HKBP  Menyongsong Pelayanan Berbasis Digital Menghadapi Revolusi Industri 4.0

HKBP Menyongsong Pelayanan Berbasis Digital Menghadapi Revolusi Industri 4.0

1. Latar Belakang
Gereja dalam gerakan ekumenis sekarang berada dalam masa yang sangat menggairahkan karena teknologi informasi memudahkan komunikasi dan memperlancar pertukaran informasi gereja-gereja dari berbagai tempat.  Kita dengan mudah mengetahui masalah yang dihadapi oleh sebuah gereja dengan bantuan google search engine. Penggunaan multimedia di berbagai gereja membantu mengurangi efek green house yang memperparah     pemanasan global melalui pengurangan penggunaan kertas.
Namun, berbagai kemajuan datang dengan berbagai tantangan. Kita diajak untuk berpikir mengenai apa makna       perseku¬tuan, kehadiran, masalah etika, dan sejauh mana teknologi bisa kita gunakan? Kemajuan teknologi juga dimulai dengan perubahan paham dunia mengenai dirinya dan masuknya filsafat postmodern. Filsafat  postmodern bersama kemajuan teknologi mengantar kita dalam sebuah masa yang membuat kita mempertanyakan segalanya, yaitu masa pascakebenaran.
Perubahan adalah keniscayaan, sama seperti era Revolusi Industri 4.0 (I4) yang sedang berlangsung pada saat ini. Era I4 ditandai dengan berbagai disrupsi yang menggugat cara-cara bekerja yang dianggap normal serta kemajuan teknologi yang berpusat kepada sistem Artificial Intelligence, pengumpulan Big Data, perubahan fokus dari analog ke digital, kepemilikan aset intangible (jejaring, kekuatan sistem, dan potensi) daripada tangible (aset harta, tanah, bangunan), dan perubahan hard-labour menjadi operator.
Ciri utama dari I4 ada 4:
1) Kesempatan yang berkembang melalui data besar.
a) Kekuatan sebuah organisasi atau perusahaan bukan lagi di jumlah produksi yang mereka miliki, melainkan jaringan yang mereka punya.
b) Internet mengubah definisi mengenai waktu, jarak, dan teknik komunikasi manusia dengan mesin.
2) Terbukanya informasi
a) Informasi menjadi transparan, tidak ada lagi rahasia, yang pada akhirnya membawa pertanyaan soal privasi.
b) Data yang terbuka ternyata lebih banyak digunakan oleh pihak marketing, yang dengan efektif berhasil mempromosikan produknya kepada konsumen yang datanya tersimpan secara digital.
c) Algoritma otomatis yang diatur oleh AI dalam berbagai mesin pencari dan media sosial membuat keterpisahan antarkelompok berdasarkan minat.
3) Optimisasi produksi.
a) Koneksi membuat sebuah perusahaan bisa membuat sebuah produk tanpa perlu membuat semua komponen yang diperlukan untuk produk tersebut. Mode demikian menghasilkan metode outsourcing.
b) Logistik menjadi bisnis yang penting daripada produksi, karena semua orang bisa memproduksi. Proses penyimpanan dan penyaluran barang menjadi produk pada dirinya sendiri.
c) Sebuah industri kecil bahkan bisa membuat prototipe dari produknya tanpa perlu berkonsultasi dengan perusahaan besar dengan printer 3D, dan market bisa ditemukan melalui internet.
4) Proses pengambilan keputusan.
a) Pertemuan fisik tidak lagi diperlukan, karena “tatap muka” betul-betul hanya membutuhkan tatap muka via skype, facetime, whatsapp video call, atau google hangout.
b) Artificial Intelligence membantu manusia dalam proses pengambilan keputusan (autonomous car, autopilot, algoritma media sosial).
c) Keputusan tidak lagi sentral pada satu pihak melainkan pada beberapa aktor
Revolusi Industri 4.0 telah membawa beberapa peluang dan tantangan dalam kehidupan gereja. Beberapa hal yang mesti kita hadapi adalah perubahan pola pikir dan pemahaman mengenai penggunaan teknologi dalam gereja, dan pola dari generasi yang berubah.
Dalam menghadapi perubahan , ada beberapa pesan yang disebut oleh WCC dalam buku Virtual Christianity (2004) telah mencoba melihat berbagai tantangan yang akan muncul dalam zaman internet. Sikap yang harus dimiliki tiap gereja adalah menerima dengan pragmatis, praktis, juga berhati-hati karena perubahan adalah keniscayaan (Bazin & Cottin 2004, 4). Gereja juga diminta untuk bisa menemukan pesannya sendiri, dan memberikan warna ideologinya sehingga tidak tenggelam dalam pesan dunia maya yang penuh dengan ideologi komersial dan teknologi.
2. Perumusan Masalah
Beberapa isu yang menjadi pembahasan bisa dili¬hat dari berbagai pendekatan. Tantangan pertama adalah soal makna kehadiran. Tidak bisa kita pungkiri bahwa kehadiran secara fisik menghabiskan uang dan waktu. Biaya perjalanan dan efektivitas sebuah pertemuan bisa dipangkas dengan menggunakan teleconference. Di beberapa perguruan tinggi di Indonesia, ruang kelas virtual sudah mendapat pengakuan melalui proses akreditasi. Seseorang disebut hadir bukan karena kehadiran fisiknya, melainkan karena “presence” atau berada dalam ruang virtual dan engage dengan pembicaraan yang dilakukan di dalamnya. Pemahaman baru mengenai kehadiran menantang gereja untuk memberi fokus baru kepada arti kehadiran, komunitas, dan perseku¬tuan. Apakah komunitas dibentuk dari sekadar kehadiran, atau sebuah tagar (hashtag #) sudah cukup memperli-hatkan kesamaan ide? Lebih lanjut, dalam cara apa kita bisa membayangkan Allah hadir bersama kita? Beberapa gereja sekarang sedang bergumul mengenai makna kehadiran dalam pemberkatan nikah, ketika seorang pengantin justru berada di lokasi yang berbeda dengan pasangannya pada hari pernikahannya.
Persoalan soal komunitas virtual dan real menjadi tantangan terbesar di kemudian hari. Ketika seseorang merasa nyaman berada di balik komputernya dan masuk ke dalam forum atau kelompok-kelompok di internet, apakah dia sedang berada dalam komunitas? Apa makna komunitas? Dalam level gereja, komunitas juga menjadi semakin tersegmentasi. Orang akan mencari gereja yang sesuai dengan hatinya, dan dia akan pergi ke gereja yang hanya sesuai dengan keinginannya.
Kedua, bagaimana gereja bisa terlibat aktif dalam pekerjaan missio Dei melalui media? Setiap gereja sekarang memiliki media sosial dan juga website untuk menyebarkan kabar baik melalui internet. Apakah pekerjaan misi di masa depan adalah membuat orang percaya melalui internet? Misi membuat orang percaya akan sebuah pesan agama bisa kita lihat buktinya melalui gerakan radikalisasi yang terjadi melalui internet. Jika demikian, bagaimana gereja bisa memiliki misi dalam dunia digital? Proses komunikasi dapat terbantu melalui internet. Dalam sebuah studi oleh Gabel terhadap komunitas Yahudi di Israel (2006), dia menemukan bahwa baik grup keagamaan maupun sekular sama-sama menggunakan media menurut keperluan mereka. Grup religius cenderung melihat teknologi media sebagai sebuah alat yang harus digunakan dengan baik, daripada sebagai sebuah musuh yang jahat.
Pertanyaan lain yang muncul adalah soal privasi. Karena keterbukaan data, kita dengan mudah menemukan informasi mengenai orang yang ingin kita cari di Internet. Banyak pihak HRD perusahaan sudah menggunakan teknologi informasi untuk mencari tahu tentang orang yang melamar untuk bekerja di perusahaannya. Orang juga bisa dengan mudah mencari informasi mengenai gereja yang akan diikutinya melalui internet. Pada akhirnya, kita menjadi lebih khawatir mengenai privasi. Orang Asia dan Afrika memiliki tendensi untuk lebih membagi informasi mengenai dirinya dibandingkan orang Eropa Barat dan Amerika Serikat. Over-information juga menjadi ciri dari zaman sekarang, ketika orang tahu lebih banyak dari yang dia ingin tahu. Dalam gereja, kita juga bertanya soal privasi perkunjungan ke orang sakit, foto orang meninggal, pengumuman pasangan yang sedang konseling oleh pendeta di media sosialnya, berbagi gambar yang dinilai orang tidak pantas untuk dibagi, dsb. Privasi dan ruang publik menjadi agak sumir. Ketika seseorang berbagi informasi di media sosialnya, apakah dia sedang berbagi di ruang publik? Para pendeta juga terlihat gagap dalam menggunakan keterbukaan ini, sehingga sebuah pelatihan mengenai penggunaan media sosial perlu dilakukan oleh gereja.
Di sisi lain, public shaming dan public bullying semakin merajalela. Rakyat bisa dengan cepat mempermalukan atau membully seseorang yang dianggapnya melakukan perbuatan tercela. Anonimitas dan adanya jarak sebenarnya di media sosial membuat seseorang tidak berpikir lagi mengenai konsekuensi tindakannya kepada orang yang dihinanya. Tidak jarang para pendeta dan jemaat terlibat dalam perdebatan di dunia digital. Hal-hal di atas perlu dipikirkan untuk pertimbangan pelayanan ke depan.
Proses Diskusi
Focus Group Discussion mengenai teologi di zaman digital, untuk menyongsong pelayanan berbasis digital dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 dihadiri oleh 25 orang, yaitu:
Ketua Rapat Pendeta: (1) Pdt. Dr. Robinson Butarbutar
Unsur Praeses: Praeses HKBP Distrik VIII DKI Jakarta, (2) Pdt. Midian K.H. Sirait, M.Th., Praeses HKBP Distrik XIX Bekasi (3) Pdt. Banner Siburian, M.Th.
Unsur Pendeta Resort: (4) Pdt. Hardy Lumbantobing, S.Th., (5) Pdt. Sumihar Sinaga, D.Min., (6) Pdt. Wisno P.M. Sihombing, M.Th., (7) Pdt. Welman Tampubolon, S.Th., (8) Pdt. Romeo R.P. Sinaga, M.Th.
Unsur Pendeta Fungsional (Distrik dan Jemaat): (9) Pdt. Darwin Sibarani, S.Th., (10) Pdt. Dr. Frengki Napitupulu, (11) Pdt. Ruth Nababan, S.Si., (12) Pdt. Baharuddin Silaen, S.Th., (13) Pdt. Reinhard Lumbantobing, S.Th., (14) Pdt. Arthur M. Sitorus, MM.
Unsur Pendeta melayani di Lembaga HKBP: (15) Pdt. Dr. Hulman Sinaga, (16) Pdt. Herman Nainggolan, M.Th., (17) Pdt. Dr. Binsar J Pakpahan.
Unsur generasi millennial dan pelaku generasi digital: (18) Alfonso Hutagalung, M.Si., (19) dr. Retta Fayma Sihombing, (20) Ana Maria Aritonang, SH., (21) Gunawan Simatupang, M.Si., (22) Nathaniel Mangunsong, SH., LLM., (23) St. Ronny Tobing, ST., (24) Christofel Sirait., (25) St. Michael Simbolon.
Acara berlangsung dari pkl 8.30, dibuka dengan ibadah, sampai pkl 16.15 ditutup dengan ibadah penutup, dilangsungkan di Kantor HKBP Distrik VIII DKI Jakarta, Gedung Sopo Marpingkir lantai 6.
Dalam acara ini, ada penyajian materi dari dunia praktisi dan dunia teologi. Secara khusus, pokok masalah masa kini disajikan oleh generasi millennial yang juga adalah para pelaku dunia IT. Secara khusus, peserta juga diperlihatkan mengenai modal kuat HKBP dalam soal database yang sudah memiliki infrastruktur yang kuat. Peserta FGD juga mengapresiasi Balitbang HKBP yang sudah memiliki cara dan metodologi melakukan survey kepada lebih dari 1300 responden untuk memetakan apa pendapat warga HKBP ke depan.
FGD juga mencatat bahwa Lembaga-lembaga HKBP perlu lebih saling memahami dan melakukan kerjasama yang solid, sehingga bisa saling mendukung untuk pelayanan di era industri yang baik. Dengan beberapa temuan di atas, kami membahas:
Temuan Faktual
1. Bahwa kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan dan HKBP harus menyiapkan dirinya memasuki pelayanan yang lebih komprehensif dalam era digital.
2. Bahwa kekuatan dalam Revolusi Industri 4.0 bukan lagi di aset tangible yaitu harta bergerak dan tidak bergerak, namun justru dalam aset yang intangible dalam rupa network/jaringan dan data.
3. Bahwa dalam perkembangan zaman, kita perlu menggunakan teknologi informasi dalam mengembangkan pelayanan ke generasi millennial yang akan menjadi demografi utama dalam 5 tahun ke depan (bonus demografi).
4. Pelayanan yang dirindukan oleh kaum millennial adalah para pelayan gereja yang menghidupi khotbahnya, memberi personalized content, dan menjawab permasalahan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari (lebih aplikatif), sehingga khotbah yang diharapkan adalah khotbah yang problem-based contents. Kesibukan rutinitas para pendeta juga menjadi salah satu faktor kurangnya waktu untuk mempersiapkan khotbah yang bernas bagi para pelayan.
5. Pemuda sekarang juga menghadapi masalah dengan isu identitas, kompleksitas masalah di era teknologi, isu keluarga, revolusi industri dsb.
6. Bahwa HKBP sudah menyiapkan platform database yang berbasis atas beberapa konten: Admin, Keuangan, Biro Jemaat, Personalia, Pusat, Dana Pensiun, Balitbang, Calon Pelayan, Anggaran, dan Huria. Siklus database ini tidak boleh terputus dan harus digunakan sebagai big data.
Tantangan Pelayanan dan Para Pelayan
1. Bahwa para pelayan HKBP diminta untuk memperlengkapi diri dengan kemampuan penguasaan teknologi agar tidak ketinggalan dengan perkembangan zaman. Pelatihan bisa dilakukan dalam beberapa cara, LPP, kurikulum sekolah teologi, atau kerjasama dengan Kemenkominfo untuk memperlengkapi para pelayan HKBP.
2. Bahwa para pelayan HKBP diminta untuk memikirkan apa saja dasar dari doktrin dan dogma HKBP yang tidak boleh berubah, dan yang akan disesuaikan berdasarkan kebutuhan jemaat. Kita perlu sinkronisasi dokumen-dokumen teologis HKBP.
3. Bahwa para pendeta perlu memikirkan bagaimana cara penyampaian firman yang baik, dengan bantuan penggunaan teknologi, atau dengan melengkapi kurikulum dengan materi public speaking sehingga bisa menyampaikan pesan dengan cara yang lebih baik.
4. Bahwa pelayanan HKBP tidak bisa lagi diseragamkan, melainkan tiap daerah diberi kesempatan untuk melakukan pelayanan yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan daerah tersebut. Kita perlu memikirkan panduan bersama untuk melakukan pelayanan sehingga tidak terlalu jauh berbeda, dan masih memiliki inti doktrin yang sama.
Tantangan Teologis
1. Bahwa modifikasi dengan penggunaan teknologi bukanlah untuk mengubah keseluruhan HKBP melainkan menggunakan teknologi untuk memaksimalkan pelayanan ke depan.
2. Dalam beberapa dekade belakangan, kita perlu mendefinisikan ulang atau menemukan kembali makna perseku¬tuan dalam pemahaman teologi HKBP. Kita harus memiliki batasan dan definisi yang jelas mengenai perseku¬tuan.
3. Satu hal yang pasti tidak bisa dilaksanakan dalam perseku¬tuan online adalah pelayanan sakramen. Perseku¬tuan yang mewujud dalam bentuk daging (Yoh. 1:14) juga membuat Allah merasa perlu untuk hadir di tengah manusia dalam Kristus meski dia juga bisa bersama dengan kita dalam Roh. Kehadiran personal dan sentuhan fisik membedakan kunjungan Yesus ke tengah-tengah orang sakit, miskin, dan membutuhkan, dibandingkan perintah-Nya yang cukup menyembuhkan.
4. Apa posisi yang sakral dalam ibadah? Dalam era teknologi, batasan mengenai yang sakral dan profan menjadi hilang. Kita perlu memikirkan tantangan penggunaan e-bible, e-songbook, dsb.
5. Masalah individualisme juga meningkat karena teknologi sepertinya membuat orang jadi lebih sedikit berinteraksi dengan manusia di sekitarnya, sementara dia bercakap-cakap dengan manusia yang ada di tempat yang jauh. Kita perlu memikirkan teologi tentang manusia dalam HKBP dan bagaimana pola komunikasi di era baru ini menjadi peluang atau tantangan terhadap pemahaman kita mengenai manusia.
6. Gereja juga perlu menghadapi isu keterputusan emosional antarmanusia yang menyebabkan godaan kebohongan dan penyebaran informasi yang tidak benar yang semakin marak pada era ini.
Tantangan Praktis
1. Bahwa jemaat memerlukan keterbukaan komunikasi (dua arah), dan transparansi informasi yang tak terhindarkan lagi. HKBP ditantang untuk membuka pola komunikasi yang baik, mungkin dengan pengembangan pelayanan berbasis apps pada Android Store atau iStore.
2. HKBP perlu memikirkan tentang pencitraan apa yang akan ditampilkan ke luar, untuk jemaatnya, sehingga bisa memiliki fokus pelayanan yang baik.
3. Pembaruan konten yang baik yang akan dilakukan HKBP perlu juga mendapatkan audiens yang luas. Beberapa cara bisa dilakukan untuk menjadikan akun media sosial HKBP dengan cara menambah daya impact akun-akun HKBP dengan konten-konten positif.
4. Pelayanan digital yang perlu dikembangkan ke depan adalah:
a. Pelayanan digital yang membuat jemaat kembali bertanya kepada gereja dan bukan kepada google saja. HKBP perlu mempertimbangkan konten pastoral dalam pengembangan pelayanan digital, misalnya forum untuk konsultasi pastoral, atau menjawab isu-isu teologis.
b. Pengembangan pola pengumpulan dana dengan gaya baru yang lebih terbuka dan akuntabel secara online atau melalui aplikasi.
c. Melibatkan banyak orang untuk terlibat (pola crowdsourcing).
d. HKBP juga perlu menggunakan tim media yang baik dan tim IT yang solid.
5. Dalam memikirkan pelayanan digital, HKBP juga harus konsentrasi dan berinvenstasi dalam pengembangan konten-konten khas HKBP seperti Almanak, Konfesi, Aturan Peraturan, Juklak, Buku Ende, dsb.
6. Keamanan digital juga menjadi satu hal yang perlu diperhatikan dengan serius.
7. Penggunaan multimedia dapat membantu jemaat dalam beberapa hal misalnya less paper, menambah daya tarik khotbah, dsb.
8. HKBP tidak perlu takut menghadapi perubahan, namun perlu menyiapkan mediamorfosis dalam mengembangkan media-media yang dimilikinya dalam bentuk yang lebih baru. Meski demikian, media offline juga tetap diperlukan untuk menjangkau lebih jauh ke jemaat yang belum disentuh oleh teknologi online.
9. HKBP perlu menyiapkan kepemimpinan ke depan yang melek teknologi digital, yang mengantar gereja menuju masa depan yang lebih baik, terutama dalam masa transisi ini.

Model Pelayanan Digital yang Bisa Dikembangkan
No. Tujuan yang Ingin Dicapai Bentuk Pelayanan Pemilik Konten
1. Berbagi konten baik Website, dan Media Sosial: Whatsapp group, Twitter, Instagram, Facebook, Youtube Channel Pusat, Distrik, personal pendeta
2. Membangun relationship – komunikasi dua arah Media sosial:
Twitter, Instagram, Facebook Pusat, Distrik,
3. Mengajak kerja sama dari berbagai pihak (crowdsourcing) Pengembangan aplikasi Pusat
4. Pengajaran teologi melalui pengajaran online/website Sistem berbasis web dan aplikasi untuk pengajaran teologi Pusat, Komisi Teologi, Komite Gereja dan Masyarakat
5. Sistem informasi terpadu Sistem berbasis web dan pusat data Pusat
6. Sistem administrasi terpadu Sistem berbasis web dan pusat data Pusat dibantu distrik
7. Sistem marketplace Marketplace Pusat

Penutup
Demikianlah hasil Focus Group Discussion kami sarankan untuk disajikan ke Rapat Komisi Teologi dan nanti dijadikan sebagai salah satu pokok pembicaraan dalam Rapat Pendeta HKBP 2019.
Jakarta, 23 April 2019

Pdt. Dr. Robinson Butarbutar
Ketua Rapat Pendeta HKBP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *