HAMBA YANG TIDAK BERGUNA

Renungan Rabu, 23 September 2020

Seandainya saudara dibuat pilihan, menjadi tuan atau hamba?  Memerintah atau diperintah?  Kayaknya tidak perlu lama banyak orang pasti akan memilih menjadi tuan daripada hamba, memerintah daripada diperintah, bukan begitu? Mengapa? Karena menjadi tuan atau bos berarti mempunyai wewenang dan kuasa untuk memerintah, serta dihormati oleh bawahan.  Namun tidak mudah bagi seseorang yang menempati posisi ‘di atas’ dan terhormat untuk mau merendahkan diri dan berbaur dengan mereka yang ada di bawahnya. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang mengerti betul firman Tuhan lebih menunjukkan sikapnya sebagai ‘tuan’ daripada seorang hamba Tuhan. Mereka suka sekali mendapatkan pujian dan penghormatan dari sesamanya. Bukan hanya itu, mereka juga memandang rendah orang-orang berdosa.  Sementara menjadi hamba berarti harus siap untuk diperintah serta melayani di mana pun dan kapan pun tanpa punya hak untuk membantah atau mengelak. Jarang sekali orang mau menjadi ‘hamba’ bagi orang lain.  Tapi, inilah yang dilakukan oleh Yesus.  Sesungguhnya Dia punya hak penuh untuk memerintah dan dilayani karena Dia adalah Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan.  Namun hal ini tidak dilakukan oleh Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”  (Fil.2:6).  Saat melayani di bumi Yesus harus mengalami penolakan, cibiran dan fitnahan.  Namun Dia tetap membuka tanganNya untuk menolong, menyembuhkan dan memberkati mereka.  Bahkan saat di olok-olok, diludahi, dianiaya, disiksa dan sampai mati di atas Kalvari tiada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya yang menunjukkan bahwa Dia kecewa, mengeluh, bersungut-sungut dan dendam terhadap mereka. Pola hidup yang seperti ini sesungguhnya menjadi acuan bagi kita ketika berinteraksi dan bersosialisi dengan orang lain, dan kita harus berjuang agar pola hidup dan pelayanan seperti ini manjadi bagian dari jiwa dan hidup kita.

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Lukas 17,10)

Nyanyian Rohani: “Hati Sebagai Hamba”

Ku tak membawa apa pun juga, Saat kudatang ke dunia/ Kutinggal semua pada akhirnya Saat kukembali ke surga/ (Reff.) Inilah yang kupunya, hati sebagai hamba/ Yang mau taat dan setia pada-Mu Bapa, Kemana pun kubawa hati yang menyembah Dalam roh dan kebenaran sampai selamanya./ Bagaimana kumembalas kasih-Mu Segala yang kupunya itu milik-Mu Itu milik-Mu (Kembali ke Reff.)

Doa

Ya Allah, jadikan aku berhati sebagai hamba yang mau taat dan setia kepadaMu saja. Dalam Yesus Kristus, Amin.

Selamat hari Rabu

(Pdt.Anggiat Saut Simanullang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *