Berserah ke tangan kasihNya

Berserah ke tangan kasihNya

KAMIS, 3 OKTOBER 2019

Dalam perjalanan kehidupan, kita pasti pernah merasakan kepedihan. Salah satunya rasa pedih karena kematian orang yang kita sayangi dan kasihi. Rasa pedih itu terkadang muncul tanpa diundang. Hanya mendengar lagu saja bisa mengingatkan kita kepada mereka. Ketika Koes Plus menyanyikan lagu, “Ayah, betapa kuagungkan, betapa kuharapkan. Ayah, betapa kau berpesan, betapa kau doakan…” jujur saja, saya ingat bapakku, ingat pesannya, ingat keluh kesahnya, ingat perjuangannya. Ketika lagu karya Dakka Hutagalung terdengar: “haholongi inangmi uju dingoluna, tagan dibagasan lao, tu na patarushon ho, MUDARNA DO NGOLUM, MOLO MATE I ANNON, so marlaba sumolso”. Mata yang semula berkaca-kaca naik levelnya jadi tetesan air mata. Sentimentil memang, tapi itulah realitanya. Terkadang rasa kepedihan bisa kita sikapi dengan mengalihkan perhatian, namun ternyata cepat atau lambat kita akan sadar bahwa segala upaya untuk menghindari kepedihan justru membuat kita semakin menderita. Sebaliknya, kita dapat berpaling kepada Allah, dengan mempercayai bahwa hidup yang sudah Dia berikan itu, meski ada kepedihan, tetap baik dan indah, meski kita tidak mengerti sepenuhnya. Kita bisa berserah kepada tangan kasihNya yang dengan lembut menopang kita di dalam kedukaan dan memberi kita damai serta sukacita yang tak bisa direnggut oleh maut sekalipun.

“Sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.” (Mazmur 16:10)

Selamat hari Kamis. Obati kepedihan dengan berserah ke tangan kasihNya.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *