BIASAKAN BERDOA

BIASAKAN BERDOA

Di dalam memulai hidup baru, apa yang pertama-tama harus kita disiplinkan? Jawabnya: kehidupan berdoa kita. Di dalam kehidupan sehari-hari di kota-kota besar, tidak berdoa jauh lebih mudah daripada berdoa. Betul tidak? Kita tidak perlu susah susah mencarinya. Setiap saat 1001 macam alasan (yang sah) sudah siap di ujung bibir kita untuk memberi pembenaran mengapa kita tidak berdoa. Capek. Buru-buru. Sibuk ini. Sibuk itu. Ribut. Berisik. Sulit konsentrasi. Sebentar-sebentar bayi saya terbangun. Wah, acara TVnya sedang asyik nih! Keburu ngantuk. Lalu “Untuk apa berdoa, kalau cuma sekadar kebiasaan?” Stanley Jones, misionaris terkenal, memberi kesaksian bagaimana ja mendisiplinkan kehidupan doanya. “Saya memutuskan untuk memberikan sekian waktu sehari untuk berdoa. Kebiasaan itu terus saya pelihara sampai sekarang. Kalau oleh karena sesuatu yang amat sangat terpaksa saya tak dapat memenuhinya, o, saya merasa sangat terganggu. Seakan-akan ada satu alat musik dari simfoni kehidupan saya yang tak berfungsi. Seluruh simfoni menjadi sumbang.

Seorang mahasiswa pengantuk yang ingin disiplin berdoa, berkisah. Banyak kali belum sampai “amin”, ia sudah lelap tertidur. Toh ia tidak menyerah. la menerapkan cara ini: setiap kali ia tertidur sementara berdoa, ia menghukum dirinya sendiri, yaitu membayar sejumlah uang. Hasilnya? Pada akhir bulan, ia kelabakan. Jumlah denda yang harus ia bayar ternyata melebihi uang makan dan uang sakunya. Karena itu untuk bulan berikutnya, ia harus mengurangi makan, tidak ke bioskop, dan bekerja ekstra. Namun sejak itu, ia tidak ngantuk-ngantuk lagi ketika berdoa! Jangan katakan tidak perlu ada waktu dan tempat khusus untuk berdoa. Untuk yang khusus dibutuhkan sikap khusus! Ada orang yang berkata lebih baik tidak berdoa daripada sekadar kebiasaan. Salah? Justru sebaliknya: jadikan doa kebiasaan yang baik!

Sumber:

Eka Darmaputera, 365 Anak Tangga Menuju Hidup Berkemenangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *