VITAMIN PENYEGAR JIWA: Hidup Kudus

Hidup kudus adalah tuntutan Allah, “kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1Petrus 1,16). Singkat, Padat, Tegas, Jelas.

Untuk mempertahankan hidup kudus, pertama-tama kita harus menyadari (dan menerima) bahwa kita mempunyai “keinginan-keinginan daging”. Atau yang disebut “hawa nafsu”. Nafsu makan, Nafsu bernikmat-nikmat. Nafsu uang. Dan lain-lain.

Keinginan-keinginan ini wajar. Karena (sebagian) manusia adalah daging. Manusia bukan hantu. Bukan pula malaikat. Betullah yang dikatakan Sigmund Freud, nafsu kedagingan ini jangan ditekan-tekan, apalagi mau dimatikan. Namun demikian, kata Alkitab, ia toh harus dikendalikan. Tidak dibiarkan binal dan liar. Persoalan kita bukanlah apakah kita memiliki nafsu kedagingan. Persoalan kita adalah: apakah nafsu kedagingan itu memiliki (menguasai) kita. Jelas?

Banyak orang setelah mengalami kegagalan di dalam hal ini, datang kepada saya dengan mengatakan, “Pak Pendeta, saya tahu saya tidak boleh melakukan itu. Tetapi saya ‘kan cuma manusia biasa!” O benar sekali! Kita memang manusia biasa! Tetapi jangan katakana cuma! Setiap manusia biasa selalu lebih daripada makluk biasa. Manusia lebih dari hewan. Manusia lebih dari tanaman. Manusia diberi “kemampuan lebih” oleh Tuhan: ia mampu mengendalikan desakan-desakan naluariahnya. Menginginkan yang benar. Bukan membenarkan apa saja yang ia inginkan.

Apakah dalam doa Anda ada tempat untuk berdoa bagi hidup yang kudus? Bertahun-tahun lamanya Augustinus, sang Bapa Gereja, mengaku menaikkan doa yang jujur tetapi jangan pernah Anda ikuti. “Kuduskanlah aku! Tetapi jangan sekarang.” Sebaliknya berdoalah: “Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku” (Mzm.101,2)

 

Sumber:

Eka Darmaputera, 365 Anak Tangga Menuju Hidup Berkemenangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *