BAHAGIA WALAU TERANIAYA

Renungan Jumat, 04 September 2020

Jika kita diberi pilihan, mau jadi Kristen tapi mengalami aniaya atau menjadi Kristen namun tidak mengalami aniaya, mana yang akan kita pilih? Tentu kita akan memilih menjadi Kristen yang tidak teraniaya, bukan? Pilihan kita ini akan sangat berbeda dengan perkataan Tuhan Yesus, orang yang dianiaya karena kebenaran, akan berbahagia! Bahkan empunya Kerajaan Surga! Tentu dalam hal ini kita harus melihat kehidupan para nabi di masa lalu yang telah mengalami aniaya karena memilih hidup yang benar. Kita bisa melihat  bagaiamana nabi-nabi di masa lalu seperti Elia dan Yeremia serta orang Kristen pada jemaat mula-mula mengalami penderitaan, penganiayaan dan sengsara karena menyuarakan suara Tuhan yang benar meskipun berbeda dengan pendapat raja yang berkuasa. Oleh karena itu penting bagi kita untuk dianiaya dengan benar. Dianiaya dengan benar ini dapat diartikan sebagai menderita karena kebenaran. Kalaupun kita tidak sampai mengalami penderitaan fisik karena melakukan yang benar, minimal jiwa kita akan tersiksa dan menderita jika kita melihat orang-orang yang tidak melakukan kebenaran. Kita mungkin tersudut jika kita tahu apa yang benar dan tetap bertahan dengan prinsip kebenaran itu walaupun orang lain melakukan yang sebaliknya. Jika kita setia seperti itu, maka itulah menderita karena kebenaran. Siapkah kita menderita karena kebenaran yang sejati?

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Matius 5,10)

BE.213,1 “Dung Sonang Rohangku”

Dung sonang rohangku dibaen Jesus i, Porsuk pe hutaon dison Na pos do rohangku di Tuhanta i Dipasonang tongtong rohangkon Sonang do, sonang do Dipasonang tongtong rohangkon.

Doa

Ya Allah Bapa, jadikan aku pribadi yang kuat dan beriman ketika hidup teraniaya karena kebenaran. Amin

Selamat hari Jumat

(Pdt.Anggiat Saut Simanullang,STh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *