HIDUNG MERANGKAP CEROBONG

Sekiranya Tuhan menghendaki manusia ciptaanNya itu menjadi perokok, maka Ia pasti menciptakan lubang hidungnya mengarah ke atas seperti cerobong pabrik.

Setengah juta manusia mati pertahun karena penyakit yang disebabkan oleh rokok.

Ada kisah menarik soal kalkulasi biaya membeli rokok. Seorang istri sudah dua puluh tahun bergumul dan berusaha dengan segala cara agar suaminya berhenti merokok. Sayang sekali, ia selalu gagal. Terakhir, dia mengambil kalkulator dan menghitung. Rp.10.000/hari X 30 = Rp.300.000/bulan x 12 = Rp.3.600.000/ tahun X 20 = Rp.72.000.000 selama 20 tahun. “Bapak membakar uang Rp.72.000.000 selama 20 tahun. Lebih mahal dari rumah kita ini”, kata istrinya menyadarkan suaminya.

Suatu ketika, suaminya sedang keluar. Istrinya sedang memasak di rumah. Karena tiba-tiba ia dipanggil oleh temannya untuk mengulas tuntas gosip yang sedang beredar, ia pun keluar meninggalkan rumahnya. Sayang sekali, ia lupa mematikan kompor. Kompor itupun meledak dan dalam sekejap rumahnya habis dilalap sijago merah. Ia benar-benar frustasi. Bukan saja karena rumahnya habis, tetapi juga memikirkan reaksi suaminya terhadap kejadian itu. Ia tahu bahwa suaminya seorang pemberang, yang emosinya lebih cepat menyala dibandingkan dengan kompor minyak tanah. Dalam keadaan pilu dan takut itu suaminya datang. Tapi mengherankan, kali ini ia terlihat sangat tenang. Tidak ada nada marah atau wajah memerah. Istrinya heran tidak kepalang. Sebelum istrinya menjelaskan duduk persoalannya, si suami langsung berkata, “tidak apalah Ma, kita sama-sama punya kesalahan”. Bedanya, saya membakar Rp.72.000.000 dalam tempo duapuluh tahun, Mama membakarnya dalam tempo duapuluh menit.

Pesan dari cerita di atas bukanlah soal kesabaran seorang perokok ketika menghadapi musibah sebagai kompensasi kesalahannya tetapi kiranya mendorong kesadaran kita bahwa sesungguhnya rokok benar-benar menghancurkan paru-paru dan ‘merobek’ kantong juga.

Media Indonesia baru-baru ini mengutip pidato Menteri Kesehatan Endang R sedayningsih yang mengatakan bahwa saat ini dua dari tiga pria di Indonesia adalah perokok aktif. Lebih bahaya lagi, kata Menkes, 85,4% perokok aktif merokok di dalam rumah. Alhasil tindakan ini bakal mengancam kesehatan anggota keluarga, lantaran lebih dari 43 juta anak Indonesia tinggal serumah dengan perokok. Imbasnya, anak Indonesia menjadi mudah terkena bronchitis, infeksi saluran pernapasan dan telingan serta asma.

Kompas.com (15/12/2009) mengungkapkan hasil sebuah penelitian yang dipublikasikan Cancer epidemology, Biomarkers & Prevention bahwa ternyata, kebiasaan para orang tua merokok di rumah bisa menyebabkan anak-anak mereka mempunyai kadar nikotin tinggi.

Yang lebih berbahaya lagi adalah kenyataan semakin banyaknya anak-anak Indonesia yang merokok, bahkan banyak anak yang mulai merokok pada usia dibawah lima tahun. Satu abad yang lalu, rata-rata usia perokok pemula adalah sembilan belas tahun tetapi sebuah studi terakhir menemukan bahwa usia rata-rata pemula adalah tujuh tahun (Hadi Supeno, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, sebagaimana dikutip di http://sg.news.yahoo.com, 30 Mei 2010).

Bahaya merokok sangat nyata. Tetapi fakta-fakta menunjukkan betapa sulitnya seseorang berhenti merokok dengan berbagai alasan. Berikut ini adalah berbagai alasan (‘asalan’) para perokok yang sangat umum dan apa respon singkat terhadap setiap alasan tersebut. Alasan (A) dan Respon (R).

A: Tidak ada didalam Alkitab larangan merokok (ini salah satu alasan ‘asalan’ yang paling sering terdengar)

R: Alkita juga tidak ada menganjurkan merokok, bukan? Alkitab sangat menegaskan pentingnya menjaga kesehatan tubuh dan kesehatan ‘kantong’. HKBP telah secara eksplisit mencantumkan dalam konfessinya (pasal 14) agar warga HKBP tidak dikuasai oleh rokok. Itu sebabnya, kepada para Pengkhotbah sering disampaikan, “Khotbah yang dipersiapkan dengan tenaga asap, sangat sulit dibayangkan meresap”.

A: Rokok perlu untuk pergaulan

R: Pertanyaan, ‘apakah sahabat perokok itu jauh lebih banyak dan berkualitas dengan mereka yang tidak merokok? Mengapa persahabatan dibangun dengan yang menghancurkan kehidupan? Buatlah persahabatan dengan minum jus bersama dan sebagainya

A: Tidak bisa konsentrasi dan membuat inspirasi tanpa rokok

R: Inilah masalahnya, kalau orang sudah kecanduan, orang akan menggantungkan diri pada perusaknya sendiri. Konsentrasi adalah masalah pilihan kita sendiri. Inspirasi (yang bisa diterjemahkan: dimasuki atau didiami Roh Tuhan) justru terhalang karena dihadang oleh asap rokok. 

A: Takut berat badan naik kalau berhenti merokok

R: Bukankah ada begitu banyak cara mempertahankan berat badan dengan cara sehat dan hemat?

A: Ah, Orang tidak perokok pun mati juga, ada perokok yang umurnya panjang sedangkan yang tidak merokok umurnya pendek.

R: Mengapa membandingkan diri dengan orang lain? Perokok seharusnya tidak membandingkan dirinya dengan orang lain berkaitan dengan kesehatan dan usia. Ia harus membandingkan dirinya dengan harapan hidupnya sendiri. Andaikan Tuhan menghendaki anda hidup seratus tahun. Karena rokok, Anda memangkas sendiri menjadi 60 tahun, itupun sesudah Anda batuk-batu, berdahak pula. 

A: Tutup saja pabrik rokok

R: Mana lebih mudah: berhenti merokok sehingga pabrik rokok tutup, atau tutup pabrik rokok supaya orang berhenti merokok? Kalau kita lebih memikirkan tanggung jawab kita sendiri, maka langkah yang kita tempuh adalah berhenti merokok, industri rokok akan gulung tikar dengan sendirinya

A: Dengan merokok, kita membantu banyak orang yang bekerja mulai dari petani tembakau, pekerja pabrik, pedagang rokok, pemasang iklan dan semua orang yang terkait dengan industri rokok.

R: Anda terkesan sangat penderma. Tetapi jika anda benar-benar penderma, anda tidak perlu menyalurkannya melalui bisnis rokok. Bantulah orang berkekurangan secara langsung atau melalui gereja, LSM, Panti Asuhan dan sebagainya

A: Merokok atau tidak merokok, sama saja miskin

R: Kalau ‘terpaksa’ harus miskin, lebih baik miskin tidak merokok ketimbang miskin merangkap perokok

A: Merokok adalah tanda kejantanan

R: Tanda kejantanan tidak di rokok. Ayam jantan tetap berkokok walaupun tak pernah  merokok

A: Devisa negara amat besar dari industri rokok – penting untuk menjalankan roda pemerintahan

R: Disamping devisa ada penyakit berbisa karena rokok. Benar, negara berhasil menarik devisa triliunan rupiah dari industri rokok, tetapi sayangnya banyak anggota masyarakat yang sengsara akibat rokok, bukan hanya si perokok itu sendiri tetapi juga anggota keluarga di rumah rumah, penumpang angkutan umum, bahkan di dalam gereja dan kosistori. Kita harus menyadari bahwa ada begitu banyak orang yang tersiksa pada saat naik angkutan umum di Indonesia dimana para perokok sama sekali tidak peduli dengan terus mengepulkan asap rokonya. Memang permen 225 sudah menetapkan di areal mana saja seseorang boleh dan tidak boleh merokok, tetapi peraturan nampaknya ada sekadar untuk dilanggar. Walaupun hampir setengah juta manusia mati per tahun karena penyakit yang disebabkan oleh rokok, kita masih terus mendukung industri tembakau dan rokok. Amat menyedihkan memang.

Masih ada alasan lain? Mungkin masih banyak, tetapi semuanya pasti alasan asalan juga. Bagaimana caranya berhenti? Sangat mudah: Jangan beli dan jangan nyalakan. Dan yang terpenting: karena Allah mengasihi Anda para perokok, sambutlah kasihNya dengan mematikan rokok sebelum semuanya amat terlambat.

Sumber:

Victor Tinambunan, Kiat merawat hubungan sehat dengan sahabat, Jemaat dan Masyarakat, L.SAPA STT HKBP, 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *