BIAR SELAMAT, BERPALINGLAH!

Renungan Jumat, 28 September 2020

Ada tampilan ironi dalam pemberitaan Nabi Yesaya saat ini, manusia mengelu-elukan kayu yang mereka jadikan dewa, serta berdoa kepadanya. Tuhan bukanlah dewa yang butuh penghargaan sehingga harus diarak dan Tuhan bukan juga dewa yang tidak mampu menyelamatkan bangsanya. Tuhan adalah Allah yang telah ada sejak zaman purbakala. Ia adalah Allah yang setia. Setia pada janji yang telah difirmankan-Nya walaupun umatnya tidak setia. Allah umat Israel berbeda dari dewa-dewi yang disembah bangsa-bangsa
di sekitarnya. Jika dewa-dewa itu butuh pengakuan akan kemahakuasaan mereka, maka Tuhan tidak demikian. Sebab Tuhan adalah Allah yang sejati, bukan allah jadi-jadian. Hal ini ditujukan kepada bangsa Israel yang kocar-kacir oleh pembuangan. Mereka diminta untuk kembali kepada Tuhan untuk dapat diselamatkan. Pernyataan Allah ini sangat relevan untuk kita hayati pada masa sekarang ini. Dewa teknologi dan uang meraja lela. Kita diingatkan untuk hanya bersandar dan bergantung pada Allah. Kiranya hal ini menguatkan kita dalam menghadapi kesulitan dan kesukaran yang ada pada masa kini. Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah melupakan mereka yang setia kepada-Nya! Tuhan tidak pernah berpaling dan mengingkari apa yang telah Ia janjikan kepada umat-Nya. Maka berpalinglah kepada Allah, bersandar hanya pada tangan-Nya yang kekal!

“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.” (Yesaya 45,22)

KJ.446,3 “Setialah”

Setialah! Bertahanlah tetap, sehingga kau menang./ Setialah! Selamatmu genap, sesudah berperang./ Meski bertambah marabaya, t’lah hampir habis susah payah. Setialah!

Doa

Ya Allah, buatlah hidupku untuk selalu setia kepadaMu dan apabila langkahku saat menjauh dariMu, bimbinglah aku untuk berpaling kepadaMu. Amin.

Selamat hari Senin

(Pdt.Anggiat Saut Simanullang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *