BUKAN SOAL MAKANAN DAN MINUMAN

Renungan Jumat, 19 Juni 2020

Dalam komunitas kekristenan, mungkin kita masih mendengar perdebatan kecil tentang makanan. Na margota dan na so margota. Bahkan pernah terjadi, satu Serikat Tolong Menolong (STM) terpecah hanya gara-gara margota dan na so margota. Bagaimana sesungguhnya kita (HKBP) memahami tentang makanan ini sendiri? Kita mempercayai dan menyaksikan, semua yang diciptakan Allah adalah baik dan kita tidak memantangkan setiap makanan yang diterima asal dengan hati yang penuh syukur dan terima kasih, sebab apa saja yang diterima menjadi suci oleh karena Firman Allah dan doa. Manusia tidak menjadi kudus karena mengindahkan bermacam-macam pantangan terhadap makanan karena imanlah yang menerima kekudusan dari Allah. Namun kita perlu menjaga agar makanan tidak berlebihan bagi setiap orang di rumah atau pun di pesta, kita perlu memelihara tubuh jasmani kita dengan memakan makanan yang sesuai untuk kesehatan. Kita harus melawan sikap yang dikuasai oleh makanan, minuman dan rokok (1Tim.4:4-5; Matius 15; Roma 14:17; Kisah Para Rasul 15; Kol.2:16-23). Jadi makanan atau minuman bukanlah soal, tetapi sikap hidup sebagai orang percaya harus diwujudnyatakan.

“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.” (Roma 14:17-18)

BE.789:3 ”Lului Hamu Harajaon ni Debata”

Ndada holan sipanganon na ringkot. Baen hangoluan ni jolma. Tung nasa hata ni Debatanta do Haleluya, haleluya. Haleluya Haleluya Haleluya Haleluya, Haleluya

Doa

Ya Allah Bapa, bimbinglah aku dengan Roh KudusMu agar hidupku dalam kebenaran, penuh damai sejahtera dan sukacita serta berkenan di hadapanMu. Amin

Selamat hari Jumat

(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *