TERLALU ASYIK DI DUNIA MAYA? WAKTUNYA PUASA MEDIA SOSIAL

Bagi sebagian besar orang yang belum pernah mencoba untuk berpuasa pada media sosial, mungkin akan terbesit pikiran seperti, “gue nggak mungkin bisa jauh dari media sosial”. Eits tunggu dulu, jangan terburu-buru mengambil sebuah kesimpulan…

Di era digital seperti sekarang ini, ditambah lagi dengan kemudahan akses dalam berselancar menggunakan internet, menjadikan media sosial sebagai perantara komunikasi bagi sebagian besar penduduk bumi. Ada yang memang menggunakannya sebagai media untuk berkomunikasi karena bisa kembali bersapa dengan teman lama, misalnya. Akan tetapi, ada pula yang menggunakan media sosial sebagai tempat ngepoin hidup orang lain, hingga menjadikan media sosial sebagai tempat berbagi cerita hidup yang dijalaninya, bagaikan sebuah album digital. Penggunaan media sosial secara berkala bisa menghasilkan dua dampak yang bisa dirasakan secara langsung.

Pertama, dampak positif yang bisa diperoleh dengan mendapatkan informasi ter-update setiap harinya. Media sosial bagaikan sebuah tempat jitu untuk mendapatkan informasi. Berbagai macam akun akan bermunculan di media sosial dengan jumlah followers yang terbilang fantastis. Baik itu akun khusus berita, hingga akun gosip yang menguak segala isu tentang hidup seseorang.

Kedua, dampak negatif yang bisa dirasakan langsung dan akan menembus pemikiran para pengguna media sosial, yakni ke-insecure-ran jangka panjang, karena terlalu asyik memperhatikan kehidupan orang lain, tanpa pernah memperhatikan pikiran serta kesehatan mental pada diri sendiri. Disadari atau tidak, terlalu sering dan terlalu keseringan membandingkan hidup kalian dengan hidup orang lain, nyatanya kalian sendiri tidak mensyukuri kehidupan yang telah dijalani. Terlebih lagi bila perbandingan tersebut hanya sebatas pada kacamata media sosial saja. Dengan melihat postingan yang dibagikan seseorang, kalian sudah merasakan ke-insecure-ran, masa begitu saja sudah merasa kalah?

Ketiga pernyataan ilustrasi di atas baru sebagian kecil dari sekian juta pernyataan yang bisa hadir dan timbul di kepala seseorang terkait dengan ke-insecurean-nya di media sosial. Disadari atau tidak, media sosial bagaikan sebuah ajang pencarian panggung semata, segala bentuk postingan, segala bentuk status, ataupun story yang dibagikan seseorang selalu berkaitan dengan hal yang “baik-baik” saja. Apakah hal ini bisa dikatakan pencitraan? Logikanya seperti ini, kemungkinan sangat kecil bahkan tidak mungkin terjadi, seseorang membagikan cerita hidup yang tidak baik pada media sosial miliknya. Dirinya akan lebih memilih memberikan kesan sebaik mungkin pada postingannya tersebut, agar penilaian positif oleh teman dunia maya selalu terbuka untuknya, bukankah begitu? Tidak jarang, banyak orang yang tidak kuat mengikuti permainan yang ada. Ketika dirinya sudah tidak mampu menahan gelombang kehidupan yang berada di dunia maya, cobalah dengan mulai berpuasa pada media sosial yang kita miliki. Berat meninggalkan media sosial? Coba dulu deh baru bisa berkomentar, jangan terlalu banyak berspekulasi terhadap sesuatu hal yang belum kita ketahui kelanjutannya. Puasa media sosial (medsos) bisa dimulai dengan log out terlebih dahulu dari akun media sosial yang diinginkan. Tidak jarang, seseorang yang mengundurkan dirinya sesaat dari media sosial memutuskan untuk menghapus ataupun mengarsipkan sebagian, hingga seluruh postingan miliknya. Bahkan disertai dengan caption yang mendukung pada profil miliknya, seperti “temporarily unavailable”Optional saja, semuanya tergantung dari sang pemilik akun yang ingin berpuasa dari media sosial tersebut. Tanda tersebut dimaksudkan bahwa akunnya sedang tidak aktif, mohon untuk tidak menghubunginya di akun tersebut dan jangan dikira sombong bila tidak ada respon dari akun yang bersangkutan. Langkah selanjutnya adalah dengan menghapus aplikasi media sosial tersebut dari layar gadget. Setelah itu, cobalah dengan menahan diri dengan tidak menyentuh media sosial tersebut. Apabila kalian sukses menahan diri dengan tidak berselancar pada media sosial tersebut selama satu bulan, niat kalian untuk berpuasa pada media sosial tersebut bisa terencana dengan baik. Kalian sendiri bisa memutuskan mau sampai kapan berhenti sejenak dari media sosial tersebut. Bisa setahun, dua tahun, bahkan seterusnya sampai kalian mampu melakukannya dan memang butuh melakukan hal tersebut. Cara ini masih terbilang sederhana, karena ada sebagian besar orang yang menutup akun media sosial miliknya di dunia maya, demi fokus dengan cerita hidupnya di dunia nyata.

Lebih menghargai waktu yang ada

Media sosial terkadang menjadikan para penggunanya terlalu asyik dengan teman di dunia maya ketimbang teman di dunia nyata. Di saat itulah, terkadang kita sendiri sebagai penggunaannya bisa lupa dengan waktu karena terlalu sibuk berselancar di media sosial. Tidak jarang, ketika mengadakan pertemuan dengan teman lama ataupun teman baru, sebagian besar orang akan sibuk sendiri dengan konsep story yang akan dibagikan pada akun media sosial miliknya. Hal ini sering menyebabkan terjadinya kesibukan sendiri pada media sosial, tanpa pernah memikirkan kegunaan dari pertemuan tersebut. Cobalah untuk lebih bisa menghargai waktu di dunia nyata dengan sebaik mungkin. Ingat, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Hidup tidak selalu publish di media sosial

Pahamilah kegunaan dari media sosial, jangan sampai terlalu berlebihan dalam menggunakannya. Perlu diingat, kehidupan asli kita tidak harus selalu di publish di dunia maya, karena kita hidup di dunia nyata, apakah ada manfaat dari kegiatan tersebut? Apakah ada sensasi tersendiri karena mampu terlihat bahagia di setiap postingan? Atau malah berniat ingin menyombongkan diri melalui media sosial karena mampu mendapatkan apa yang diinginkan di dalam hidup? Tidak ada gunanya terlalu sering mem-publish kehidupan nyata kita di dunia maya, karena sebagian besar orang yang melihat terkadang hanya sekadar ingin tahu, tidak lebih dari itu. Bila tidak percaya, coba tanyakan pada diri kita masing-masing, apa niat utama kita ketika menggerakan jari jemari di akun media sosial milik orang lain? Tidak lain dan tidak bukan, kita pasti ingin melihat postingan yang dibagikannya, bukankah begitu? Sudah terlihat secara jelas kalau kita hanya sekadar kepo. Tidak ada unsur paksaan di dalam hal puasa media sosial ini. Apabila kalian bertanya apakah saya melakukan puasa media sosial? Jawabannya iya, di salah satu akun media sosial yang saya miliki.

Bagi yang berteman dengan saya di media sosial, ataupun melihat akun saya dan menemukan caption pada profil yang menjurus pada ketidakaktifan akun, itulah tandanya. Saya melakukannya selama kurun waktu lebih dari satu tahun, sama sekali tidak ada aktivitas di dalam akun tersebut. Meskipun telah login kembali akhir-akhir ini, namun nyatanya, keadaan akun tersebut tetaplah sama, tanpa adanya postingan terbaru. Hanya sekadar ada pembaruan pada profil dan aktivitas pada postingan lama yang menghiasi akun tersebut. Kenapa tidak dilakukan pembaruan hanya sekadar untuk menyapa teman di dunia maya? Karena nyatanya kita sendiri akan menyadari, bahwa media sosial bukanlah sebuah prioritas, kehidupan asli kita ada di dunia nyata, bukan di dunia maya. Rasakanlah sendiri, lebih enak beraktivitas dan bertemu dengan seseorang secara nyata atau sekedar bertemu dengan seseorang secara tidak nyata?

Gunakanlah media sosial sewajarnya saja tanpa harus berlebihan. Jangan terlalu mudah untuk insecureEnjoy your life!

Sumber: Kompasiana

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *