MENJALANKAN TUGAS DENGAN PENUH TANGGUNGJAWAB

MENJALANKAN TUGAS DENGAN PENUH TANGGUNGJAWAB

Minggu III Setelah Trinitatis
Tanggal 7 Juli 2019

1. Bernyanyi : KJ.407:1+4 “Tuhan, Kau Gembala Kami”
2. Doa Pembuka
3. Pembacaan Nas Alkitab : 1TIMOTEUS 1:18-20
4. Pengantar :

Seberapa jauh kita mau menjalankan tanggung jawab terhadap sesuatu yang dipercayakan kepada kita? Ketika tanggung jawab itu besar dan disertai imbalan yang besar pula, mungkin kita akan bertanggungjawab penuh tanpa masalah. Tapi bagaimana ketika itu sepertinya tidak menguntungkan bagi kita alias kita anggap tidak penting dengan imbalan yang kecil atau tidak ada sama sekali? Banyak orang akan mengerjakannya asal-asalan dan tidak lagi menganggap penting tanggung jawabnya. Satu keluarga pergi ke luar kota selama seminggu dan meminta seorang pemuda yang tinggal tidak jauh dari tempatnya untuk memeriksa rumah sekali-kali dan menyiram tanaman di depan rumahnya sekali dua hari. Ia menyanggupi bahkan memegang kunci rumah. Tapi ia sama sekali tidak pernah datang dalam seminggu itu. Tanaman pun kering, sebagian mati. Masih untung rumahnya aman-aman saja. Keluarga itu pun menggelengkan kepalanya dan berkata bahwa memang sulit mengharapkan tanggung jawab dari orang lain, meski sudah dikenal baik. Seorang Dosen tidak digaji dalam mengajar sampai berbulan-bulan. Ketika dosen-dosen lain menolak mengajar bahkan merencanakan untuk mogok bersama, Dosen tersebut memilih untuk terus mengajar normal. Mengapa? Karena menurutnya itu adalah tanggung jawab yang harus dilakukan. Dia merasa kasihan kepada siswa-siswa yang tidak bersalah jika harus menjadi korban dari sebuah sistem buruk di tempatnya mengajar. Mengapa harus mereka yang terkena? Bagaimana dengan masa depan mereka? Kepadanya sudah dipercayakan sejumlah siswa untuk diajar dan dibina, itu tanggung jawabnya, maka dia harus melakukannya dengan keseriusan yang sama apapun keadaannya. Selain untuk belajar menjaga dan melakukan tanggung jawab dengan baik, dia percaya Tuhan pun ingin kita melakukan seperti itu.

Melakukan tugas dengan penuh tanggungjawab inilah yang menjadi Penekanan dari Rasul Paulus kepada Timoteus. Siapakah Timotius? Dia adalah seorang Kristen yang masih muda di Asia Kecil, yang telah menjadi kawan dan pembantu dalam pekerjaan Paulus. Ayah Timotius seorang Yunani dan ibunya Yahudi. Dalam surat Paulus yang pertama kepada Timotius, dibentangkan tiga hal. Pertama-tama peringatan kepada Timotius terhadap ajaran-ajaran salah dalam jemaat. Ajaran-ajaran itu merupakan campuran faham Yahudi dan paham Yunani berdasarkan kepercayaan bahwa semesta alam sudah jahat, dan keselamatan hanya dapat diperoleh kalau orang mempunyai pengetahuan tentang rahasia tertentu, dan mentaati peraturan-peraturan seperti peraturan tidak boleh kawin, pantang makanan-makanan tertentu dan lain sebagainya. Kedua, petunjuk-petunjuk kepada Timotius mengenai pengurusan jemaat dan mengenai ibadat. Dijelaskan baginya sifat-sifat orang yang boleh menjadi penilik dan pembantu jemaat. Akhirnya Timotius diajar mengenai bagaimana ia dapat menjadi seorang hamba Yesus Kristus yang baik dan mengenai tanggungjawabnya terhadap setiap golongan orang yang menjadi anggota jemaat. Dalam Nas Alkitab saat ini Timotius harus melanjutkan tugas Paulus yaitu memberikan bimbingan spiritual kepada jemaat-jemaat. Ini adalah waktu untuk serah terima antara generasi perintis kepada generasi penerus. Mengapa dia harus melanjutkan tanggung jawab tersebut? Karena pesan Allah yang menurut Paulus telah disampaikan oleh nabi-nabi dalam jemaat. Pesan itu menjadi bekal baginya dalam perjuangan yang baik (Ay.18). dan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab tersebut dia harus berpegang pada kepercayaan yang benar dan dengan hati nurani yang suci (ay.19). Hal ini perlu ditekankan kepada Timotius sehubungan adanya Himeneus dan Aleksander yang telah dihukum oleh Paulus karena tidak menjalankan apa yang telah dipercayakan kepadanya (ay.20).

Sekarang, apa pesan Nas ini kepada kaum Muda? Sebagaimana Timoteus, Tuhan menghendaki kita untuk serius dalam melakukan segala hal, baik itu bekerja, belajar maupun melayani, apalagi jika menyangkut tanggung jawab yang dibebankan kepada kita. Dalam Alkitab kita sudah dipesankan seperti berikut: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Itu menyatakan bentuk kerinduan Tuhan agar anak-anakNya selalu bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh seperti ketika kita melakukan sesuatu untuk Tuhan. Dalam pelayanan pun sama. Ada banyak orang yang bersungut-sungut dan tidak serius jika hanya melayani sedikit orang, apalagi satu orang saja. Itu sesungguhnya bukanlah gambaran yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan. Bacalah Lukas 15, ada tiga perumpamaan disana yang sudah tidak asing lagi bagi kita mengenai hal ini. “Perumpamaan tentang domba yang hilang” (ay 4-7), “Perumpamaan tentang dirham yang hilang” (ay 8-10) dan “Perumpamaan tentang anak yang hilang” (ay 11-32). Semua ini menunjukkan kerinduan Tuhan untuk menemukan kembali anak-anakNya yang hilang tanpa memperhitungkan jumlah. Satu saja sudah bisa membuat Tuhan penuh dengan sukacita. Bahkan dikatakan: “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (ay 10). Satu jiwa bertobat, itu sudah merupakan kebahagiaan besar bagi Tuhan dan seisi Surga. Lakukanlah apapun yang dikehendaki Tuhan bagi kita secara serius dan sungguh-sungguh. Belajarlah mengemban tanggung jawab seperti cara pandang Kerajaan Allah. Mungkin kita tidak mendapat upah sepantasnya menurut ukuran dunia, tapi jangan lupa, bukankah Tuhan mampu memberkati kita lewat banyak hal? Mungkin apa yang kita terima tidak sebanding dengan jerih payah kita hari ini, tapi apakah tidak mungkin kelak kita akan menuai secara luar biasa? Atau tidakkah mungkin Tuhan menurunkan berkatNya lewat cara lain dan dalam kesempatan lain? “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1Korintus 15:58). Timotius tahu itu, dan dia sudah membuktikannya sendiri. Lewat keteladanan Yesus pun kita bisa belajar mengenai hal yang sama. Kerjakanlah semuanya dengan sebaik-baiknya. Always do your best, hold your responsibilities at the best you can. Tuhan akan memperhitungkan segalanya, dan percayalah, tidak akan ada yang jatuh sia-sia.

5. Diskusi :
1. Berdasar pada Nas PA saat ini, Apa Tugas dan Tanggung Jawab Timotius?
2. Bagaimana tanggung jawabmu sebagai pemuda terhadap Gerejamu?

6. Bernyanyi KJ.432,1-2 “Jika Padaku Ditanyakan”
7. Doa syafaat
8. Bernyanyi KJ.424,1-2 “Yesus Menginginkan Daku”
9. Doa Bapa Kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *