MENGGEMBALAKAN DENGAN SETIA

MENGGEMBALAKAN DENGAN SETIA

Minggu VI Setelah Trinitatis
Tanggal 28 Juli 2019

1. Bernyanyi : KJ.57:1-2 “Yesus, Lihat UmatMu”
2. Doa Pembuka
3. Pembacaan Nas Alkitab : 1PETRUS 5:2-4
4. Pengantar :

Sekitar tahun 65, agama Kristen telah berkembang begitu pesat sampai menjadi sebuah ancaman bagi kekaisaran Romawi. Orang percaya merasakan gelombang penganiayaan pertama terhadap iman mereka ini, yang menjadi lebih besar di kemudian hari. Surat Petrus yang pertama ini ditulis untuk menguatkan orang Kristen dalam masa-masa pencobaan ini. Surat ini ditulis oleh Rasul Petrus. Murid Yesus yang menjadi pemimpin gerakan awal Kristen di Yerusalem (Kisah 2:14-41). Petrus mendorong orang percaya yang menderita ini untuk mengikuti teladan Kristus. Penganiayaan dan kematianNya dan kebangkitanNya sesudah itu, memberi jaminan dan harapan untuk masa depan. Petrus sendiri mendapatkan mandat langsung dari Tuhan Yesus untuk menggembalakan domba-domba (jemaat-jemaat)Nya (Yoh 21:15-17). Oleh karena itu Petrus pun juga sangat kuat membagikan ajaran tentang penggembalaan ini kepada jemaat secara umum dan kepada para pelayan Tuhan secara khusus, terlebih para penatua yang memang memiliki peran sebagai gembala jemaat (ay. 1). Inti dari prinsip penggembalaan menurut Petrus adalah sebagai berikut:
Pertama, kita seharusnya menggembalakan dengan sukarela, tidak dengan paksa (ay. 2a). Pelayanan penggembalaan harus dilakukan dengan sukarela, karena mengerti akan kehendak Allah. Semua pelayanan memang seharusnya tidak dilakukan dengan rasa terpaksa, tetapi khusus terhadap pelayanan penggembalaan, dimana kita nantinya akan dipercayakan “domba-domba” untuk kita gembalakan, maka hal tersebut butuh kesadaran bahwa pelayanan tersebut tidak dapat dipaksakan. Ketika kita menggembalakan dengan rasa terpaksa, maka domba-domba kita akan merasakan dampaknya. Hal ini berbeda dengan pelayanan doa misalnya, dimana andaikan kita berdoa dengan terpaksa sekalipun, maka tidak akan ada dampak langsung terhadap orang lain. Kedua, kita seharusnya menggembalakan dengan pengabdian diri, tidak dengan motivasi mencari keuntungan. Seorang gembala adalah seorang pemimpin, namun berbeda dengan pemimpin dalam hal sekuler, seorang gembala adalah pemimpin rohani, yang justru harus banyak berkorban dan melayani domba-dombanya ketimbang dilayani oleh domba-dombanya. Itulah mengapa seorang gembala yang baik, justru akan banyak berkorban bagi domba-dombanya, misalnya dalam hal memberi perhatian, memberi pertolongan, memberi pinjaman, dan memberi waktu bagi domba-domba yang membutuhkannya. Berbeda dengan pemimpin dunia yang ketika menjadi pemimpin justru banyak mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, seorang gembala justru harus siap berkorban dan harus mencari keuntungan bagi domba-dombanya.
Ketiga, kita seharusnya menggembalakan dengan memberi teladan, bukan dengan memerintah (ay. 3). Gembala bukan jabatan politik seperti pemerintah. Gembala memang harus memimpin domba-dombanya, tetapi mandat untuk memimpin itu bukan diberikan dari domba-dombanya, melainkan diberikan dari Tuhan sendiri. Itulah sebabnya kita tidak dapat menerapkan secara mutlak seluruh prinsip-prinsip kepemimpinan dunia (entah di bidang pemerintahan maupun di swasta) ke dalam gereja, karena prinsip kepemimpinan dunia tidak 100% dapat diterapkan dalam prinsip penggembalaan. Kita seharusnya menggembalakan dengan menunjukkan teladan atau contoh, bukan memerintah dengan tangan besi (Mat 20:25-27). Ketika kita mau taat melakukan pelayanan penggembalaan tersebut, maka Tuhan pun yang adalah Gembala Agung kita, akan mengaruniakan upah dari pelayanan tersebut, yaitu mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu (ay. 4). Mahkota ini merupakan gambaran kekuasaan, dan karena Tuhan kita adalah Tuhan yang berkuasa atas seluruh alam semesta ini, maka ketika nanti Tuhan Yesus datang kembali untuk kedua kali, kita akan duduk bersama-sama dengan Tuhan Yesus dan memerintah bersamaNya (Why 20:6). Jadi, ketika saat ini Tuhan sedang mempercayakan pelayanan penggembalaan kepada kita, lakukanlah itu dengan setia, dengan senantiasa memandang kepada Tuhan, dan mahkota kemuliaan yang akan diberikanNya kepada kita, ketika kita setia mengerjakan pelayanan kita sampai pada kesudahannya (Why 2:10).

5. Diskusi:
1. Berdasarkan Nas Alkitab ini, sebutkanlah kembali syarat-syarat moral menjadi seorang Penatua!
2. Dari nilai-nilai Moralitas yang disebutkan di atas, nilai manakah yang seharusnya harus melekat dalam kaum             muda? Sebutkan!

6. Bernyanyi KJ.407,1+4 “Tuhan, Kau Gembala Kami”
7. Doa syafaat
8. Bernyanyi KJ.415,1-2 “Gembala Baik Bersuling Nan Merdu”
9. Doa Bapa Kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *