Hidup Mengandalkan Iman

Hidup Mengandalkan Iman

SENIN, 30 DESEMBER 2019

Pada 18 Juni 1815, tentara Prancis yang dipimpin Napoleon Bonaparte ditaklukkan oleh kekuatan sekutu yang dipimpin oleh Duke of Wellington. Peristiwa ini kemudian diperingati setiap tahun pada tanggal 18 Juni di Belgia dan disebut Momen Waterloo. Sejak saat ini, ungkapan “mengalami momen Waterloo” mempunyai arti “dikalahkan oleh seseorang yang lebih kuat atau ditumbangkan oleh masalah yang terlalu sulit”. Demikan juga dengan kehidupan rohani kita. Ada orang-orang yang merasa bahwa kegagalan total tidak mungkin dihindari dan setiap orang, cepat atau lambat, pasti akan “mengalami momen Waterloo”. Namun Yohanes menolak pandangan pesimis itu ketika ia menulis kepada para pengikut Yesus: “Semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita”. Yohanes menjalin tema kemenangan rohani itu di sepanjang suratnya yang pertama, di mana ia mendorong kita untuk tidak mengasihi segala sesuatu yang ada di dunia ini dan yang akan segera lenyap. Sebaliknya, kita harus mengasihi dan melakukan kehendak Allah, “dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal”. Meskipun adakalanya kita mengalami pasang-surut dalam hidup ini, bahkan mungkin sesekali tumbang dan kalah, yakinlah bahwa kemenangan mutlak akan kita raih dalam Kristus ketika kita mengandalkan kuasaNya.

“sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (1Yohanes 5:4)

Selamat hari Senin. Mari Mengandalkan kuasaNya agar kita menang.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Merendahkan Diri

Merendahkan Diri

SABTU, 28 DESEMBER 2019

Tahukah anda apa yang dimaksud dengan merendahkan diri? Sudahkah itu menjadi bagian dari hidup kita?
Kata “merendahkan diri” dalam bahasa Yunaninya berarti membuat menjadi rendah, menjadi kecil, menjadi lemah. Ini berbeda dengan sifat alamiah manusia pada umumnya yang pada dasarnya memiliki kebanggaan atau kedigdayaan pribadi yang enggan untuk diremehkan atau dikecilkan oleh siapapun begitu saja. Namun sesungguhnya prinsip Kerajaan Sorga tentang kerendahan diri jelas berbeda dengan prinsip “kerajaan” manusia. Tuhan memiliki banyak cara dalam merendahkan kita, termasuk menggunakan orang lain yang berada di sekitar kita. Ia juga bisa menggunakan problema dan masalah untuk tujuan yang sama. Meskipun Tuhan tentu saja tidak dengan sengaja memberikan malapetaka kepada kita, namun Ia dapat menggunakan sesuatu yang terjadi untuk kebaikan kita (Rom.8:28). Aniaya yang dialami gereja sejak zaman dahulu juga digunakan Tuhan untuk merendahkan diri umatNya. Orang-orang yang mengalaminya bisa saja menjadi frustrasi saat menghadapinya, namun daripada mengeluh, Tuhan mau kita memilih untuk merendahkan hati kita kepadaNya, dan tunduk kepada keilahian-Nya. Masalah umat Tuhan terbesar adalah seringkali tidak mau tunduk kepada kedaulatan Tuhan, karena terbiasa hidup dalam kebenaran dan cara sendiri yang dianggap lebih baik dari siapapun. Merendahkan diri adalah percaya bahwa Tuhan yang memegang kendali, dan mengerti bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa seijin Tuhan. Dan ketika Dia ijinkan, maka percayalah bahwa Tuhan punya tujuan untuk kebaikan kita.

“Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” (1Petrus 5:6)

Selamat hari Sabtu. Mari Merendahkan Diri.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Menaburkan Damai

Menaburkan Damai

JUMAT, 27 DESEMBER 2019

Seorang berhikmat pastilah menghasilkan kehidupan yang baik; salah satu dari kualitas hidup yang baik tersebut adalah membawa damai. Sekarang Yakobus mengajarkan bahwa mereka yang membawa damai dan menaburkan/mengajarkan hikmat akan menghasilkan buah kebenaran. Yakobus sepertinya ingin menekankan bahwa suasana damai menjadi syarat utama supaya hikmat itu berhasil mengubahkan seseorang. Apakah yang dimaksudkan dengan suasana damai disini? dalam Alkitab istilah “damai” biasanya terkait dengan dua hal yakni “beresnya hubungan sesama manusia” dan “kondisi hati yang tenang.” Jika melihat konteks pembahasan Yakobus yang berbicara mengenai bahaya perkataan, juga mengenai bahaya iri hati, mementingkan diri sendiri (ay. 16-17), maka Yakobus sepertinya menggunakan istilah “damai” untuk membicarakan mengenai kondisi hubungan yang dibangun secara sehat tanpa perselisihan dan pertengkaran. Dengan demikian, Yakobus melihat bahwa hikmat yang diajarkan akan efektif jika disampaikan tanpa pertengkaran/perdebatan. Karenanya kita perlu menyampaikan hikmat Tuhan dengan cara yang benar dan dalam situasi yang tepat (damai).

“Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.” (Yakobus 3:18)

Selamat hari Jumat. Mari Menaburkan Damai
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Mari Bersoraksorai

Mari Bersoraksorai

SENIN, 23 DESEMBER 2019

Bersorak-sorak adalah ungkapan rasa bahagia dan syukur atas sesuatu peristiwa atau sesuatu yang kita dapatkan. Kedatangan raja kepada kita adalah sukacita besar, sebab sorang raja mau menjumpai kita. Apalagi yang datang itu adalah Raja Kekal yang adil dan jaya. Tuhan Yesus datang sebagai raja Israel. Bagaikan seorang raja yang begitu mencintai rakyatnya sampai ia rela mengorbankan dirinya sendiri agar rakyatnya beroleh keselamatan. Sudah pasti rakyatnya akan menaati sang raja dengan kecintaan. Kita, dahulu pelanggar-pelanggar hukum Allah, yang seharusnya mati tetapi telah beroleh keselamatan karena pengorbanan Tuhan Yesus. Ketika kita masih berdosa, Tuhan Yesus mati bagi kita. Dia yang tidak berdosa rela dijadikan dosa untuk menerima hukuman kita dan sebaliknya kita dijadikan benar oleh karena kesalehan- Nya. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Rm. 5:8). Allah membuat Yesus yang tidak berdosa menjadi dosa karena kita, supaya kita dibenarkan oleh Allah (2Kor. 5:21). Marilah kita taat kepada Tuhan bukan karena takut hukuman melainkan karena kita mencintaiNya. Biarlah kita juga boleh meneladani pola yang sama ketika kita menjalankan otoritas kita terhadap orang lain. Karena itu, bersorak-soraklah karena Dia telah datang menjadi Raja yang adil dan jaya serta penuh dengan kelemahlembutan.

“Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” (Zakharia 9:9)

Selamat hari Senin. Bersoraksorailah.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Begitu Besar Kasih Allah Akan Dunia Ini

Begitu Besar Kasih Allah Akan Dunia Ini

SABTU, 21 DESEMBER 2019

Selamat memasuki penghujung minggu ini. Kasih yang tidak terbatas dan terukur, adalah perbuatan penyelamatan oleh tangan Tuhan yang tetap terulur. Allah tidak menghendaki hidup umatNya berakhir di liang kubur, walaupun untuk itu Dia harus datang ke dunia membaur, bahkan akan menjadikan anakNya di salib terbujur, demi cinta kasih yang abadi dan luhur. Sepatutnya songsonglah perwujudan kasihNya dengan rasa syukur, di saat menghadapi kemelut jadikan sebagai pelipur, maka hatimu akan tetap terhibur.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”
(Yohanes 3:16)

Selamat hari Sabtu. Allah mengasihi Kita
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Jadilah Terang

Jadilah Terang

JUMAT, 20 DESEMBER 2019

Alkitab dengan sangat jelas berbicara bagi kita untuk: bangkit dan menjadi terang. Kita tidak akan pernah bisa menjadi terang kalau kita masih bermasalah terhadap diri sendiri. Jika rohani kita lemah, bagai senter yang sudah mulai kehabisan baterai, bagaimana mungkin cahaya terang bisa keluar dari sana? Seperti itu pula diri kita. Kalau kita masih terpuruk dan membiarkan diri kita lemah secara rohani, maka kita tidak akan mampu bersinar. Sumber terang itu berasal dari Tuhan. Kemuliaan Tuhan bisa terbit dan bersinar terang dalam diri kita, dan itu hanya akan terjadi apabila kita senantiasa berjalan bersamanya. Jangan berharap bisa memiliki terang Tuhan menyinari diri kita apabila kita jarang membangun hubungan dengan Tuhan atau malah terus melanggar perintahNya. Jadi sebelum menjadi terang, kita harus terlebih dahulu memastikan bahwa diri kita tidak mengalami keterpurukan rohani. Lalu adakah cahaya jika tidak dipakai menerangi gelap? Tentu saja tidak. Senter tidak akan berfungsi jika dipakai ditengah terik siang hari. Senter akan sangat bermanfaat di dalam ruangan atau keadaan yang gelap. Dan itu sama seperti kita. Terang yang berasal dari Tuhan tidak akan berguna jika kita simpan sendiri. Oleh karena itu, bangkitlah terlebih dahulu, pastikan terang Tuhan terbit atas kita, dan kemudian jadilah terang yang bisa menerangi dunia yang penuh dengan kegelapan dan kekelaman moralitas.

“Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” (Yesaya 60:2)

Selamat hari Jumat. Bangkitlah Menjadi Terang
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Jangan Menyimpang Dari Kebenaran

Jangan Menyimpang Dari Kebenaran

KAMIS, 19 DESEMBER 2019

Kita diajarkan untuk hidup dalam kehendak Allah apapun resikonya, sebagaimana Tuhan Yesus melakukan tugasnya dalam kebenaran dan kesetiaan. Tuhan Yesus tidak mundur dalam apa yang merupakan ketetapan Allah untuk menebus dosa manusia dan membawa manusia dalam hubungan baru dengan Allah. Meskipun secara logika mustahil manusia dapat berdamai dengan Allah, tetapi nyatanya kasih Allah yang sempurna telah menjadikan manusia mengalami damai sejahtera lewat kelahiran dan kematian Yesus di atas kayu salib. Karenanya mari kita jalani kehidupan ini dalam keyakinan bahwa Yesus datang sebagai Juruselamat yang membawa damai sejahtera sepenuhnya bagi kita. Karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus yang sudah lahir dan kelak datang sebagai Raja dan Hakim yang adil, hendaknya membuat kita tidak lagi terus hidup dalam kuasa kegelapan dan berkawan dengan pelaku kejahatan. Teruslah berpengharapan kepada Allah, saling mengasihi dan berdamai sejahtera.

“Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.” (Yesaya 11:5)

Selamat hari Kamis. Jangan menyimpang dari kebenaran.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Masihkah Kita Takut Akan Tuhan?

Masihkah Kita Takut Akan Tuhan?

RABU, 18 DESEMBER 2019

Masihkah kita Takut akan Allah? Takut akan Allah berarti menghormati Dia sebagai sang Pencipta yang Mahakuasa, Penguasa Tertinggai, sebab dan tujuan akhir dari segala yang ada. “Takut” di sini jauh berbeda jika dibandingkan dengan rasa takut yang kita alami manakala kita menghadapi bencana alam yang dahsyat atau serbuan tentara musuh. Takut akan Allah adalah rasa takut yang jauh lebih mendalam dan kudus di hadapan hadirat Allah yang tak terbayangkan. Maria benar ketika dia memandang dirinya sebagai seorang “hamba yang rendah” dalam relasinya dengan Tuhan. Maria mengetahui bahwa bukan karena jasanya atau apa yang dilakukannya maka dia memperoleh hak istimewa sebagai Bunda Yesus yang adalah Allah. Semua itu menjadi kenyataan karena kasih dan kemurahan-hati Allah. Maria mampu untuk mengatakan “YA” kepada undangan Allah karena dia tahu bahwa Dia itu mahaperkasa melampaui apa yang dapat dicerna oleh akal-budi atau pemahaman manusia. Inilah jenis hati yang ingin diberikan Roh Kudus kepada kita penuh dengan rasa hormat kepada Allah dan mau menjadi bejana-bejana belas kasihNya bagi dunia.

“Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.” (Lukas 1:50)

Selamat hari Rabu. Mari Semakin Takut akan Allah.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Mengandalkan Tuhan

Mengandalkan Tuhan

SELASA, 17 DESEMBER 2019

Ketika Daud sebagai raja telah memasuki usia lanjut dan mulai kehilangan kekuatan fisiknya, ia mendapatkan ancaman dari anaknya sendiri. Absalom ingin menggulingkan pemerintahannya dengan cara yang kejam. Karenanya ia merasa malu dan terancam. Ia mengadukan perkataan musuh-musuhnya yang menganggap bahwa Allah telah meninggalkan pemazmur dan tidak ada yang dapat melepaskannya. Namun dengan kondisi demikian justru Ia menaikkan doa kepada Allah agar melepaskan, meluputkan, mendengarkan, dan menyelamatkannya. Ia memohon agar Allah menjadi tempat perteduhan dan pertahanan yang kokoh baginya, yang meluputkan dia dari orang fasik. Ia juga memohon agar TUHAN tidak membuang atau meninggalkannya saat dia sudah berusia tua dan tidak punya kekuatan. Ia mengingat dan berharap akan Tuhan yang telah ia percayai. Bahkan ia menyadari bahwa sejak dalam kandungan hingga dilahirkan, Tuhan telah menopangnya. Dengan keyakinan yang seperti ini, Pemazmur dapat menaikkan pujian di tengah-tengah penderitaannya. Bagaimana dengan kita? Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang selalu berada dalam kekuatan dan jaminan yang kokoh, serta rekan-rekan yang mendukung setiap saat. Namun ketahuilah TUHAN selalu dapat diandalkan! Mari mengandalkanNya.

“Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya.”(Mazmur 71:15)

Selamat hari Selasa. Selamat Mengandalkan Tuhan.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Berada di dalam Terang

Berada di dalam Terang

SENIN, 16 DESEMBER 2019

Dalam cuaca yang terkadang ekstrim belakangan ini, hal yang biasa kita temukan perubahan kondisi dari gelap menjadi terang dan Terang menjadi gelap. Kondisi ini mengingatkan kita akan sepenggal ayat Alkitab yang mengatakan: “Sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya” (1Yoh. 2:8). Rasul Yohanes menulis kata-kata tersebut kepada orang percaya untuk menguatkan iman mereka. Ia kemudian berkata, “Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan” (ay.10). Sebaliknya, ia menyamakan kebencian terhadap orang lain dengan tinggal terus di dalam kegelapan. Kebencian itu menyesatkan dan membuat kita kehilangan kesadaran moral. Mengasihi orang memang tidak selalu mudah. Meskipun demikian, kita diingatkan bahwa rasa frustrasi, pengampunan, dan kesetiaan adalah bagian dari proses mempertahankan hubungan yang mendalam dengan Allah, sumber terang dan kasih. Dengan memilih untuk mengasihi daripada membenci orang lain, kita menunjukkan hubungan kita dengan Allah dan memancarkan terang-Nya kepada dunia di sekitar kita. “Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan” (1Yoh. 1:5).

“Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya.”(1Yohanes 2:8)

Selamat hari Senin. Mari Mengasihi Orang Lain.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)