LITURGI MINGGU HKBP DAN PENJELASANNYA

LITURGI MINGGU HKBP DAN PENJELASANNYA

Tata Ibadah HKBP terdiri dari tiga bagian besar yaitu: Bagian Allah – Bagian Manusia – Bagian Allah

Rumpun Liturgis yang menunjukkan ‘bagian Allah’ dan ‘bagian manusia’ (pertanda adanya suatu corak teologis liturgis tertentu di dalamnya)
Kembali pada apa yang sudah disebutkan di atas, ada bagian-bagian di mana selalu diawali oleh Allah, dalam hal ini melalui kutipan Alkitab, dan ada juga bagian yang hanya manusia, seperti dalam Pengakuan iman Susunan rumpun liturgis ini menyingkapkan kepada kita bahwa dibalik itu semua ada corak khusus dari liturgy itu, di mana ada ‘bagian Allah’ dan ada ‘bagian manusia’. Kalau diamati maka susunannya adalah sebagai berikut:

Pendahuluan
Lonceng gereja dan Pre-ludium:
Bagian Allah
Rumpun Pertama:
• ”Seruan Liturgis”/ Invocatio/ Introitus/ “Haleluya”/ Doa Kollekta/ Nyanyian pertama
Rumpun Kedua
• Hukum Taurat/ Doa memohon kekuatan/ Nyanyian Kedua/
Rumpun Ketiga:
• ”Seruan Liturgis”/ Pengakuan dosa/ Berita Pengampunan/ Gloria in exelcis /Sambutan Jemaat/ Nyanyian ketiga.
Rumpun Keempat:
• Epistel/ Ucapan bahagia: / Nyanyian keempat/
Bagian Manusia
Rumpun Kelima:
• ”Seruan Liturgis”/ Pengakuan Iman: / Warta Jemaat.
Bagian Allah
Rumpun ke enam:
• Nyanyian Jemaat/ Pemberitaan Firman: Salam Rasul/ Pembacaan Evangelium/ Khotbah/ Doa/ Nyanyian Thema
Rumpun Ketujuh
• Doa persembahan/ Doa Syafaat/Doa “Bapa Kami”/ Berkat Harun / ”Amin”

Bila hal ini disingkat, maka gambarannya adalah sebagai berikut:

PENDAHULUAN
Lonceng gereja menjadi tanda bagi jemaat untuk bersiap masuk ke dalam kebaktian.
Pre-ludium: Pada awalnya di Gereja-gereja Batak, para Missionaris langsung memulai tanpa preludium. Tetapi karena mentalitas waktu itu, di mana warga jemaat masih menunggu agar lonceng dibunyikan baru segera berangkat dari rumah bagi mereka yang dekat rumahnya, atau dari kedai sekitar gereja, maupun dari tempat lain di mana mereka berbicara-bicara sebelum mulai, maka ketika mereka masuk, Introitus sudah hampir selesai. Oleh karena itulah maka pre-ludium dibuat dan agak panjang, 3 ayat, dan di antaranya ada permainan organ. Dengan demikian waktu untuk “menunggu” yang suka terlambat sudah cukup. Itulah sebabnya maka Pemimpin Liturgi (Paragenda) masih tetap duduk di tempat semula. Barulah ketika ayat 3 dimulai, Paragenda maju ke depan altar, berdoa sejenak dan melakukan persiapan seperlunya, lalu menjelang kalimat terakhir selesai, Paragenda berbalik menghadap jemaat.

Bagian Allah:
Rumpun pertama:
Rmpun berikut adalah ”Seruan Liturgis” agar jemaat bangkit berdiri. Berdirinya jemaat adalah merupakan sambutan akan peringatan akan baptisan, di mana pada waktu di baptis, seseorang itu berdiri di depan Allah untuk dimeteraikan pada Allah Tritunggal dan kemudian berdiri untuk pengakuan imannya. Itulah sebabnya jemaat tidak berdiri pada ayat ke tiga preludium.

Bagian berikut adalah Invocatio: itulah seruan pada Allah Tritunggal. Seruan ini mengingatkan pada baptisan kita. Di beberapa jemaat terdapat kebiasaan, di mana di bagian masuk pintu gereja, terdapat tempayan tempat air dan setiap orang akan mencelupkan jarinya dan membuat tanda salib dalam tubuhnya. Ini benar-benar mengingatkan akan baptisannya. Melalui baptisanlah orang percaya memasuki ibadah. Di sini jugalah awal kebaktian dimulai. Itulah sebabnya jemaat bangkit berdiri, agar kebaktian itu dimasuki secara bersama-sama.
Kebiasaan bangkit berdiri dalam liturgi dimaksudkan antara lain untuk penghormatan, dan satu segi lain adalah menekankan kerendahan hati dan rasa bersalah, dan segi lainnya lagi adalah menyatakan hal yang sangat penting bagi dunia. Ketiga-tiganya masuk di sini, ketika nama Tritunggal diserukan, karena itu adalah berkaitan dengan peringatan akan baptisan. Baptisan itu sendirilah yang mengantarkan jemaat pada kebaktian.

Invocatio bukanlah Votum. Votum itu adalah tanda diresmikannya sebuah Rapat atau pertemuan. Dalam kebaktian dia sering digunakan untuk pentahbisan ibadah. Votum sering kita dengar dalam kebaktian Kalvinis (GBKP atau GPIB). Untuk memudahkan, ciri Votum adalah: Paragenda menyapa jemaat: misalnya: “Marilah kita tahbiskan ibadah ini di dalam nama Allah .. dst” atau sering juga disambung dengan ”Pertolongan kepada kita adalah di dalam Nama Allah, yang menciptakan langit dan bumi dan yang tidak pernah meninggalkan perbuatan tanganNya.” Dalam Agenda HKBP, yang kita kenal adalah Invocatio, yang artinya “Menyeru” dan yang diserukan adalah “Di dalam Nama Allah Bapa, dan Anak dan Roh Kudus.

Karena Ibadah adalah milik Allah, kita tidak perlu mensahkan dan meresmikannya. Kita tidak perlu memulainya atau mengakhirinya. Kita dipersilahkan masuk ke dalam Ibadah yang sudah sedang berlangsung itu. Maka tepatlah para penatua selalu mengatakan: “Tapungka ma masuk!” Tidak pernah mengatakan: “Marilah kita memulai ibadah ini!”

Kemudian menyusul Introitus. Dari bahasa Latin yang artinya adalah dia masuk. Ayat yang dibacakan menjadi pintu masuk pada seluruh kebaktian, bahkan ayat ini menunjukkan nama minggu. Introitus jugalah yang menunjukkan saat, dalam bagian manakah kita dalam rangkaian Tahun Gerejawi. Intoritus juga seirama dengan Epistel dan Pembacaan Injil dalam hari Minggu tersebut. Introitus juga mempengaruhi bacaan Almanak sepanjang mingu. Jadi wajarlah dia merupakan pintu masuk menuju seluruh hari Minggu. Terlihat bahwa lektionari sangat menentukan dalam Introitus.
Sambutan Jemaat (nyanyian pertama) bagi Intoritus, yaitu ketika dia melewati pintu itu adalah dengan menyanyikan “Haleluya” sebanyak 3 kali. Dalam tradisi yang lebih tua, “Haleluya” dinyanyikan menyambut pembacaan Injil. Di sini terjadi perubahan, di mana Haleluya menjadi seruan atas masuknya jemaat ke dalam pelayanan Allah!

Doa Kollekta: Disebut kollekta, karena pada awalnya doa-doa ituadalah doa pribadi dari umat, lalu pemimpin ibadah mengumpulkan (collect) beberapa darinya dan mendoakannya secara bersama. Isinya mengikuti suatu susunan yang indah: Pembukaannya yang juga disebut invocatio, pada umumnya menyeru kepada Allah. Pembukaan menentukan penutup. Bila Allah Bapa yang diseru, maka akan ditutup dengan Nama Yesus Kristus. Ada beberapa bagian yang menyeru Yesus Kristus pada awal doa. Bila isinya diperhatikan secara seksama, terlihat bahwa setiap doa mempunyai jiwa dan semangat yang sesuai dengan tahun gerejawi dan di dalamnya terkandung pernyataan yang penuh keyakinan tentang Allah dan juga harapan-harapan serta permohonan yang berkaitan dengan keselamatan manusia. Dalam beberapa bagian, seruan yang kuat didasari oleh pemahaman akan ke-Tritunggal-an Allah sangat menonjol.

Nyanyian pertama (sambutan jemaat terhadap Intoritus dan Doa Kollekta): pada dasarnya isi nyanyian dalam Agenda selalu menunjuk pada apa yang sebelumnya disampaikan. Oleh karena itu nyanyian kedua ini menyangkut apa yang tadi sudah didoakan, sehingga nyanyian itu menggenapkan dan memakukan apa yang sudah terdengar dalam Introitus tadi. Dalam perkembangan selanjutnya terlihat kebiasaan untuk mengaitkan isi nyanyian dengan apa yang berikutnya, sehingga nyanyian kedua ini jadinya berisi sesuatu yang berhubungan dengan Hukum Taurat Tuhan.

Rumpun Kedua:

Hukum Taurat Tuhan: Pada mulanya yang dibacakan selalu ke Sepuluh Firman sebagaimana dituliskan dalam Agenda atau bagian dari Katekhismus. Tetapi perkembangan kemudian digantikan dengan ayat-ayat yang berisi anjuran dan disebut sebagai “pengganti Hukum Taurat”. Istilah ini sebenarnya tidak tepat karena Hukum Taurat tidak pernah diganti. Secara rumpun liturgis, ayat itu masih tetap dalam Konfessi, perlu dipertimbangkan, apakah itu sesuai dengan unsur-unsur liturgy. Jemaat kemudian menyambut Hukum Taurat Tuhan dengan memohon kekuatan untuk melakukan Hukum Tuhan.

Nyanyian kedua (sambutan jemaat) merupakan jawaban dan ungkapan sukacita jemaat atas kesediaan Tuhan mendengar doa umatNya akan dikuatkan melaksanakan kehendak Tuhan. Dalam perkembangan kemudian ada kebiasaan mengisinya dengan bagian yang berikut yaitu pengakuan dosa, karena melalui Hukum Tuhan, jemaat menyadari dosanya.

Pengakuan dosa, Berita Pengampunan, Gloria in Exelcis/Nyanyian Malaikat: Bagian ini mengikuti arah baru bila dibandingkan dengan unsur liturgy yang sebelumnya, yaitu dengan pengakuan jemaat. Dalam doa ini, paragenda mewakili jemaat. Oleh karena itul jemaat diam dan hati diarahkan mendengarkan pemberitaan pengampunan Tuhan. Pemberitaan pengampunan dalam hal ini datang dari Allah sehingga pada bagian pembacaan pengampunan, paragenda mewakili Allah. Sesudah itu terdengarlah Nyanyian Malaikat “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi” yang merupakan peristiwa besar menurut Lukas 15, bahwa di mana ada orang yang berdosa kembali ke jalan yang benar, maka malaikat bersukacita di sorga. Dalam hal ini paragenda mewakili malaikat, yang bersukacita karena jemaat kembali ke jalan yang benar. Jemaat kemudian menyambut nyanyian malaikat itu dengan “Amin”!

Nyanyian ketiga (sambutan jemaat): isinya adalah ungkapan mensyukuri Allah atas kesedianNya memberi pengampunan, yang dinyanyikan dengan penuh sukacita. Perkembangan terkahir di mana nyanyian keempat ini sering berbentuk permohonan tidak sesuai.

Rumpun Keempat:

Epistel: Jemaat mendengar Firman Allah melalui apa yang dituliskan oleh para Rasul. Seperti disebutkan tadi, hingga tahun 1960-an Epistel selalu diambil dari Surat-surat para Rasul, yaitu mulai dari Kisah Para Rasul hingga Wahyu, tidak pernah dari Perjanjian Lama atau dari Injil. Dalam bagian ini Paragenda mewakili Allah yang berfirman melalui RasulNya. Epistel ditutup dengan Ucapan bahagia.

Nyanyian keempat: merupakan sambutan jemaat akan Epistel.

Bagian Jemaat:
Rumpun ke lima:
“Seruan Liturgis” untuk jemaat agar bangkit beridiri. Karena pengakuan iman akan diucapkan bagi dunia, dan juga mengingat pengakuannya pada waktu baptisan.

Pengakuan Iman: Sambutan gembira dari seluruh jemaat dan seruan kesaksian pada dunia akan seluruh perbuatan Allah yang sudah dialami melalui seluruh unsur-unsur diatasi, yaitu: jemaat bersukacita karena FirmanNya, TauratNya, PengampunanNya dan Petunjuk hidup dariNya melalui para Rasul. Oleh karena itu jemaat berdiri untuk menyaksikan pada seluruh dunia, apa yang dia percayai. Oleh karena itu kalimat yang akan diucapkan secara bersama oleh jemaat adalah kalimat manusia itu sendiri, dia tidak mewakili siapa-siapa lagi, melainkan bersama dengan seluruh jemaat dari masa lalu, masa kini sampai masa depan, itulah sebabnya disebut: “Sebagaimana disaksikan oleh jemaat di segala tempat dan abad”.

Warta Jemaat: Di sini, kehidupan jemaat termasuk persembahannya, ucapan syukur dan peristiwa penting dalam dirinya, diumumkan. Hidup jemaat dilihat kembali secara baru, tidak sekedar kehidupan rutin. Oleh karena itu pengumuman ini sangat penting, tidak sekedar tertulis. Bila memang terlalu panjang, korban persembahan yang diberikan jemaat cukup jumlah global yang dibacakan, tetapi tidak layak bila tidak dibacakan karena sudah dicetak dalam kertas acara. Beberapa jemaat masih mempertahankan kebiasaan melakukan doa syafaat sesudah warta jemaat.

Dalam Bagian jemaat inilah letak dari Paduan Suara, boleh diletakkan sesudah pengakuan iman dan sesudah Warta Jemaat. Paduan Suara tidak boleh diletakkan dalam bagian lain.

Sambutan Jemaat melalui Nyanyian ke lima: Memimpin hati jemaat untuk mendengar Pembacaan Injil dan Khotbah. Tadinya tidak ada persembahan dalam bagian ini, tetapi karena diperlukan pada jaman belakangan ini, maka diselipkanlah persembahan, sehingga pengarahan hati menuju pemberitaan Firman bisa saja disebut sebagai penguatan, di mana hati jemaat mengarah pada Allah. Sebenarnya persembahan tidak boleh diletakkan dalam bagian ini.

Bagian Allah:
Salam Rasul:
Salam Rasul disampaikan adalah menjadi pernyataan bahwa pengkhotbah menyampaikan Firman dalam pengutusan yang sama dengan para Rasul. Salam Rasul ini juga dinyatakan Pendeta sebagai ketaatan akan ordinasi yang diembannya, di mana pendeta diordinasi untuk Pemberitaan Firman dan Sakramen.
Kecenderungan belakangan ini, berdoa memohon Roh Kudus sebelum khotbah, adalah pengaruh dari gereja Kalvinis. Doa Permohonan Roh Kudus atau yang disebut Epiklesis, letaknya adalah dalam Perjamuan Kudus sebelum Penetapan perjamuan Kudus. Karena Perjamuan tidak lagi dirayakan setiap Minggu, dan Khotbah adalah penampakan di mana Firman menjadi daging, maka doa Epiklesis dipindahkan ke Pemberitaan Firman. Teologi Liturgi yang diikuti HKBP tidak memungkinkan Epiklesis lepas dari Perjamuan Kudus.

Pembacaan Injil/Khotbah: Sebagaimana disebutkan sebelumnya, pada awalnya bagian Alkitab yang dibacakan di sini adalah perikop yang diambil dari ke empat Injil dan disesuaikan dengan tahun gerejawai. Perikop itu kembali lagi sesudah 3 tahun. Perkembangan sesudah tahun-tahun 1960-an pembacaan diambil dari bagian mana saja dalam Alkitab termasuk Perjanjian Lama. Tetapi di dalam Almanak masih tetap dipertahankan kata Ev (Evangelium) padahal isinya tidak lagi dari Injil, tetapi jadinya kata itu dimaksudkan untuk perikop yang akan dikhotbahkan. Dalam Gereja yang masih dekat dengan tradisi Kalvinis dan Lutheran, Pembacaan Injil tetap ada, tetapi untuk khotbah ditentukan dari perikop lain.

Nyanyian Thema: Inilah inti dan puncak dari seluruh nyanyian dalam kebaktian Minggu, karena dia berkaitan dengan thema dalam hari Minggu itu sesuai dengan Tahun Gerejawi, berarti senyawa dengan Introitus, Epistel dan Evangelium. Dia merupakan sukacita dan rasa syukur atas pemberitaan Firman Kebiasaan lain adalah mengulangi aspek tertentu dari khotbah atau melanjutkan isi khotbah itu dengan perenungan melalui nyanyian. Pada kesempatan ini persembahan dijalankan. Sambutan jemaat itu semakin dalam, karena melalui persembahan itu unsur penyerahan hidup berlangsung bersamaan dengan nyanyian itu. Dan inilah juga thema penting dalam doa persembahan pada bagian berikut.

Doa persembahan: isinya adalah mensyukuri seluruh anugerah Allah dan melihat kehidupan sebagai bagian milik Allah. Jemaat kemudian menyambut dengan nyanyian penyerahan diri.

Doa Syafaat: Bagian ini merupakan rumpun liturgi yang sering dilupakan, di mana doa yang tergolong Proprium ini tidak selalu didoakan lagi. Pada hal di dalamnya terrangkum teologi politik, ekonomik dan Missiologi. Bahkan pemahaman kita tentang perayaan-perayaan aka Pesta-pesta Gerejawi menurut Tahun Liturgi juga dinyatakan dalam doa ini. Mengabaikannya berarti kita mengabaikan teologi yang sebenarnya dimiliki oleh HKBP.

Doa Persembahan:
Doa persembahan ini tidak ditemukan dalam Agenda versi 1919 dan 1939. Kemungkinan pada perkembangan selanjutnya dimasukkan dalam doa persembahan. Seandainya dijumpai versi doa dalam bentuk yang lain, maka ada kemungkinan kita dapat mengetahui kapan doa tersebut dimasukkan. Secara teologis, kita dapat menduga mengapa tidak ada doa persembahan di sini : karena lazimnya di gereja-gereja Luther, saat menyerahkan persembahan adalah masa peralihan untuk masuk dalam Perjamuan Kudus. Sebelum persembahan dijalankan, selalu didahului dengan pembacaan ayat yang dikutip dari Mazmur atau Surat-surat Rasul yang berkaitan dengan kesediaan memberikan persembahan. Ketika persembahan disampaikan ke depan altar, maka perlengkapan Perjamuan Kudus juga secara bersamaan dibawa ke depan altar. Selanjutnya diikuti dengan doa syafaat yang bentuknya sama dengan doa sesudah khotbah sebagaimana yang telah diterangkan di atas. Persembahan yang telah dikumpulkan setiap Minggu diserahkan kepada Diaken untuk membagikannya kepada orang miskin. Oleh karena itu berkaitan dengan Perjamuan Kudus, pengorbanan diri Yesus Kristus, Penebus dunia adalah awal mula Perjamuan Kudus. Dengan demikian orang yang ambil bagian di dalamnya juga meniru pengorbanan diri Yesus dengan cara mempersembahkan dirinya untuk membantu orang yang kekurangan. Semua ini dilayani oleh Diaken. Itulah sebabnya Perjamuan Kudus memunculkan Diakoni. Namun Agenda kita tidak lagi memperlihatkan kaitan ini.

Tidak ada keterangan yang diperoleh, seperti apakah bentuk Agenda Union dari Prussia yang terdahulu. Namun kita dapat menduga, mengapa dalam perkembangan selanjutnya muncul doa persembahan. Gereja-gereja yang tidak melayankan Perjamuan Kudus setiap hari Minggulah yang memunculkannya. Jika tidak ada Perjamuan Kudus setiap hari Minggu, maka ibadah seolah terputus dan persembahan juga tidak ada. Maka dimunculkanlah doa persembahan, akan tetapi maknanya dipisahkan dari Perjamuan Kudus.

Doa “Bapa Kami”: Bagian terakhir doa dinyanyikan oleh jemaat dengan melodi yang anggun.

Berkat Harun:
Berkat ini diucapkan oleh Pendeta saja. Akhir dari berkat ini Pendeta jangan menyebutkan ‘Amin’, karena itu adalah bagian dari sambutan Jemaat. Perlu juga diingatkan bahwa sesudah jemaat menyambut ‘Amin’ nanti, maka Pendeta jangan mengucapkan lagi ‘shaloom’, sebab berkat Harun dalam bahasa Ibrani sudah diakhiri dengan kata ‘shaloom’ yang diterjemahkan dengan ‘damai-sejahtera’.

Sambutan Jemaat: dengan menyanyikan Amin 3 kali.

2 thoughts on “LITURGI MINGGU HKBP DAN PENJELASANNYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *