MENYADARI KETIDAKLAYAKAN

MENYADARI KETIDAKLAYAKAN

Minggu VI Setelah Trinitatis
Tanggal 8 Juli 2018

1. Bernyanyi : BN.15,1+3 “Andai ‘Ku Punya Suara Indah”
2. Doa Pembuka
3. Pembacaan Nas Alkitab : 1TIMOTEUS 1,15-16
4. Pengantar :

Bagian firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa sesungguhnya rasul Paulus juga menyadari ketidaklayakannya. Dia menyadari bahwa dirinya adalah orang yang paling berdosa. Bahkan jika kita perhatikan kesadaran diri sebagai orang berdosa ini justru merupakan sebuah kesadaran yang didapatnya ketika ia semakin dalam melayani. Di dalam bagian surat-suratnya terdahulu, Paulus juga menyinggung tentang ketidaklayakannya sebagai orang berdosa, dan di sana ada suatu hal menarik, yaitu bahwa semakin jauh Paulus melayani, justru ia semakin menyadari ketidaklayakannya. Nas Alkitab dibawah ini semakin menguatkan kondisi tersebut: (1) 1 Korintus 15:9 “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul,…” (2) Efesus 3:8 “Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus,” (3) 1Timotius 1:15 “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.“ Dalam ketiga ayat tersebut Paulus menunjukkan ketidaklayakannya sebagai orang yang paling hina/berdosa,namun di sana juga terlihat suatu pola peningkatan kehinaannya yang semakin dalam. Paulus mengakui dirinya “…paling hina dari semua rasul…”, “…paling hina di antara segala orang kudus…”, “…di antara mereka (orang berdosa) akulah yang paling berdosa…”. Ungkapan-ungkapan ini merupakan ungkapan yang menunjukkan pengenalan diri Paulus terhadap dirinya sendiri. Menariknya, hal itu terjadi justru berjalan paralel dengan semakin lamanya ia melayani. Surat 1Korintus ditulis pada tahun 55/56M, Efesus ditulis pada tahun 62M, dan 1Timotius ditulis pada tahun 65M. Semakin lama Paulus melayani, semakin ia mengenal dirinya sebagai orang berdosa, dan semakin ia menyadari ketidaklayakannya.
Tentunya kesadaran akan ketidaklayakan itu membuatnya untuk rela dan bersedia mengalami kelelahan, dimasukka dalam penjara, menghadapi bahaya maut, disiksa dan mengalami berbagai penderitaan yang berat tanpa mengeluh (1Kor.11:23-27). Sebaliknya, jika seseorang menganggap pelayanan sebagai beban atau sebagai jasa kepada Allah, maka ia akan mudah mundur dan meninggalkan pelayanan saat menghadapi tantangan dan kesulitan. Satu hal yang harus kita renungkan bahwa kita akan menghargai pelayanan yang dipercayakan kepada kita hanya bila kita menyadari bahwa sebenarnya kita tidak layak menerima tugas pelayanan tersebut.
Dalam pengakuan Paulus, kuasa kasih Kristus itu yang sudah mengubah sikap hidupnya, jalan pikirannya, berubah sikap dari jahat menjadi yang baik, dari melawan, mengejar orang-orang Kristen, berubah menjadi pemberita Injil, dan membela Kristus (Kis. 9: 20-31). Melalui perubahan hidup Paulus, oleh karena kuasa firman Tuhan yang dia terima, dia dikuatkan, diselamatkan. Injil keselamatan yang diberitakan membuat orang banyak menerima Kristus di jemaat-jemaat di luar Yerusalem. Paulus yakin dalam iman percayanya kepada Kristus, oleh karena kuasa Roh Kudus, dia merasa berhutang dan terus menerus memberitakan Injil Kristus, karena Injil Kristus adalah kekuatan dan kuasa Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Melalui kuasa Kristus, Paulus dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil di luar orang-orang Jahudi yang selama ini belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus menjadi juruselamatnya. Paulus mengatakan, oleh karena kasih karunia Yesus Kristus dalam kehidupannya, dia tahan menderita, dihina, direndahkan orang-orang yang menganggap mengetahui pengetahuan tentang taurat Tuhan. Kasih Kristus yang hidup dalam hidup Paulus, itulah yang membuat dia mampu berbuat baik. Dia merasakan bagaimana kuat kuasa Allah itu yang sudah menyelamatkan dia dari kuasa dosa dan kematian.
Dalam kehidupan orang beriman kepada Kristus, hidupnya selalu berpusat kepada Kristus. Hidup dalam perkataan, firman-Nya, dan kuasa-Nya, dan hubungan dengan sesama. Kuasa yang ada di dunia ini hanya sementara, punya deadline, punya batas-batas waktu karena tidak ada yang kekal dalam hidup manusia. Kristuslah yang berkuasa dalam hidup orang yang beriman, perbuatannya adalah perbuatan Kristus, melalui hubungan baik, mengasihi, semuanya telah dikuasai, dihidupi oleh kuasa Kristus. Hidupnya bukannya hidupnya lagi, tapi Kristuslah yang hidup dalam pikiran dan perbuatannya. Sebelum kita mau dengan rendah hati, setia menerima melakukan kehendak Yesus, kita belum dapat menjadi saksi dan alat yang dipakai Tuhan untuk memuliakan nama-Nya. Tuhan menuntut kita hidup sesuai dengan kehendak-Nya, mau merubah sikap. Walaupun kita hidup di dunia ini, kita tidak serupa dengan dunia ini, tapi kita harus mau diubah dan diperbaharui oleh kuasa firman Tuhan.

5. Diskusi :
1. Ketaatan, kesetiaan dan Hidup Baru dari rasul Paulus ditandai kesadaran ketidaklayakan dihadapan Tuhan.             Jikalau pola seperti ini kita ikuti, menurutmu sudahkah saudara hidup dan berperilaku yang layak dihadapan             Tuhan? Jikalau belum layak, hal-hal apa sajakah yang menjadi penyebabnya.
2. Gnoti seaution (kenalilah dirimu sendiri atau Tanda dirim), adalah ungkapan yang layak untuk kita hidupi. Tetapi       mengapa pola hidup tidak mengenal diri masih terlihat dalam kehidupan kaum muda saat ini? Berikan                       pendapatmu.

6. Bernyanyi BN.686,1-2 “Kita Harus Membawa T’rang”
7. Doa syafaat
8. Bernyanyi BN.686,1+3 “”Ku Bercela Di DepanMu”
9. Doa Bapa Kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *