LITURGI IBADAH PARTANGIANGAN KELUARGA, 19 AGUSTUS 2020

 Bernyanyi BE.6:1+3 “Puji Jahowa Na Sangap”

♫   Puji Jahowa na sangap huhut marmulia. Hamu sude na parroha na ringgas na ria. Marpungu be, marolopolop sude. Hamu sude manisia

 ♫   Puji Jahowa Sigomgom sude parluhutan. Na manogihon ho songon niiring ni tangan Dohot hosam songon hombar tu roham. Sai diramoti Ibana

Votum – Introitus – Doa (P- Pemimpin; K-Keluarga; S- Semua)

P-  Di dalam nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi.

K- Amin

P-  Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadikan hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Marilah kita berdoa: Ya Tuhan Allah, Bapa kami yang Maha Pengasih! Tuntunlah kami kepada AnakMu, supaya kami menjadi milikNya. Berilah kepada kami iman dan kepercayaan yang benar, supaya kami beribadah kepadaMu saja. Janganlah biarkan jemaatMu menyandarkan pengharapannya kepada hal-hal yang duniawi karena Engkau penyelamat dan perlindungan kami. Tolonglah dan tuntunlah kami di jalan kebenaran menuju kehidupan kekal, karena kasihMu dalam AnakMu, Tuhan Yesus Kristus Tuhan kami. Amin.

Bernyanyi BE.202: 5+6 “Huhaholongi Ho Gogongku”

♫  Mauliate ma rohangku Di Ho na manodangi au. Hupuji Ho, ale Tuhanku Dibaen na tinangkupMu au. Hisar do tondingki dibaen Hutanda Ho nuaeng

♫ Tongtong ramoti ma langkangku Di dalan hatigoran i. Huhut sai pargogoi rohangku Mangaradoti hataMi. O Sondang sian Surgo i Sondangi rohangki

Pembacaan Alkitab dan Renungan: KEJADIAN 11,1-9

P-  Menara Babel. Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya.

K- Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana.

P-  Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.” Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan tér gala-gala sebagai tanah liat.

K-  Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”

P-  Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu,

K-  dan Ia berfirman: “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.

P-  Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.”

K-  Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu.

P-  Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.

“MENARA BABEL DAN KITA”

Jemaat Tuhan Terkasih

Persitiwa Babel merupakan peristiwa sesudah peristiwa air bah, yakni dasyatnya hantaman air yang datang menghancurkan bumi dan genangan yang begitu tinggi sehingga menenggelamkan bukit dan gunung. Kisah menara Babel ini juga berlatar pada keinginan Allah untuk mengembalikan posisi pemukiman manusia di bumi, yakni “penuhilah bumi” (Kej.1:28) dengan cara mereka berpencar menurut bangsanya (bd.10:32). Berdasarkan latar pemahaman di atas, maka mari kita memperhatikan isi perikop ini untuk menemukan pokok-pokok penting dari kisah menara Babel ini:

  1. Tujuan manusia membangun Menara Babel? (ay.1-4)

Perhatikanlah bahwa kondisi waktu itu, semua manusia memiliki satu bahasa dan satu logatnya (ay.1) yang memberikan mereka kesempatan berada dalam kesatuan dan keutuhan untuk hidup bersama di satu tempat yang disebut tanah Sinear (ay.2). Dengan kemampuan bersama itu mereka membangun tempat tinggal dan menemukan cara untuk menyiapkan bahan-bahannya berupa batu bata dan ter gala-gala (tanah liat) untuk merekatkan (ay.3). Tiba- tiba muncul ide untuk membangun sebuah menara yang tinggi yang puncaknya sampai ke langit. Apakah tujuan dari membangun menara yang tinggi itu? Tujuan pertamatentu berkaitan erat dengan peristiwa masa lalu yakni pemusnahan masal melalui peristiwa air bah. Bisa jadi bahwa ini adalah upaya mereka untuk menghindari hukuman andai kata dilakukan Tuhan lagi untuk menghukum mereka. Tentu ini merupakan motivasi yang keliru. Supaya terhindar dari hukuman Allah, bangunlah alat penangkal hukuman. Dengan kata lain, mereka bukan mencari sebab mengapa dihukum, yakni karena dosa, tetapi justru merasa perlu menyaingi kedasyatan hukuman itu. Tujuan kedua, puncak menara itu direncanakan dibangun untuk mencapai langit.  Dalam tradisi keagamaan kuno, langit adalah tempat para dewa tinggal. Maka secara tidak langsung tujuan pembangunan menara Babel adalah untuk mendekati tempat Allah bersemayam. Pendek kata mereka ingin menyaingi “ketinggian” Allah bersemayam atau mengulang lagi dosa perdana di taman Eden. Tujuan ketiga, untuk “mencari nama”. Mereka berkata: “marilah kita mencari nama”, ini setara dengan kesombongan dan keangkuhan untuk menandingi Allah atau berusaha setingkat dengan Allah. Tujuan keempat, adalah “jangan terserak ke seluruh bumi”. Mereka dengan sengaja melawan keinginan Allah untuk membuat manusia memenuhi bumi dan supaya terjadi penyebaran yang merata di seluruh permukaan bumi, sebagai tujuan awal pasca airbah (bd. Kej.10:32). Keangkuhan membawa mereka menjadi pemberontak dan gagal memaknai peristiwa air bah sebagai cara Tuhan menghukum akibat pemberontakan manusia. Menara Babel adalah simbol kesombongan, tegar tengkuk dan jiwa pemberontakan umat manusia pada waktu itu.

  1. TUHAN menggagalkan pembangunan menara Babel (ay. 5-9)

Apakah reaksi Tuhan atas giat kerja yang dilakukan manusia di bawah sana? Apa yang Tuhan perbuat terhadap rencana manusia dikolong langit itu? Ada beberapa hal menarik yang terjadi, yakni: Pertama, Tuhan “turun” untuk melihat kota dan menara yang sedang dibangun itu (ay.5). Menara yang dibangun tinggi dengan rencana hingga sampai ke “sorga” supaya anak-anak manusia dapat “naik” dan melihat kemuliaanNya, justru disikapi Allah dengan cara “turun” melihat mereka. Hal ini menarik untuk direnungkan. Bahwa tidak ada yang dapat menjumpai Kemuliaan, Kekudusan, dan KeMahaan Allah. Siapapun dikolong langit ini tak kan mampu melakukannya. Justru sebaliknya, TUHAN Allah sendirilah yang “turun” menjumpai kefanaan, kerendahan, dan kenajisan manusia. Jika Tuhan tidak pernah “turun”, maka manusia tidak bisa menjumpai Allah. TUHAN Allah-lah yang justru memjumpai manusia (bd. Yoh.3:16). Kedua, Tuhan “mengacaubalaukan” keseragaman (ay.7) yang mereka banggakan. Kesatuan bahasa dan logat sebagai anugerah Allah ternyata disalah-gunakan untuk memberontak kepada Sang Pemberi keseragaman itu. Maka TUHAN pun membuat keseragaman menjadi keberagaman, keharmonisan menjadi disharmoni (kacau-balau). Modal utama mereka yang dipakai untuk menyaingi Allah justru sirna dan hilang lenyap. Ketiga, Tuhan “menyerakkan” mereka keseluruh bumi (ay.9). Maksud hati para manusia itu untuk hidup dan tinggal menetap di satu tempat sebagai bentuk perlawanan pada rencana Allah yang mula-mula (bd. Kej.1:28; 10:32), justru gagal. Tuhan membuat merek terserak diberbagai tempat di bumi agar rencana penuhilah bumi sebagai tujuan manusia diciptakan Allah dapat tercapai. Mereka berpikir bisa menggalkan rencana Tuhan, tetapi justru sebaliknya, Tuhanlah yang menggagalkan rencana mereka,

Jemaat Tuhan Terkasih,

Melalui renungan ini mari kita periksa kembali segala aktivitas yang kita lakukan. Apakah kita berusaha membangun “menara kesombongan” melaluinya? Apakah sesungguhnya tujuan kita saat melakukan hal tersebut? Apakah kita berharap untuk mendapatkan pengakuan melaluinya? Mari kita ingat kembali, nama Tuhanlah yang patut dikenal. Kehebatan-Nyalah yang patut dikagumi oleh semua orang. Biarlah karya kita mewartakan hal itu. Amin

 Bernyanyi BE.221:4-5 “Saleleng Jesushi”

♫  Torop di tano on Manghaliangi au. Sai Tuhan Jesus do tongtong Maniopniop au

♫   Naeng tarsulandit au Di maol ni dalan i. Hatop ma lao tu Jesus au Pamalum rohangki

Doa Syafaat

Bernyanyi BE.27:4-5 “Jesus Ngolu ni Tondingku” (Persembahan)

♫   Tangkup au Jesus Tuhanku Tiop au mansai gomos. Asa unang runsur pathu Sian dalan na tingkos

♫    Raphon Ho do au mangalo Dosa dohot hisaphi. Ai sumurut do pangago Anggo Ho di lambungki

 Doa Persembahan – Doa Bapa Kami – Amin, Amin, Amin

P-  Ya Allah, Bapa Kami yang di Surga, kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami. Di akhir ibadah ini kami menyerahkan persembahan kami sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah agar dapat dipergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Amin. Secara bersama mari mengucapkan Doa Bapa Kami ….

S-   Menyanyikan: Amin, Amin, Amin.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *