TAHUN LITURGI GEREJAWI

Tahun Liturgi atau Tahun Gereja, yang disebut juga Kalender Liturgi, adalah siklus masa liturgi dalam gereja-gereja Kristiani yang menentukan kapan hari-hari orang kudus, hari-hari peringatan, dan hari-hari besar harus dirayakan serta bagian mana dari Kitab Suci yang diasosiasikan dengan hari-hari raya tersebut..

Untuk masa yang berbeda dalam satu tahun liturgi, digunakan warna-warna liturgis yang berbeda pula. Hari-hari raya Gereja Timur (Gereja Ortodoks TimurGereja Ortodoks OrientalGereja-Gereja Katolik Timur) jatuh pada tanggal yang berbeda dengan Gereja Barat (Gereja Katolik RomaGereja AnglikanGereja Lutherandan Gereja-Gereja Protestan), meskipun inti perayaannya sama.

Untuk gereja-gereja di Indonesia yang kebanyakan digolongkan sebagai Gereja Barat, kalender ini pun tidak semuanya dirayakan oleh seluruh denominasi Kristen. Gereja Katolik Indonesia merayakan semua hari raya kalender ini, sedangkan gereja-gereja lainnya ada beberapa yang tidak dirayakan, ada juga denominasi Kristen yang tidak merayakan hari-hari raya ini satupun, contohnya Gereja Masehi Advent Hari KetujuhGereja Yesus Sejati, dan Saksi-Saksi Yehuwa. Gereja Protestan Indonesia misalnya, kebanyakan hanya merayakan 5 hari raya utama, yaitu:

meskipun ada beberapa yang merayakan AdvenRabu Abu, dan beberapa lainnya. Gereja di luar Indonesia lebih beragam lagi, sehingga tidak dapat ditarik suatu patokan selain daripada hari raya-hari raya yang umum ini.

Hari-hari raya tidak tetap

Baik di Gereja Timur maupun Barat, banyak hari raya jatuh pada tanggal yang berbeda-beda dari tahun ke tahun, meskipun dalam hampir semua kasus perbedaan tanggal ini terjadi karena perbedaan tanggal perayaan Paskah.

Banyaknya hari raya juga berbeda dalam tiap Gereja; umumnya jumlah hari raya Gereja-Gereja Protestan lebih sedikit daripada jumlah hari raya Gereja Katolik dan Ortodoks, serta banyak yang tidak merayakan hari-hari raya Perawan Maria dan hari-hari peringatan para kudus.

Siklus liturgi

Siklus liturgi membagi satu tahun menjadi serangkaian masa, tiap masa memiliki nuansa, penekanan teologis, dan bentuk doa tersendiri, yang tampak pada perbedaan cara-cara mendekorasi gedung gereja, vestimentum, bagian-bagian Kitab Suci yang dibacakan, tema khotbah, dan bahkan tradisi-tradisi dan praktik-praktik yang berbeda-beda diperingati secara pribadi atau di rumah.

Dalam Gereja-Gereja yang mengikuti tahun liturgi, bagian kitab suci yang dibacakan tiap hari Minggu (bahkan tiap hari dalam beberapa tradisi) telah diatur dalam sebuah daftar yang dalam Gereja Katolik Roma disebut Ordo Lectionum Missae (Daftar Bacaan Misa).

Di kalangan umat Kristiani Barat non-Katolik, Gereja Anglikan dan Lutheran secara tradisional mengikuti daftar bacaan tersebut sejak era Reformasi Protestan. Dengan adanya reformasi liturgis dalam Gereja Katolik setelah Konsili Vatikan II pada era 1960-an, makin banyak Gereja Protestan (Gereja MethodisGereja-Gereja ReformasiGereja-Gereja Persatuan, dll) yang mengadopsi sistem daftar bacaan.

Penggunaan daftar bacaan tersebut makin menumbuhkan kesadaran akan tahun liturgi di kalangan umat Protestan pada dasawarsa-dasawarsa abad ke-20, khususnya dalam denominasi-denominasi utama.

Kalender Alkitab

Kalender Alkitab didasarkan atas siklus bulan baru. Satu tahun terhitung mulai terbitnya bulan baru pertama pada saat atau sesudah equinox (saat matahari terlihat berada tepat di atas garis katulistiwa, terjadi antara tanggal 20 Maret dan 22 September tiap tahun menurut kalender Masehi) sampai terbitnya bulan baru pada saat atau sesudah equinox berikutnya. Ini berarti titik awal kalender Alkitab tidak tetap seperti kalender modern.

Formula dasar kalender ini awalnya terdapat dalam Alkitab: “Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,” (Kejadian 1:14). “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir: “Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun,” (Keluaran 12:1-2). “Hari ini kamu keluar, dalam bulan Abib,” (Keluaran 13:4).

Satu bulan dimulai dari satu terbitnya bulan baru sampai terbitnya bulan baru berikutnya. “Bulan berganti bulan, dan Sabat berganti Sabat, maka seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah di hadapan-Ku, firman TUHAN” (Yesaya 66:23). “Dalam bulan pertama, yakni bulan Nisan, dalam tahun yang kedua belas zaman raja Ahasyweros, orang membuang pur–yakni undi–di depan Haman, hari demi hari dan bulan demi bulan sampai jatuh pada bulan yang kedua belas, yakni bulan Adar.” (Ester 3:7).

Bulan-bulan dalam kalender Alkitab adalah sebagai berikut:

No Penanggalan Yahudi Lama Hari Periode
1 Nisan/Nissan 30 Maret-April
2 Iyar 29 April-Mei
3 Siwan 30 Mei-Juni
4 Tammuz/Tammus 29 Juni-Juli
5 Ab 30 Juli-Agustus
6 Elel 29 Agustus-September
7 Tisyri 30 September-Oktober
8 Markhesywan 29/30 Oktober-November
9 Kislew 30/29 November-Desember
10 Tebet 29 Desember-Januari
11 Shvat 30 Januari-Februari
12 Adar 29/(30) Februari-Maret
Total 354/(355)  

 

Kalender liturgi Barat

Kalender liturgi Kristiani Barat didasarkan atas siklus romawi atau Ritus Latin dari Gereja Katolik, termasuk kalender Lutheran, Anglikan, dan Protestan karena siklus tersebut sudah ada sebelum Reformasi Protestan.

Umumnya, masa-masa liturgi dalam Kekristenan Barat terdiri atas AdvenNatal, Masa Biasa (masa sesudah Epifani), Puasa atau PrapaskahPaskah, dan Masa biasa (masa sesudah Pentakosta atau sesudah Hari Minggu Tritunggal Maha Kudus).

Adven

Dari kata Latin adventus, “kedatangan”, masa pertama dalam tahun liturgi ini dimulai pada hari minggu ke-4 sebelum Natal dan berakhir pada malam Natal.

Sesungguhnya masa adven adalah masa untuk berpuasa, sebagai persiapan diri menjelang kedatangan Kristus. Meskipun sering dimaknai sebagai penantian akan kedatangan Kristus sebagai seorang bayi pada malam Natal, namun bacaan-bacaan Alkitab pada masa ini memuat tema eskatologi—penantian akan kedatangan Kristus pada akhir zaman, ketika “Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya” (Yesaya 11:6) dan ketika Allah telah “menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” (MagnificatLukas 1:52)–khususnya pada paruh pertama masa tersebut.

Periode penantian ini kerap ditandai dengan Krans Adven, rangkaian dedaunan hijau berbentuk lingkaran dengan empat batang lilin. Meskipun maksud utama dari krans adven adalah sebagai penanda berjalannya waktu, banyak gereja memaknai tiap lilin dengan tema-tema khusus, seperti ‘harapan’, ‘iman’, ‘suka-cita’, dan ‘kasih’.

Warna: Ungu, atau biru dalam beberapa tradisi. Pada hari Minggu ke-3 dalam masa Adven, yang juga disebut sebagai Hari Minggu Gaudete, di beberapa tempat digunakan warna merah muda.

Meskipun ritus Katolik Romawi menghapus “Gloria in Excelsis” dalam misa-misa selama masa adven (tidak seperti Misa untuk hari-hari raya), “Alleluia” tetap ada (ritus Katolik tradisional hanya ada Gradual tanpa “Alleluia”, kecuali pada hari Minggu).

Natal

Masa Natal dimulai pada Malam Natal (24 Desember) dan berakhir pada perayaan Epifani (6 Januari). Hari Natal sendiri jatuh pada tanggal 25 Desember.

Masa Natal dalam kalender Katolik Romawi berlanjut hingga Perayaan Pembaptisan Kristus, yang dalam kalender pra-Vatikan II ditetapkan pada tanggal 13 Januari.

Warna: Putih atau emas.

4 peristiwa utama Natal:

Kelahiran Yesus-25 Desember, Perayaan nama suci Yesus dan penghormatan kepada Maria-1 Januari, Perayaan Keluarga Kudus-Hari minggu ke-2 sesudah Natal, Perayaan Epifani-Hari Minggu ke-3 dalam masa Natal

Masa biasa (“Masa Sesudah Epifani” dan “Septuagesima”)

Dalam Gereja Katolik Roma dan beberapa tradisi Protestan, Masa Biasa adalah minggu-minggu biasa yang tidak termasuk dalam suatu masa tertentu. Dalam masa ini terdapat 33 atau 34 Hari Minggu. Dalam Ritus Romawi modern, bagian pertama Masa Biasa dimulai dari hari sesudah Perayaan Pembaptisan Kristus sampai hari Selasa sebelum Hari Rabu Abu (permulaan Masa Prapaskah). Masa Biasa pertama ini memiliki 3 sampai 8 hari Minggu, tergantung tanggal Perayaan Paskah.

Istilah “Masa Biasa” menggantikan istilah “Masa Sesudah Epifani” dan “Septuagesima” (masa menjelang Prapaskah), yang masih digunakan oleh umat Katolik tradisional dan umat Katolik lain yang masih berpegang pada Misa kuno pra-Vatikan II yang dikenal sebagai Ritus Tridentina. Beberapa ritus Protestan juga menggunakan terminologi lama tersebut.

Dalam ritus Romawi yang lebih tua, masa sesudah Epifani dapat saja memiliki 1 sampai 6 hari Minggu, dengan masa Septuagesima yang lamanya 17-hari dimulai pada hari Minggu ke-9 sebelum Paskah dan berakhir pada hari Selasa sebelum hari Rabu Abu. Semua hari Minggu yang hilang sesudah Epifani dipindahkan ke masa sesudah Pentakosta dan dirayakan antara Hari minggu ke-23 dan Hari Minggu yang terakhir. Namun jika jumlah hari minggu dalam tahun tersebut tidak menutupi hari-hari Minggu pengganti tersebut, maka Hari Minggu jatuhnya bertepatan dengan Hari Minggu Septuagesima dirayakan pada hari sebelumnya (hari Sabtu); Dalam kasus tanggal Paskah jatuhnya sangat terlambat sehingga hanya ada 23 hari Minggu sesudah Pentakosta, Misa untuk hari Minggu ke-23 dirayakan pada hari sebelum hari Minggu terakhir sesudah Pentakosta.

Reformasi tahun 1962 mengubah praktik tersebut dengan menghilangkan saja hari-hari Minggu pengganti tersebut. Selama masa Septuagesima, diadopsi beberapa kebiasaan masa Prapaskah, termasuk penghapusan “Alleluia”, dan “Gloria” pada hari-hari Minggu, vestimentumnya pun berwarna ungu.

Warna: Hijau.

Masa Prapaskah dan Masa Sengsara

Prapaskah adalah masa puasa utama dalam Gereja sebagai persiapan sebelum Paskah. Dimulai sejak hari Rabu Abu hingga berakhir pada hari Minggu Palma, di awal Pekan Suci. Masa puasa ini berlangsung selama 40 hari, terhitung mulai hari Rabu Abu sampai hari Minggu Palma. Selama empat puluh hari tersebut, madah Kemuliaan kepada Allah dan Alleluia tidak digunakan dalam Misa. “Kemuliaan dan Pujian” umumnya digunakan sebagai ganti Alleluia sedangkan Kemuliaan kepada Allah dihilangkan.

Sebelum reformasi 1970, dua pekan terakhir dari masa Prapaskah dalam Gereja Romawi dikenal sebagai Masa Sengsara. Selama masa ini Gloria Patri (Kemuliaan Kepada Bapa…) dihilangkan kecuali sesudah pendarasan Mazmur dalam ibadat harian, bacaan-bacaan mulai lebih berfokus pada Sengsara Kristus, dan, yang paling tampak adalah diselubunginya salib dan arca-arca dengan kain ungu. Hari Jumat sebelum Jumat Agung adalah hari peringatan Ke-7 Duka Bunda Maria. Jika hari peringatan St. Yusuf atau Anunsiasi jatuh dalam Pekan Suci, maka hari-hari tersebut dipindahkan ke pekan sesudah Paskah.

Warna: Ungu. Dalam beberapa tradisi, warna merah muda digunakan pada hari Minggu ke-4 dalam Masa Prapaskah, yang disebut Hari Minggu Laetare.

Trihari Suci terdiri atas:

  • Kamis Putih
    • Peringatan Perjamuan Terakhir Kristus bersama murid-muridNya dalam ibadah atau Misa malam hari
    • Beberapa Gereja juga melaksanakan upacara pembasuhan kaki
    • Sudah menjadi kebiasaan pada malam tersebut untuk melaksanakan ibadat Berjaga-jaga atau yang lazim dalam Gereja Katolik Indonesia disebut Tuguran, dimulai seusai Misa malam hari dan berlanjut hingga tengah malam (kadang-kadang dilanjutkan hingga terbit fajar hari Jumat Agung, dan dilanjutkan dengan liturgi pagi hari)
    • Warna: Putih
  • Jumat Agung
    • Peringatan Kesengsaraan Yesus Kristus
    • Dalam Gereja Katolik Roma, pada hari ini perayaan Misa digantikan dengan ibadat doa
    • Warna: Bervariasi: Tanpa warna, Merah, atau Hitam digunakan dalam tradisi-tradisi yang berlainan (kain-kain yang berwarna disingkirkan pada hari ini, warna liturgi hanya terlihat pada vestimentum)
    • Dalam Gereja Katolik Ritur Romawi dan Gereja Anglikan Tinggi, sebuah salib secara seremonial disingkapkan selubungnya (dan sebelum Vatikan II, salib-salib yang lain juga ditanggalkan selubungnya, tanpa upacara, sesudah ibadat Jumat Agung)
  • Sabtu Suci
    • Memperingati hari di mana jenazah Kristus terbaring dalam Makam
    • Dalam Gereja Katolik Ritus Romawi, Misa tidak dipersembahkan pada hari ini
    • Warna: Tidak ada
  • Malam Paskah
    • Dilaksanakan sesudah matahari terbenam pada hari Sabtu Suci, atau sebelum fajar menyingsing pada hari Paskah, sebagai permulaan perayaan Kebangkitan Kristus.
      lihat pula Lilin Paskah
    • Warna: Putih, sering digunakan bersama warna emas.
    • Dalam Ritus Romawi pra-Vatikan II, selama madah “Gloria in Excelsis” dilantunkan dalam Misa tersebut, organ dan lonceng-lonceng dibunyikan setelah tidak dipergunakan selama 2 hari, serta arca-arca, yang diselubungi selama masa Sengsara, ditanggalkan selubungnya.

Paskah

Paskah adalah perayaan kebangkitan Yesus. Paskah jatuh pada tanggal yang berbeda tiap tahun, menurut sistem penanggalan berdasarkan kalender-bulan (untuk rinciannya lihat computus). Masa Paskah dimulai sejak Malam Paskah sampai Hari Minggu Pentakosta dalam kalender Katolik dan Protestan. Dalam kalender yang digunakan oleh umat Katolik tradisional, Masa Paskah berakhir pada hari ke-8 sesudah Pentakosta.

Dalam tradisi Katolik Romawi, selama 8 hari sesudah Hari Minggu Paskah, semua perayaan lain dilarang. Jika Paskah jatuh pada tanggal 25 Aprillitani panjang yang biasanya didoakan pada hari itu ditunda sampai hari Selasa berikutnya. Selama 50 hari Masa Paskah, Gloria dan Te Deum diucapkan tiap hari, bahkan hari-hari feria.

Hari Kamis Kenaikan, hari peringatan kembalinya Yesus ke surga setelah kebangkitan-Nya, adalah hari ke-40 setelah Paskah. Di beberapa temapt, perayaan ini dialihkan ke hari Minggu sesudahnya. Pentakosta adalah hari ke-50, dan hari peringatan diturunkannya Roh Kudus ke atas para rasul. Pentakosta secara umum dianggap sebagai hari jadi Gereja.

Warna: Putih atau Emas, kecuali pada hari Pentakosta. Pada hari Pentakosta warna merahlah yang digunakan.

Masa Biasa (“Masa sesudah Pentakosta” dan “Masa Kerajaan”)

Masa Biasa yang jatuh sesudah Masa Paskah, mulai Hari Minggu Pentakosta sampai Hari Sabtu sebelum Hari Minggu Pertama Masa Adven. Sebelum kalender liturgi Romawi direformasi pada Konsili Vatikan II, hari-hari Minggu pada masa ini disebut “Hari-hari Minggu sesudah Pentakosra” oleh umat Katolik Romawi; umat Ortodoks Timur dan beberapa umat Protestan masih menggunakan istilah ini. Hari Minggu pertama sesudah Pentakosta adalah Hari Minggu Tritunggal dalam dalam banyak tradisi hari Minggu terakhir dalam Masa Biasa adalah hari raya Kristus Raja.

Variasi-variasi selama masa ini mencakup:

  • Dalam kalender Katolik tradisional, Hari Kristus Raja jatuh pada hari Minggu terakhir pada Bulan Oktober bukannya Hari Minggu terakhir sebelum Adven.
  • Dalam tradisi Katolik dan beberapa kalangan Anglikan, perayaan Corpus Christidilaksanakan pada hari ke-11 setelah Pentakosta, namun kadang kala dialihkan ke hari Minggu sesudahnya.
  • Dalam tradisi Katolik, hari Jumat dalam minggu ke-3 sesudah Pentakosta adalah hari raya Hati Kudus
  • Sebagian besar tradisi barat merayakan Hari Semua Orang Kuduspada tanggal 1 November atau pada hari Minggu sesudahnya. Warna liturgisnya adalah putih.
  • Beberapa tradisi meryakan Hari St. Mikhael(Michaelmas) pada tanggal 29 September.
  • Beberapa tradisi merayakan Hari St. Martinus(Martinmas) pada tanggal 11 November.
  • Dalam beberapa tradisi Protestan, khususnya yang erat terkait dengan tradisi Lutheran, Hari Minggu Reformasidirayakan pada hari Minggu sebelum tanggal 31 Oktober, memperingati peristiwa dipakukannya 95 Tesis pada pintu Gereja Kastil di Wittenberg oleh Martin Luther. Warna liturgisnya adalah Merah, perlambang Roh Kudus yang terus-menerus bekerja membaharui Gereja.
  • Banyak tradisi menjadikan beberapa minggu dalam Masa Biasa sebagai masa untuk memusatkan perhatian pada kedatangan Kerajaan Allah (sehingga tahun liturgi menjadi satu siklus penuh dengan mendalami salah satu tema Adven sebelum memasuki masa Adven). Dalam Ritus Romawi, tiga hari Minggu terakhir Masa Biasa diisi tema eskatologi, meskipun hari-hari Minggu tersebut tetap dimaknai sebagai hari-hari Minggu Masa Biasa. Akan tetapi beberapa tradisi mengubah maknanya dan kadang-kadang warna liturginya pula. Misalnya, Gereja Inggrismenggunakan istilah “Hari-hari Minggu sebelum Adven” untuk menyebut ke-4 hari Minggu terakhir dalam Masa Biasa dan mengizinkan penggunaan vestimentum berwarna merah sebagai alternatif. Istilah “Masa Kerajaan” digunakan beberapa denominasi, di antaranya oleh Gereja Metodis Persatuan di AS dan Gereja Kristen – Sinode Santo Timotius. Dalam Gereja Lutheran – Sinode Missouri, periode ini dikenal sebagai “Periode Akhir Zaman,” dan vestimentum merah dikenakan pada hari Minggu pertama dan kedua.

Warna: Hijau

Maria Diangkat Ke Surga (Katolik Ritus Romawi)

Pada tanggal 15 Agustus, yakni tanggal yang sama dengan hari raya Tertidurnya Theotokos di Gereja Timur, umat Kristiani Barat merayakan peristiwa terangkatnya Maria secara badaniah ke surga. Hari raya ini boleh jadi adalah hari raya tertua dalam Gereja Kristen, yang dirayakan baik dalam Gereja Timur maupun Barat. Ajaran mengenai hari raya ini secara dogmatis ditetapkan pada tanggal 1 November 1950 oleh Paus Pius XII dalam Bula Kepausan Munificentissimus Deus.

Dalam tradisi Anglikan dan Lutheran, serta beberapa tradisi lain, tanggal 15 Agustus dirayakan sebagai hari peringatan St. Maria, Bunda Tuhan. Warna yang digunakan adalah putih.

Gereja Anglikan

Gereja Inggris menggunakan penanggalan liturgi yang sangat mirip dengan Kalender Liturgi Gereja Romawi. Meskipun tidak sama dengan kalender yang ada dalam Buku Doa Bersama dan Buku Ibadah Alternatif (1980), namun Tahun Liturgi yang mirip Tahun Liturgi Gereja Romawi digunakan sejak Gereja Anglikan mengadopsi pola-pola ibadah dan liturgi baru yang ada dalam Ibadah Bersama, pada tahun 2000. Pembagian tahun menjadi masa Natal dan masa Paskah yang disela oleh masa Biasa, identik dengan kalender Romawi. Mayoritas hari-hari raya juga diperingati, dengan beberapa pengecualian, terutama hari raya Maria Diangkat Ke Surga, yang tidak diakui oleh pengajaran Alkitabiah Gereja Inggris, dan oleh karena itu ditolak.

Gereja Ortodoks Timur

Tahun liturgi dalam Gereja Ortodoks Timur dicirikan dengan adanya puasa-puasa serta hari-hari raya orang-orang kudus yang silih berganti, dan sangat mirip dengan tahun liturgi Katolik Romawi yang telah dipaparkan di atas. Sekalipun demikian, Tahun Baru Gereja secara tradisional dimulai pada tanggal 1 September, bukannya Hari Minggu Pertama Masa Adven. Tahun liturgi Ortodoks ini mencakup Siklus Tetap dan Siklus Paskah (atau Siklus Tidak Tetap). Hari raya terpenting adalah Paskah—Hari Raya dari segala Hari Raya. Berikutnya adalah ke-12 Hari Raya Utama untuk memperingati berbagai peristiwa penting dalam kehidupan Yesus Kristus dan Theotokos.

Mayoritas umat Kristiani Ortodoks menggunakan kalender Julian untuk menentukan tanggal hari-hari raya gerejawi. Meskipun banyak yang telah mengadopsi kalender Julian yang telah direvisi, namun mereka tetap menggunakan kalender Julian untuk menentukan tanggal hari-hari raya dalam siklus Paskah. Mereka juga menggunakan Kalender Gregorian yang modern untuk menentukan tanggal hari-hari raya yang ditetapkan menurut tanggal kalender tersebut. Dari tahun 1900 sampai tahun 2100, terdapat selisih tiga belas hari antara kalender Gregorian dan kalender Julian. Di beberapa negara Ortodoks, hari-hari raya sipil tertentu ditentukan berdasarkan kalender Julian. Dengan demikian, sebagai contoh, Natal dirayakan pada tanggal 7 Januari di negara-negara tersebut. Komputasi hari Paskah tetap menggunakan kalender Julian, bahkan oleh Gereja-gereja yang menggunakan kalender Julian yang telah direvisi.

Ada empat masa puasa dalam setahun: puasa terpenting adalah Puasa Besar yang merupakan masa yang intens untuk berpuasa, beramal dan berdoa, selama empat puluh hari sebelum hari Minggu Palma dan Pekan Suci sebagai persiapan perayaan Paskah. Puasa Natal (Puasa Musim Dingin) adalah masa persiapan perayaan Kelahiran Kristus (Natal), namun jika di Barat masa Advent lamanya hanya empat minggu, maka Puasa Natal Gereja Timur berlangsung selama empat puluh hari penuh. Puasa Para Rasul lamanya bervariasi, mulai dari delapan hari sampai enam minggu, sebagai persiapan Hari Raya Santo Petrus dan Paulus (29 Juni). Puasa Tertidurnya Theotokos lamanya dua minggu, mulai tanggal 1 sampai 14 Agustus sebagai persiapan hari raya Tertidurnya Theotokos (15 Agustus). Tahun Liturgi diatur sedemikian rupa agar selama berlangsungnya masing-masing masa puasa tersebut, dirayakan salah satu dari hari-hari raya utama, sehingga puasa dapat dijalani dengan suka cita.

Selain masa-masa puasa tersebut, umat Kristiani Ortodoks berpuasa tiap hari Rabu dan Jumat (dan beberapa biara Ortodoks juga berpuasa tiap hari Senin). Beberapa tanggal tertentu dalam setahun ditetapkan sebagai hari puasa, meskipun jatuh pada hari Sabtu atau Minggu (dalam kasus semacam ini, puasanya agak diringankan, namun tidak dihilangkan sama sekali); hari-hari tersebut adalah: Hari Raya Pemenggalan St. Yohanes Pembaptis, dan Hari Raya Eksaltasi Salib. Ada beberapa periode bebas-puasa, di mana orang dilarang berpuasa, bahkan pada hari Selasa dan Jumat. Hari-hari tersebut adalah: seminggu sesudah paskah, seminggu sesudah Pentakosta, dan periode mulai Natal sampai malam Teofani (Epifani).

Paskah

Hari raya terbesar adalah Paskah, yang perhitungan tanggalnya oleh umat Ortodoks berbeda dengan umat Kristiani Barat. Baik di Gereja Barat maupun timur tanggal Paskah jatuh pada hari Minggu Pertama sesudah bulan purnama pada atau sesudah tanggal 21 Maret (yakni secara nominal adalah hari vernal equinox). Meskipun demikian, jika umat Kristiani barat mengikuti Kalender Gregorian dalam perhitungannya, maka umat Ortodoks memperhitungkannya dengan tanggal 21 Maret menurut Kalender Yulian, serta mengikuti aturan tambahan yakni Paskah Kristiani tidak boleh mendahului atau bertepatan dengan Paskah Yahudi (lihat computus untuk penjelasan lebih lanjut).

Tanggal Paskah adalah pusat dari keseluruhan tahun gerejawi, bukan saja karena menentukan tanggal permulaan Puasa Besar dan Pentakosta, namun juga karena memengaruhi siklus dari hari-hari raya tidak tetap, bacaan-bacaan Kitab Suci dam Oktoekhos (naskah yang dinyanyikan menurut delapan moda gerejawi) sepanjang satu tahun tersebut. Ada pula sejumlah hari-hari raya kecil sepanjang tahun yang didasarkan pada tanggal Paskah. Siklus tidak tetap dimulai pada Hari Minggu Zakeus (Hari Minggu pertama dalam masa persiapan untuk Puasa Besar), meskipun siklus Oktoeckos tetap berlanjut sampai Hari Minggu Palma.

Tanggal Paskah memengaruhi masa liturgi berikut ini:

Dua Belas Hari Raya Utama

Beberapa hari raya di bawah ini mengikuti siklus tetap, dan beberapa lagi di antaranya mengikuti siklus tidak tetap (paskah). Sebagian besar hari-hari raya pada siklus tetap memiliki periode persiapan yang disebut Pra-pesta, dan periode perayaan sesudahnya, mirip dengan Octav dalam Gereja Barat, yang disebut Pasca-pesta. Hari-hari raya besar pada siklus Paskah tidak memiliki pra-pesta. Lamanya pra-pesta dan pasca-pesta bervariasi, tergantung pada hari rayanya.

CATATAN: Dalam praktik Gereja Timur, jika hari raya ini jatuh pada Pekan Suci atau hari Paskah, maka hari raya anunsiasi ini tidak dipindahkan ke hari berikutnya. Justru jika tanggal kedua hari raya tersebut jatuhnya bertepatan, yakni yang dikenal sebagai hari “Kyriou-Paskha,” maka hari tersebut dianggap sangat istimewa.

Hari-hari raya lain

Hari-hari raya tambahan berikut ini dirayakan seperti hari-hari raya besar:

Setiap hari dalam setahun diperingati beberapa orang kudus atau beberapa peristiwa dalam kehidupan Kristus atau Theotokos. Bilamana tiba suatu hari raya dalam siklus tidak tetap, maka hari raya dalam siklus tetap pada tanggal tersebut dipindahkan, semua doa perayaannya dinyanyikan dalam Ibadat Penutup hari itu atau salah satu hari berikutnya yang dirasa paling sesuai.

Siklus

Selain siklus tetap dan siklus tidak tetap, ada pula sejumlah siklus liturgi dalam tahun gerejawi yang memengaruhi perayaan ibadat-ibadat suci. Ini mencakup, Siklus Harian, Siklus Mingguan, Siklus Injil-Injil Ibadat Matin, dan Oktoekhos.

Penerapan Sekuler

Karena adanya dominasi agama kristen di Eropa pada Abad Pertengahan, banyak fitur-fitur penanggalan Kristiani terinkorporasi ke dalam kalender sekuler. Banyak hari-hari raya Kristiani menjadi hari libur, dan kini dirayakan oleh semua orang, beragama maupun tidak beragama, Kristiani maupun non-Kristiani — di seluruh dunia (untuk perayaan-perayaan tertentu). Perayaan-perayaan sekuler tersebut memiliki kemiripan-kemiripan tertentu dengan perayaan-perayaan rohani asalnya, kerap pula mencakup unsur-unsur ritual festifal kafir yang jatuh pada tanggal yang sama.

 

PENGAKUAN IMAN RASULI, SEJARAH DAN MAKNANYA BAGI ORANG KRISTEN

Salah satu deklarasi iman dalam sejarah Kristen adalah ‘Kredo Rasul’. Kredo ini kemudian dipakai oleh gereja-gereja Kristen, khususnya gereja yang berakar dalam tradisi Barat. Sementara di kalangan Gereja Katolik Roma, kredo ini disebut dengan Syahadat Para Rasul.

Kredo ini dipercayai disusun oleh ke-12 rasul setelah 10 hari kenaikan Yesus ke Surga, tepatnya pada Hari Pentakosta. Kemudian dibagi dalam tiga bagian utama yaitu pertama mengenai Allah Bapa dan penciptaan manusia. Kedua, mengenai Allah Anak dan penebus dan ketiga, mengenai Allah Roh Kudus dan pengudusan kita.

Kredo ini juga berisi 12 butir dan diyakini merupakan hasil pernyataan dari masing-masing murid Yesus. Untuk kali pertama ditemukan dalam bentuk sepucuk surat yang sejarahnya dikirim dari Konsili Milano kepada pemimpin Gereja Katolik bernama Paus Siricus pada tahun 390 Masehi. Demikian isinya: “Bila engkau tidak memuji ajaran-ajaran para imam … biarlah pujian itu setidak-tidaknya diberikan kepada Symbolum Apostolorum yang selalu dilestarikan oleh Gereja Roma dan akan tetap dipertahankan agar tidak dilanggar.”

Kredo ini adalah rumusan dasar gereja mula-mula yang dibuat berdasarkan amanat agung Yesus untuk menjadikan segala bangsa murid-Nya, membaptis mereka dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus (Matius 28: 18-20). Itu sebabnya kredo ini jadi pengakuan iman yang dianggap sah bagi gereja. Unsur Tritunggal-nya dalam Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus menjadi satu pernyataan iman yang sesuai dengan injil.

Sejarah Munculnya Pengakuan Iman Rasuli

Seiring berkembangnya kekristenan, semakin banyak pula aliran-aliran kepercayaan yang menyesatkan iman. Akhirnya, untuk melawan ajaran-ajaran yang tak benar, bapa-bapa gereja menyusun rumusan ‘Pengakuan Iman Rasuli’ yang berisi pernyataan kepada Tritunggal. “Aku percaya kepada Allah Bapa, Aku percaya kepada Kristus Yesus, Aku percaya kepada Roh Kudus.”

Di surat Uskup Mercellus dari Ankyra yang hidup pada tahun 340 SM, ditemukan kutipan rumusan Pengakuan Iman Rasuli tersebut dalam bahasa Yunani. Kemudian teks itu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan diberi judul ‘Symbolum Apostolorum’ (Pengakuan Iman Para Rasuli). Isinya pun tetap berisi 12 butir pernyataan iman yang mengandung makna yang cukup mendalam.

Makna di Balik 12 Butir Pengakuan Iman Rasuli

  1. Aku percaya kepada Allah, Bapa yang mahakuasa, Khalik langit dan bumi.

Pernyataan iman ini membuktikan bahwa hanya ada satu Tuhan (Ulangan 6: 4). Dia adalah Allah semesta, Tuhan Yang Maha Kuasa (Wahyu 4: 2-11). Dia menciptakan semua yang ada sebagai Bapa (Kejadian 1: 1), Anak (Yohanes 1: 3; Kolose 1: 16-17) dan Roh Kudus (kejadian 1: 2).

  1. Dan kepada Yesus Kristus, AnakNya yang tunggal, Tuhan kita

Yesus adalah ‘Juruslamat’ (Matius 1: 21), orang yang datang ‘untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang’ (Lukas 19: 10). “Kristus” berarti “Mesias” (Yohanes 1: 41), pribadi yang diurapi Allah untuk memerintah atas bangsa-bangsa (Mazmur 2: 1-9).

Dia adalah ‘Putra Tunggal Allah” (Matius 3: 17; 16: 16). Dia adalah “Tuhan”, Guru dan Raja kita (Wahyu 22: 20). Dia datang untuk memberitakan tentang Kerajaan Allah (Matius 4: 17) dan akan mewujudkannya saat Dia kembali (Wahyu 19: 16). Dia memanggil kita untuk memberitakan bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat (Matius 10: 7) dan membawa semua orang (Matius 28: 19; Kisah 1: 8) dipimpin oleh-Nya.

  1. “…yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria..”

Yesus memilih meninggalkan tahta-Nya di surga dan datang ke bumi (Filipi 2: 6-7). Caranya pun unik, dimana Dia sendiri memilih perawan Maria mengandung dengan kuasa Roh Kudus (Lukas 1: 34-35). Inkarnasi-Nya adalah mujizat yang melaluinya Dia disebut Immanuel atau ‘Tuhan beserta kita’ (Matius 1: 23).

  1. “…yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut..”

Perjalanan hidup sampai kematian Yesus didokumentasikan dalam Kitab Suci oleh sejarawan Romawi dan Yahudi (Lukas 23: 26). Dia datang menjadi ‘korban penebus bagi dosa-dosa kita’ (1 Yohanes 2: 2), mati bagi kita (2 Korintus 5: 21) untuk membayar hukuman atas dosa-dosa kita dan membeli keselamatan atas kita (Roma 5: 8-9).

  1. “…pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati..”

Kebangkitan Yesus (Matius 28: 1-10) adalah mujizat yang membuktikan keilahian-Nya (1 Korintus 15: 12-20). Dia bangkit kembali saat Dia berjanji (Matius 16: 21) membuktikan bahwa firman Tuhan itu berkuasa (Matius 28: 18), dapat dipercaya (Matius 5: 18) dan relevan sampai hari ini (2 Timotius 3: 16-17). Kebangkitan Yesus juga menjadi kekuatan injil bagi orang Kristen (Kisah 2: 29-33; 17: 31).

  1. “…naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang mahakuasa..”

Kenaikan Yesus (Kisah Para Rasul 1: 9) juga membuktikan keilahian-Nya. Saat ini, Dia benar-benar sudah duduk ‘di sebelah kanan Allah dan juga menjadi perantara bagi kita’ (Roma 8: 34).

  1. “…dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.”

Waktu Yesus naik ke surga, Ia akan kembali lagi untuk yang kedua kalinya (Kisah Para Rasul 1: 10-11). Orang Kristen tidak tahu kapan Yesus akan kembali (Matius 24: 36), jadi kita harus lebih dulu mempersiapkan diri untuk menyambut hari itu (Lukas 12: 40).

  1. Aku percaya kepada Roh Kudus

Roh Kudus adalah Tuhan itu sendiri (Kisah Para Rasul 5: 4, 9). Dia tinggal di dalam diri setiap orang percaya (Roma 8: 18; 1 Korintus 3: 16). Karunia-Nya adalah untuk pelayanan (1 Korintus 12: 28-29; Roma 12: 6-8; Efesus 4: 11-13). Kita dipanggil untuk tunduk kepada pimpinannya dan memperoleh kekuatan dari-Nya untuk dapat menjalani hari-hari (Efesus 5: 18).

  1. “…gereja yang kudus dan am; persekutuan orang kudus..”

Pernyataan ini diartikan bahwa gereja didirikan oleh Yesus (Matius 16: 18) dan gereja tersebut adalah tubuhnya sendiri (1 Korintus 12: 27). Semua orang percaya (1 Korintus 12: 13) dari semua masa (Ibrani 12: 1) adalah bagian dari gereja yang am.

  1. “pengampunan dosa..”

Kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman (Efesus 2: 8-9). Keselamatan adalah pemberian dari Allah (Roma 6: 23). Kita masing-masing menerima karunia itu secara pribadi (Yohanes 3: 3) dengan cara mengakui terlebih dahulu segala dosa-dosa kita kepada Allah (Amsal 28: 13) dengan bertobat (Kisah Para Rasul 3: 19; 2 Korintus 7: 10), meminta Yesus mengampuni dosa-dosa (Lukas 11: 4) dan mempercayainya sebagai Tuhan dalam hidupnya (Roma 10: 13).

Saat kita menyatakan komitmen kita kepada Yesus, maka Dia akan membuat kita menjadi ciptaan baru (2 Korintus 5: 17) dan akan selalu memegang erat tangan kita selamanya (Yohanes 10: 28). Sebagai orang percaya, kita harus terus mengakui dosa-dosa kita kepada Tuhan dan mencari rahmat pengampunan-Nya (1 Yohanes 1: 8-10). Upah dosa adalah maut (Roma 6: 23), orang-orang yang menolak tawaran keselamatan dari Allah dalam Kristus akan terpisah untuk selamanya dari Allah (Yohanes 3; 18; Wahyu 20: 15).

 “…kebangkitan daging..”

Kebangkitan Yesus memungkinkan kita hidup dalam kekekalan bersama Dia (1 Korintus 15: 22). Orang-orang percaya tidak akan pernah mati (Yohanes 11: 25-26). Meskipun secara fisik kita akan mati, tapi secara roh kita akan tetap menyatu bersama Yesus di surga (Lukas 23: 43).

  1. “…dan hidup yang kekal. Amin..”

Orang Kristen akan menghabiskan kekekalan bersama Tuhan dalam tubuh yang tak akan pernah binasa (1 Korintus 15: 42-44. 53-55), menyembah Dia untuk selama-lamanya (Wahyu 5: 13). Yesus datang untuk memberi kita kehidupan berlimpah (Yohanes 10: 10) dan hidup yang kekal bersama Dia di surga (Yohanes 14: 1-3). Inilah pernyataan iman yang patutnya terus dijalankan oleh gereja Tuhan sampai saat ini. Karena dengan menyatakan Pengakuan Iman Rasuli ini, kita dihadapan Tuhan telah mengakui-Nya secara jujur sebagai Allah yang esa.

 

TERLALU ASYIK DI DUNIA MAYA? WAKTUNYA PUASA MEDIA SOSIAL

Bagi sebagian besar orang yang belum pernah mencoba untuk berpuasa pada media sosial, mungkin akan terbesit pikiran seperti, “gue nggak mungkin bisa jauh dari media sosial”. Eits tunggu dulu, jangan terburu-buru mengambil sebuah kesimpulan…

Di era digital seperti sekarang ini, ditambah lagi dengan kemudahan akses dalam berselancar menggunakan internet, menjadikan media sosial sebagai perantara komunikasi bagi sebagian besar penduduk bumi. Ada yang memang menggunakannya sebagai media untuk berkomunikasi karena bisa kembali bersapa dengan teman lama, misalnya. Akan tetapi, ada pula yang menggunakan media sosial sebagai tempat ngepoin hidup orang lain, hingga menjadikan media sosial sebagai tempat berbagi cerita hidup yang dijalaninya, bagaikan sebuah album digital. Penggunaan media sosial secara berkala bisa menghasilkan dua dampak yang bisa dirasakan secara langsung.

Pertama, dampak positif yang bisa diperoleh dengan mendapatkan informasi ter-update setiap harinya. Media sosial bagaikan sebuah tempat jitu untuk mendapatkan informasi. Berbagai macam akun akan bermunculan di media sosial dengan jumlah followers yang terbilang fantastis. Baik itu akun khusus berita, hingga akun gosip yang menguak segala isu tentang hidup seseorang.

Kedua, dampak negatif yang bisa dirasakan langsung dan akan menembus pemikiran para pengguna media sosial, yakni ke-insecure-ran jangka panjang, karena terlalu asyik memperhatikan kehidupan orang lain, tanpa pernah memperhatikan pikiran serta kesehatan mental pada diri sendiri. Disadari atau tidak, terlalu sering dan terlalu keseringan membandingkan hidup kalian dengan hidup orang lain, nyatanya kalian sendiri tidak mensyukuri kehidupan yang telah dijalani. Terlebih lagi bila perbandingan tersebut hanya sebatas pada kacamata media sosial saja. Dengan melihat postingan yang dibagikan seseorang, kalian sudah merasakan ke-insecure-ran, masa begitu saja sudah merasa kalah?

Ketiga pernyataan ilustrasi di atas baru sebagian kecil dari sekian juta pernyataan yang bisa hadir dan timbul di kepala seseorang terkait dengan ke-insecurean-nya di media sosial. Disadari atau tidak, media sosial bagaikan sebuah ajang pencarian panggung semata, segala bentuk postingan, segala bentuk status, ataupun story yang dibagikan seseorang selalu berkaitan dengan hal yang “baik-baik” saja. Apakah hal ini bisa dikatakan pencitraan? Logikanya seperti ini, kemungkinan sangat kecil bahkan tidak mungkin terjadi, seseorang membagikan cerita hidup yang tidak baik pada media sosial miliknya. Dirinya akan lebih memilih memberikan kesan sebaik mungkin pada postingannya tersebut, agar penilaian positif oleh teman dunia maya selalu terbuka untuknya, bukankah begitu? Tidak jarang, banyak orang yang tidak kuat mengikuti permainan yang ada. Ketika dirinya sudah tidak mampu menahan gelombang kehidupan yang berada di dunia maya, cobalah dengan mulai berpuasa pada media sosial yang kita miliki. Berat meninggalkan media sosial? Coba dulu deh baru bisa berkomentar, jangan terlalu banyak berspekulasi terhadap sesuatu hal yang belum kita ketahui kelanjutannya. Puasa media sosial (medsos) bisa dimulai dengan log out terlebih dahulu dari akun media sosial yang diinginkan. Tidak jarang, seseorang yang mengundurkan dirinya sesaat dari media sosial memutuskan untuk menghapus ataupun mengarsipkan sebagian, hingga seluruh postingan miliknya. Bahkan disertai dengan caption yang mendukung pada profil miliknya, seperti “temporarily unavailable”Optional saja, semuanya tergantung dari sang pemilik akun yang ingin berpuasa dari media sosial tersebut. Tanda tersebut dimaksudkan bahwa akunnya sedang tidak aktif, mohon untuk tidak menghubunginya di akun tersebut dan jangan dikira sombong bila tidak ada respon dari akun yang bersangkutan. Langkah selanjutnya adalah dengan menghapus aplikasi media sosial tersebut dari layar gadget. Setelah itu, cobalah dengan menahan diri dengan tidak menyentuh media sosial tersebut. Apabila kalian sukses menahan diri dengan tidak berselancar pada media sosial tersebut selama satu bulan, niat kalian untuk berpuasa pada media sosial tersebut bisa terencana dengan baik. Kalian sendiri bisa memutuskan mau sampai kapan berhenti sejenak dari media sosial tersebut. Bisa setahun, dua tahun, bahkan seterusnya sampai kalian mampu melakukannya dan memang butuh melakukan hal tersebut. Cara ini masih terbilang sederhana, karena ada sebagian besar orang yang menutup akun media sosial miliknya di dunia maya, demi fokus dengan cerita hidupnya di dunia nyata.

Lebih menghargai waktu yang ada

Media sosial terkadang menjadikan para penggunanya terlalu asyik dengan teman di dunia maya ketimbang teman di dunia nyata. Di saat itulah, terkadang kita sendiri sebagai penggunaannya bisa lupa dengan waktu karena terlalu sibuk berselancar di media sosial. Tidak jarang, ketika mengadakan pertemuan dengan teman lama ataupun teman baru, sebagian besar orang akan sibuk sendiri dengan konsep story yang akan dibagikan pada akun media sosial miliknya. Hal ini sering menyebabkan terjadinya kesibukan sendiri pada media sosial, tanpa pernah memikirkan kegunaan dari pertemuan tersebut. Cobalah untuk lebih bisa menghargai waktu di dunia nyata dengan sebaik mungkin. Ingat, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Hidup tidak selalu publish di media sosial

Pahamilah kegunaan dari media sosial, jangan sampai terlalu berlebihan dalam menggunakannya. Perlu diingat, kehidupan asli kita tidak harus selalu di publish di dunia maya, karena kita hidup di dunia nyata, apakah ada manfaat dari kegiatan tersebut? Apakah ada sensasi tersendiri karena mampu terlihat bahagia di setiap postingan? Atau malah berniat ingin menyombongkan diri melalui media sosial karena mampu mendapatkan apa yang diinginkan di dalam hidup? Tidak ada gunanya terlalu sering mem-publish kehidupan nyata kita di dunia maya, karena sebagian besar orang yang melihat terkadang hanya sekadar ingin tahu, tidak lebih dari itu. Bila tidak percaya, coba tanyakan pada diri kita masing-masing, apa niat utama kita ketika menggerakan jari jemari di akun media sosial milik orang lain? Tidak lain dan tidak bukan, kita pasti ingin melihat postingan yang dibagikannya, bukankah begitu? Sudah terlihat secara jelas kalau kita hanya sekadar kepo. Tidak ada unsur paksaan di dalam hal puasa media sosial ini. Apabila kalian bertanya apakah saya melakukan puasa media sosial? Jawabannya iya, di salah satu akun media sosial yang saya miliki.

Bagi yang berteman dengan saya di media sosial, ataupun melihat akun saya dan menemukan caption pada profil yang menjurus pada ketidakaktifan akun, itulah tandanya. Saya melakukannya selama kurun waktu lebih dari satu tahun, sama sekali tidak ada aktivitas di dalam akun tersebut. Meskipun telah login kembali akhir-akhir ini, namun nyatanya, keadaan akun tersebut tetaplah sama, tanpa adanya postingan terbaru. Hanya sekadar ada pembaruan pada profil dan aktivitas pada postingan lama yang menghiasi akun tersebut. Kenapa tidak dilakukan pembaruan hanya sekadar untuk menyapa teman di dunia maya? Karena nyatanya kita sendiri akan menyadari, bahwa media sosial bukanlah sebuah prioritas, kehidupan asli kita ada di dunia nyata, bukan di dunia maya. Rasakanlah sendiri, lebih enak beraktivitas dan bertemu dengan seseorang secara nyata atau sekedar bertemu dengan seseorang secara tidak nyata?

Gunakanlah media sosial sewajarnya saja tanpa harus berlebihan. Jangan terlalu mudah untuk insecureEnjoy your life!

Sumber: Kompasiana

 

BISAKAH KITA HIDUP LEBIH BAHAGIA TANPA MEDIA SOSIAL?

Disaat aku bermain media sosial, maka aku ada. (Netizen) 

Ungkapan tersebut rasanya cocok untuk mendeskripsikan kondisi saat ini. Keberadaan media sosial (medsos) bukan hanya memberi esensi, medsos pada saat ini seakan menjadikan seseorang eksis di dunia ini. Ketika seseorang tidak aktif bermain medsos, maka seseorang dianggap tidak eksis. Keberadaan seseorang tersebut menjadi pertanyaan banyak orang, apalagi untuk para selebriti. Setiap orang apalagi generasi milenial dan generasi Z setidaknya mempunyai satu media sosial. Bahkan dari bangun tidur sampai tidur kembali kebanyakan orang biasa mengecek notifikasi medsos.

Pengguna medsos sendiri meningkat, apalagi setelah pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 memaksa kita untuk lebih akrab dengan gawai dan internet. Dikutip dari Kompas.com, orang Indonesia setidaknya menghabiskan waktu sekitar 14 menit dalam sehari untuk media sosial. Dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 270 juta, sekitar 170 juta merupakan pengguna aktif media sosial. Dan pengguna media sosial di seluruh dunia sendiri mencapai 4.2 milyar. Itu artinya hampir setengah penduduk bumi melek dengan media sosial. Tidak bisa dimungkiri, kehadiran media sosial sendiri memberikan kemudahan bagi kita terutama untuk komunikasi. Kita bisa dengan mudah berinteraksi dengan banyak orang tanpa mengenal ruang dan waktu.

Selain itu, media sosial juga kerap memberikan akses informasi aktual bagi kita. Bahkan dengan media sosial, kita bisa menggalang dana untuk kepentingan kemanusiaan. Namun tidak sedikit juga media sosial memberikan dampak negatif bagi kita, terutama untuk kesehatan mental. Jangkauan media sosial sendiri amat luas, bahkan kehidupan seseorang dengan detail dibagikan di media sosial. Setiap orang pastinya mengabadikan pencapaian dalan hidupnya di laman media sosial. Entah itu perihal asmara, karier, pendidikan, atau gaya hidup yang mewah.

Disadari atau tidak, hal tersebut hanya akan membuat kita membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, atau biasa disebut dengan social comparisonItulah yang saya rasakan waktu itu, ketika teman-teman saya membagikan gaya hidupnya yang mewah, saya justru merasa minder. Akhirnya saya hanya bisa membandingkan kehidupan saya dengan orang lain.

Kehidupan orang lain yang mewah, asyik, dan diisi dengan kegiatan anak muda bisa dibilang berbanding terbalik dengan kondisi saya yang memang tidak bisa melakukan itu.

Akhirnya hal itu hanya membuat saya merasa benci dengan gaya kehidupan mewah yang dipamerkan di media sosial. Terkadang saya berpikir, saya harus berpikir dua kali untuk melakukan itu. Itu karena saya tahu, untuk melakukan gaya hedonisme tidak mungkin dilakukan oleh saya. Alasannya karena saya tahu susahnya mencari uang itu seperti apa. Tetapi ada segelintir orang yang katakanlah tidak terlalu bekerja keras justru memerkan sesuatu yang tidak perlu. Akhirnya saya hanya membandingkan pencapaian saya dengan orang lain. Ketika teman saya memamerkan pencapaian dalam hidupnya, entah itu karier maupun kehidupan mewah, saya merasa gagal. Bukan berarti saya merasa iri, terkadang orang-orang yang memamerkan gaya kehidupan hedonisme berlindung di balik kata “untuk memotivasi orang lain agar kerja keras”.

Padahal faktanya hal itu keliru. Tidak semua orang bisa mencapai taraf kehidupan seperti itu, bahkan ada yang bekerja dari pagi sampai malam penghasilannya tidak seberapa. Toh mereka sudah bekerja keras, kerja pun melebihi waktu biasa. Tapi nyatanya apa yang didapat? Yang ada adalah ketika melihat seseorang pamer kekayaan ada rasa ngenes, kok bisa gitu dia kerja cuma ini itu, sedangkan saya harus banting tulang begini-begini saja.

Itulah yang sebenarnya terjadi. Saya menganggap orang-orang tersebut hidup lebih bahagia dibandingkan diri saya sendiri. Sampai akhirnya saya sadar pada satu kesimpulan. Justru yang membuat saya tidak bahagia adalah media sosial itu sendiri. Media sosial hanya menampilkan bias kesenangan semata. Sampai akhirnya, saya membatasi diri untuk bermain media sosial. Sehari hanya membuka media sosial sekitar 5 menit. Tetapi itu tidak cukup, akhirnya saya uninstall aplikasi media sosial yang ada di handphone saya. Membandingkan diri kita dengan orang lain hanya mendatangkan rasa tidak bahagia. Karena pasti ada yang lebih jauh lagi dari itu. Sejauh mana diri kita, apakah lebih baik dari yang sebelumnya atau tidak? Apakah diri kita yang sekarang jauh lebih baik dari diri kita yang kemarin? Lantas jika tidak, apa yang harus diperbaiki? Membandingkan dengan diri sendiri akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Membandingkan dengan diri sendiri juga tidak akan merusak kesehatan mental ya karena untuk kebaikan diri sendiri. Akan tetapi, yang perlu kita renungi lagi bahwa media sosial adalah panggung kehidupan. Bisa saja mereka yang hobi pamer kekayaan nyatanya hanya ingin mendapat pengakuan dari orang lain. Toh meskipun memang harta mereka banyak, tetapi mereka tidak bahagia lantaran tidak ada yang mengakui. Lebih dari itu, bisa saja semua yang ditampilkan di media sosial adalah gimik. Apa yang dipamerkan sebenarnya tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Karena haus pengakuan dari orang lain, orang rela membodohi diri sendiri. Pada akhirnya tidak bahagia juga toh. Jadi hidup tanpa media sosial justru membuat kita lebih bahagia, kita tidak akan merasakan hal-hal di atas tadi.

Toh jika sumber dari ketidakbahagiaan itu adalah media sosial sendiri, lebih baik kita hidup tanpa media sosial. Karena studi yang lainnya menunujukkan, jika seseorang menghabiskan waktu terlalu banyak dengan bermain sosial media, sesungguhnya dia kesepian.

Ada dunia yang jauh lebih nyata daripada media sosial. Jika meminjam teori Plato, lebih baik kita keluar dari gua yang hanya menampilkan realitas bayangan semata.

Sumber:

Dani Ramdani

Kompasiana

SAY GOOD THINGS TO OTHERS

“Gunakan perkataan Anda dengan Bijak kepada Orang lain karena itu akan memberi pengaruh yang besar”

Saya pernah mendengar sebuah nasihat yang mengatakan berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan karena hal tersebut bisa menjadi kenyataan. Jika Anda mengatakan hal yang negatif, hal yang bernada pesimis kepada orang lain atau kepada Anak Anda sendiri, besar kemungkinan pernyataan tersebut tertanam dalam alam bawah sadar mereka.

Salah satu prinsip yang sangat saya senangi adalah Kita harus menjadi berkat di dunia ini lewat perkataan dan tindakan kita, jadi apabila kita mengutarakan hal yang buruk dan melemahkan mental seseorang, kita bukan menjadi berkat untuk dia. Kita ada didunia ini untuk saling memberi terang dan dorongan kepada orang lain, bukan menjatuhkan orang lain. Jika Anda seorang atasan, berilah semangat kepada tim Anda lewat perkataan Anda. Jika Anda adalah orang tua, berilah kata-kata yang positif kepada Anak Anda. Apapun peran Anda di masyarakat, mari mulai menyampaikan perkataan yang dapat menumbuhkan benih dalam dirinya bukan justru mematikan benih tersebut.

Bukan hanya Anda, kita semua harus mulai mencoba kebiasaaan ini untuk mewujudkan kehidupan yang lebih amazing di dunia ini.

Sumber: Muk Kuang, Message of Hope

SEBELUM ANDA MENGELUH

Hidup adalah sebuah berkat yang patut disyukuri dalam kondisi apapun”.

Sebelum Anda mengeluh ketika harus masuk kerja Senin pagi, ingatlah dan tengoklah sebagian orang yang berjuang dan menanti sebuah kerja. Sebelum Anda mengeluh ketika harus menaiki motor dan merasakan kehujanan, lihatlah sebagian orang yang harus berjalan kaki karena tak mampu membeli motor. Sebelum anda mengeluh mengenai tidak memiliki rumah yang mewah, tengoklah saudara kita yang harus tinggal dibawah jembatan. Sebelum Anda mengeluh karena tidak bisa membawa keluarga makan di restoran mewah, lihatlah sebagian keluarga yang cukup makan mie instan bersama dan mereka tetap bersyukur.

Sebelum Anda mengeluh mendapatkan bayaran kecil, lihatlah sebagian orang yang berjuang setiap harinya dengan bayaran yang sangat minim demi sesuap nasi. Sebelum Anda mengeluh tidak bisa memiliki baju yang bermerek, lihatlah sebagian saudara kita yang bersyukur dengan baju sederhana yang dipakainya.

Apakah kita pantas mengeluh setelah melihat orang di sekeliling kita? Saudaraku, syukurilah apa yang kita miliki. Hidup tidak sekedar mencari sebuah kemewahan. Hidup adalah berkat yang patut di syukuri dalam kondisi apapun.

Sumber: Muk Kuang, Message Of Hope.

HIDUNG MERANGKAP CEROBONG

Sekiranya Tuhan menghendaki manusia ciptaanNya itu menjadi perokok, maka Ia pasti menciptakan lubang hidungnya mengarah ke atas seperti cerobong pabrik.

Setengah juta manusia mati pertahun karena penyakit yang disebabkan oleh rokok.

Ada kisah menarik soal kalkulasi biaya membeli rokok. Seorang istri sudah dua puluh tahun bergumul dan berusaha dengan segala cara agar suaminya berhenti merokok. Sayang sekali, ia selalu gagal. Terakhir, dia mengambil kalkulator dan menghitung. Rp.10.000/hari X 30 = Rp.300.000/bulan x 12 = Rp.3.600.000/ tahun X 20 = Rp.72.000.000 selama 20 tahun. “Bapak membakar uang Rp.72.000.000 selama 20 tahun. Lebih mahal dari rumah kita ini”, kata istrinya menyadarkan suaminya.

Suatu ketika, suaminya sedang keluar. Istrinya sedang memasak di rumah. Karena tiba-tiba ia dipanggil oleh temannya untuk mengulas tuntas gosip yang sedang beredar, ia pun keluar meninggalkan rumahnya. Sayang sekali, ia lupa mematikan kompor. Kompor itupun meledak dan dalam sekejap rumahnya habis dilalap sijago merah. Ia benar-benar frustasi. Bukan saja karena rumahnya habis, tetapi juga memikirkan reaksi suaminya terhadap kejadian itu. Ia tahu bahwa suaminya seorang pemberang, yang emosinya lebih cepat menyala dibandingkan dengan kompor minyak tanah. Dalam keadaan pilu dan takut itu suaminya datang. Tapi mengherankan, kali ini ia terlihat sangat tenang. Tidak ada nada marah atau wajah memerah. Istrinya heran tidak kepalang. Sebelum istrinya menjelaskan duduk persoalannya, si suami langsung berkata, “tidak apalah Ma, kita sama-sama punya kesalahan”. Bedanya, saya membakar Rp.72.000.000 dalam tempo duapuluh tahun, Mama membakarnya dalam tempo duapuluh menit.

Pesan dari cerita di atas bukanlah soal kesabaran seorang perokok ketika menghadapi musibah sebagai kompensasi kesalahannya tetapi kiranya mendorong kesadaran kita bahwa sesungguhnya rokok benar-benar menghancurkan paru-paru dan ‘merobek’ kantong juga.

Media Indonesia baru-baru ini mengutip pidato Menteri Kesehatan Endang R sedayningsih yang mengatakan bahwa saat ini dua dari tiga pria di Indonesia adalah perokok aktif. Lebih bahaya lagi, kata Menkes, 85,4% perokok aktif merokok di dalam rumah. Alhasil tindakan ini bakal mengancam kesehatan anggota keluarga, lantaran lebih dari 43 juta anak Indonesia tinggal serumah dengan perokok. Imbasnya, anak Indonesia menjadi mudah terkena bronchitis, infeksi saluran pernapasan dan telingan serta asma.

Kompas.com (15/12/2009) mengungkapkan hasil sebuah penelitian yang dipublikasikan Cancer epidemology, Biomarkers & Prevention bahwa ternyata, kebiasaan para orang tua merokok di rumah bisa menyebabkan anak-anak mereka mempunyai kadar nikotin tinggi.

Yang lebih berbahaya lagi adalah kenyataan semakin banyaknya anak-anak Indonesia yang merokok, bahkan banyak anak yang mulai merokok pada usia dibawah lima tahun. Satu abad yang lalu, rata-rata usia perokok pemula adalah sembilan belas tahun tetapi sebuah studi terakhir menemukan bahwa usia rata-rata pemula adalah tujuh tahun (Hadi Supeno, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, sebagaimana dikutip di http://sg.news.yahoo.com, 30 Mei 2010).

Bahaya merokok sangat nyata. Tetapi fakta-fakta menunjukkan betapa sulitnya seseorang berhenti merokok dengan berbagai alasan. Berikut ini adalah berbagai alasan (‘asalan’) para perokok yang sangat umum dan apa respon singkat terhadap setiap alasan tersebut. Alasan (A) dan Respon (R).

A: Tidak ada didalam Alkitab larangan merokok (ini salah satu alasan ‘asalan’ yang paling sering terdengar)

R: Alkita juga tidak ada menganjurkan merokok, bukan? Alkitab sangat menegaskan pentingnya menjaga kesehatan tubuh dan kesehatan ‘kantong’. HKBP telah secara eksplisit mencantumkan dalam konfessinya (pasal 14) agar warga HKBP tidak dikuasai oleh rokok. Itu sebabnya, kepada para Pengkhotbah sering disampaikan, “Khotbah yang dipersiapkan dengan tenaga asap, sangat sulit dibayangkan meresap”.

A: Rokok perlu untuk pergaulan

R: Pertanyaan, ‘apakah sahabat perokok itu jauh lebih banyak dan berkualitas dengan mereka yang tidak merokok? Mengapa persahabatan dibangun dengan yang menghancurkan kehidupan? Buatlah persahabatan dengan minum jus bersama dan sebagainya

A: Tidak bisa konsentrasi dan membuat inspirasi tanpa rokok

R: Inilah masalahnya, kalau orang sudah kecanduan, orang akan menggantungkan diri pada perusaknya sendiri. Konsentrasi adalah masalah pilihan kita sendiri. Inspirasi (yang bisa diterjemahkan: dimasuki atau didiami Roh Tuhan) justru terhalang karena dihadang oleh asap rokok. 

A: Takut berat badan naik kalau berhenti merokok

R: Bukankah ada begitu banyak cara mempertahankan berat badan dengan cara sehat dan hemat?

A: Ah, Orang tidak perokok pun mati juga, ada perokok yang umurnya panjang sedangkan yang tidak merokok umurnya pendek.

R: Mengapa membandingkan diri dengan orang lain? Perokok seharusnya tidak membandingkan dirinya dengan orang lain berkaitan dengan kesehatan dan usia. Ia harus membandingkan dirinya dengan harapan hidupnya sendiri. Andaikan Tuhan menghendaki anda hidup seratus tahun. Karena rokok, Anda memangkas sendiri menjadi 60 tahun, itupun sesudah Anda batuk-batu, berdahak pula. 

A: Tutup saja pabrik rokok

R: Mana lebih mudah: berhenti merokok sehingga pabrik rokok tutup, atau tutup pabrik rokok supaya orang berhenti merokok? Kalau kita lebih memikirkan tanggung jawab kita sendiri, maka langkah yang kita tempuh adalah berhenti merokok, industri rokok akan gulung tikar dengan sendirinya

A: Dengan merokok, kita membantu banyak orang yang bekerja mulai dari petani tembakau, pekerja pabrik, pedagang rokok, pemasang iklan dan semua orang yang terkait dengan industri rokok.

R: Anda terkesan sangat penderma. Tetapi jika anda benar-benar penderma, anda tidak perlu menyalurkannya melalui bisnis rokok. Bantulah orang berkekurangan secara langsung atau melalui gereja, LSM, Panti Asuhan dan sebagainya

A: Merokok atau tidak merokok, sama saja miskin

R: Kalau ‘terpaksa’ harus miskin, lebih baik miskin tidak merokok ketimbang miskin merangkap perokok

A: Merokok adalah tanda kejantanan

R: Tanda kejantanan tidak di rokok. Ayam jantan tetap berkokok walaupun tak pernah  merokok

A: Devisa negara amat besar dari industri rokok – penting untuk menjalankan roda pemerintahan

R: Disamping devisa ada penyakit berbisa karena rokok. Benar, negara berhasil menarik devisa triliunan rupiah dari industri rokok, tetapi sayangnya banyak anggota masyarakat yang sengsara akibat rokok, bukan hanya si perokok itu sendiri tetapi juga anggota keluarga di rumah rumah, penumpang angkutan umum, bahkan di dalam gereja dan kosistori. Kita harus menyadari bahwa ada begitu banyak orang yang tersiksa pada saat naik angkutan umum di Indonesia dimana para perokok sama sekali tidak peduli dengan terus mengepulkan asap rokonya. Memang permen 225 sudah menetapkan di areal mana saja seseorang boleh dan tidak boleh merokok, tetapi peraturan nampaknya ada sekadar untuk dilanggar. Walaupun hampir setengah juta manusia mati per tahun karena penyakit yang disebabkan oleh rokok, kita masih terus mendukung industri tembakau dan rokok. Amat menyedihkan memang.

Masih ada alasan lain? Mungkin masih banyak, tetapi semuanya pasti alasan asalan juga. Bagaimana caranya berhenti? Sangat mudah: Jangan beli dan jangan nyalakan. Dan yang terpenting: karena Allah mengasihi Anda para perokok, sambutlah kasihNya dengan mematikan rokok sebelum semuanya amat terlambat.

Sumber:

Victor Tinambunan, Kiat merawat hubungan sehat dengan sahabat, Jemaat dan Masyarakat, L.SAPA STT HKBP, 2011

KEPALA IKAN

Alkisah pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek-nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga besar kakek dan nenek tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan. Pasangan kakek nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut. Singkat kata mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup lama bagi kebanyakan orang. Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi. Pasangan tersebut merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.

Disela-sela acara makan malam yang telah tersedia, pasangan yang merayakan peringatan ulangtahun pernikahan mereka inipun terlihat masih sangat romantis. Di meja makan, telah tersedia hidangan ikan yang sangat menggiurkan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut. Sang kakek pun, pertama kali melayani sang nenek dengan mengambil kepala ikan dan memberikannya kepada sang nenek, kemudian mengambil sisa ikan tersebut untuknya sendiri.

Sang nenek melihat hal ini, perasaannya terharu bercampur kecewa dan heran. Akhirnya sang nenek berkata kepada sang Kakek:

“Suamiku, kita telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan kita. Ketika engkau memutuskan untuk melamarku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu dan menerima dengan segala kekurangan yang ada untuk hidup sengsara denganmu walaupun aku tahu waktu itu kondisi keuanganmu pas-pasan. Aku menerima hal tersebut karena aku sangat mencintaimu. Sejak awal pernikahan kita, ketika kita mendapatkan keberuntungan untuk dapat menyantap hidangan ikan, engkau selalu hanya memberiku kepala ikan yang sebetulnya sangat tidak aku suka, namun aku tetap menerimanya dengan mengabaikan ketidaksukaanku tersebut karena aku ingin membahagiakanmu. Aku tidak pernah lagi menikmati daging ikan yang sangat aku suka selama masa pernikahan kita. Sekarangpun, setelah kita berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan kepala ikan ini. Aku sangat kecewa, suamiku. Aku tidak tahan lagi untuk mengungkapkan hal ini”.

Sang kakek pun terkejut dan bersedihlah hatinya mendengarkan penuturan sang nenek. Akhirnya, sang kakek pun menjawab. “Istriku, ketika engkau memutuskan untuk menikah denganku, aku sangat bahagia dan aku pun bertekad untuk selalu membahagiakanmu dengan memberikan yang terbaik untukmu. Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini adalah hidangan yang sangat aku suka. Namun, aku selalu menyisihkan ini untukmu, karena aku ingin memberikan yang terbaik bagimu. Semenjak menikah denganmu, tidak pernah lagi aku menikmati hidangan kepala ikan yang sangat aku suka itu. Aku hanya bisa menikmati daging ikan yang tidak aku suka karena banyak tulangnya itu. Aku minta maaf, istriku”.

Mendengar hal tersebut, sang nenek pun menangis, merekapun akhirnya berpelukan. Percakapan pasangan ini didengar oleh sebagian undangan yang hadir sehingga akhirnya merekapun ikut terharu.

MORAL OF THE STORY:

Kadang kala kita terkejut mendengar atau mengalami sendiri suatu hubungan yang sudah berjalan cukup lama dan tidak mengalami masalah yang berarti, kandas di tengah-tengah karena hal yang sepele, seperti masalah pada cerita di atas. Kualitas suatu hubungan tidak terletak pada lamanya hubungan tersebut, melainkan terletak sejauhmana kita mengenali pasangan kita masing-masing. Hal ini dapat dilakukan dengan komunikasi yang dilandasi dengan keterbukaan. Oleh karena itu, mulailah kita membina hubungan kita berdasarkan pada kejujuran, keterbukaan dan saling menghargai satu sama lain.

From: Pretty@canangindah.com

To: hkbpmonang@yahoo.com

Sent: 18 Juni 2005, 09.43 WIB

 

EVERYTHING HAPPEN, HAPPEN FOR A REASON

“Semua Terjadi karena suatu alasan”

Tidak semua yang kita inginkan itu baik bagi kita, Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita.

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang Pilot. Namun sesuatu pun terjadilah.

Gedung putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan S1-L pesawat ulang alik Challenger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos.

Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan! Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku. Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi! Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Centre.

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah diantara kami yang bisa melewati ujian akhir ini?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa …

Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diri lenyap, amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan?! Kenapa bukan aku?! Bagian diriku mana yang kurang?! Mengapa aku diperlakukan kejam?!

Aku berpaling pada ayahku. Katanya, “Semua Terjadi karena suatu alasan ..”. Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challenger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?! 73 detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challenger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku, “Semua terjadi karena suatu alasan..”. Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.

Aku menang karena aku telah kalah, Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

(Diposting oleh Pretty L Napitupulu ke hkbpmonang@yahoo.com pada 13 Juni 2005 pukul 13.00 WIB) 

Note: hkbpmonang@yahoo.com (HKBP Parmonangan Resort Medan Perjuangan Distrik X Medan Aceh, tempat pelayanan masa LPP II 2004 – 2005 dan tempat keberangkatan menerima tahbisan kependetaan)

35 tahun Peristiwa Chalenger. (ASS)

VITAMIN PENYEGAR JIWA Lain di Dalam, Lain di Luar

Penginjil terkenal DL Moody pada suatu hari pernah berkhotbah di kota Chicago, Amerika Serikat. Didalam gedung kebaktian tersebut ia membuat sesuatu yang aneh. Ia menyuruh orang memotong sebuah batang kayu yang besar. Batang kayu itu sudah kering dan mati. Lalu Moody mengupas kulit sebatang pohon besar yang lain yang masih segar dan basah. Dengan kulit segar, ia membungkus batang kering tadi, meletakkannya di tengah-tengah ruang kebaktian, sehingga orang yang datang harus meloncati batang tadi. Mereka semua heran dan tidak mengerti maksudnya. Pada waktu berkhotbah, Moody bertanya: “apakah saudara-saudara melihat batang kayu yang besar? Semua menjawab: Ya! Ditegaskan lagi, “nah saudara perhatikan bahwa kulitnya basah, tetapi dalamnya kering. Banyak orang Kristen seperti batang kayu tadi. Diluarnya kelihatan hidup, dibungkus dengan agama Kristen yang bagus. Tetapi di dalamnya mati, belum mempunyai kehidupan rohani. Masih mati di dalam dosa, belum memiliki kemenangan atas dosa”.

Sumber:

Spirit Motivator