PANGGILAN UNTUK PERCAYA

PANGGILAN UNTUK PERCAYA

Minggu VIII Setelah Trinitatis
Tanggal 22 Juli 2018

1. Bernyanyi : BN.183,1+3 “T’lah ‘Ku Temukan”
2. Doa Pembuka
3. Pembacaan Nas Alkitab : YOHANES 12,48-50
4. Pengantar :

Yohanes adalah Injil terakhir yang ditulis, mungkin sekitar tahun 90. Pengarang Injil ini mungkin sudah mempelajari tulisan Matius, Markus dan Lukas, sehingga ia memilih untuk menulis Injil dari sudut yang berbeda. Lebih dari sekedar melaporkan peristiwa-peristiwa kehidupan dan pelayanan Yesus, Injil Yohanes mengutamakan arti teologis dari pelbagai peristiwa ini. Dalam Yohanes, Tuhan Yesus digambarkan sebagai Firman Allah yang kekal, yang ada sebelum dunia diciptakan (1,1), sebagai Anak Allah yang datang ke bumi dalam rupa manusia. Injil ini juga unik karena kitab ini menceritakan kepada kita mengapa kitab ini ditulis. Yohanes mengungkapkan “Semua yang tercantum disini telah dicatat supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya” (Yoh.20,31). Dengan jelas, Yohanes ingin berbuat lebih banyak lagi daripada sekedar memberikan kepada pembacanya fakta tentang Yesus. Tujuannya adalah untuk membawa kita mengenal Yesus sebagai Mesias yang dikirim oleh Allah untuk menerima tawaran pengampunan dosa dan karunia hidup kekal dariNya.
Yohanes mengakhiri kisah pelayanan Yesus kepada orang banyak dengan merangkum berbagai tema penting yang diuraikan dalam Yoh. pasal 2-11. Pentingnya kata-kata Yesus dalam rangkuman ini ditunjukkan oleh kata “berseru” (bhs. Yun. artinya “berseru dengan suara nyaring”) dalam ayat 44. Setiap kali kata ini digunakan dalam Injil Yohanes (lihat 1:15; 7:28, 37), yang hendak ditekankan adalah pentingnya berita yang akan disampaikan. Pertama, Yesus datang sebagai utusan Bapa untuk melaksanakan misi penyelamatan-Nya. Rangkuman ini dimulai dan diakhiri dengan menegaskan hubungan yang sangat erat antara Bapa dan Anak, yang diungkapkan dalam tiga aspek (ayat 44, 45, 49): barang siapa percaya kepada Yesus, percaya kepada Bapa; barang siapa melihat Yesus, melihat Bapa; barang siapa mendengarkan Yesus, mendengarkan Bapa. “Percaya,” “melihat,” dan “mendengarkan” di sini menggambarkan respons atau tindakan yang sama, yakni menerima Yesus, yang diutus oleh Bapa, dan menerima Bapa (bnd.Yoh. 10:30; 13:20; Mat. 10:40). Kedua, tujuan utama kedatangan Yesus sebagai terang adalah untuk melepaskan mereka yang berada dalam kegelapan (Yoh. 12:46); Ia datang untuk menyelamatkan dunia, bukan untuk menghakimi dunia (ayat 47). Ia datang untuk menyampaikan perintah Bapa karena perintah Bapa adalah hidup yang kekal (ayat 49, 50; bdk. Ul. 8:4). Di dalam perkataan Yesus terdapat hidup kekal (ayat 47-50). Orang yang menolak perkataan-Nya, menolak hidup kekal itu (Yoh. 12:48). Peringatan keras dari Yesus tentang penghakiman bagi mereka yang menolak bukan kata akhir. Pada akhir pelayanan Yesus, Yohanes sekali lagi mengingatkan dan menghimbau agar siapa pun yang mendengar perkataan Yesus, percaya kepada-Nya.
Seorang utusan biasanya tidak berbicara atas namanya sendiri, tetapi atas nama orang yang mengutusnya. Demikian juga Yesus, Ia datang ke dunia karena diutus Bapa-Nya. Yesus bersabda: “Bukan dari diri-Ku sendiri Aku berkata-kata, tetapi Bapa, yang mengutus aku. Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan aku sampaikan” (Yoh.12:49).
Barangsiapa percaya kepada Yesus, ia percaya kepada Bapa, dan barangsiapa melihat Yesus, ia melihat Bapa. Yesus datang sebagai utusan Bapa-Nya untuk membawa terang, supaya orang yang percaya kepada-Nya tidak hidup dalam kegelapan, melainkan memperoleh keselamatan dan kehidupan kekal.
Barnabas dan Saulus pun juga dipilih Allah menjadi utusan untuk memberitakan firman Allah. Semoga kita sebagai pengikut Kristus juga selalu siap sedia diutus untuk mewartakan sabda-Nya. Melalui hidup dan pekerjaan harian kita. Amin.

5. Diskusi :
1. Sebagai orang Percaya sudahkah kita dapat dikatakan sebagai utusan mewartakan firmanNya didalam                     kehidupan sehari-hari, jikalau belum, berikan beberapa alasan mengapa hal tersebut sulit terlaksana.
2. Ketika kita menyatakan pengakuan iman, Aku Percaya kepada Yesus Kristus, menurutmu apa yang harus kita           lakukan sebagai implementasi pengakuan iman tersebut?

6. Bernyanyi BN.190,1-2 “Sungguh Girang Hatiku”
7. Doa syafaat
8. Bernyanyi BN.192,1+5 “Tuhanku Yesus”
9. Doa Bapa Kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *