LITURGI PARTANGIANGAN KELUARGA, 28 OKTOBER 2020

Bernyanyi BE.125:1-2 “Marlas ni Roha Hita On”

♫  Marlasniroha hita on, mamuji Debata/ Ai asi ni rohaNa i, do bongot tu rohanta i/ Umbaen nuaeng mardomu i, dison sadari on
Dison sadari on.

♫   Dibahen i manggogo be, ma hita on sude/ Mamuji Tuhan Jesus i, Parasiroha godang i/ Sibaen las ni rohanta i, nuaeng nang sogot pe, Nuaeng nang sogot pe.

Votum – Introitus – Doa (P- Pemimpin; K-Keluarga; S- Semua)

P-  Di dalam nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi.

K- Amin

P-  Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa. Bangunlah hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar! Aku mau bersyukur kepadaMu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagiMu di antara suku-suku bangsa. Marilah kita berdoa: Ya Tuhan Allah Bapa kami, bimbing dan kuatkanlah kami dengan RohMu agar kami mendengar dan menerima FirmanMu. Teguhkanlah FirmanMu di dalam hati kami supaya kami menjadi baru dan Kudus. Tolonglah kami agar kami semakin percaya kepada AnakMu Tuhan Yesus Kristus, dan memperoleh hidup yang kekal. Amin.

Bernyanyi BE.473:1-2 “Tung Na Muba Rohangku”

♫    Tung na muba rohangku dibaen Tuhanki, Dung Jesus maringan di au/ Nunga sonang au on, tung dame rohangki, Dung Jesus maringan di au, Dung Jesus maringan di au, Dung Jesus maringan di au, Tung na sonang do au dung tu Jesus au lao,
Dung Jesus maringan di au.

♫   Au na lilu hian dapot sambulongki, Dung Jesus maringan di au/
Nunga sae dosangki dibaen mudarNa i, Dung Jesus maringan di au, Dung Jesus maringan di au, Dung Jesus maringan di au, Tung na sonang do au dung tu Jesus au lao, Dung Jesus maringan di au.

Pembacaan Alkitab dan Renungan: 1KORINTUS 3,10-17

P-    Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.

K–   Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.

P-    Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami,

K–   sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu.

P-    Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah.

K–   Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.

P-    Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?

S–    Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.

“REFORMASI SPIRITUALITAS”

Jemaat Terkasih,

Permasalahan jemaat di Korintus memang sangatlah kompleks.  Tidak saja perpecahan yang disebut Paulus sebagai biang keladi, tapi juga sesuatu yang jauh lebih penting dari itu.  Pelbagai tekanan pun bermunculan untuk merongrong, baik dari dalam maupun luar, iman mereka.  Tidak sedikit penginjil-penginjil palsu berkeliaran di sana.  Tentu saja hal ini tidak bisa dianggap sepele, pasalnya beberapa penginjil palsu itu hendak menggantikan Dasar yang Teguh itu yakni Tuhan Yesus Kristus dengan  dasar lain. Kondisi ini jelas betul terlihat dalam surat Paulus pada pasal ini. Dasar  yang dulu telah Paulus letakkan (iman kepada Kristus) terancam diganti oleh dasar-dasar dan hikmat-hikmat lain. Oleh karena itu, dengan tegas Paulus kembali mengingatkan jemaat Korintus.

Jemaat Terkasih, Jika sebelumnya Paulus meminjam beberapa istilah dari dunia pertanian, dengan mengidentifikasisikan diri dan rekannya sebagai “penanam dan penyiram”, kini Paulus menggunakan istilah-istilah dari dunia pertukangan sebagai ilustrasi untuk menghadapi para penyesat itu.   Menunjukkan diri sebagai “ahli bangunan” yang cakap digunakkannya untuk menunjukkan keseriusan, kematangan, dan keberhikmatan sebagai seorang “pelayan Tuhan” yang telah meletakkan dasar penting, yakni Yesus Kristus itu sendiri.  Tidak satupun niat diri Paulus untuk bersombong diri, tidak! sebab dalam ayat 10, ia juga menyebut, bahwa apa yang dilakukannya itu pun atas karunia Allah semata.  Dengan demikian, tidak seorang pun boleh mengganti “fondasi” dari sebuah keberimanan. Dasar iman kristen, dasar jemaat, atau dasar gereja, bagi Paulus satu-satunya adalah Kristus itu sendiri.  Bukan suatu sistem hikmat manusia, dan bukan juga injil yang dimodifikasi agar sesuai dengan penalaran atau logika.  Hanya Kristus Dasarnya! Jika orang hendak membangun, maka silahkan saja meneruskan membangun diatasnya, tanpa menggeser, atau menggantikan sama sekali pondasi yang telah dijejakkan.  Tentang proses meneruskan pembangunan di atas dasar, kelak, di hari yang tepat akan dibuat jelas oleh Allah sendiri. Seperti apapun material yang digunakan untuk membangun, baik itu material dengan kualitas tinggi dan tahan lama seperti emas, perak, batu permata, atau justru material yang mudah hancur seperti kayu, rumput kering atau jerami, yang terpenting dibangun di atas dasar yang telah ditentukan. Dan Paulus pun tidak bermaksud menilainya atau menghakiminya secara frontal.  Namun ada beberapa hal yang tersirat dibalik pernyataan Paulus yang perlu betul-betul disikapi.  Pergeseran kualitas dari material yang bertahan lama, kepada material yang mudah rusak, dari bahan unggul ke bahan rapuh mengindikasikan sebuah ketidakpuasaan Paulus pada apa dia perumpamakan sebagai materi tadi.  Hal ini kemungkinan besar menunjukkan kegelisahan sekaligus keprihatinan Paulus terhadap pemberitaan yang tidak sepenuhnya dilakukan dengan maksud yang murni.  Pewartaan Injil yang dikerjakan dengan motivasi rendah, seperti kesombongan atau ambisi pribadi dari pewartanya. Tapi apapun dan bagaimanapun itu di hari akhir nanti Allah akan menunjukkan kemurnian dari setiap karya pelayanan yang dikerjakan. Dia akan menguji sejauh apa nilai kekekalan (materi yang bertahan lama) dari segala sesuatu, termasuk menguji motif-motif yang tersembunyi dari mereka yang telah menjadi pelayan-pelayan Allah.  Dengan apa mengujinya?  Ya, dengan api.  Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji (memiliki kualitas/nilai kekal), maka akan mendapat upah. Akan tetapi, apabila dalam pengujian dengan api pekerjaannya itu terbakar (tidak memiliki nilai kekekalan), maka orang itu sendiri yang akan menderita kerugian.  Meskipun si pelayan akan tetap diselamatkan, namun Alkitab mencatat, dia akan diselamatkan layaknya diangkat dari dalam api. Suatu ungkapan untuk menunjukkan kondisi yang “hampir tidak diselamatkan”.

Jemaat Terkasih, Bagaimana kita menghubungkan Nas renungan saat ini ke dalam hidup kita? Fakta membuktikan bahwa semakin tinggi suatu bangunan atau gedung, semakin dalam dan semakin kokoh fondasi yang harus ditanam.  Jika tidak, saat badai atau goncangan datang menyerang, bangunan tersebut pasti tidak akan mampu berdiri tegak atau bakalan roboh.  Begitu pula tak seorang pun dapat menduga dan mengira kapan datangnya angin, badai atau goncangan dalam kehidupan ini.  Oleh karena itu penting sekali memiliki fondasi hidup yang kuat dan kokoh, supaya ketika angin, badai, gelombang atau goncangan melanda kehidupan ini kita tetap mampu berdiri tegak dan tak tergoyahkan! Dengan apakah kita membangun fondasi hidup ini?  “Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak.”  (1Kor.3:10b-13a).  Tuhan Yesus berkata,  “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Mat.7:24-25).  Jika kita membangun fondasi hidup kita di atas Batu Karang yang teguh yaitu Tuhan Yesus dan firman-Nya, kita akan menjadi kuat, sekalipun harus melewati angin, badai, goncangan dan gelombang kehidupan.  Rasul Paulus menasihati,  “…hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”  (Ef.6:10). Saat ini banyak orang tak berdaya dan akhirnya tenggelam dalam badai dan gelombang kehidupan karena mereka membangun fondasi hidupnya di atas perkara-perkara yang ada di dunia ini atau hal-hal yang sifatnya jasmaniah, sedangkan hatinya menjauh dari Tuhan.  Sayangnya apa yang selama ini mereka andalkan, harapkan dan bangga-banggakan, tak mampu menolongnya, karena itu kita mesti melakukan pembaharuan (Reformasi) Spiritualitas kita, mari membangun hubungan yang baik dan tidak terputus dengan dasar iman dan sumber air hidup kita. Jika hubungan kita terputus dengan Tuhan, maka kita akan menjadi, seperti “mata air yang kering” (2Ptr.2:17). Usahakanlah hubungan kita dengan TUHAN tidak pernah putus walau banyak rintangan dan permasalahan hidup yang kita hadapi. Amin.

Bernyanyi BE.184,1+6 “Nunga Tung Jumpang Au Ojahan”

♫ Nunga tung jumpang au ojahan, Ni tondingki na mago i/ Mudar ni Jesus do manahan, Saleleng ni lelengna i/Nang mago pe portibi on, Tongtong do hot ojahan on.

♫ Ojahan on do ingananku, Saleleng au di tano on/Sai i ma hangoluhononku, Saleleng so tos hosangkon/Tongtong do sipujionki, Tuhanku Sipangolu i.

Doa Syafaat

Bernyanyi BE.697:3-4 “Molo Ho Do Huihuthon” (Persembahan)

♫  Hupelehon ma diringku, mangihuthon lomoMi/Ndada be na olo salpu, na manggohi rohangki/Ho tongtong ihuthononhu, Jesus na palua au/Ho sambing do oloanhu, ala ni~i martua au.

♫  Marparange na badia, ma au di adopanMi/Sai patau ma au tiruan, songon pinangidoMi/Ho tongtong ihuthononhu, Jesus na palua au/Ho sambing do oloanhu ala ni~i martua au.

Doa Persembahan – Doa Bapa Kami – Amin, Amin, Amin

P- Ya Allah, Bapa Kami yang di Surga, kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami. Di akhir ibadah ini kami menyerahkan persembahan kami sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah agar dapat dipergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Amin. Secara bersama mari mengucapkan Doa Bapa Kami ….

S-  Menyanyikan: Amin, Amin, Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alkitab dan Pohon sebagai lambang pertumbuhan Iman Kristen yang harus  terpelihara dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *