Hidup di Jalan Tuhan

Hidup di Jalan Tuhan

MINGGU, 13 OKTOBER 2019

Horas, salam sejahtera. Mensyukuri kebaikan Tuhan mari menyambut persekutuan dalam firmanNya dari MAZMUR 25:8-15 “HIDUP DI JALAN TUHAN”

  1. Setiap orang pernah jatuh ke jalan yang tidak dikehendaki Tuhan, membuat Tuhan marah dan menghukumnya. Tetapi Tuhan itu panjang sabar dan penuh kasih setia sehingga Ia menganugerahkan pengampunan kepada siapa saja yang dengan kerendahan hati mau mengakui segala kesalahannya dan memohon pengampunan Tuhan.
  2. Dalam kasih setiaNya itu Tuhan membimbing kita agar berjalan di jalanNya, mengajar dengan hukumNya dan menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.
  3. Pengajaran Tuhan ini harus diwariskan kepada anak cucu kita agar mereka menjadi bahagian dari orang-orang yang berjalan di jalan Tuhan, bukan menjadi pemberontak dan penghianat seperti Absalom terhadap ayahnya Daud.

Berjalan di jalan Tuhan bersama dengan umat Tuhan yang hidup dengan rendah hati, mengenal segala kekurangan serta memohon tuntunan Tuhan menghadapi musuh-musuhNya.

Horas jala gabe. Praeses Pdt.Bernard Manik,MTh

Melayani Tuhan

Melayani Tuhan

SABTU, 12 OKTOBER 2019

Perkembangan saat ini, sesungguhnya kita harus memanfaatkan waktu yang ada untuk mengerjakan Amanat Agung dari Tuhan. Tuhan telah memanggil kita untuk menjadi rekan kerjaNya. Tugas kita adalah mewartakan Kristus kepada dunia ini melalui kehidupan kita. Kita harus meresponsnya dengan seluruh hidup kita sehingga kita dapat bertumbuh secara dewasa. Kita harus menambah jam-jam doa kita dan terus mempelajari firman Tuhan, sebab sebagai orang percaya kita harus mengerti dan memiliki dasar yang kuat akan firman supaya bisa melayani orang lain. Jangan pernah berkata, “Aku tidak mampu!” sebab setiap kita telah dipanggil Tuhan untuk melayani Tuhan kita diberi kemampuan.

“Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus”. (Kolose 1:28)

Selamat hari Sabtu. Selamat melayani Tuhan.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Allah Pembela Kita

Allah Pembela Kita

JUMAT, 11 OKTOBER 2019

Ketika kita menjadi korban ketidakadilan kepada siapakah kita datang meminta pertolongan? Pemazmur memilih meminta keadilan pada Tuhan. Ia memulai gugatannya atas orang-orang fasik yang menyerangnya dengan gugatan palsu. Ia meminta Tuhan membela perkaranya. Pemazmur menggugat karena mereka senang berbuat jahat dan menghancurkan orang lain yang tidak bersalah. Mereka juga membalas kebaikan dengan kejahatan, padahal pemazmur telah berlaku sangat baik terhadap mereka. Ini menyakitkan, bahkan seperti pengkhianatan bagi pemazmur. Mazmur ini bukan ratapan orang yang dirundung kepedihan dan putus asa, sebaliknya pemazmur sangat yakin bahwa ia dapat mengandalkan keadilan Tuhan. Tuhan menjadi Pembelanya. Pemazmur percaya ia akan memenangkan perkaranya dan para musuh akan terbukti kesalahannya. Demikian kita, ketika hal yang sama kita jalani, mari mengandalkan Keadilan Tuhan.

“Segala tulangku berkata: “Ya, TUHAN, siapakah yang seperti Engkau, yang melepaskan orang sengsara dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya, orang sengsara dan miskin dari tangan orang yang merampasi dia?” (Mazmur 35:10)

Selamat hari Jumat. Mari Mengandalkan Keadilan Tuhan.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Kita adalah AnakNya walau kita dihajar

Kita adalah AnakNya walau kita dihajar

KAMIS, 10 OKTOBER 2019

Satu hal yang patut kita mengerti, jikalau kita menghadapi beragam peristiwa yang menambah beban hidup kita dan kita merasa bahwa ini adalah bentuk ‘hukuman’ Tuhan atas kesalahan kita, kita harus memahami bahwa Dia bukanlah algojo yang siap megeksekusi orang bersalah. Ia adalah Bapa yang penuh kasih dan siap mengampuni. Namun oleh karena kasihNya, Ia siap memukul agar kita bertobat dan kembali kepadaNya. Pertanyaannya sekarang, apa yang harus kita lakukan tatkala Tuhan memukul kita? Seharusnyalah kita bersyukur jika Tuhan sampai memukul kita sebab kendati sakit, itu adalah untuk menyelamatkan kita dari malapetaka yang lebih besar. Itu sebabnya Firman Tuhan menyuruh kita berbahagia atau merasa diberkati sebab memang, hanya orang yang diberkati yang akan menerima pukulan Tuhan. Pukulan Tuhan seyogianya mengingatkan kita akan siapakah kita sesungguhnya yaitu anak-anak Allah, “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak” (Ibrani 12:6). Hanya anaklah yang menerima pukulan Tuhan dan tujuannya adalah agar kita tetap menjadi anakNya.

“TUHAN telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut.” (Mazmur 118:18)

Selamat hari Kamis. Tuhan mengasihi kita, walau kita dihajarNya.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Tempat Perteduhan

Tempat Perteduhan

RABU, 9 OKTOBER 2019

Kehidupan kita di dunia ibarat pejalan kaki yang menyusuri jalan-jalan kehidupan. Perjalanan tersebut tentu tidak selalu tanpa hambatan. Badai kehidupan berupa sakit penyakit, krisis finansial, serta permasalahan lainnya bisa tiba-tiba datang menyerang. Itulah sebabnya, kita memerlukan tempat perteduhan. Tentu tidak sembarang tempat dapat dijadikan sebagai tempat perteduhan. Pada waktu hendak berteduh, pasti kita tidak memilih tempat dengan atap bocor atau mudah roboh melainkan tempat dengan atap cukup lebar dan kuat. Bagi kehidupan kita, satu-satunya tempat perteduhan yang kuat dan tepat adalah Tuhan.Di dalam tempat perteduhan kita masih mendengar bunyi guruh, melihat petir dan hujan, tetapi semua itu tidak mengenai kita. Demikian juga selama kita hidup di dunia ini, kita tetap akan diperhadapkan pada berbagai ancaman kehidupan. Bedanya, ketika kita menjadikan Tuhan sebagai tempat perteduhan, kita tidak lagi merasa takut sebab semua itu tidak akan menimpa kita. Perlindungan Tuhan itu kuat bagaikan perisai dan pagar tembok. Akan ada rasa aman bagi setiap orang yang berada dalam naungan Tuhan sebab badai kehidupan tidak dapat menerobos masuk ke dalamnya.

“Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu ” (Mazmur 91:9)
Selamat hari Rabu. Perteduhan kita adalah Tuhan
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Melihat Kebaikan orang-orang Pilihan

Melihat Kebaikan orang-orang Pilihan

SELASA, 8 OKTOBER 2019

Pernahkah jasa atau perbuatan baik kita dilupakan oleh seseorang? Dahulu ketika keadaan masih sulit, kita diminta menjadi penolong, tetapi ketika keadaan menjadi baik, nasihat kita diabaikan. Ketika mengalami hal seperti itu, mungkin kita menyesali pertolongan yang dulu kita berikan. Allah juga pernah dilupakan oleh umatNya. Pemazmur dengan gamblang mencatat betapa mudahnya Israel melupakan Allah mereka. Kondisi yang miris karena Allah sudah menunjukkan kemurahan hati dan kuasa-Nya kepada bangsa Israel. Padahal, jika bukan karena campur tangan Allah, mustahil bangsa Israel dapat mengalami kondisi yang baik setelah menderita akibat perbudakan di Mesir. Ketika Allah dilupakan, apalagi dengan sengaja, sebenarnya kehidupan umat Allah ada dalam bahaya besar. Bukankah semua yang terjadi dalam hidup kita adalah karena kemurahan dan kebaikan-Nya? Masakan kita tega melupakan Allah, yang sudah begitu baik dalam hidup kita? Mari kita memperbaharui komitmen di hadapannya. Orang lain boleh melupakan Allah, tetapi jangan sampai kita melupakannya. Mari melihat kebaikan yang sudah kita terima dari Tuhan

“Supaya aku melihat kebaikan pada orang-orang pilihan-Mu, supaya aku bersukacita dalam sukacita umat-Mu, dan supaya aku bermegah bersama-sama milik-Mu sendiri. ” (Mazmur 106:5)

Selamat hari Selasa. Selamat melihat kebaikan.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Bersyukur Selamalamanya

Bersyukur Selamalamanya

SENIN, 7 OKTOBER 2019

Dalam kehidupan kita, sudah seharusnya kita menunjukkan dan mempertahankan sikap hidup bersyukur. Tokoh hari ini, Daud menunjukkannya dengan pernyataan : “Aku hendak bersyukur kepadaMu, Tuhan, ….untuk selamalamanya”. Ia mengingat-ingat perbuatan Tuhan yang besar dalam pengalaman hidupnya. Daud mengakui bahwa semua yang dicapainya adalah karena pemberian Tuhan semata-mata. Karenanya, jangan pernah melupakan perbuatan-perbuatan Tuhan kepada kita, jangan mengambil pujian bagi diri kita sendiri yang seharusnya ditujukan untuk Tuhan, jangan meninggikan, atau membanggakan diri sendiri atas hal-hal yang dibuat Tuhan, sehingga Tuhan tidak dimuliakan dalam kehidupan kita. Jadikan Tuhan pusat dari kehidupan kita. Kita harus selalu bersandar dan bersyukur kepada Tuhan supaya Tuhan selalu dipermuliakan dalam kehidupan kita. Amin.

“Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya ” (Mazmur 86:12)

Selamat hari Senin. Ucapan syukur 158 tahun HKBP!
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Rasa Takjub

Rasa Takjub

SABTU, 5 OKTOBER 2019

Pernahkah anda mengalami pengalaman rohani, yang sederhana sekalipun? Apakah kita pernah merasakan bagaimana Tuhan menopang hidup kita dan keluarga kita? Bukalah mata dan hati kita, karena Ia selalu hadir bahkan sebelum kita mengenal Dia lebih mendalam. Tuhan Yesus akan datang dengan sukacita ke dalam hidup kita dan kelurga kita kalau kita mau terbuka dan membuka pintu hati untuk kehadiranNya. Sama seperti Simon dan orang banyak dalam nas ini, merasa takjub dimana belas kasihan Tuhan Yesus begitu nyata atas ibu mertuanya yang disembuhkanNya. Peristiwa ini mengarahkan Simon (dan kita tentunya) untuk berelasi lebih dekat dengan Tuhan Yesus. Dia begitu merasakan bagaimana Tuhan menopang hidupnya. Dari pengalaman rohani menuju relasi yang dekat kepada Tuhan.

“Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” (Lukas 4:36)

Selamat hari Sabtu. Selamat berelasi dengan Tuhan, kita akan takjub.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Tetap dalam Kemurahan Tuhan

Tetap dalam Kemurahan Tuhan

JUMAT, 4 OKTOBER 2019

Begitu banyak orang yang tidak mengerti pentingnya hidup dengan rasa takut akan Tuhan. Ada orang yang terlihat religius, setidaknya mereka ke gereja setiap minggu. Ada pula yang mengaku percaya akan Tuhan tetapi sehari-harinya memberikan Tuhan waktu yang terlalu sedikit. Walaupun mereka mengaku percaya, tetapi mereka hidup selayaknya orang-orang yang tidak percaya. Itu sebabnya Alkitab penuh dengan peringatan untuk takut akan Tuhan. Seringkali kita lupa akan Tuhan, mudah bagi kita untuk terfokus pada pemikiran kita sendiri dalam kehidupan dan menjadi lupa akan tujuan utama Tuhan memberikan kita kehidupan. Dia menginginkan kesetiaan kita, kasih kita, kebersekutuan kita dan puji-pujian kita. Sesungguhnya, tujuan kita yang terutama adalah untuk mempererat hubungan kita dengan Tuhan. Dengan rasa takut akan Tuhan dan berpegang pada perintah-perintahNya, kita akan berada dalam kemurahanNya.

“Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga.” (Roma 11:22)

Selamat hari Jumat. Mari tetap dalam kemurahanNya.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Berserah ke tangan kasihNya

Berserah ke tangan kasihNya

KAMIS, 3 OKTOBER 2019

Dalam perjalanan kehidupan, kita pasti pernah merasakan kepedihan. Salah satunya rasa pedih karena kematian orang yang kita sayangi dan kasihi. Rasa pedih itu terkadang muncul tanpa diundang. Hanya mendengar lagu saja bisa mengingatkan kita kepada mereka. Ketika Koes Plus menyanyikan lagu, “Ayah, betapa kuagungkan, betapa kuharapkan. Ayah, betapa kau berpesan, betapa kau doakan…” jujur saja, saya ingat bapakku, ingat pesannya, ingat keluh kesahnya, ingat perjuangannya. Ketika lagu karya Dakka Hutagalung terdengar: “haholongi inangmi uju dingoluna, tagan dibagasan lao, tu na patarushon ho, MUDARNA DO NGOLUM, MOLO MATE I ANNON, so marlaba sumolso”. Mata yang semula berkaca-kaca naik levelnya jadi tetesan air mata. Sentimentil memang, tapi itulah realitanya. Terkadang rasa kepedihan bisa kita sikapi dengan mengalihkan perhatian, namun ternyata cepat atau lambat kita akan sadar bahwa segala upaya untuk menghindari kepedihan justru membuat kita semakin menderita. Sebaliknya, kita dapat berpaling kepada Allah, dengan mempercayai bahwa hidup yang sudah Dia berikan itu, meski ada kepedihan, tetap baik dan indah, meski kita tidak mengerti sepenuhnya. Kita bisa berserah kepada tangan kasihNya yang dengan lembut menopang kita di dalam kedukaan dan memberi kita damai serta sukacita yang tak bisa direnggut oleh maut sekalipun.

“Sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.” (Mazmur 16:10)

Selamat hari Kamis. Obati kepedihan dengan berserah ke tangan kasihNya.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)