BAHAN PENELAAHAN ALKITAB PEMUDA JULI 2020

Minggu IV Setelah Trinitatis
Tanggal 5 Juli 2020

1. Bernyanyi : KJ.379:1+3 “Yang Mau Dibimbing Oleh Tuhan”
2. Doa Pembuka
3. Pembacaan Nas Alkitab : KEJADIAN 39:1-6
4. Pengantar :

“PENYERTAAN TUHAN KUNCI KEBERHASILAN KITA”
Kitab Kejadian mengisahkan penciptaan alam semesta, asal usul manusia, pangkal dosa dan penderitaan di dunia, serta bagaimana Allah berhubungan dengan manusia. Tekanan dari buku ini adalah bagaimana Allah membimbing dan menolong umatNya serta menyertai pribadi-pribadi yang hormat dan setia kepadaNya. Secara khusus penulis kitab ini juga memberi perhatian kepada salah seorang anak Yakub yang bernama Yusuf. Siapakah Yusuf? Yusuf adalah putra pertama dari istri kesayangan Yakub, Rahel, yang tidak segera mengandung dalam waktu begitu lama sampai Yakub menjadi seorang pria tua pada saat Yusuf lahir. Yakub memiliki selusin anak laki-laki dari dua istri dan dua hambanya. Di keluarga yang penuh persaingan sengit antara para ibu dan para anak untuk mendapatkan perhatian Yakub, maka yang selalu sasaran mereka adalah Yusuf karena ia kesayangan ayahnya ditambah lagi dengan gambaran mimpi-mimpi Yusuf, menyulut api cemburu. Karena kecemburuan itulah saudara-saudaranya berencana jahat, mulai dari hendak membunuhnya sampai menjualnya kepada kafilah pedagang budak Mesir dengan harga 8 ons perak.
Di Mesir, sepertinya Yusuf hidup nyaman karena Potifar, kepala pengawal raja, yang membelinya. Bahkan jauh dari pada itu, Potifar menyukainya dan akhirnya menjadikannya sebagai pengurus rumah tangga yang bertanggung jawab mengurusi tanaman, ternak dan segala sesuatu yang melibatkan harta kekayaannya. Hal ini memunculkan pertanyaan bagi kita, bagaimana bisa, seorang budak disukai tuannya dan diberi kepercayaan yang begitu besar? Mari kita telaah: (1) Tuhan menyertainya. (ay.2). Segala bentuk kekerasan yang telah didapatkan, dibuang dari antara saudara-saudara sebagai orang yang tidak berdaya, bahaya yang mengancam silih berganti dalam kehidupan namun selamat, inilah bukti Tuhan menyertainya. Ketika saudara-saudaranya tidak menginginkannya hadir di antara mereka namun Allah justru memakainya hadir dan berkarya di tempat asing. (2) Tuhan membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakan Yusuf (ay.3-5). Penyertaan Tuhan membawa berkat bagi Yusuf. Pada gilirannya, kehadiran Yusuf “menularkan” berkat bagi tuannya. Di sana jelas dikatakan “TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf” (ay.5). Sekali lagi, ini karena penyertaan Tuhan, kehadiranNya di dalam kehidupan Yusuf. (3) Kekudusan hidup Yusuf. Walaupun TUHAN adalah penentu keberhasilan Yusuf, tetapi bukan berarti Allah tidak melibatkan aspek manusia. Kegagalan manusia memang tidak dapat mengubah rencana Allah (Abraham, Ishak dan Yakub beberapa kali gagal), namun Allah tetap menyertakan tindakan manusia dalam realisasi rencanaNya. Allah tetap memperhitungkan ketaatan umat-Nya. Dalam Kejadian 26:2-4 Allah meneguhkan kembali janji-Nya kepada Ishak dengan alasan “karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku” (26:5). Demikian pula dengan keberhasilan Yusuf di Kejadian 39. Yusuf menunjukkan sikap moral yang tepat ketika menghadapi masalah, ia berpegang teguh pada kebenaran. Dia memiliki konsep yang tepat terhadap kekudusan hidup dan mengimplementasikannya dalam keseharian hidupnya. Dan inilah kunci keberhasilan hidupnya.
Melalui Nas ini, kita disapa dan diajak untuk belajar tentang keberhasilan hidup. Keberhasilan itu bukan ditentukan dengan IQ yang tinggi atau kecerdasan kita, bukan juga karena relasi kita yang luas, apalagi backing. Alkitab tidak mencatat hal tersebut ada pada Yusuf. Yang dicatat Alkitab tentang rahasia keberhasilan Yusuf adalah: “Tetapi Tuhan menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya”. Yusuf mengandalkan penyertaan Tuhan dan selalu menghormati Tuhan dalam pekerjaannya. Di mata manusia, perjalanan Yusuf mungkin terlihat lambat dan penuh hambatan. Tapi Tuhan tahu yang terbaik. PenyertaanNya membawa Yusuf meraih hasil yang tak pernah ia bayangkan. Betapa senangnya mendapatkan penyertaan Tuhan dalam segala sesuatu yang kita lakukan. Punya IQ tinggi, relasi luas atau uang banyak, itu berkat yang luar biasa, tetapi ingatlah bahwa semua itu bersumber dari Tuhan. Jangan sampai hal-hal yang terbatas itu malah membuat kita tidak lagi mengandalkan Tuhan. Jangan sampai hal-hal itu menjadi berhala dalam hidup kita dan mengendalikan perilaku kita. Carilah penyertaan Tuhan dalam segala sesuatu. Dia menuntun kita bukan melalui jalan termudah, tetapi pastinya melalui jalan terbaik untuk meraih keberhasilan.

5. Diskusi:
1. Sebagai kaum muda yang masih memiliki semangat dan idealisme, kita pasti memiliki keinginan yang kuat untuk berhasil dalam kehidupan kita. Jika diperhadapkan dengan Nas PA saat ini, apa yang harus kita lakukan agar keinginan kita tersebut tercapai? Nilai-nilai apa yang urgen kita lakukan.
2. Sebagai generasi penerus gereja dan sebagai pribadi yang takut akan Tuhan, masihkan engkau merasakan penyertaan Tuhan dalam hidupmu? Gambarkanlah penyertaan Tuhan yang masih engkau rasakan.

6. Bernyanyi KJ.370,1-2 “ ‘Ku Mau Berjalan Dengan Jurus’lamatku”
7. Doa syafaat
8. Bernyanyi KJ.345,1-2 “Sertai Kami Tuhan”
9. Doa Bapa Kami

Minggu V Setelah Trinitatis
Tanggal 12 Juli 2020

1. Bernyanyi : KJ.367:1-2 “PadaMu, Tuhan dan Allahku”
2. Doa Pembuka
3. Pembacaan Nas Alkitab : YUDAS 1:20-23
4. Pengantar :

“BINALAH HIDUPMU DI ATAS DASAR IMAN”
Surat Yudas ini ditulis untuk memperingatkan para pembacanya supaya waspada terhadap guru-guru palsu yang menyebut dirinya Kristen, yang terang-terangan berhaluan antinomisme, yang mengajarkan bahwa keselamatan melalui kasih karunia mengizinkan mereka untuk berdosa tanpa dijatuhi hukuman. Para guru palsu ini juga menghina pernyataan rasuli tentang pribadi dan tabiat Yesus Kristus (ay.4) sehingga memecah –belah gereja mengenai apa yang harus dipercaya (ay.19a +22) dan bagaimana harus berperilaku (ay.4,8 dan 16). Yudas sendiri melukiskan guru palsu yang tak berprinsip ini sebagai orang-orang fasik (ay.15) dan juga sebagai orang tanpa Roh Kudus (ay.19), karenanya ia mendorong para pembaca supaya terus berjuang untuk iman. Sebagai orang percaya kita harus mempertahankan dan menyebarluaskan iman serta melawan ajaran palsu dengan empat cara: Pertama, dengan membangun diri kita sendiri di dalam iman kita yang paling kudus itu. Iman Kudus adalah penyataan Perjanjian Baru yang disampaikan kepada kita oleh Kristus dan para Rasul (ay.3). Hal ini menuntut agar kita mempelajari firman Allah dan mempunyai ketetapan teguh untuk berusaha mengetahui kebenaran dan ajaran Alkitab (bandingkan Kisah 2:42; 20:27; 2Tim.2:15 dan Ibrani 5:12). Kedua, Dengan berdoa. Kita harus berdoa dengan kemampuan yang diberikan Roh Kudus, yaitu dengan memohon kehadiran RohNya untuk mengilhami, menuntun, menguasai, memelihara dan menolong kita untuk berjuang dalam doa kita (bnd.Roma 8:26; Gal.4:6; Ef.6:18). Ketiga, Dengan tetap tinggal dalam lingkaran kasih Allah kepada kita. Ini termasuk ketaatan yang setia kepada Allah dan firmanNya (Yoh.15:9-10) dan yang Keempat, dengan merindukan dan menantikan kedatangan Tuhan dan kemuliaan abadi yang menyertai kedatanganNya (Yoh.14:2).

Sebagai orang yang berjiwa muda, apalagi yang mencintai travelling saudara/i mungkin pernah merasakan pengalaman seperti ini: kita melihat gunung, dari kejauhan gunung itu tampak berwarna biru. Tetapi, setelah dekat, ternyata keadaannya tidak demikian. Ada deretan pepohonan besar, ada permukaan tanah yang cokelat, dan sebagainya. Seperti penampakan gunung, tidak sedikit orang yang mengaku dirinya Kristen, hidupnya kelihatan rohani, tetapi sebenarnya ia tidak memiliki iman. Bisa jadi ia kelihatan baik, tetapi ternyata menipu sesamanya. Ada juga yang menduakan Tuhan dengan masih pergi ke dukun atau paranormal untuk meminta petunjuk. Melalui nas PA saat ini, Yudas mengingatkan seharusnya kita membangun diri sendiri di atas dasar iman yang paling suci. Orang yang membangun rumah tidak hanya membuat fondasi, namun menyelesaikannya sampai rumah berdiri. Kita pun tidak tinggal dalam keadaan yang tetap sama seperti ketika baru bertobat, tetapi terus bertumbuh. Sedangkan dasar iman yang paling suci itu adalah Yesus Kristus, bukan yang lain. Juga dikatakan, berdoalah dalam Roh Kudus. Maksudnya, bila kita berdoa dengan penuh kepercayaan kepada Yesus, kuasa Roh Kudus akan dinyatakan atas hidup kita. Bukan pula berdoa menuruti hawa nafsu, melainkan berdoa selaras dengan kehendak Tuhan. Orang yang hidup dalam dasar iman yang benar tidak akan diombang-ambingkan oleh angin pengajaran sehingga ia tidak menyimpang dari kebenaran. Sebaliknya, ia akan terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan menjadi semakin serupa dengan gambaran AnakNya. Kiranya kehidupan kita pun demikian.

5. Diskusi:
1. Pernahkah anda mengetahui dan bertemu dalam masyarakat adanya ajaran-ajaran palsu yang bertentangan dengan kebenaran Alkitab? Sebutkan dan terangkan!
2. Berikanlah pemahamanmu apa yang dimaksud dengan menjalankan Injil dengan murni.

6. Bernyanyi KJ.450,1+4 “ ‘Hidup Kita Yang Benar”
7. Doa syafaat
8. Bernyanyi KJ.446,1-2 “Setialah”
9. Doa Bapa Kami

Minggu VI Setelah Trinitatis
Tanggal 19 Juli 2020

1. Bernyanyi : KJ.413:1+3 “Tuhan, Pimpin Anakmu”
2. Doa Pembuka
3. Pembacaan Nas Alkitab : 1RAJARAJA 3:5-14
4. Pengantar :

“MINTALAH HIKMAT DARI TUHAN”
Buku 1Rajaraja merupakan lanjutan dari buku Samuel tentang sejarah pemerintahan raja-raja Israel. Salah satu yang dimuat dalam Buku ini yang berkaitan dengan Nas PA kita adalah, wafatnya Raja Daud dan pengangkatan Salomo menjadi raja atas Israel dan Yehuda menggantikan Daud. Di dalam buku Raja-raja ini setiap raja-raja dinilai berdasarkan kesetiaannya kepada Tuhan, dan keberhasilan bangsa adalah akibat dari kesetiaan tersebut, sebaliknya penyembahan berhala dan ketidaktaatan mengakibatkan bencana.

Ayat 4. Dalam awal perikop kita saat ini diterangkan tentang Salomo memberikan korban penyembahannya kepada Tuhan di rumah ibadat Gibeon. Hal ini dilakukannya bukan semata-mata agar Tuhan Allah memberkatinya, namun sebagai wujud rasa syukurnya kepada Tuhan yang telah membangun bangsa Israel, menjadikan bangsa itu menjadi bangsa yang kuat, makmur, sejahtera dan masyur. Pada saat itu Salomo tidak membawa nama pribadi dalam menyampaikan korban penyembahannya. Namun dia juga membawa rakyatnya untuk menyampaikan korban tersebut kepada Allah (bd.2Taw.1:1-6). Artinya dia ingin agar segenap bangsanya juga senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan mengucap syukur atas segala kebaikanNya. Dari 2Tawarikh 1:1-6 ini dapat kita lihat bahwa Salomo tidak asal berangkat membawa korban persembahannya kepada Allah. Dia terlebih dahulu mempersiapkan segala sesuatu yang hendak dia persembahkan kepada Allah dan pastilah itu semua adalah yang terbaik. Sikap Raja Salomo dalam menghadap Tuhan ini juga menjadi teladan bagi kita dalam mempersiapkan diri menghadap Allah dan mempersiapkan persembahan kita kepadaNya. Bukan hanya materi yang perlu kita siapkan, namun hati yang paling tulus dalam menghadap Tuhan.
Ayat 5-9. Pada malam hari setelah Salomo memberikan korban kepada Allah, maka Allah menampakkan diriNya kepada Salomo dalam mimpi. Perjumpaan Allah dengan Salomo meskipun hanya dalam mimpi memiliki makna yang sangat dalam hidup Salomo. Perjumpaan ini bisa berarti bahwa doa dan persembahan Salomo diterima oleh Allah. Dalam perjumpaan ini, Salomo dapat merasakan indahnya berkomunikasi dengan Allah. Allah memberikan anugerah besar kepada Salomo dengan memberikan kesempatan kepadanya untuk meminta apa yang harus Allah berikan kepadanya. Situasi ini merupakan situasi yang sangat luar biasa yang barangkali tidak pernah diduga oleh raja Salomo. Ibarat akan mendapat hadiah besar, Salomo diberi kesempatan untuk memilih dengan bebas apa yang dia inginkan. Sebelum dia meminta apa yang dia butuhkan, dia terlebih dahulu mengenang kebaikan-kebaikan Allah kepada Ayahnya, Daud. Salomo mengenang segala berkat Tuhan dalam pemerintahan ayahnya dan dia menyadari semua itu adalah berkat dan anugerah Tuhan semata, bukan karena kehebatan ayahnya. Salomo juga sadar bahwa Allah jugalah yang mengurapinya menjadi raja atas bangsa Israel. Berdasarkan pemahaman dan kesadaran itulah dia juga mengharapkan belas kasihan dan anugerah agar Allah memberinya “Hati yang faham menimbang perkara dan menghakimi umat Allah dengan dapat membedakan yang baik dan yang jahat”. Mengapa Salomo meminta hikmat dan pengertian dari Tuhan, mengapa bukan kekayaan, panjang umur atau yang lain? Dalam ayat 7-8, Salomo menunjukkan sebuah sikap yang mungkin tidak akan diungkapkan oleh seorang raja, yaitu merendahkan diri di hadapan Tuhan. Salomo menyadari kelemahan dan kekurangannya sebagai manusia. Dia juga mengenal siapa yang akan dia pimpin, yaitu bangsa Israel yang jumlahnya tiada terhitung. Dan lebih daripada itu, kita juga tahu bahwa bangsa Israel bukanlah bangsa yang mudah untuk dipimpin karena mereka adalah orang-orang yang keras kepala dan tegar tengkuk. Selain itu, bangsa Israel juga diyakini sebagai bangsa pililihan Allah, itu artinya pemimpin mereka juga haruslah orang yang dipilih Allah dan yang diberkati Allah. Salomo meminta hikmat dan pengetahuan yang bersumber dari Allah, meskipun sebenarnya di ruang lingkup istana banyak orang-orang pandai dan berpengetahuan (imam-imam dan nabi), dan dalam kepemimpinannya kelak, Salomo ingin agar dia bisa membedakan mana yang baik dan yang tidak baik bagi rakyatnya, bagi dia sendiri, terkhusus bagi Tuhan. Artinya dia ingin agar kepemimpinannya menjadi kemuliaan bagi nama Allah dan damai sejahtera serta sukacita bagi kerajaannya. Sebuah permintaan yang luar biasa dari seorang raja. Perenungan bagi kita masing-masing, seandainya kita sebagai para pelayan Tuhan dan jemaat Tuhan mendapat keistimewaan seperti Salomo, permintaan apa saja yang akan kita ajukan?

Ayat 10-14. Allah melihat bahwa permintaan Salomo itu baik. Untuk itu, Allah merespon permintaan Salomo dengan berjanji akan mengabulkan permintaannya. Allah memberikan kepada Salomo hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum dia tidak ada seorangpun yang seperti dia, dan sesudah dia takkan bangkit seorangpun seperti dia. Bahkan karena pemintaan Salomo itu baik di mata Tuhan, Allah juga memberikan bonus yang luar biasa bagi Salomo. Untuk melengkapi permohonan Salomo itu, Allah menjanjikan kepadanya kekayaan, kemuliaan serta umur yang panjang selama dia mau berpegang teguh pada ketetapan dan perintah Allah seperti ayahnya Daud.

Seandainya, pilihan diberikan Tuhan kepada kita, apa yang menjadi permintaanmu? Ketika Raja Salomo mendapat kesempatan untuk meminta apa yang ia inginkan, ia tidak meminta umur panjang, kekayaan, atau nyawa musuh, tetapi ia meminta pengertian untuk memutuskan perkara hukum. Salomo tidak meminta kenyamanan atau kemudahan, tetapi ia meminta hikmat sebagai bekal agar ia dapat melakukan tugasnya dengan baik. Pilihan Salomo itu tepat sebab Allah sendiri memandang permintaan itu baik. Allah mengabulkan, bahkan memberikan juga apa yang tidak dimintanya, yaitu kekayaan dan kemuliaan. Jika kesehatan, berkat, dan perlindungan sudah kita dapatkan. Namun, tanpa hikmat dari Tuhan, kita akan selalu merasa kurang, selalu merasa terancam, selalu hidup di dalam kekhawatiran. Hikmat Tuhanlah yang paling kita butuhkan. Dengan hikmat dari Tuhan itu, kita akan mampu untuk bersyukur atas apa yang kita miliki. Kita juga akan mampu untuk melihat penyertaan Tuhan dalam hidup kita setiap hari. Dengan demikian, kita tidak akan lagi merasa khawatir akan hari esok. Kita juga tidak akan khawatir untuk memasuki tahun yang baru sebab kita tahu bahwa Tuhan senantiasa menyertai kita. Senantiasa berdoa dan merenungkan firman Tuhan, maka hikmatNya akan menyertai kita.

5. Diskusi:
1. Sampaikanlah apa yang menjadi permintaanmu saat ini dan sampaikanlah mengapa hal tersebut menjadi permintaanmu
2. Belajar dari Nas PA saat ini, menurutmu mengapa kita harus mengutamakan hikmat dalam hidup kita, jelaskan.

6. Bernyanyi KJ.406,1+3 “Ya, Tuhan Bimbing Aku”
7. Doa syafaat
8. Bernyanyi KJ.416,1-2 “Tersembunyi Ujung Jalan”
9. Doa Bapa Kami

Minggu VII Setelah Trinitatis
Tanggal 26 Juli 2020
1. Bernyanyi : KJ.376:1+4 “Ikut Dikau Saja Tuhan”
2. Doa Pembuka
3. Pembacaan Nas Alkitab : 1TIMOTEUS 4:12-15
4. Pengantar :

“TELADAN ORANG MUDA”
Timotius adalah seorang Kristen yang masih muda di Asia Kecil (Turki sekarang), yang telah menjadi kawan dan pembantu Paulus dalam pelayanannya. Ayah Timotius seorang Yunani dan ibunya Yahudi. Dalam suratnya ini Rasul Paulus memperingatkan Timoteus tentang ajaran-ajaran salah di dalam jemaat. Ajaran-ajaran itu adalah campuran faham Yahudi dan bukan Yahudi berdasarkan kepercayaan bahwa semesta alam sudah jahat, dan keselamatannya hanya diperoleh kalau orang mempunyai pengetahuan tentang rahasia tertentu dan mentaati peraturan-peraturan seperti peraturan tidak boleh kawin, pantang makanan-makanan tertentu dan lain sebagainya. Kondisi ini, ditambah lagi dengan umurnya yang tergolong muda tadi, Paulus merasa perlu memberi semangat dan pengajaran kepadanya agar menjadi hamba Yesus Kristus yang baik yang menjalani tanggungjawabnya terhadap setiap golongan orang yang menjadi anggota jemaat. Salah satu agar yang diharapkan itu tercapai adalah dengan menjadi Teladan bagi semua orang.

Rasul Paulus memberikan nasihat khusus kepada Timotius yang terbilang muda. Mungkin jemaat waktu itu cenderung meremehkan kemampuan Timotius karena kemudaannya itu. Usia muda identik dengan kurangnya pengalaman dan wibawa. Untuk mengatasinya, Paulus mengajari Timotius agar menjadi pribadi yang patut diteladani dalam segala hal, baik perkataan maupun perbuatan (ay.12). Berbagai nasihat diberikan untuk menguatkan hati Timotius, meliputi ketekunan dalam membaca Kitab Suci, mengajar (ay.13), mengaktifkan karunia (ay.16), dan mengevaluasi diri (ay.15-16). Semua itu diperlukan Timotius terutama saat ia harus menghadapi pengajar sesat. Mungkin kita sering diremehkan karena usia, genetika, atau penampilan. Jika Timotius menunjukkan keteladanan hidup maka secara tidak langsung ia membungkam keragu-raguan jemaat di Efesus yang memandang rendah dia karena usianya yang masih muda. Dengan dasar ini maka orang muda (muda usia ataupun muda dalam hal pengalaman) berkompeten untuk melayani jemaat Tuhan atau menjadi pemimpin rohani. Keteladanan hidup adalah buah kedewasaan rohani, sebab kedewasaan rohani dalam diri seseorang tidak bergantung pada faktor usia atau berapa lama ia menjadi orang Kristen, sebab ada banyak orang Kristen yang sudah bertahun-tahun mengikut Tuhan tetap saja belum dewasa rohaninya, alias masih kanak-kanak rohani (baca Ibrani 5:12).

Belajar dari Timotius, hendaknya kita tidak menyerah. Marilah kita berketetapan hati dan memotivasi diri untuk menjadi pribadi yang patut diteladani. Melalui perkataan dan perbuatan, mari kita tunjukkan bagaimana hidup benar sesuai dengan firman Tuhan.

5. Diskusi:
1. Menurut pendapatmu, mengapa orang muda selalu dianggap rendah?
2. Dalam Nas ini digambarkan apa yang bisa dikerjakan oleh orang muda agar tidak dianggap rendah, menurut gampang atau sulitkah itu kita kerjakan, mengapa?

6. Bernyanyi KJ.424,1+3 “Yesus Menginginkan Daku”
7. Doa syafaat
8. Bernyanyi KJ.427,1-2 “Ku Suka menuturkan”
9. Doa Bapa Kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *