BAHAN PENELAAHAN ALKITAB PEMUDA HKBP MARET – APRIL 2021

Minggu Palmarum

Tanggal 28 Maret 2021

  1. Bernyanyi    : 287,1+2 “Sekarang Bersyukur”
  2. Doa Pembuka
  3. Pembacaan Nas Alkitab : KELUARAN 15,1-11
  4. Pengantar

PEMBEBASAN AJAIB ALLAH ATAS UMATNYA”

Nama Keluaran diambil dari peristiwa pokok yang diceritakan dalam buku ini, yaitu keluarnya bangsa Israel dari Mesir, tempat mereka diperbudak. Dalam buku ini ada tiga bagian yang penting:

  1. Pembebasan orang Ibrani dari perbudakan dan perjalanan mereka ke Gunung Sinai,
  2. Perjanjian Allah dengan umatNya di Sinai, kepada bangsa Israel diberikan hukum-hukum moral, sipil dan keagamaan untuk pedoman hidup
  3. Pembuatan tempat beribadah dengan segala peralatannya untuk bangsa Israel, peraturan-peraturan untuk para imam dan cara beribadah kepada Allah

Buku ini terutama mengisahkan apa yang dilakukan Allah pada waktu Ia membebaskan umatNya yang diperbudak, lalu membina mereka menjadi suatu bangsa yang mempunyai harapan bagi masa depan. Tokoh utama dalam buku ini adalah Musa, orang yang dipilih Allah untuk memimpin umatNya keluar dari Mesir.

Sebelum Nas ini dikisahkan, Firaun, yang mendesak orang Ibrani untuk secepatnya meninggalkan Mesir, hendak membawa mereka pulang kembali sebagai tawanan perang. Ia mengira dapat menjebak mereka di antara sebuah batu karang dan Laut Merah. Namun orang Israel menyeberanginya dengan berjalan di dasarnya, dan ketika pasukan Firaun ikut turun mengejar mereka, air pun menerjang menenggelamkan pasukan itu. Setelah pembebasan yang dahsyat ini, Musa, lelaki yang tidak pintar berkata-kata itu pun – menyanyi!, dan Nyanyian tersebutlah yang menjadi bahan PA kita saat ini.

Ayat 3 kedengaran aneh di telinga kita pada awalnya: “TUHAN itu pahlawan perang.” Mengapa?  Pertama, kita tidak biasa menyebut TUHAN dengan sebutan yang sama dengan manusia, namun itu yang dilakukan orang Israel. Kedua, kita seringkali merasa canggung bila membayangkan Allah sebagai pahlawan perang. Kita menemukan pemikiran yang sama dalam Yesaya 42:13, “TUHAN keluar berperang seperti pahlawan…. terhadap musuh-musuh-Nya la membuktikan kepahlawanan-Nya: Dan Mazmur 24:8 memuji-Nya, “TUHAN, perkasa dalam peperangan”. Jadi seharusnya kita tidak kaget. Seringkali di dalam Alkitab, Allah disebut “Pemimpin Pasukan: Kata Ibrani yang dipakai adalah tsaba, yang berarti pasukan perang. Gambaran tentang Allah yang perkasa berlanjut di dalam nyanyian Musa: la menghancurkan musuh” (Kel. 15:6). Ia “meruntuhkan siapa yang bangkit menentang” (ay.7).

Dalam nyanyiannya, Musa melanjutkan “tangan kanan” Allah yang perkasa (ay.6), hembusan “nafas hidung-Mu’ (ay.8), dan “api murka-Mu. yang memakan mereka sebagai tunggul gandum” (ay.7). Tetapi Allah yang perkasa itu adalah pengayom umat-Nya. “Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kau tebus” (ay.13). Dan, “Engkau membawa mereka dan Kau cangkokkan mereka di atas gunung milik-Mu sendiri” (ay.17). Kata “kasih setia” dalam ayat 13 diterjemahkan dari kata hesed. Kata Ibrani ini sering digunakan pada Allah dan menunjukkan kesetiaan-Nya pada perjanjian dengan umat-Nya. Ia menjanjikan Abraham akan memiliki banyak keturunan dan memiliki tanah yang luas. Dan Allah mengulangi janji ini ketika Ia berbicara kepada Musa (Kel.6:4,8). Allah berkata. “Aku ingat kepada perjanjian-Ku” (ay.5). Saatnya bagi Allah untuk melaksanakan janji-Nya.

Apa pesan untuk kita saat ini? Pertama, Tuhan itu sumber, sasaran pujian, saluran dan sandaran kasih yang kekal bagi ciptaanNya. Ia pencipta ‘musik dan lagu’ dan menyediakan syairnya dengan menceritakan perbuatanNya. Israel takjub dan gentar melihat gemuruh ombak besar menutupi laut dan hati mereka meluap oleh kekaguman dan kegentaran kepada Kuasa Allah. Allah dirasakan sungguh sebagai kekuatan ajaib yang di luar kemampuan manusia. Kedua, Ketika segala sesuatu dalam kehidupan kita baik-baik saja dan terjadi hal-hal yang membanggakan kita, penuh berkat melimpah dan sukacita, kita akan dengan mudah mengucap syukur dan memuji Allah. Tetapi jika doa-doa kita sepertinya tidak dijawab, Allah seperti diam dan mengizinkan kegagalan menghampiri hidup, bisakah kita tetap mengucap syukur dan memuji Dia? Melihat Allah yang telah diidentifikasi Musa dalam nyanyian ini, tidak ada alasan bagi kita orang percaya untuk tidak menyembah dan mensyukuri apapun kondisi kita. Dia adalah Allah yang setia dan sampai selamalamanya kesetiaannya.

Diskusi:

  1. Sesuai dengan Nas PA saat ini, apa yang memotivasi bangsa Israel untuk bersyukur? Coba uraikan kembali kronologi peristiwanya dan pelajaran apa yang bisa kita petik untuk kita saat ini?
  2. Ketika kegagalan menghampiri hidup kita, sesungguhnya kita diharapkan untuk tetap setia mengucap syukur kepada Tuhan. Menurutmu apakah ini sulit? Mengapa sulit?
  1. Bernyanyi KJ.439,1-2 “Bila Topan K’ras Melanda Hidupmu”
  2. Doa syafaat
  3. Bernyanyi KJ.345,1-2 “Sertai Kami Tuhan”
  4. Doa Bapa Kami

Minggu Paskah I

Tanggal 04 April 2021

  1. Bernyanyi    : KJ.18:1-2  “Allah Hadir Bagi Kita”
  2. Doa Pembuka
  3. Pembacaan Nas Alkitab : 1PETRUS 1,1-7
  4. Pengantar    :

DIPELIHARA DALAM KEKUATAN ALLAH KARENA IMAN

Sekitar Tahun 65, agama Kristen telah berkembang begitu pesat sampai menjadi sebuah ancaman bagi kekaisaran Romawi. Orang Kristen merasakan gelombang penganiayaan pertama terhadap iman mereka dan menjadi lebih besar di kemudian hari. Surat Petrus yang pertama ini ditulis untuk menguatkan orang Kristen dalam masa-masa percobaan ini. Surat ini sendiri ditulis oleh Rasul Petrus, murid Tuhan Yesus yang menjadi pemimpin gerakan awal Kristen di Yerusalem (Kis.2,14-41). Petrus akhirnya pergi ke Roma, ibukota kekaisaran Romawi. Dari Roma, ia menunjukkan suratnya kepada orang percaya yang sudah  “tersebar di Pontus, Galatia, Kapodokia, Asia kecil dan Bitinia” (1:1-2). Barangkali penindasan para pejabat Romawi sudah memaksa orang Kristen ke wilayah-wilayah yang jauh ini. Petrus mendorong orang percaya yang menderita ini untuk mengikuti teladan Kristus. Penganiayaan dan kematian dan kebangkitanNya memberi jaminan dan harapan untuk masa depan.

Dalam Nas PA saat ini ada beberapa Istilah untuk kita telaah lebih dalam lagi sehingga memberi pemahaman lebih dalam iman Kristen kita, yakni: Rencana Allah (Ay.2). Rencana Allah atau dalam terjemahan New Internatinal Version, disebut Rencana Ilahi, haruslah kita mengerti sebagai kasih dan tujuan abadi Allah bagi umatNya dan perkataan Yang dipilih, ialah himpunan orang percaya sejati (yaitu kita) yang dipilih selaras dengan ketetapan Allah untuk menebus gerejaNya dengan darah AnakNya Yesus Kristus, dengan pemahaman yang demikian kita harus menyadari bahwa setiap orang percaya harus berpartisipasi dalam keterpilihan tersebut dengan bertekun dalam iman dalam segala hal termasuk ketika menghadapi penderitaan karena dengan demikianlah maka kita menjadikan panggilan dan pemilihan kita semakin teguh.

“….telah melahirkan kita kembali”. (ay.3). Ayat ini berkenaan juga dengan perkataan Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes 3,3 “Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”. Artinya sebagai orang Kristen harus diperbaharui, tanpa ini maka seseorang tidak akan mungkin dapat melihat kerajaan Allah, yaitu menerima hidup kekal dan keselamatan. Apakah Pembaharuan itu? Pembaharuan adalah penciptaan kembali dan perubahan sifat seseorang oleh Allah di dalam Roh Kudus. Melalui proses ini hidup kekal dari Allah sendiri disalurkan kedalam hati orang percaya sehingga dia menjadi anak Allah atau ciptaan yang baru yang tidak menyesuaikan hidupnya dengan dunia namun kini diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan (Ef.4,24). Pembaharuan ini sangat diperlukan karena terlepas dari Kristus semua orang dengan sifat bawaannya adalah orang berdosa dan tidak mungkin taat dan berkenan kepada Allah (Mzm 51,7; Yer.17,9; Rom.8,7-8, 1Kor.2,14, Ef.2,3).

“ ….. Dipelihara dalam Kekuatan Allah Karena imanmu…”(Ay.5). Ayat ini menyajikan 3 Kebenaran mengenai jaminan orang percaya, sebuah berita yang relevan bagi pembaca surat ini karena banyak diantaranya sedang menderita penganiayaan yang hebat. Pertama, Orang percaya dipelihara/dilindungi dalam kekuatan Allah terhadap semua kekuatan kejahatan yang hendak menghancurkan kehidupan dan keselamatan mereka dalam Kristus (2Tim.4,18; Yud.1,24 bnd.Roma 8,31-39). Kedua, syarat penting untuk memperoleh perlindungan Allah ini ialah Iman. Allah yang melindungi kita dengan kasih karuniaNya tidaklah bekerja secara sewenang-wenang saja, karena hanya karena iman orang percaya dilindungi oleh kuasa Allah. Ketiga, sasaran pokok perlindungan Allah oleh iman orang percaya adalah Keselamatan, dalam hal ini keselamatan menunjuk kepada dimensi yang akan datang yaitu memperoleh warisan di sorga.

…membuktikan kemurnian imanmu..” (ay.7). Sebagaimana keterangan di atas, penderitaan adalah tema yang ditekankan sepanjang surat ini. Kita harus bersukacita dalam pencobaan kita (bnd.ay.6) karena dengan tetap setia kepada Kristus di tengah-tengah semua itu akan memurnikan iman kita dan menghasilkan pujian, kemuliaan dan hormat bagi kita dan bagi Tuhan Yesus pada saat kedatanganNya. Tuhan memandang ketabahan kita dalam pencobaan dan iman kita kepada Kristus sebagai sesuatu yang sangat berharga bagiNya.

Dari telaah Nas Alkitab di atas saat ini waktunya menjalankan kontemplasi dan membangun komitmen. (1). Tuhan memiliki maksud yang penting atas setiap pencobaan yang diijinkanNya terjadi dalam diri kita. Mungkin pencobaan itu sempat membuat kita tergoncang, sedih, dan berdukacita. Tetapi itu semua ada dalam rencana Allah untuk membuat kita menjadi lebih baik lagi, dengan menguji iman kita. (2).Tujuan Tuhan menguji iman kita adalah untuk membuktikan tingkat kemurnian iman itu sendiri. Jika kita sungguh-sungguh hidup berkenan di hadapan Tuhan, menjauhi larangan dan melakukan apa yang menjadi perintah dan kehendakNya, kita tidak perlu takut terhadap ujian yang akan kita hadapi. Justru ujian-ujian tersebut akan membuat kita semakin cemerlang. Sama seperti emas yang semakin lama akan terlihat semakin cemerlang ketika diproses (dibakar dan dimurnikan) dalam api panas yang menyala-nyala. Emas berbeda dengan kayu. Semakin dibakar, emas justru akan semakin murni, sementara kayu akan terbakar dan hanya akan menjadi abu. (3) Kita harus tetap berjaga-jaga senantiasa. Jangan lengah dan jangan memberi kesempatan sekecil apapun kepada Iblis (Ef 4:27). Setialah hingga akhir, sehingga kita akan memperoleh pujian dan kemuliaan dan kehormatan dari Tuhan pada hari akhir, terlebih kita sudah merayakan Paskah yang menjadi wujudnyata kasih setia Allah kepada kita.

  1. Diskusi:
  2. Saat ini mari kita mengevaluasi diri. Sudahkah iman yang kita miliki adalah iman yang benar dan murni? Apakah iman yang kita miliki sudah benar-benar iman yang teguh kepada Tuhan Yesus Kristus?
  3. Masihkan kita masih merasakan pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita? Sebutkan dalam bentuk apa pemeliharaan Tuhan tersebut.

 

  1. Bernyanyi KJ.450,1+4 “ ‘Hidup Kita Yang Benar”
  2. Doa syafaat
  3. Bernyanyi KJ.446,1-2 “Setialah”
  4. Doa Bapa Kami

Minggu Quosimodogeniti

Tanggal 11 April 2021

  1. Bernyanyi    : KJ.413:1+3  “Tuhan, Pimpin Anakmu”
  2. Doa Pembuka
  3. Pembacaan Nas Alkitab : YESAYA 25,1-9
  4. Pengantar    :

TETAP BERSYUKUR, WALAU DIHUKUM

Kitab Yesaya adalah kitab nubuatan yang paling terkenal dalam Perjanjian Lama, mungkin karena penekanannya pada tema keselamatan dan nubuatnya tentang Mesias yang akan datang. Karena antisipasinya akan kedatangan Yesus Kristus dan pesan penebusanNya. Yesaya dipanggil sebagai nabi “dalam tahun matinya raja Uzia” (6:1; sekitar 740sM). Melalui sebuah penglihatan yang dramatis dari Tuhan di bait suci. Dia menyampaikan pesan-pesan Allah tentang penghakiman dan harapan kepada umat dari kerajaan Selatan (Yehuda) selama 40 tahun ke depan. Nas kita saat ini masuk dalam bagian pertama dari pelayanan Yesaya, saudara bangsa Yehuda, Kerajaan Utara (Israel), jatuh ke tangan Asyur karena dosa dan pemberontakannya kepada Allah (2Raj.17,5-23). Yesaya mengatakan kepada Yehuda bahwa hal yang sama akan terjadi kecuali umat berhenti menyembah dewa-dewa palsu dan mengikuti satu-satunya Allah yang sejati. Namun, pesan nabi tentang penghakiman Allah yang akan datang bercampur baur dengan nubuat-nubuat tentang harapan akan masa depan.

Nas PA kita saat ini berisikan penegasan tentang harapan. Meskipun Allah akan menghakimi dan mendisiplinkan umatNya, Dia tidak akan menolak mereka. Setelah mereka dibuang diantara bangsa asing untuk sementara waktu, mereka akan dipulihkan ke tanah air mereka (2Taw.36,22-23). Berita ini membuat umat memuji Allah: “Percayalah kepada Tuhan selama-lamanya, sebab Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal” (bnd.26,4).

…..di gunung Sion ini …” (ay.6). Yesaya bernubuat tentang kerajaan dan keselamatan yang akan datang setelah Kristus datang kembali ke bumi (ay.6-12.Bnd.Why 19-21). Sedangkan perkataan “…Anggur yang Tua benar, masakan yang bergemuk” menggambarkan Pesta mewah yang akan dinikmati dalam Kerajaan Allah ialah berkat-berkat indah yang dialami orang percaya dihadapanNya. Suatu perjamuan dengan dengan “anggur tua” secara harafiah artinya “perjamuan keawetan”, mungkin mengacu kepada sari buah anggur yang telah diawetkan untuk jangka waktu yang lama. Perhatikan Yer.48:11-12, dimana Allah membandingkan Moab dengan sari anggur yang dibiarkan di atas endapannya sehingga “rasanya tetap padanya, dan baunya tidak berubah” yang artinya berkat-berkat Allah, yang telah tersimpan selama berabad-abad untuk umatNya yang setia, tidak akan berubah maksudnya dari semula.

“…meniadakan Maut untu seterusnya dan ….menghapuskan Air Mata …” (ay.8). Di dalam Kerajaan Allah yang akan datang, kesedihan, kesusahan, dan kematian yang kini merajalela di atas bumi akan disingkirkan dan tidak akan kembali lagi. Bagaikan orang tua yang penuh perhatian, Allah sendiri akan menghapuskan air mata dari anak-anakNya, dan tidak akan ada lagi alasan untuk menangis atau susah. Berkat-berkat yang mulia ini baru akan terjadi bila Kristus datang kembali ke bumi, mengalahkan kejahatan dan memerintah seluruh ciptaan. Janji-janji semacam itu seharusnya membuat kita melihat kasih dan belas kasihan Tuhan yang besar bagi kita dan menyebabkan kita berdoa dengan sungguh-sungguh dan tidak berkeputusan untuk penggenapan mulia dari penebusan melalui Kristus (Why.22:17,20).

“…TUHAN yang Kita nanti-nantikan ..” (Ay.9). Yesaya melukiskan orang yang setia dalam Kerajaan Allah sebagai mereka yang telah mempercayai Tuhan. Semua orang percaya harus mengandalkan Tuhan, menantikan dengan harapan akan kedatangan Kristus, dan penggenapan semua janjiNya (1Kor.1,7;Tit.2,13).

Nah, dengan Penelaahan yang lumayan panjang di atas, saat ini kita mengambil pesan untuk kita hidupi. Pertama, Tuhan tidak akan membiarkan kita tanpa harapan. Kasih-Nya yang megah itu menghapuskan apa saja yang membutakan kita, mengejutkan kita dengan satu penglihatan yang indah tentang satu kehidupan yang baik dan rahmat yang melimpah-limpah. Kedua, Hukuman menjadi langkah awal bagi pemulihan yang ditegakkan Tuhan. Dengan hukuman, umat justru semakin dekat dan bergantung kepada Tuhan. Hukuman tersebut harus dipandang sebagai rencana pemulihan Allah yang dirancangkan Tuhan bagi umatNya agar Tuhan menjadi Raja bagi umatNya, menjadi Allah satu-satunya yang disembah oleh umat manusia. Dibalik rancangan tersebut ada sesuatu yang indah, yaitu kemenangan Tuhan atas semesta alam, sebagaimana kita rayakan dalam Perayan Paskah yang sudah kita laksanakan. Karena itu mari tetap ucapkan syukur atas teguranNya karena itu merupakan tanda kasihNya, segeralah bertobat!

  1. Diskusi:
  2. Pernah merasa kehilangan harapan? Apa yang saudara kerjakan setelah merasakan hal itu?
  3. Dari Nas kita saat ini, menurutmu bagaimana seharusnya kita menunjukkan hidup keimanan kita?
  1. Bernyanyi KJ.406,1+3 “Ya, Tuhan Bimbing Aku”
  2. Doa syafaat
  3. Bernyanyi KJ.416,1-2 “Tersembunyi Ujung Jalan”
  4. Doa Bapa Kami

Minggu Misericordias Domini

Tanggal 18 April 2021

  1. Bernyanyi    : KJ.376:1+4  “Ikut Dikau Saja Tuhan”
  2. Doa Pembuka
  3. Pembacaan Nas Alkitab : 2KORINTUS 5,14-21
  4. Pengantar    :

“BERDAMAI DENGAN ALLAH MELALUI KRISTUS”

Surat Paulus kedua kepada jemaat Korintus adalah lanjutan dari korespondensi pertamanya dengan orang Korintus. Rupanya orang percaya di Korintus sudah menanggapi dengan baik beberapa peringatannya dalam surat pertama, dan ia menulis untuk mengungkapkan penghargaannya atas tindakan mereka (2Kor.2:1-11; Pasal 7). Ia mungkin menulis surat ini sekitar tahun 58. Tetapi di beberapa tempat dalam surat ini, Paulus menyatakan bahwa masih ada masalah di jemaat Korintus. Mandatnya sebagai seorang Pelayan Kristus dipertanyakan oleh beberapa orang di Korintus. Paulus membela panggilan dan pelayanannya, meyakinkan jemaat itu bahwa pekerjaannya di tengah mereka dilandaskan akan kasih kepada Kristus dan ia memperhatikan kesejahteraan mereka. Surat Korintus ini adalah salah satu dari banyak tulisan Paulus yang emosional dan pribadi. Ia mengakui menderita beberapa penyakit yang disebutnya “duri dalam daging” (12,7). Ia juga menulis daftar penderitaan yang sudah ia tanggung ketika melakukan perjalanan misi karena Kristus (11:16-33). Meskipun lemah dan tidak sempurna, ia bersyukur bahwa kekurangannya menyatakan “bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah bukan dari diri kami” (4:7). Khusus Nas kita saat ini mengabarkan bahwa Allah mengutus PutraNya, Yesus Kristus untuk menjembatani rekonsiliasi antara para pendosa dengan diriNya melalui kematianNya di kayu salib. Paulus melihat pelayanannya sebagai bagian dari rencana Ilahi ini. Ia melayani sebagai seorang duta bagi Kristus, memohon kepada yang lain, “berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (ay.20).

“….ia adalah ciptaan baru: ….” (ay.17). Melalui perintah Allah yang berkuasa untuk menciptakan itu (4:6), mereka yang menerima Yesus Kristus oleh iman dijadikan ciptaan baru dimana Roh Allah memerintah (Rom.8,14; Gal.5,25; Ef.2,10). Orang percaya itu menjadi seorang yang baru diperbaharui seturut dengan citra Allah, ikut merasakan kemuliaanNya (3:18). Dengan pengetahuan dan pengertian yang dibaharui dan hidup dalam kekudusan.

“…mendamaikan kita dengan diriNya ..” (Ay.18). Pendamaian merupakan satu segi dari karya penebusan Kristus, pemulihan orang yang berdosa kepada persekutuan dengan Allah. Mengapa? Ada beberapa alasan. Pertama, Dosa  dan pemberontakan umat manusia telah mengakibatkan permusuhan terhadap Allah dan pengasingan dariNya. (Ef.2,3; Kol.1,21). Pemberontakan ini mendatangkan murka dan hukuman Allah. (Rom.1,18;24-32). Kedua, Melalui kematian Kristus yang menebus, Allah telah menyingkirkan penghalang dosa dan membuka suatu jalan bagi orang yang berdosa untuk kembali kepada Allah (Rom.3,25, Ef.2,15-16). Ketiga, Pendamaian itu berlaku bagi setiap orang melalui pertobatan pribadinya dan imannya dalam Kristus (Mat.3,2; Rom.3,22). Keempat, Gereja telah dikaruniai pelayanan pendamaian yang memanggil seluruh umat untuk diperdamaikan kepada Allah.

“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa …” (Ay.21). Alkitab sama sekali tidak menyatakan bahwa Kristus telah benar-benar menjadi seorang “berdosa”, sebab Dia tetap menjadi Anak Domba Allah yang tidak bercela. Tetapi Kristus telah mengambil dosa kita atas diriNya sendiri dan Allah Bapa menjadikanNya sasaran hukuman Allah Bapa ketika Kristus menjadi korban karena dosa kita di atas kayu salib (Yes.53:10). Pada waktu mengambil alih hukuman kita itu, Yesus telah memungkinkan Allah secara adil mengampuni orang yang berdosa.

“…supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”. (Ay.21). Khusus untuk pernyataan ini ada beberapa catatan: (1). Kebenaran yang disebut dalam ayat ini tidak menunjuk kepada suatu kebenaran secara hukum, tetapi kepada kebenaran yang nyata dalam kehidupan sehari-hari sebagai sebagai ciptaan baru, yaitu kepada watak dan keadaan moral mereka yang didasarkan pada dan mengalir dalam iman mereka dalam Kristus. Seluruh konteks dalam bagian ini (ay.14-21) berkaitan dengan cara orang percaya yang hidup bagi Kristus, dikendalikan oleh ‘kasih Kristus’, menjadi suatu ciptaan baru dan yang menggenapkan pelayanan pendamaian sebagai wakil Allah dan kebenarannya dalam dunia ini. (2). Kebenaran Allah dinyatakan dan dialami oleh orang percaya dalam dunia ini dengan cara tetap tinggal di dalam Kristus. Hanya selama kita hidup dalam persekutuan dengan Kristus kita akan menjadi kebenaran Allah (Yoh.14,4-5).

Dari keterangan di atas, kini saatnya kita menyimpulkan dan membuat perenungan atas nas ini. Allah mempunyai pintu perdamaian bagi kita. Atas inisiatif-Nya dan karena kasih-Nya yang tak terbatas, Allah memulihkan hubungan yang rusak dengan manusia lewat kematian Kristus di kayu salib. Kita pernah jauh dari Allah, tetapi dalam belas kasih-Nya, Dia tidak meninggalkan kita. Dia menawarkan perdamaian dengan-Nya“ dengan tidak memper-hitungkan pelanggaran mereka”. Tuntutan keadilan terpenuhi ketika “[Yesus] yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”. Setelah kita menerima uluran tangan perdamaian Allah, kita diberi tugas penting untuk membawa pesan perdamaian tersebut kepada orang lain. Kini kita mewakili Allah yang ajaib dan penuh kasih, yang menawarkan pengampunan dan pemulihan penuh kepada setiap orang yang percaya.

  1. Diskusi:
  2. Pernah mengalami putus hubungan dengan orang yang kita cintai? Bisakah digambarkan bagaimana rasanya putus hubungan?
  3. Nas saat ini menyampaikan pesan rekonsiliasi atau pendamaian kepada kita, menurutmu apa yang bisa kita lakukan untuk menindaklanjuti pesan pendamaian tersebut? Sebutkan.
  4. Bernyanyi KJ.424,1+3 “Yesus Menginginkan Daku”
  5. Doa syafaat
  6. Bernyanyi KJ.427,1-2 “Ku Suka menuturkan”
  7. Doa Bapa Kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *