LITURGI PARTANGIANGAN KELUARGA, RABU 16 SEPTEMBER 2020

Bernyanyi BE.135:1+3 “Marpungu Di JoloMon”

♫   Marpungu do di joloMon, Marsada roha hami on, O Jesus Tuhannami/ Ho, Raja na tarsilang i, Na pinatimbo i muse, Sai ro ma Ho tu hami/ Olo, jalo, Ma tangiang pamujian di goarMu, Ala holong ni rohaMu/

♫   Ho do nampuna hami on, Rodi sandok portibi on, Ho ingkon sombaonna/ Nang lan dope na modom i, Hinorhon ni jeana i, Ho do Tangihononna/ Ingkon monang Ho, O Tuhan maralohon haholomon, Ho do Raja sioloan/

Votum – Introitus – Doa (P- Pemimpin; K-Keluarga; S- Semua)

P-  Di dalam nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi.

K- Amin

P-  Tuhan itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepadaNya. Marilah kita berdoa: Ya Tuhan Allah! Kasihanilah kami, karena kami tidak dapat berbuat sesuatu apapun kalau Tuhan tidak bersama kami. Berilah hal-hal yang rohani bagi kami supaya kami dapat melakukan kehendakMu. Sertailah kami supaya kami bersama dengan Tuhan melalui FirmanMu, oleh karena AnakMu Tuhan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bernyanyi BE.755:1-2 “Haposan Ho Tuhan”

♫   Haposan Ho Tuhan, hot do holongMu, Di las ni roha tingki arsak pe/ Asi ni rohaMi nang pambaenanMu, Ho Sipalua pangondingan pe/ Haposan Ho Tuhan, Haposan Ho Tuhan, Ndang na mansohot asi ni rohaM/ Nasa na ringkot di au diparade, Tung ala ni asiM do i sude/

♫   Logo ni ari nang rondo ni ari, Nang tano laut bulan bintang i/ Sude tinompaMi manghatindanghon, Denggan ni basaMi di hami on/ Haposan Ho Tuhan, Haposan Ho Tuhan, Ndang na mansohot asi ni rohaM/ Nasa na ringkot di au diparade Tung ala ni asiM do i sude.

Pembacaan Alkitab dan Renungan: 1RAJARAJA 19,9-18

P- Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”

K- Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.”

P- Lalu firman-Nya: “Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!” Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu.

K- Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.

P- Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”

K- Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku.”

P- Firman TUHAN kepadanya: “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram.

K- Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau.

P- Maka siapa yang terluput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu; dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa.

K-  Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia.”

“PENYERTAAN ALLAH ITU NYATA, JANGAN TAKUT!”

Jemaat Terkasih,

Ada fakta yang tak bisa dipungkiri, hidup kita tidak dapat dipisahkan dari penderitaan. Terhadap hal ini, masing-masing kita, memiliki cara berbeda dalam meresponnya. Untuk menghindari penderitaan, tidak sedikit orang hidup menjauh dari jalan panggilanNya. Salah satunya adalah Elia!Dia yang dipakai Tuhan secara luar biasa, bisa juga putus asa! Ya, Elia putus asa dan meminta mati setelah lari dari ancaman Izebel, permaisuri raja Ahab (19:1-4). Dia ketakutan karena diancam akan dibunuh, ia melarikan diri ke padang gurun dan gua dan minta mati kepada Tuhan. Di ayat 9 dan 13, Allah bertanya, “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” Pertanyaan ini mendorong Elia berefleksi mengenai panggilan dan keberadaannya: apakah ia berada di ‘tempat’ dimana seharusnya ia dipanggil? Elia adalah seorang Nabi yang dipanggil untuk bekerja segiat-giatnya menyatakan firman Tuhan di tengah-tengah bangsanya yang meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala. Tetapi mengapa ia bersembunyi, dalam sebuah gua? Bukankah seharusnya ia berada ditengah-tengah bangsanya menyampaikan firman Allah? Jawaban Elia atas pertanyaan Tuhan menunjukkan apa yang menjadi kegelisahan hatinya. Ia merasa sendirian dan takut dan meninggalkan jalan panggilannya.

Jemaat Terkasih,

Ketika kita memperhatikan dialog Allah dengan hambaNya Elia, ada beberapa hal yang bernilai yang menjadi perenungan kita saat ini, Pertama, Keputusasaan Menyebabkan Kita Salah Menilai Allah. Ketika Tuhan Allah bertanya pada Elia “Apakah kerjamu di sini?”, maka Elia menjawab “Bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan!” (ay.10). Benarkah? Tidak! Dia sedang melarikan diri! Elia tidak mengakui kelemahannya, justru balik menyerang Tuhan. Elia berkata bahwa dirinya bekerja sendirian, sedangkan Tuhan tidak berbuat apa-apa! Elia menunjukkan bahwa hanya dia yang bekerja sendiri, lihat saja semua orang Israel murtad, mezbah-mezbahnya diruntuhkan, semua nabi dibunuh dan dirinya pun diancam! Dimana Tuhan saat ini? Ini yang ditanyakan Elia. Elia salah menilai Tuhan. Dia beranggapan bahwa dia hanya bekerja sendirian, Allah tidak peduli! Bukankah ini yang kita alami jika kita menghadapi pergumulan yang berat dan mulai putus asa. Kita merasa bergumul sendirian! Padahal Tuhan Yesus tidak pernah membiarkan kita bergumul sendiri, Dia ada seperti kehadiranNya dan menanyakan; “Apa yang sedang kita kerjakan di sini?”  Tinggalkan putus asa, lihat Tuhan tidak membiarkan kita bergumul sendiri. Datanglah pada Tuhan Yesus dan sampaikan kondisi kita dengan jujur. Kedua, Keputuasaan Menyebabkan Kita Salah Menilai Kondisi di Sekitar kita. Rasa putus asa menyebabkan Elia memandang pergumulannya sangat berat dan laporannya pada Tuhan pun jadi tidak tepat bahkan berbeda dengan kenyataan! Perhatikan laporan Elia dan keadaan yang sebenarnya di bawah ini (ay.10, 14).

Laporan Elia: Semua orang Israel meninggalkan perjanjian Tuhan, Faktanya: Tidak semua orang Israel meninggalkan perjanjian Tuhan (murtad)     masih ada 7000 orang yang setia. Laporan Elia: Semua nabi dibunuh dan hanya tinggal Elia saja nabi di Israel. Faktanya: Masih ada 100 nabi Tuhan yang disembunyikan Obaja dan terpelihara (18:7,13). Jangan terus dalam keputusasaan, kita jadi sulit melihat kenyataan yang sebenarnya yang seringkali tidak seburuk yang kita lihat dalam ‘kacamata’ keputusasaan. Bangkit dan bersemangatlah dalam Tuhan Yesus ada kekuatan dan pertolongan! Ketiga, Keputusasaan Menyebabkan Kita Tidak Dapat Melihat Campur Tangan Tuhan Dalam Hidup Kita. Keputusasaan Elia membuatnya tidak melihat tangan Tuhan yang sejak mulanya menjangkau hidupnya. Bahkan saat Elia takut dan putus asa, Allah sudah mengulurkan tanganNya untuk menolong, sayangnya Elia sudah dibutakan oleh rasa putus asanya. Bukankah murid-murid Tuhan Yesus mengalami hal yang sama ketika perahu mereka digoncang badai dan hampir tenggelam? Mereka juga tidak mampu melihat Tuhan yang datang dan menyebut Tuhan sebagai hantu! Tuhan tahu pergumulan Elia dan Tuhan bertindak! Bayangkan saja malaikat datang dan memberi makanan dan air untuk diminum (ay.19:5). Seharusnya kehadiran malaikat sangat menguatkan Elia, tetapi tidak demikian itu ‘biasa saja’ bagi Elia. Apakah ada makanan dan minuman yang seajaib yang diterima Elia dari Tuhan? (19:6-8). Munculnya ajaib dan dampaknya pun ajaib, Elia dapat berjalan 40 hari ke gunung Horeb! Tapi itu juga nampaknya tidak menguatkan Elia. Terakhir, Tuhan berfirman dan hadir! Elia masih juga putus asa, nampak dari jawabannya pada Tuhan! (19:9-18). Inilah bahaya putus asa! Putus asa menutup mata dan telinga kita untuk dapat melihat campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan Yesus tidak pernah membiarkan dan meninggalkan anak-anakNya! Ini yang kita temukan dalam Alkitab dan kita mesti mempercayainya, seperti halnya Elia tidak pernah ditinggalkanNya! Lihatlah, jika kita ada sampai hari ini, bukankah karena kekuatan dan kasih Tuhan Yesus? Perhatikan, Tuhan hadir dan berbicara kepada kita lewat firmanNya entah saat renungan pribadi atau di gereja. Bukankah Dia menyapa dan menguatkan kita?

Jemaat Terkasih, Pertanyaan Tuhan kepada Elia juga senantiasa diarahkan kepada kita untuk mengajak kita mengevaluasi apakah jalan kita masih di jalanNya, atau sudahkah menjauhinya karena enggan menderita. Seorang yang ingin hidup setia dalam jalan panggilannya harus rela meninggalkan kenyamanan dan keamanan semu demi panggilannya. Allah berkuasa memelihara hambaNya di dalam berbagai penderitaan karena jalan panggilan itu. Di tengah berbagai kesulitan, ketika badai hidup menerjang, apakah kita merasa hidup ini seolah-olah gelap sama sekali…? Kita lalu merasa sebagai orang yang paling malang di dunia ini. Baiklah kita sejenak berdiam diri. Kita fokuskan pikiran kita kepada hal-hal yang indah dalam hidup ini, mungkin kicau burung yang merdu, atau tawa riang anak-anak di sekitar kita, atau juga para sahabat yang selalu mendukung kita. Percayalah, kita akan menemukan kenyataan bahwa hidup kita tidaklah sekelam yang kita duga. “Ruang putih” dalam kertas hidup kita masih jauh lebih luas di banding satu “titik hitam” beban yang ada di situ.

Jemaat Terkasih, Ada yang berputus asa hari ini? Awas, keputusasaan menyebabkan kita salah menilai Allah, salah menilai kondisi yang sebenarnya dan menghalangi mata dan hati kita untuk melihat campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Bangkit dan bersemangatlah, karena sebenarnya Tuhan kita, Yesus Kristus, tidak pernah membiarkan dan meninggalkan kita bergumul sendirian. Tuhan masih ada dan tetap ada sampai hari ini bahkan ketika kita merasa gagal dan putus asa dalam kehidupan nikah, gagal dalam mendidik anak, juga gagal dalam studi dan pekerjaan, Dia ada dan menolong kita dengan cara-Nya yang bisa spektakuler atau lembut, tenang dan damai. Jangan kita membanding-bandingkan atau mengharapkan pertolongan Tuhan seperti yang dialami orang lain bahkan membandingkan dengan pengalaman masa lalu. Ingat, apapun pergumulan yang kita alami sekarang, Dia ada dan siap sedia menolong kita dengan cara-Nya sendiri.  Amin.

Bernyanyi BE.575 “Puji Ma Debata Na Songkal”

♫    Puji ma Debata na songkal, Pasangap ma goarNa/ Puji ma angka rura dohot lung, angka dolok na timbo/ Dohot hasak ni galumbang sude mamuji Ho/ Langit i, na mansai hembang/ Bintang i, na mansai torang/
Ombun i, na mansai saksak, Pasangaphon Ho, O Debata/ Tung so olo tading au, lao mamuji Ho Tuhan/ Nasa gogo bahenonku, lao  pasangaphon Ho/ Ro di ujung ni ngolungku, sai pujionku Ho/

 Doa Syafaat

Bernyanyi BE.706:1+3 “Godang ni Pasupasu i” (Persembahan)

♫   Godang ni pasupasu i, dilehon Tuhanki/Tarlobi asiasiMi, marhite anakMi/ Jaloma pujianki, Jesus Sipalua i/ Boi au bongot tu Surgo i, Marnida hasangaponMi/

♫    Ndang dung mansohot basaMi, saleleng ngolungki/ Ho ma tongtong pujionki, sangap di goarMi/ Jaloma pujianki, Jesus Sipalua i/ Boi au bongot tu Surgo i, Marnida hasangaponMi/

Doa Persembahan – Doa Bapa Kami – Amin, Amin, Amin

P-  Ya Allah, Bapa Kami yang di Surga, kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami. Di akhir ibadah ini kami menyerahkan persembahan kami sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah agar dapat dipergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Amin. Secara bersama mari mengucapkan Doa Bapa Kami ….

S-   Menyanyikan: Amin, Amin, Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *