LITURGI PARTANGIANGAN KELUARGA, 22 JULI 2020

Bernyanyi BE.15:1+4 “Aut na Saribu Hali Ganda”

♫  Aut na saribu hali ganda saringar ni soarangki. Naeng nasa gogo bahenonhu mamuji Debatanta i. Paboa las ni rohangki hinorhon ni pambaenNa i

♫   Mauliate ma rohangku di Ho O Debata tongtong. Dibaen sude denggan basaMu naung nilehonMu di au on. Ai dipatongon Ho tongtong sude na ringkot di au on

Votum – Introitus – Doa (P- Pemimpin; K-Keluarga; S- Semua)

P-  Di dalam nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi.

K- Amin

P-  Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

K- Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.

P-  Marilah kita berdoa: Ya Tuhan Allah yang Maha Kuasa! Berikanlah bagi kami iman yang benar, yang tumbuh dan kuat. Berikanlah bagi kami kasih yang setia mencintai Tuhan dan manusia. Berikanlah bagi kami pengharapan yang hidup supaya kami bersukacita melakukan kehendakMu. Dengarlah doa kami ini di dalam nama AnakMu, Tuhan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bernyanyi BE.212:1+ “Haholongon na Badia”

♫  Haholongon na badia, Sian Tuhan Jesus i. Sai songgopi sai bongoti Roha dohot tondingki

♫  Sai palambas ma rohangku, Dompak angka dongan i. Asa tung ringgas rohangku, Lao manesa dosa ni i.

Pembacaan Alkitab IMAMAT 19:9-18 dan Keterangan

P-   Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu.

K-   Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu.

P-   Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya.

K-   Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.

P-   Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.

K-   Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.

P-   Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.

K-   Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN.

P–   Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.

K-   Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

“GAYA HIDUP ORANG KRISTEN”

Jemaat Terkasih,

Setiap kumpulan masyarakat pasti memiliki nilai dan kebiasaan yang khas. Keunikan ini disebabkan oleh banyak faktor: sejarah, geografis, pengalaman tertentu, dsb. Akibatnya, gaya hidup yang dianut oleh suatu komunitas biasanya akan berbeda dengan komunitas lain. Bangsa Israel sebagai umat pilihan juga merupakan suatu kumpulan yang khusus. Imamat Pasal 19 menunjukkan bahwa keunikan mereka mencakup tiga macam relasi: dengan TUHAN (19:3-8), dengan sesama (19:9-18) dan dengan bangsa-bangsa lain (19:19-37). Relasi dengan TUHAN lebih menyentuh aspek ibadah yang berkenan kepada-Nya. Relasi dengan sesama lebih ke arah aspek moral dan sosial. Relasi dengan bangsa-bangsa lain berkaitan dengan perbedaan gaya hidup sehari-hari antara umat TUHAN dengan bangsa-bangsa itu dan khusus renungan kita saat ini adalah bagaimana seharusnya kita memiliki relasi dengan sesama.

Jemaat Terkasih, Gaya hidup yang dituntut di Imamat 19 dilandaskan pada sifat TUHAN. Secara khusus bagian ini lebih menyoroti sifat Allah yang kudus. Umat Allah harus kudus, sebab TUHAN adalah kudus (19:2). Bagian selanjutnya terus-menerus mengingatkan siapa Allah yang kudus ini. Frasa “Akulah TUHAN (Allahmu)” muncul berkali-kali dan bagian ini juga dibuka dan ditutup dengan frasa yang sama. Dari poin di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kesalehan seharusnya bersumber dari pengenalan kepada TUHAN. Semakin kita mengenal Dia, semakin kita ingin menjadi serupa dengan Dia. Kita menjadi sama dengan siapa yang kita sembah. Siapa kita ditentukan oleh siapa Allah kita. Jadi, seluruh kehidupan kita seharusnya menjadi cerminan nyata dari sifat-sifat Allah. Poin di atas seringkali diabaikan oleh banyak orang. Mereka menaati hanya supaya diberkati. Kesalehan mereka hanyalah sarana untuk menghindarkan diri dari hukuman. Imamat 19 mengingatkan kita kembali bahwa keunikan gaya hidup kita dibangun di atas pengenalan terhadap Allah! Apa saja yang seharusnya menjadi karakteristik dari gaya hidup umat Tuhan? Pertama, belas-kasihan (ayat 9-10). Pada waktu itu beberapa kelompok orang dikategorikan sebagai orang yang lemah adalah orang miskin dan orang asing. Mereka tidak memiliki tanah. Kehidupan mereka bergantung pada orang lain yang mau memperkerjakan mereka sebagai buruh upahan. Persoalannya, pekerjaan seperti ini juga tidak selalu mudah untuk didapatkan. Orang-orang kaya sudah memiliki hamba-hamba untuk melakukan semua jenis pekerjaan. Bagaimana mereka bisa mendapatkan makanan? Allah sudah menyiapkan banyak hal untuk mereka. Salah satunya adalah aturan tentang panen. Orang-orang kaya yang memiliki ladang tidak boleh mendapatkan 100% dari seluruh hasil panen. Para pekerja mereka tidak boleh memanen semua yang ada sampai tidak tersisa sama sekali. Mereka tidak boleh memanen dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Tradisi Yahudi menerangkan bahwa sedikitnya 1/6 bagian dari ladang harus dibiarkan untuk orang miskin dan orang asing. Kedua, kejujuran (ayat 11-12). Perhatian terhadap orang miskin (1:9-10) langsung diikuti dengan larangan tentang mencuri dan berbohong (19:11-12). Ketiga, penghargaan (ayat 13-14). Bagian ini berbicara tentang tindakan yang tidak menghargai pihak lain yang kurang beruntung. Ini adalah eksploitasi kelemahan orang lain. Semua tindakan tidak terpuji di sini layak disebut perampasan (ayat 13). Salah satu jenis perampasan adalah penahanan upah pekerja harian (ay.13). Orang miskin sangat bergantung pada upah yang diterima setiap hari. Jika dia tidak bekerja atau upahnya ditahan oleh tuannya, seluruh keluarganya bisa menderita (Ul.24:15). Mereka mungkin tidak mampu membeli makanan untuk keesokan harinya. Perampasan hak seperti ini jelas tidak menghargai (hak) orang lain. Seorang pekerja berhak mendapatkan upahnya. Pekerja harian berhak mendapatkannya setiap hari. Tindakan lain yang tidak terpuji adalah menghina pihak lain yang lemah (ay.14). Bangsa Israel dilarang untuk mengutuki orang tuli maupun meletakkan halangan di depan orang buta. Tiga karakteristik di atas tercermin dengan sempurna dalam kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus. Dia menunjukkan belas-kasihan kepada banyak orang yang membutuhkan, baik orang miskin, orang sakit, maupun orang berdosa, dan saat ini kita diminta untuk menjadikan hal tersebut teladan bagi kita dengan menjalankan nilai-nilai atau karakteristik tersebut dalam hidup kita. Amin!

Bernyanyi BE.715:1+2 “Balga Do HolongMi”

    Balga do holongMi Sitobus au, Ai nunga mate Ho humophop au. Hulehon ma tu Ho saluhut ngolungki, Sai i ma padanki tu Tuhanki

♫    Baen ma au pangoloi haposanMi. Marhobas di joloM, burju tongtong Patar ma holongMi di pambahenanki, Manogu dongan i tu Tuhanki

Doa Syafaat.

Bernyanyi BE.730:1-2 “Sai Patau Ma Diringku” (Persembahan)

♫   Sai patau ma diringku ale Tuhan. Papatarhon hinauliMi Tuhan. Suru ma tondiMi saor tu rohangki, Lao papatar HolongMu tu donganki

♫  Sai patau ma diringku ale Tuhan, Papatarhon hinauliMi Tuhan Suruma TondiMi saor tu rohangki, Patariparhon basaM tu donganki

 Doa Persembahan – Doa Bapa Kami – Amin, Amin, Amin

P-  Ya Allah, Bapa Kami yang di Surga, kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami. Di akhir ibadah ini kami menyerahkan persembahan kami sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah agar dapat dipergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Amin. Secara bersama mari mengucapkan Doa Bapa Kami ….

S-   Menyanyikan: Amin, Amin, Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *