinya adalah apapun yang kita             lakukan, apapun yang kita pikirkan, semua harus bagi kepentingan Tuhan dan kerajaanNya. Sudahkah itu                 menjadi sebuah kenyataan dalam kehidupan kita sebagai orang muda?
2. Dalam nas PA kita saat ini, selain hidup kita bagi Tuhan, dimintakan juga agar kita hidup dengan sesama.                 Menurutmu pendapatmu siapakah yang dimaksud dengan “sesama”mu?

6. Bernyanyi KJ.395,3+5 “ Betapa Indah Harinya”
7. Doa syafaat
8. Bernyanyi KJ.410,1+4 “Tenanglah Kini Hatiku”
9. Doa Bapa Kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *