Memberitakan Yesus Kristus

Memberitakan Yesus Kristus

JUMAT, 31 JANUARI 2020

Seberapa sering kita melihat foto diri kita? Foto diri sering menjadi sangat berarti. Oleh karena itu bila kepada seseorang diberikan sebuah foto, dimana dalam foto itu ada dirinya, maka tentu yang pertama dia lihat adalah dirinya sendiri. Hal itu adalah lumrah dan itulah sifat alami seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa manusia memang senang diperhatikan dan dianggap penting. Sadarkah kita bahwa manusia dengan segala kebaradaannya menjadi fokus perhatian Allah ? Allah sesungguhnya lebih memperhatikan kita dibandingkan kita memperhatikan diri kita sendiri. Allah melihat jauh masuk ke dalam hati kita. Allah melihat kebutuhan utama kita. Allah ingin manusia bertobat dan jangan sampai terlewatkan dari kasih karuniaNya. Karena itu betapa berharganya dan betapa tingginya kita telah diangkat Tuhan. Bagaimana kita meresponnya? Ingatlah bahwa kita harus mewartakan berita ini, agar semakin banyak orang datang kepada Yesus untuk menerima apa yang telah kita terima yaitu: KESELAMATAN JIWA. Ceritakan siapa Yesus !

“Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.” (2Korintus 4:5))

Selamat hari Jumat. Mari Beritakan Yesus Kristus
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Menjadi Penjala Manusia

Menjadi Penjala Manusia

KAMIS, 30 JANUARI 2020

Sebelum menjadi Murid, Petrus adalah seorang penjala ikan. Sebenarnya dia sudah mengetahui tentang Yesus dan kuasaNya dari saudaranya Andreas. Yesus sudah menjadi Rabbi terkenal di Israel, yang melakukan mujizat dan tanda-tanda ajaib. Ketika mendengar ajakan Tuhan Yesus, Petrus merasa rendah diri, Dia menganggap dirinya tidak layak mengikut Yesus. Dia adalah seorang nelayan rendahan. Namun Tuhan Yesus punya cara pandang yang berbeda. Dia mengajarkan kepada Petrus hal terpenting, menjadi penjala manusia. Bukankah kita sering merasa diri seperti Petrus? Merasa diri kecil, tidak tahu apa-apa dan tidak layak. Namun saat ini kita terpanggil untuk melayani Tuhan, bahkan dalam kekurangan kita. Ketika panggilan untuk melayani dan memberitakan Injil itu datang, jangan takut dan merasa rendah diri! Percaya dan turutilah panggilan Tuhan itu. Dia yang memanggil kita, Dia juga yang menyertai kita. Jadilah penjala manusia.

“Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” (Lukas 5:10b)

Selamat hari Kamis. Jangan Takut dan Rendah diri.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Membalas Cinta dengan Cinta

Membalas Cinta dengan Cinta

RABU, 29 JANUARI 2020

Apakah kita telah merasakan kasih Tuhan? Jika jawabnya ya, tugas kita saat ini adalah menghadirkan kasih Allah dalam hidup sehari-hari. Ini memang membutuhkan proses. Dalam proses ini kita seringkali mengalami kekecewaan karena mendapatkan respon yang tidak seimbang. Tetapi bila kasih Allah ada dalam kita, kekecewaan itu tidak mampu membendung kita untuk kembali belajar mengasihi. Kasih itu pula yang membentuk karakter dan kepribadian kita, tidak lagi memikirkan diri sendiri, tetapi bagaimana menyatakan kasih Allah agar semakin banyak orang mengenal Dia melalui kita. Kristus menjadi teladan bagi kita. Dia datang membawa kabar baik bagi orang miskin, pembebasan bagi para tawanan, penglihatan bagi orang buta, dan pelepasan bagi orang tertindas. Lalu apa balasan kita terhadap cinta Tuhan? Cinta harus dibalas dengan cinta. Allah telah mengasihi kita. Maka kita pun harus mencintaiNya. Secara konkret, cinta itu dapat kita ungkapkan dengan memberikan waktu, tenaga dan pikiran kita dalam pelayanan kepada sesama.

“Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.” (Lukas 4:15)

Selamat hari Rabu. Membalas Cinta dengan Cinta.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Pemberian Tak Ternilai

Pemberian Tak Ternilai

SELASA, 28 JANUARI 2020

Jikalau ditanya, apakah pemberian yang paling bernilai yang pernah kita terima? Pemberian tersebut tidaklah ditentukan dari apa yang menjadi isinya, tetapi dari siapa yang memberikannya. Suka cita seorang yang menerima sepeda karena menjawab quis dari Presiden Jokowi, bukan karena sepedanya, karena sepeda yang sama bisa ditemukan di toko, yang tidak ternilai adalah pemberinya. Pemberian terbaik dinilai bukan dari harganya tetapi juga dari kasih sayang yang mendasarinya. Zakharia dalam nyanyian kenabiannya yang dilantunkannya ketika memuji Tuhan, sangat memahami hal itu. Dia bersukacita karena Yohanes akan menjadi seorang nabi yang mewartakan pemberian terbesar Allah bagi seluruh umat manusia, yakni Juruselamat yang akan datang: “Oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi”. Kata-kata itu menunjuk pada satu pemberian istimewa yang telah dianugerahkan dengan penuh kasih. Jemaat terkasih, kembali kepertanyaan di atas, dalam keimanan kita, Pemberian terindah yang dapat kita terima adalah belas kasihan Allah, yakni pengampunan dosa kita oleh Yesus. Pemberian itu menuntut nyawaNya di kayu salib, tetapi Dia memberikannya secara cuma-cuma karena kasihNya yang besar kepada kita. Karena itu namaNya layak dipuji.

“Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya,” (Lukas 1:68)

Selamat hari Selasa. Mari Puji Tuhan atas pemberianNya tak ternilai.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Yang Terkecil Menjadi Yang Terbesar

Yang Terkecil Menjadi Yang Terbesar

SENIN, 27 JANUARI 2020

Siapa yang tak mau menjadi yang terbesar, terhebat, terbaik dan terkenal di bidangnya masing-masing? Semua insan yang ada di dunia ini sangat menginginkan semuanya itu. Maka demi mewujudkan keinginan itu tidak sedikit orang menghalalkan segala cara: meminta petunjuk kepada paranormal, menyuap, berlaku curang, sikut sana sini, atau jegal sana sini. Dunia ini penuh dengan orang yang hatinya penuh siasat dan kecurangan. Dalam kekristenan untuk menjadi yang terbesar justru harus dimulai dari yang terkecil: menjadi seorang hamba atau pelayan bagi sesamanya. Dengan kata lain, siapa yang ingin menjadi tuan harus rela menjadi hamba terlebih dahulu. Ini berbicara tentang kerendahan hati! Tuhan sangat menentang orang yang berlaku congkak dan mengasihani orang yang rendah hati Tuhan tidak pernah melarang kita memiliki impian, harapan atau ambisi yang besar; Tuhan tidak pernah melarang kita memiliki tekad yang kuat untuk menjadi terbesar. Asalkan impian, harapan, ambisi itu dapat menjadi motor penggerak yang dapat mendorong kita untuk maju dan menjadi lebih baik. Tetapi kalau ambisi dan keinginan tersebut mulai mengarah ke negatif dan bertentangan dengan kehendak Tuhan, itu yang patut diwaspadai.

Yang terbesar di pemandangan Tuhan bukanlah mereka yang mempunyai kemampuan luar biasa, tapi mereka yang mau kecil dengan melayani, merendahkan hati, dan mau berkorban bagi Tuhan dan sesama. Berarti menjadi orang yang terbesar sangat ditentukan oleh kualitas hidupnya sendiri. Orang-orang yang hatinya tulus, rendah hati, bersih dan apa adanya dengan Tuhan, seperti seorang anak kecil, itulah yang Tuhan cari.

“Yang paling kecil akan menjadi kaum yang besar, dan yang paling lemah akan menjadi bangsa yang kuat; Aku, TUHAN, akan melaksanakannya dengan segera pada waktunya.” (Yesaya 60:22)

Selamat hari Senin. Mari Hidup Lebih “kecil”.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Anak Domba Itu LAYAK

Anak Domba Itu LAYAK

JUMAT, 24 JANUARI 2020

Merupakan satu hal yang sangat mengagumkan ketika Tuhan Yesus mati, Dia membayar harga tertinggi bagi setiap kita, tanpa memandang kondisi kita. Wahyu Pasal 5 menggambarkan sebuah adegan di surga ketika hanya “Singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud” yang dapat membuka dan membaca gulungan kitab yang termeterai itu. Dia muncul sebagai Anak Domba dan kemudian menerima puji-pujian dalam suatu nyanyian baru, “Karena Engkau telah disembelih dan dengan darahMu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi”. Pesan saat ini buat kita adalah bahwa Yesus Kristus dengan rela membeli kita bagi Allah dengan darahNya. Kita telah dibeli “apa adanya”, lengkap dengan segala cela, kekurangan, dan perbaikan yang diperlukan. Oleh iman, kita sekarang menjadi milikNya, dan kita sedang berada dalam proses pembentukan kembali demi kemuliaan Allah. Alangkah menakjubkannya bahwa Allah mengenal, mengasihi, dan membeli kita apa adanya. Dengan kenyataan ini, hidup kita lebih CERAH DAN BERSEMANGAT.

“katanya dengan suara nyaring: “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!” (Wahyu 5:12)

Selamat hari Jumat. Dia Layak Kita Puji.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Tugas Terbesar Orang Kristen

Tugas Terbesar Orang Kristen

KAMIS, 23 JANUARI 2020

Pasca Stefanus, seorang Diaken pada zaman gereja mula-mula dilempari batu sampai mati karena memberitakan tentang Kristus, dimulailah penganiayaan hebat terhadap orang Kristen. Akibatnya banyak orang Kristen meninggalkan Yerusalem. Seorang diaken yang lain, Filipus, mengikuti orang-orang Kristen yang melarikan diri ke Samaria. Di sana ia memberitakan tentang Kristus, termasuk kepada seorang Ethiopia, sida-sida, kepala perbendaharaan Sri Kandake, Ratu negeri Ethiopia yang memang sedang ‘mencari Yesus’. Dengan senang hati dia mengerjakan apa yang dikatakan oleh Roh Tuhan kepadanya, dan ini sungguh menyenangkan sida-sida Ethiopia tersebut. Apa pesan Nas ini kepada kita? Tugas terbesar orang Kristen adalah menemui seseorang dan memperkenalkannya kepada Kristus, karenanya dalam menjalani hidup ini, kiranya kita selalu siap sedia menceritakan atau menuturkan tentang Kristus seturut dengan pimpinan Roh Kudus kepada orang-orang yang kita kenal maupun yang kita temui sehari-hari. KJ.427 “Ku suka menuturkan cerita mulia, cerita Tuhan Yesus dan Cinta KasihNya. Ku suka menuturkan cerita yang benar, penawar hati rindu, pelipur terbesar. ‘Ku suka menuturkan, ‘Ku suka memasyurkan cerita Tuhan Yesus dan cinta kasihNya”.

“Lalu kata Roh kepada Filipus: “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!” (Kisah Para Rasul 8:29)

Selamat hari Kamis. Mari membantu Orang Lain Menemukan Yesus.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Mengaku Sebagaimana Nathanael

Mengaku Sebagaimana Nathanael

RABU, 22 JANUARI 2020

Dalam Injil Yohanes Pasal 1, kita dapat melihat sekilas pengetahuan mendalam yang Yesus miliki atas murid-muridNya. Natanael didesak Filipus untuk menemui Yesus, dan ketika ia menghampiriNya, Yesus berseru: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”. Dengan terkejut, Natanael berkata kepadaNya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Dengan jawaban yang agak misterius, Yesus berkata bahwa Dia telah melihat Natanael di bawah pohon ara. Kita mungkin tidak mengerti alasan Yesus mengungkapkan fakta tersebut, tetapi kelihatannya Natanael mengerti! Karena takjub, ia pun menjawab, “Rabi, Engkau Anak Allah!”, berkenaan dengan pernyataan ini, janji Tuhan Yesus kepadanya, “engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu”. Kontemplasi kita hari ini ada dua, Pertama, Yesus mengenal kita masing-masing dengan sangat baik, utuh, dan sempurna. Dia pun menerima kita sepenuhnya, dan mengundang kita, bukan hanya menjadi pengikutNya, melainkan juga menjadi sahabat terkasihNya. Kedua, Tuhan Yesus menjanjikan kemampuan melihat hal-hal besar dalam hidup ketika kita berkenan membaca dan mempelajari Kitab Suci dengan sepenuh hati, mempelajari jalan-jalan Tuhan dan mewartakannya kepada sesama.

“Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” (Yohanes 1:49)

Selamat hari Rabu. Mengaku Sebagaimana Natanael
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Dia Besar, Aku Kecil

Dia Besar, Aku Kecil

SELASA, 21 JANUARI 2020

Apakah amang inang ingin menjadi orang Besar? Itu baik-baik dan Oke-oke saja! Namun menjadi besarlah dengan cara-cara yang menunjukkan kebesaran jiwa kita. Jadilah besar, tetapi besar dihadapan Tuhan dan di dalam penilaian Allah. Artinya menjadi besar yang sejati. Apakah itu? Yaitu menjadi besar oleh karena bersedia menjadi yang terkecil dalam kerajaan Allah. Saat ini dibutuhkan orang-orang besar atau bahkan seorang pemimpin seperti Yohanes, yang tidak menengok ke belakang, yang defensif mempertahankan masa lalu tetapi mempersiapkan masa depan. Yang tidak introver, yang melihat dan mengukur semua dari kepentingan diri sendiri dan dari keamanan posisinya, tetapi menatap kepada Dia, Sang Pemimpin satusatunya. Dia yang makin bertambah, aku yang makin berkurang. Inilah karakter orang Kristen.

“Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu.” (Lukas 7:27)

Selamat hari Selasa. Dia (Tuhan) Besar, Kita kecil.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Kembali Mengikuti Gembala Yang Baik

Kembali Mengikuti Gembala Yang Baik

SENIN, 20 JANUARI 2020

Jika kita mau dan berkenan mengkritik diri kita, kita bisa masuk kategori ‘domba yang sesat’. Kita tersesat dalam berbagai hal: mengingini dan melakukan apa yang tidak menyenangkan Tuhan, melukai sesama dengan tindakan kita, dan mengabaikan waktu bersama Tuhan dan firmanNya karena kita terlalu sibuk atau kurang tertarik. Namun kita patut bersyukur karena mempunyai Gembala Baik yang rela menyerahkan nyawaNya untuk kita (Yoh.10:11) dan menanggung kesengsaraan dan dosa-dosa kita (Yes. 53:4-6). Saat ini Sang Gembala itu memanggil kita kembali ke padang rumput yang aman sehingga kita dapat mengikutiNya dengan lebih sungguh.
“Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.” (Yesaya 53:6)

Selamat hari Senin. Mari Kembali Kepada Gembala yang Baik Itu
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)