DIKEJAR DOSA

DIKEJAR DOSA

Sabtu, 29 Pebruari 2020

Sejak dosa berkuasa dalam kehidupan manusia, tak ada lagi yang dapat dilakukan untuk bebas darinya. Dosa serupa lumpur isap yang menyedot kita. Semakin kita bergerak, semakin kita terjebak di dalamnya. Sebagai orang Kristen, kita pun tak lepas dari dosa, seperti terlihat dengan jelas dalam pengalaman Raja Daud. Ketika ia mengingini Batsyeba, ia telah membuka lebar pintu bagi dosa. Ia lalu terseret melakukan dosa-dosa lain, termasuk merencanakan kematian Uria, suami Batsyeba, untuk menutupi dosanya. Selama beberapa waktu Daud memendam dan menyembunyikan dosanya. Mazmur pasal 32 dan pasal 51, yang ditulisnya berkaitan dengan kasus Batsyeba, menunjukkan betapa ia sangat menderita. Ia kehilangan gairah hidup, tertekan, remuk, dan kehilangan sukacita. Akhirnya, ia melakukan tindakan yang benar. Ia datang dan mengaku dosanya kepada Tuhan. Dan ia mendapatkan pengampunan. Apakah Anda bergumul untuk lepas dari dosa dengan upaya sendiri? Apakah sukacita Anda terampas karena dosa yang tersembunyi? Datang dan akuilah kepada Allah, maka Dia akan menyucikan Anda.

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!” (Mazmur 32:1)

BE.424:4 “Soara ni Tondi”
Tarsor ho mardosa, manurut lomom, Tung unang datdati, sai alo langkam. Dompakkon Tuhanmu, Pargogo do i, Manesa, pamalum sude dosami.

Selamat hari Sabtu
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

IMAN DAN KERENDAHAN HATI

IMAN DAN KERENDAHAN HATI

Jumat, 28 Pebruari 2020

Iman dan kerendahan hati adalah dua hal yang seharusnya muncul dan kelihatan dalam hidup kita. Mengapa? Ada dua alasan: Pertama, dalam hidup kita selalu ada saja hal-hal yang kita ragukan di tengah keyakinan dan kepercayaan kita. Hal-hal semacam itu harus secara jujur kita akui di hadapan Tuhan. Kedua, Allah menentang orang yang congkak tetapi mengasihani orang yang rendah hati (Yakobus 4:6). Di sinilah menariknya renungan kita saat ini. Ada satu ungkapan dari seorang ayah yang anaknya dirasuk setan. Dalam beberapa terjemahan, ungkapan ini diucapkan sambil meneteskan air mata: “Aku percaya, tolonglah aku yang tidak percaya ini”. Si ayah ini ingin belajar mempercayai Yesus namun ia harus mengakui bahwa ada hal-hal yang di luar jangkauan imannya. Hal-hal yang selalu membuatnya tidak percaya, ragu dan kuatir. Bukankah dalam pergumulan hidup kita, kadang kita juga mengalami situasi semacam ini? Kita sering mendengar bahwa iman itu harus yakin 100 persen. Tetapi bagaimana kalau kita tidak mampu mencapai kondisi itu? Puji Tuhan! Bahwa kasih karunia Allah jauh melampaui segala kekuatiran dan keraguan kita. Lihatlah bagaimana Yesus menolong anak yang dirasuk setan itu. Yesus mengerti dan memahami segala keraguan sang ayah. Ia memahami segala keterbatasan imannya. Demikian juga dengan kita. Asalkan kita mau jujur dan rendah hati datang kepadaNya, maka kasih karunia Allah tetap terbuka buat kita. Amin!

“Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!.” (Markus 9:24)

BE.30:2 “Jesus Lehon Hatorangan”
Ganup ari ma ajari hami na di haotoon i dope / Asa lam porsea hami Ho sambing do hangoluannami i/ Lam lumeleng lam pasolhot tu rohaM ma rohanami/ Hombar tu HataM ma pangalahonami

Selamat hari Jumat
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

MENUNJUKKAN KESETIAAN

MENUNJUKKAN KESETIAAN

Kamis, 27 Pebruari 2020

Betapa mudahnya mendapat teman di kala senang, tetapi begitu sulit mencari seorangpun dikala susah. Itu dialami begitu banyak orang, dan mungkin kita pernah mengalaminya. Ketika kita sedang sukses, orang pun berdatangan dengan sanjungan-sanjungannya, tidak jarang pula mereka membawa buah tangan dan menunjukkan sikap sangat manis. Tetapi ketika kita terjatuh, perlahan tapi pasti mereka pun mulai menjauh meninggalkan kita. Dalam kondisi ini, nilai apa yang terhilang? Kesetiaan! Ya, Setia adalah salah satu hal yang diperlukan dalam suatu hubungan, entah itu antara suami istri, pertemanan, pekerjaan, ataupun gereja. Kesetiaan hendaknya selalu kita tunjukkan dalam keadaan apa pun. Saat ini kita disapa bahwa dengan setia kita sudah melaksanakan hukum yang benar itu. Ini merupakan kewajiban setiap orang percaya yang harus diwujudkan dalam hidup masing-masing. Kita tidak boleh menindas orang yang lemah, memanfaatkan posisi lemah orang lain, dan jangan pula berbuat kejahatan atau merencanakannya dalam hati kita. Mari Tunjukkan kesetiaan!
“Beginilah firman TUHAN semesta alam: Laksanakanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kesetiaan dan kasih sayang kepada masing-masing!.” (Zakaria 7:9)

BE.467:4 “Asi ni RohaM Hupuji”
Sai papulik rohanami, gabe pangoloi di Ho. Asa marsahala hami, lao mangkatindangkon Ho. IngananMu rohanami, TondiMi manggohi i. Pangke dohot ngolunami gabe ulaulaMi

Selamat hari Kamis
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

MENGOYAKKAN HATI

MENGOYAKKAN HATI

Rabu, 26 Pebruari 2020

Di banyak budaya, menangis dengan suara kencang, meratap, dan mengoyakkan pakaian adalah cara-cara yang lazim digunakan untuk mengungkapkan rasa duka pribadi atau kesedihan atas bencana besar yang dialami suatu bangsa. Bangsa Israel semasa Perjanjian Lama juga bersikap serupa dalam mengungkapkan dukacita mereka yang mendalam dan pertobatan atas pemberontakan mereka kepada Tuhan. Pertobatan yang diungkapkan secara terbuka itu bisa berdampak dahsyat jika memang keluar dari lubuk hati kita. Namun tanpa pertobatan yang tulus di dalam hati kepada Allah, bisa saja kita sekadar berbasa-basi, meskipun kita melakukannya bersama-sama dengan saudara-saudara seiman yang lain. Setelah wabah belalang merusakkan tanah Yehuda, Allah melalui Nabi Yoel memanggil umat-Nya untuk sungguh-sungguh bertobat agar mereka terhindar dari penghukuman-Nya. “‘Sekarang juga,’ demikianlah firman Tuhan, ‘berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh’” (Yoel 2:12). Lalu Nabi Yoel menyerukan kepada bangsa itu untuk menanggapi panggilan Allah dari lubuk hati mereka: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya”. Pertobatan sejati berasal dari dalam hati. Tuhan rindu kita rela mengakui dosa-dosa kita kepadaNya dan menerima pengampunanNya, agar kemudian kita dapat mengasihiNya dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita. Apa pun yang perlu Anda ungkapkan kepada Tuhan hari ini, nyatakanlah kepadaNya dengan ketulusan hati.

“Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.” (Yoel 2:13)

BE.391:4 “Sotung Ditulak”
Pardosa na sumalim ho, dijangkon Jesus do nang ho. Didokkon ho, ihuthon ma, sadari on mangolu ho.
Sadari on, sadarion paujung i, sadarion.Sadari on, sadarion paujung i, sadarion.

Selamat hari Rabu
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

PENDERITAAN RINGAN

PENDERITAAN RINGAN

Selasa, 25 Pebruari 2020

Penderitaan bukanlah topik yang enak untuk dibicarakan, Sebisa mungkin kita akan menghindari penderitaan, sekalipun pada faktanya bahwa hal tersebut tidak terelakkan. Tuhan Yesus sendiri berkata, bahwa Ia sebagai anak manusia harus menanggung penderitaan (Lukas 9:22). Dalam kehidupan ini ada dua macam penderitaan. Pertama, penderitaan karena menanggung akibat dari kesalahan kita sendiri; Dan Kedua, adalah penderitaan yang Tuhan ijinkan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik. Tentunya kedua penderitaan ini pernah kita alami, namun yang harus kita hindari adalah penderitaan yang pertama, menderita karena kesalahan kita sendiri. Namun jika Tuhan membawa kita ke dalam jalan penderitaan yang telah ia tetapkan untuk membentuk kita, mari kita ingat kebenaran ini: “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” (2 Korintus 4:17). Seperti yang dikatakan Paulus, dalam mengikut Kristus ada “penderitaan ringan” yang akan mengerjakan kemuliaan kekal bagi kita. Apapun penderitaan yang harus kita tanggung hari ini, mungkin itu sakit penyakit, tekanan emosional atau banyak hal lainnya, milikilah pandangan yang benar dan juga teguhkanlah iman kita kepada Tuhan. Jangan biarkan penderitaan itu menggoyahkan kepercayaan kita kepada Tuhan. Bersyukurlah, dan percayalah bahwa penghiburan yang dari Tuhan sendiri akan menguatkan kita untuk menjalaninya sehingga kita akan keluar sebagai seorang pemenang, bahkan lebih dari pemenang!

“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” (2Korintus 4:17)

BE.281:5 “Martua Do na Marhaposan”
Sai unang dok di haporsuhon, ho ditadingkon Debata./ Alai na so manaon sitaonon, i do diabing Debata/
Manang sintong pingkiranmi, ujungna patandahon i.

Selamat hari Selasa
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

ALLAH YANG MEMPERKENALKAN DIRI

ALLAH YANG MEMPERKENALKAN DIRI

Senin, 24 Pebruari 2020

Menurut Alkitab, kita telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Dosa membuat kita terpisah dari relasi dengan Allah. Dosa menjadi penghalang manusia mengenal Allah dan menyebabkan manusia menjadi terbatas dalam segala hal termasuk di dalam mengenal Allah. Namun, Allah yang penuh rahmat dan berbelas kasihan selalu berinisiatif untuk menyatakan dan memperkenalkan diriNya kepada kita. Dengan cara itulah barulah kita dapat mengenal Allah. Artinya bahwa Allah-lah yang membuka jalan dan menjebatani kita untuk mengenal diriNya. Allah telah menunjukkan Identitasnya secara Pribadi kepada Musa dengan mengatakan “Akulah Allah bapamu, kata bapa disini tidak menunjuk kepada bapa Musa secara Khusus tetapi lebih merujuk kepada bapa leluhurnya untuk membuka ingatan Musa dari keturunan dia sehingga Allah menyebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, ketiga nama ini sangat penting bagi Musa bahkan bagi bangsa Israel secara khususnya karena ketiga nama ini adalah nenek moyang yang menjadi pengharapan, kekuatan dan kebanggaan bangsa Israel. Ketika Allah memperkenalkan diriNya, bagaimana kita meresponnya? Sebagaimana Musa menutupi wajahnya saking takut memandang Allah, kita juga harus menunjukkan rasa takut kepada Allah. Takut akan Allah berarti memiliki rasa hormat yang berdampak kepada cara hidup kita. Takut akan Allah lebih mengenai menghormatiNya, tunduk kepada disiplinNya, dan menyembahNya dengan takjub.

“Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.” (Keluaran 3:6)

BE:559:3 “Debata na Songkal Jala na Badia”
Debata na songkal,na so tarida,/ Mata na mardosa, ndang tau marnida Ho/ Ho na sun badia, na so hatudosan/ Sun hinagogo, sun sangap do Ho/ Amen

Selamat hari Senin.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

MENINGGIKAN TUHAN

MENINGGIKAN TUHAN

Sabtu, 22 Pebruari 2020

Sudahkah kita Memuji Tuhan dengan benar? Terkadang ada orang percaya yang tidak bersungguh-sungguh saat memuji dan menyembah Tuhan di dalam ibadah. Mereka memuji Tuhan ala kadarnya, dan terlihat dari sikap tubuh yang enggan. Mungkin mereka lupa kepada siapa pujian itu sesungguhnya ditujukan. Pujian dan penyembahan yang kita naikkan saat beribadah itu bukan untuk manusia, tetapi kepada Tuhan, Sang Pencipta langit dan bumi dan segala isinya. Jika kita benar-benar mengerti hal ini, maka kita akan juga menunjukkan sikap hati dan sikap tubuh yang benar saat memuji dan menyembah Tuhan. Bukan lagi soal suka atau tidak suka dengan lagunya. Tetapi semua tentang Kristus, Raja dan Juruselamat hidup kita. Dengan demikian, apa pun lagunya kita akan tetap menyembah Dia dengan sepenuh hati. Dan itu pasti tercermin lewat sikap tubuh kita. Allah bertakhta di atas puji-pujian kita. Oleh sebab itu, untuk menghormati hadirat Tuhan, selain memuji Dia, kita juga harus menyembah-Nya. Penyembahan adalah ungkapan penghormatan atas kebesaran, keagungan dan kekudusan Tuhan. Karena itu kita harus menyembah-Nya, bukan hanya lewat kata-kata saja, tetapi juga melalui sikap bersujud menyembah sebagai tanda kita merendahkan diri di hadapan Allah. Mari kita tinggikan Tuhan kita.

“Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah TUHAN, Allah kita!” (Mazmur 99:9)

BE.17:1 “Raja na Tumimbul”
Raja na Tumimbul sigomgomi hami, jalo ma pujiannami. Denggan ni basaM do pangoluhon hami, atik pe mardosa hami. Sai apoi pargogoi, hami mangendehon, sangapMi o Tuhan.

Selamat hari Sabtu.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

MENJADI PEMENANG

MENJADI PEMENANG

Kamis, 20 Pebruari 2020

Sesungguhnya, Tuhan menciptakan kita untuk menjadi pemenang-pemenang kehidupan. Ia memberikan hidup yang penuh dengan talenta yang harus kita syukuri dan dimaksimalkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pemenang bukanlah seorang yang tidak pernah gagal atau orang yang sempurna. Seorang pemenang pasti pernah mengalami kegagalan, tetapi terus berusaha bangkit sampai ia memperoleh kemenangan. Untuk mencapai kemenangan kita harus berangkat dari sumber kemenangan itu sendiri, yaitu Allah. Seperti yang tertulis pada Ulangan 20:4, “sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai kamu untuk berperang bagimu melawan musuhmu, dengan maksud memberikan kemenangan kepadamu.” Hanya melalui Allah saja kita mampu menjadi pemenang sejati. Lepaskan semua beban dan kekuatiran, hiduplah menurut perintahNya dan lakukan kehendakNya. Kita adalah orang-orang pilihan yang berharga di mataNya, pemenang dalam menghadapi segala masalah dan persoalan. Memang tidak akan mudah, karena kita harus dengan sabar melewati setiap ujian dan masalah. Namun itu semua akan membawa kita menjadi lebih hebat di dalam Tuhan. Karena kita diciptakan untuk menunjukkan kemuliaan Allah dalam hidup kita. Apapun yang menjadi rencana dan tujuan yang ingin kita capai, bawalah terlebih dahulu kepada Tuhan agar Ia membentuknya untuk memberikan yang terbaik bagi kita. Apapun usaha dan perjuangan yang sedang kita lakukan, libatkanlah Tuhan agar Ia membawa kemenangan bagi kita. Amin.

“Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.” (Wahyu 3:5)

Nyanyian Hari Ini:
BN.251:1 “Yang T’lah Menang / Na Monang i do”
Yang t’lah menang kelak akan memakan, buah pohon kehidupan kekal. Tak lagi melihat penderitaan, dan kuasa maut t’lah dikalahkan. Tenang hatinya, dihibur Tuhan, dapat melangkah dengan tentram.
Selamat hari Kamis.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

TEMPAT TERBATAS

TEMPAT TERBATAS

Jumat, 21 Pebruari 2020

Satu kebenaran yang disampaikan oleh Alkitab adalah bahwa tidak semua orang akan diterima atau masuk Surga, atau dengan kata lain, tempat terbatas! Ada tujuh kelompok yang ditolak oleh Allah, dimana kelak mereka akan mengalami kematian yang kedua dalam lautan api yang menyala-nyala. Sebuah peringatan yang harusnya kita perhatikan. Nas renungan hari ini jelas menyebut bahwa kelompok orang penakut, tidak percaya, keji, pembunuh, sundal, tukang sihir, penyembah berhala, dan pendusta, akan mendapat bagian yang mengerikan itu. Penjelasan dari setiap perilaku dapat mencakup banyak hal. Terkait kelompok pembunuh, misalnya, bagian lain firman Tuhan berkata, “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya” (1Yoh. 3:15). Begitu pula dengan perilaku keji, yang menandakan bahwa hati dan pikiran seseorang dikuasai “kegelapan” sehingga membuahkan perilaku yang sangat jahat kepada sesamanya. Para tukang sihir, bisa diartikan orang yang gemar membelokkan orang lain dari kebenaran sejati atau berpaling dari imannya kepada Kristus. Mari sejenak renungkan nas hari ini dengan menilik kehidupan pribadi kita. Apakah ada tanda-tanda dari perbuatan ketujuh kelompok yang ditolak Allah itu dalam diri kita? Jika ya, mari segera bertobat dan memperbaiki diri, supaya kelak kita tidak menjadi bagian dari orang-orang yang menerima murka Allah!

“Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.” (Wahyu 21:8)

BE.528:3 “Tu dia ho dung Mate Ho”
Lilu do ho di dosami, mago do ho, mago do ho. Unang be togang, mulak, ro! Tu dia ho, dung mate ho. Dung mate ho, dung mate ho. Sai pingkir ma tudia ho?

Selamat hari Jumat
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

MARI MENJAGA PERKATAAN

MARI MENJAGA PERKATAAN

Rabu, 19 Pebruari 2020

Hidup di zaman modern ini seringkali kita berhadapan dengan pengaruh-pengaruh buruk dari orang-orang sekitar, film, iklan dan media cetak, yang seringkali menampilkan dan mengeluarkan kalimat-kalimat yang kasar, kotor dan sia-sia. Berhati-hatilah! Fenomena ini tidak hanya terjadi di masa ini, dulu di masa pelayanan Paulus pun umat Tuhan dihadapkan dengan permasalahan yang sama yaitu hal perkataan atau ucapan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Paulus menekankan agar kita berhati-hati dengan ucapan kita, sehingga bukan perkataan yang kotor, negatif atau sia-sia yang keluar dari mulut kita. Ketika kita berbicara, hendaknya ucapan kita adalah ucapan yang membangun dan memberkati orang lain. Demikianlah firman Tuhan, “Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah;” (1 Petrus 4:11a). Jelaslah bahwa perkataan yang baik itu dapat dipakai Tuhan untuk membangun dan menguatkan orang lain sehingga mereka dapat merasakan kasih dan anugerahNya turun atas mereka. Terlebih lagi melalui setiap perkataan kita, kehidupan kita dapat menjadi berkat di mana pun kita berada. Tetapi apabila kita mengeluarkan kalimat kasar atau ucapan-ucapan negatif, hal ini tidak hanya berdampak buruk terhadap orang lain yang mendengarnya, tetapi juga bagi kita sendiri. Ucapan kita akan merusak orang lain dan akan menghancurkan semua bentuk hubungan. Maka dari itu, berhati-hatilah dengan setiap ucapan kita! Amin.

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Efesus 4:29)

Nyanyian Hari Ini:
KJ.467:1-2 “Tuhanku, Bila Hati Kawanku”
Tuhanku, bila hati kawanku terluka oleh tingkah ujarku, dan kehendakku jadi panduku, ampunilah.
Jikalau tuturku tak semena dan aku tolak orang berkesah, pikiran dan tuturku tercela, ampunilah

Selamat hari Rabu.
(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)