TERLALU ASYIK DI DUNIA MAYA? WAKTUNYA PUASA MEDIA SOSIAL

Bagi sebagian besar orang yang belum pernah mencoba untuk berpuasa pada media sosial, mungkin akan terbesit pikiran seperti, “gue nggak mungkin bisa jauh dari media sosial”. Eits tunggu dulu, jangan terburu-buru mengambil sebuah kesimpulan…

Di era digital seperti sekarang ini, ditambah lagi dengan kemudahan akses dalam berselancar menggunakan internet, menjadikan media sosial sebagai perantara komunikasi bagi sebagian besar penduduk bumi. Ada yang memang menggunakannya sebagai media untuk berkomunikasi karena bisa kembali bersapa dengan teman lama, misalnya. Akan tetapi, ada pula yang menggunakan media sosial sebagai tempat ngepoin hidup orang lain, hingga menjadikan media sosial sebagai tempat berbagi cerita hidup yang dijalaninya, bagaikan sebuah album digital. Penggunaan media sosial secara berkala bisa menghasilkan dua dampak yang bisa dirasakan secara langsung.

Pertama, dampak positif yang bisa diperoleh dengan mendapatkan informasi ter-update setiap harinya. Media sosial bagaikan sebuah tempat jitu untuk mendapatkan informasi. Berbagai macam akun akan bermunculan di media sosial dengan jumlah followers yang terbilang fantastis. Baik itu akun khusus berita, hingga akun gosip yang menguak segala isu tentang hidup seseorang.

Kedua, dampak negatif yang bisa dirasakan langsung dan akan menembus pemikiran para pengguna media sosial, yakni ke-insecure-ran jangka panjang, karena terlalu asyik memperhatikan kehidupan orang lain, tanpa pernah memperhatikan pikiran serta kesehatan mental pada diri sendiri. Disadari atau tidak, terlalu sering dan terlalu keseringan membandingkan hidup kalian dengan hidup orang lain, nyatanya kalian sendiri tidak mensyukuri kehidupan yang telah dijalani. Terlebih lagi bila perbandingan tersebut hanya sebatas pada kacamata media sosial saja. Dengan melihat postingan yang dibagikan seseorang, kalian sudah merasakan ke-insecure-ran, masa begitu saja sudah merasa kalah?

Ketiga pernyataan ilustrasi di atas baru sebagian kecil dari sekian juta pernyataan yang bisa hadir dan timbul di kepala seseorang terkait dengan ke-insecurean-nya di media sosial. Disadari atau tidak, media sosial bagaikan sebuah ajang pencarian panggung semata, segala bentuk postingan, segala bentuk status, ataupun story yang dibagikan seseorang selalu berkaitan dengan hal yang “baik-baik” saja. Apakah hal ini bisa dikatakan pencitraan? Logikanya seperti ini, kemungkinan sangat kecil bahkan tidak mungkin terjadi, seseorang membagikan cerita hidup yang tidak baik pada media sosial miliknya. Dirinya akan lebih memilih memberikan kesan sebaik mungkin pada postingannya tersebut, agar penilaian positif oleh teman dunia maya selalu terbuka untuknya, bukankah begitu? Tidak jarang, banyak orang yang tidak kuat mengikuti permainan yang ada. Ketika dirinya sudah tidak mampu menahan gelombang kehidupan yang berada di dunia maya, cobalah dengan mulai berpuasa pada media sosial yang kita miliki. Berat meninggalkan media sosial? Coba dulu deh baru bisa berkomentar, jangan terlalu banyak berspekulasi terhadap sesuatu hal yang belum kita ketahui kelanjutannya. Puasa media sosial (medsos) bisa dimulai dengan log out terlebih dahulu dari akun media sosial yang diinginkan. Tidak jarang, seseorang yang mengundurkan dirinya sesaat dari media sosial memutuskan untuk menghapus ataupun mengarsipkan sebagian, hingga seluruh postingan miliknya. Bahkan disertai dengan caption yang mendukung pada profil miliknya, seperti “temporarily unavailable”Optional saja, semuanya tergantung dari sang pemilik akun yang ingin berpuasa dari media sosial tersebut. Tanda tersebut dimaksudkan bahwa akunnya sedang tidak aktif, mohon untuk tidak menghubunginya di akun tersebut dan jangan dikira sombong bila tidak ada respon dari akun yang bersangkutan. Langkah selanjutnya adalah dengan menghapus aplikasi media sosial tersebut dari layar gadget. Setelah itu, cobalah dengan menahan diri dengan tidak menyentuh media sosial tersebut. Apabila kalian sukses menahan diri dengan tidak berselancar pada media sosial tersebut selama satu bulan, niat kalian untuk berpuasa pada media sosial tersebut bisa terencana dengan baik. Kalian sendiri bisa memutuskan mau sampai kapan berhenti sejenak dari media sosial tersebut. Bisa setahun, dua tahun, bahkan seterusnya sampai kalian mampu melakukannya dan memang butuh melakukan hal tersebut. Cara ini masih terbilang sederhana, karena ada sebagian besar orang yang menutup akun media sosial miliknya di dunia maya, demi fokus dengan cerita hidupnya di dunia nyata.

Lebih menghargai waktu yang ada

Media sosial terkadang menjadikan para penggunanya terlalu asyik dengan teman di dunia maya ketimbang teman di dunia nyata. Di saat itulah, terkadang kita sendiri sebagai penggunaannya bisa lupa dengan waktu karena terlalu sibuk berselancar di media sosial. Tidak jarang, ketika mengadakan pertemuan dengan teman lama ataupun teman baru, sebagian besar orang akan sibuk sendiri dengan konsep story yang akan dibagikan pada akun media sosial miliknya. Hal ini sering menyebabkan terjadinya kesibukan sendiri pada media sosial, tanpa pernah memikirkan kegunaan dari pertemuan tersebut. Cobalah untuk lebih bisa menghargai waktu di dunia nyata dengan sebaik mungkin. Ingat, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Hidup tidak selalu publish di media sosial

Pahamilah kegunaan dari media sosial, jangan sampai terlalu berlebihan dalam menggunakannya. Perlu diingat, kehidupan asli kita tidak harus selalu di publish di dunia maya, karena kita hidup di dunia nyata, apakah ada manfaat dari kegiatan tersebut? Apakah ada sensasi tersendiri karena mampu terlihat bahagia di setiap postingan? Atau malah berniat ingin menyombongkan diri melalui media sosial karena mampu mendapatkan apa yang diinginkan di dalam hidup? Tidak ada gunanya terlalu sering mem-publish kehidupan nyata kita di dunia maya, karena sebagian besar orang yang melihat terkadang hanya sekadar ingin tahu, tidak lebih dari itu. Bila tidak percaya, coba tanyakan pada diri kita masing-masing, apa niat utama kita ketika menggerakan jari jemari di akun media sosial milik orang lain? Tidak lain dan tidak bukan, kita pasti ingin melihat postingan yang dibagikannya, bukankah begitu? Sudah terlihat secara jelas kalau kita hanya sekadar kepo. Tidak ada unsur paksaan di dalam hal puasa media sosial ini. Apabila kalian bertanya apakah saya melakukan puasa media sosial? Jawabannya iya, di salah satu akun media sosial yang saya miliki.

Bagi yang berteman dengan saya di media sosial, ataupun melihat akun saya dan menemukan caption pada profil yang menjurus pada ketidakaktifan akun, itulah tandanya. Saya melakukannya selama kurun waktu lebih dari satu tahun, sama sekali tidak ada aktivitas di dalam akun tersebut. Meskipun telah login kembali akhir-akhir ini, namun nyatanya, keadaan akun tersebut tetaplah sama, tanpa adanya postingan terbaru. Hanya sekadar ada pembaruan pada profil dan aktivitas pada postingan lama yang menghiasi akun tersebut. Kenapa tidak dilakukan pembaruan hanya sekadar untuk menyapa teman di dunia maya? Karena nyatanya kita sendiri akan menyadari, bahwa media sosial bukanlah sebuah prioritas, kehidupan asli kita ada di dunia nyata, bukan di dunia maya. Rasakanlah sendiri, lebih enak beraktivitas dan bertemu dengan seseorang secara nyata atau sekedar bertemu dengan seseorang secara tidak nyata?

Gunakanlah media sosial sewajarnya saja tanpa harus berlebihan. Jangan terlalu mudah untuk insecureEnjoy your life!

Sumber: Kompasiana

 

BISAKAH KITA HIDUP LEBIH BAHAGIA TANPA MEDIA SOSIAL?

Disaat aku bermain media sosial, maka aku ada. (Netizen) 

Ungkapan tersebut rasanya cocok untuk mendeskripsikan kondisi saat ini. Keberadaan media sosial (medsos) bukan hanya memberi esensi, medsos pada saat ini seakan menjadikan seseorang eksis di dunia ini. Ketika seseorang tidak aktif bermain medsos, maka seseorang dianggap tidak eksis. Keberadaan seseorang tersebut menjadi pertanyaan banyak orang, apalagi untuk para selebriti. Setiap orang apalagi generasi milenial dan generasi Z setidaknya mempunyai satu media sosial. Bahkan dari bangun tidur sampai tidur kembali kebanyakan orang biasa mengecek notifikasi medsos.

Pengguna medsos sendiri meningkat, apalagi setelah pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 memaksa kita untuk lebih akrab dengan gawai dan internet. Dikutip dari Kompas.com, orang Indonesia setidaknya menghabiskan waktu sekitar 14 menit dalam sehari untuk media sosial. Dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 270 juta, sekitar 170 juta merupakan pengguna aktif media sosial. Dan pengguna media sosial di seluruh dunia sendiri mencapai 4.2 milyar. Itu artinya hampir setengah penduduk bumi melek dengan media sosial. Tidak bisa dimungkiri, kehadiran media sosial sendiri memberikan kemudahan bagi kita terutama untuk komunikasi. Kita bisa dengan mudah berinteraksi dengan banyak orang tanpa mengenal ruang dan waktu.

Selain itu, media sosial juga kerap memberikan akses informasi aktual bagi kita. Bahkan dengan media sosial, kita bisa menggalang dana untuk kepentingan kemanusiaan. Namun tidak sedikit juga media sosial memberikan dampak negatif bagi kita, terutama untuk kesehatan mental. Jangkauan media sosial sendiri amat luas, bahkan kehidupan seseorang dengan detail dibagikan di media sosial. Setiap orang pastinya mengabadikan pencapaian dalan hidupnya di laman media sosial. Entah itu perihal asmara, karier, pendidikan, atau gaya hidup yang mewah.

Disadari atau tidak, hal tersebut hanya akan membuat kita membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, atau biasa disebut dengan social comparisonItulah yang saya rasakan waktu itu, ketika teman-teman saya membagikan gaya hidupnya yang mewah, saya justru merasa minder. Akhirnya saya hanya bisa membandingkan kehidupan saya dengan orang lain.

Kehidupan orang lain yang mewah, asyik, dan diisi dengan kegiatan anak muda bisa dibilang berbanding terbalik dengan kondisi saya yang memang tidak bisa melakukan itu.

Akhirnya hal itu hanya membuat saya merasa benci dengan gaya kehidupan mewah yang dipamerkan di media sosial. Terkadang saya berpikir, saya harus berpikir dua kali untuk melakukan itu. Itu karena saya tahu, untuk melakukan gaya hedonisme tidak mungkin dilakukan oleh saya. Alasannya karena saya tahu susahnya mencari uang itu seperti apa. Tetapi ada segelintir orang yang katakanlah tidak terlalu bekerja keras justru memerkan sesuatu yang tidak perlu. Akhirnya saya hanya membandingkan pencapaian saya dengan orang lain. Ketika teman saya memamerkan pencapaian dalam hidupnya, entah itu karier maupun kehidupan mewah, saya merasa gagal. Bukan berarti saya merasa iri, terkadang orang-orang yang memamerkan gaya kehidupan hedonisme berlindung di balik kata “untuk memotivasi orang lain agar kerja keras”.

Padahal faktanya hal itu keliru. Tidak semua orang bisa mencapai taraf kehidupan seperti itu, bahkan ada yang bekerja dari pagi sampai malam penghasilannya tidak seberapa. Toh mereka sudah bekerja keras, kerja pun melebihi waktu biasa. Tapi nyatanya apa yang didapat? Yang ada adalah ketika melihat seseorang pamer kekayaan ada rasa ngenes, kok bisa gitu dia kerja cuma ini itu, sedangkan saya harus banting tulang begini-begini saja.

Itulah yang sebenarnya terjadi. Saya menganggap orang-orang tersebut hidup lebih bahagia dibandingkan diri saya sendiri. Sampai akhirnya saya sadar pada satu kesimpulan. Justru yang membuat saya tidak bahagia adalah media sosial itu sendiri. Media sosial hanya menampilkan bias kesenangan semata. Sampai akhirnya, saya membatasi diri untuk bermain media sosial. Sehari hanya membuka media sosial sekitar 5 menit. Tetapi itu tidak cukup, akhirnya saya uninstall aplikasi media sosial yang ada di handphone saya. Membandingkan diri kita dengan orang lain hanya mendatangkan rasa tidak bahagia. Karena pasti ada yang lebih jauh lagi dari itu. Sejauh mana diri kita, apakah lebih baik dari yang sebelumnya atau tidak? Apakah diri kita yang sekarang jauh lebih baik dari diri kita yang kemarin? Lantas jika tidak, apa yang harus diperbaiki? Membandingkan dengan diri sendiri akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Membandingkan dengan diri sendiri juga tidak akan merusak kesehatan mental ya karena untuk kebaikan diri sendiri. Akan tetapi, yang perlu kita renungi lagi bahwa media sosial adalah panggung kehidupan. Bisa saja mereka yang hobi pamer kekayaan nyatanya hanya ingin mendapat pengakuan dari orang lain. Toh meskipun memang harta mereka banyak, tetapi mereka tidak bahagia lantaran tidak ada yang mengakui. Lebih dari itu, bisa saja semua yang ditampilkan di media sosial adalah gimik. Apa yang dipamerkan sebenarnya tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Karena haus pengakuan dari orang lain, orang rela membodohi diri sendiri. Pada akhirnya tidak bahagia juga toh. Jadi hidup tanpa media sosial justru membuat kita lebih bahagia, kita tidak akan merasakan hal-hal di atas tadi.

Toh jika sumber dari ketidakbahagiaan itu adalah media sosial sendiri, lebih baik kita hidup tanpa media sosial. Karena studi yang lainnya menunujukkan, jika seseorang menghabiskan waktu terlalu banyak dengan bermain sosial media, sesungguhnya dia kesepian.

Ada dunia yang jauh lebih nyata daripada media sosial. Jika meminjam teori Plato, lebih baik kita keluar dari gua yang hanya menampilkan realitas bayangan semata.

Sumber:

Dani Ramdani

Kompasiana

SAY GOOD THINGS TO OTHERS

“Gunakan perkataan Anda dengan Bijak kepada Orang lain karena itu akan memberi pengaruh yang besar”

Saya pernah mendengar sebuah nasihat yang mengatakan berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan karena hal tersebut bisa menjadi kenyataan. Jika Anda mengatakan hal yang negatif, hal yang bernada pesimis kepada orang lain atau kepada Anak Anda sendiri, besar kemungkinan pernyataan tersebut tertanam dalam alam bawah sadar mereka.

Salah satu prinsip yang sangat saya senangi adalah Kita harus menjadi berkat di dunia ini lewat perkataan dan tindakan kita, jadi apabila kita mengutarakan hal yang buruk dan melemahkan mental seseorang, kita bukan menjadi berkat untuk dia. Kita ada didunia ini untuk saling memberi terang dan dorongan kepada orang lain, bukan menjatuhkan orang lain. Jika Anda seorang atasan, berilah semangat kepada tim Anda lewat perkataan Anda. Jika Anda adalah orang tua, berilah kata-kata yang positif kepada Anak Anda. Apapun peran Anda di masyarakat, mari mulai menyampaikan perkataan yang dapat menumbuhkan benih dalam dirinya bukan justru mematikan benih tersebut.

Bukan hanya Anda, kita semua harus mulai mencoba kebiasaaan ini untuk mewujudkan kehidupan yang lebih amazing di dunia ini.

Sumber: Muk Kuang, Message of Hope

SEBELUM ANDA MENGELUH

Hidup adalah sebuah berkat yang patut disyukuri dalam kondisi apapun”.

Sebelum Anda mengeluh ketika harus masuk kerja Senin pagi, ingatlah dan tengoklah sebagian orang yang berjuang dan menanti sebuah kerja. Sebelum Anda mengeluh ketika harus menaiki motor dan merasakan kehujanan, lihatlah sebagian orang yang harus berjalan kaki karena tak mampu membeli motor. Sebelum anda mengeluh mengenai tidak memiliki rumah yang mewah, tengoklah saudara kita yang harus tinggal dibawah jembatan. Sebelum Anda mengeluh karena tidak bisa membawa keluarga makan di restoran mewah, lihatlah sebagian keluarga yang cukup makan mie instan bersama dan mereka tetap bersyukur.

Sebelum Anda mengeluh mendapatkan bayaran kecil, lihatlah sebagian orang yang berjuang setiap harinya dengan bayaran yang sangat minim demi sesuap nasi. Sebelum Anda mengeluh tidak bisa memiliki baju yang bermerek, lihatlah sebagian saudara kita yang bersyukur dengan baju sederhana yang dipakainya.

Apakah kita pantas mengeluh setelah melihat orang di sekeliling kita? Saudaraku, syukurilah apa yang kita miliki. Hidup tidak sekedar mencari sebuah kemewahan. Hidup adalah berkat yang patut di syukuri dalam kondisi apapun.

Sumber: Muk Kuang, Message Of Hope.

HIDUNG MERANGKAP CEROBONG

Sekiranya Tuhan menghendaki manusia ciptaanNya itu menjadi perokok, maka Ia pasti menciptakan lubang hidungnya mengarah ke atas seperti cerobong pabrik.

Setengah juta manusia mati pertahun karena penyakit yang disebabkan oleh rokok.

Ada kisah menarik soal kalkulasi biaya membeli rokok. Seorang istri sudah dua puluh tahun bergumul dan berusaha dengan segala cara agar suaminya berhenti merokok. Sayang sekali, ia selalu gagal. Terakhir, dia mengambil kalkulator dan menghitung. Rp.10.000/hari X 30 = Rp.300.000/bulan x 12 = Rp.3.600.000/ tahun X 20 = Rp.72.000.000 selama 20 tahun. “Bapak membakar uang Rp.72.000.000 selama 20 tahun. Lebih mahal dari rumah kita ini”, kata istrinya menyadarkan suaminya.

Suatu ketika, suaminya sedang keluar. Istrinya sedang memasak di rumah. Karena tiba-tiba ia dipanggil oleh temannya untuk mengulas tuntas gosip yang sedang beredar, ia pun keluar meninggalkan rumahnya. Sayang sekali, ia lupa mematikan kompor. Kompor itupun meledak dan dalam sekejap rumahnya habis dilalap sijago merah. Ia benar-benar frustasi. Bukan saja karena rumahnya habis, tetapi juga memikirkan reaksi suaminya terhadap kejadian itu. Ia tahu bahwa suaminya seorang pemberang, yang emosinya lebih cepat menyala dibandingkan dengan kompor minyak tanah. Dalam keadaan pilu dan takut itu suaminya datang. Tapi mengherankan, kali ini ia terlihat sangat tenang. Tidak ada nada marah atau wajah memerah. Istrinya heran tidak kepalang. Sebelum istrinya menjelaskan duduk persoalannya, si suami langsung berkata, “tidak apalah Ma, kita sama-sama punya kesalahan”. Bedanya, saya membakar Rp.72.000.000 dalam tempo duapuluh tahun, Mama membakarnya dalam tempo duapuluh menit.

Pesan dari cerita di atas bukanlah soal kesabaran seorang perokok ketika menghadapi musibah sebagai kompensasi kesalahannya tetapi kiranya mendorong kesadaran kita bahwa sesungguhnya rokok benar-benar menghancurkan paru-paru dan ‘merobek’ kantong juga.

Media Indonesia baru-baru ini mengutip pidato Menteri Kesehatan Endang R sedayningsih yang mengatakan bahwa saat ini dua dari tiga pria di Indonesia adalah perokok aktif. Lebih bahaya lagi, kata Menkes, 85,4% perokok aktif merokok di dalam rumah. Alhasil tindakan ini bakal mengancam kesehatan anggota keluarga, lantaran lebih dari 43 juta anak Indonesia tinggal serumah dengan perokok. Imbasnya, anak Indonesia menjadi mudah terkena bronchitis, infeksi saluran pernapasan dan telingan serta asma.

Kompas.com (15/12/2009) mengungkapkan hasil sebuah penelitian yang dipublikasikan Cancer epidemology, Biomarkers & Prevention bahwa ternyata, kebiasaan para orang tua merokok di rumah bisa menyebabkan anak-anak mereka mempunyai kadar nikotin tinggi.

Yang lebih berbahaya lagi adalah kenyataan semakin banyaknya anak-anak Indonesia yang merokok, bahkan banyak anak yang mulai merokok pada usia dibawah lima tahun. Satu abad yang lalu, rata-rata usia perokok pemula adalah sembilan belas tahun tetapi sebuah studi terakhir menemukan bahwa usia rata-rata pemula adalah tujuh tahun (Hadi Supeno, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, sebagaimana dikutip di http://sg.news.yahoo.com, 30 Mei 2010).

Bahaya merokok sangat nyata. Tetapi fakta-fakta menunjukkan betapa sulitnya seseorang berhenti merokok dengan berbagai alasan. Berikut ini adalah berbagai alasan (‘asalan’) para perokok yang sangat umum dan apa respon singkat terhadap setiap alasan tersebut. Alasan (A) dan Respon (R).

A: Tidak ada didalam Alkitab larangan merokok (ini salah satu alasan ‘asalan’ yang paling sering terdengar)

R: Alkita juga tidak ada menganjurkan merokok, bukan? Alkitab sangat menegaskan pentingnya menjaga kesehatan tubuh dan kesehatan ‘kantong’. HKBP telah secara eksplisit mencantumkan dalam konfessinya (pasal 14) agar warga HKBP tidak dikuasai oleh rokok. Itu sebabnya, kepada para Pengkhotbah sering disampaikan, “Khotbah yang dipersiapkan dengan tenaga asap, sangat sulit dibayangkan meresap”.

A: Rokok perlu untuk pergaulan

R: Pertanyaan, ‘apakah sahabat perokok itu jauh lebih banyak dan berkualitas dengan mereka yang tidak merokok? Mengapa persahabatan dibangun dengan yang menghancurkan kehidupan? Buatlah persahabatan dengan minum jus bersama dan sebagainya

A: Tidak bisa konsentrasi dan membuat inspirasi tanpa rokok

R: Inilah masalahnya, kalau orang sudah kecanduan, orang akan menggantungkan diri pada perusaknya sendiri. Konsentrasi adalah masalah pilihan kita sendiri. Inspirasi (yang bisa diterjemahkan: dimasuki atau didiami Roh Tuhan) justru terhalang karena dihadang oleh asap rokok. 

A: Takut berat badan naik kalau berhenti merokok

R: Bukankah ada begitu banyak cara mempertahankan berat badan dengan cara sehat dan hemat?

A: Ah, Orang tidak perokok pun mati juga, ada perokok yang umurnya panjang sedangkan yang tidak merokok umurnya pendek.

R: Mengapa membandingkan diri dengan orang lain? Perokok seharusnya tidak membandingkan dirinya dengan orang lain berkaitan dengan kesehatan dan usia. Ia harus membandingkan dirinya dengan harapan hidupnya sendiri. Andaikan Tuhan menghendaki anda hidup seratus tahun. Karena rokok, Anda memangkas sendiri menjadi 60 tahun, itupun sesudah Anda batuk-batu, berdahak pula. 

A: Tutup saja pabrik rokok

R: Mana lebih mudah: berhenti merokok sehingga pabrik rokok tutup, atau tutup pabrik rokok supaya orang berhenti merokok? Kalau kita lebih memikirkan tanggung jawab kita sendiri, maka langkah yang kita tempuh adalah berhenti merokok, industri rokok akan gulung tikar dengan sendirinya

A: Dengan merokok, kita membantu banyak orang yang bekerja mulai dari petani tembakau, pekerja pabrik, pedagang rokok, pemasang iklan dan semua orang yang terkait dengan industri rokok.

R: Anda terkesan sangat penderma. Tetapi jika anda benar-benar penderma, anda tidak perlu menyalurkannya melalui bisnis rokok. Bantulah orang berkekurangan secara langsung atau melalui gereja, LSM, Panti Asuhan dan sebagainya

A: Merokok atau tidak merokok, sama saja miskin

R: Kalau ‘terpaksa’ harus miskin, lebih baik miskin tidak merokok ketimbang miskin merangkap perokok

A: Merokok adalah tanda kejantanan

R: Tanda kejantanan tidak di rokok. Ayam jantan tetap berkokok walaupun tak pernah  merokok

A: Devisa negara amat besar dari industri rokok – penting untuk menjalankan roda pemerintahan

R: Disamping devisa ada penyakit berbisa karena rokok. Benar, negara berhasil menarik devisa triliunan rupiah dari industri rokok, tetapi sayangnya banyak anggota masyarakat yang sengsara akibat rokok, bukan hanya si perokok itu sendiri tetapi juga anggota keluarga di rumah rumah, penumpang angkutan umum, bahkan di dalam gereja dan kosistori. Kita harus menyadari bahwa ada begitu banyak orang yang tersiksa pada saat naik angkutan umum di Indonesia dimana para perokok sama sekali tidak peduli dengan terus mengepulkan asap rokonya. Memang permen 225 sudah menetapkan di areal mana saja seseorang boleh dan tidak boleh merokok, tetapi peraturan nampaknya ada sekadar untuk dilanggar. Walaupun hampir setengah juta manusia mati per tahun karena penyakit yang disebabkan oleh rokok, kita masih terus mendukung industri tembakau dan rokok. Amat menyedihkan memang.

Masih ada alasan lain? Mungkin masih banyak, tetapi semuanya pasti alasan asalan juga. Bagaimana caranya berhenti? Sangat mudah: Jangan beli dan jangan nyalakan. Dan yang terpenting: karena Allah mengasihi Anda para perokok, sambutlah kasihNya dengan mematikan rokok sebelum semuanya amat terlambat.

Sumber:

Victor Tinambunan, Kiat merawat hubungan sehat dengan sahabat, Jemaat dan Masyarakat, L.SAPA STT HKBP, 2011

KEPALA IKAN

Alkisah pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek-nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga besar kakek dan nenek tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan. Pasangan kakek nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut. Singkat kata mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup lama bagi kebanyakan orang. Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi. Pasangan tersebut merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.

Disela-sela acara makan malam yang telah tersedia, pasangan yang merayakan peringatan ulangtahun pernikahan mereka inipun terlihat masih sangat romantis. Di meja makan, telah tersedia hidangan ikan yang sangat menggiurkan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut. Sang kakek pun, pertama kali melayani sang nenek dengan mengambil kepala ikan dan memberikannya kepada sang nenek, kemudian mengambil sisa ikan tersebut untuknya sendiri.

Sang nenek melihat hal ini, perasaannya terharu bercampur kecewa dan heran. Akhirnya sang nenek berkata kepada sang Kakek:

“Suamiku, kita telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan kita. Ketika engkau memutuskan untuk melamarku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu dan menerima dengan segala kekurangan yang ada untuk hidup sengsara denganmu walaupun aku tahu waktu itu kondisi keuanganmu pas-pasan. Aku menerima hal tersebut karena aku sangat mencintaimu. Sejak awal pernikahan kita, ketika kita mendapatkan keberuntungan untuk dapat menyantap hidangan ikan, engkau selalu hanya memberiku kepala ikan yang sebetulnya sangat tidak aku suka, namun aku tetap menerimanya dengan mengabaikan ketidaksukaanku tersebut karena aku ingin membahagiakanmu. Aku tidak pernah lagi menikmati daging ikan yang sangat aku suka selama masa pernikahan kita. Sekarangpun, setelah kita berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan kepala ikan ini. Aku sangat kecewa, suamiku. Aku tidak tahan lagi untuk mengungkapkan hal ini”.

Sang kakek pun terkejut dan bersedihlah hatinya mendengarkan penuturan sang nenek. Akhirnya, sang kakek pun menjawab. “Istriku, ketika engkau memutuskan untuk menikah denganku, aku sangat bahagia dan aku pun bertekad untuk selalu membahagiakanmu dengan memberikan yang terbaik untukmu. Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini adalah hidangan yang sangat aku suka. Namun, aku selalu menyisihkan ini untukmu, karena aku ingin memberikan yang terbaik bagimu. Semenjak menikah denganmu, tidak pernah lagi aku menikmati hidangan kepala ikan yang sangat aku suka itu. Aku hanya bisa menikmati daging ikan yang tidak aku suka karena banyak tulangnya itu. Aku minta maaf, istriku”.

Mendengar hal tersebut, sang nenek pun menangis, merekapun akhirnya berpelukan. Percakapan pasangan ini didengar oleh sebagian undangan yang hadir sehingga akhirnya merekapun ikut terharu.

MORAL OF THE STORY:

Kadang kala kita terkejut mendengar atau mengalami sendiri suatu hubungan yang sudah berjalan cukup lama dan tidak mengalami masalah yang berarti, kandas di tengah-tengah karena hal yang sepele, seperti masalah pada cerita di atas. Kualitas suatu hubungan tidak terletak pada lamanya hubungan tersebut, melainkan terletak sejauhmana kita mengenali pasangan kita masing-masing. Hal ini dapat dilakukan dengan komunikasi yang dilandasi dengan keterbukaan. Oleh karena itu, mulailah kita membina hubungan kita berdasarkan pada kejujuran, keterbukaan dan saling menghargai satu sama lain.

From: Pretty@canangindah.com

To: hkbpmonang@yahoo.com

Sent: 18 Juni 2005, 09.43 WIB

 

EVERYTHING HAPPEN, HAPPEN FOR A REASON

“Semua Terjadi karena suatu alasan”

Tidak semua yang kita inginkan itu baik bagi kita, Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita.

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang Pilot. Namun sesuatu pun terjadilah.

Gedung putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan S1-L pesawat ulang alik Challenger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos.

Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan! Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku. Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi! Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Centre.

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah diantara kami yang bisa melewati ujian akhir ini?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa …

Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diri lenyap, amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan?! Kenapa bukan aku?! Bagian diriku mana yang kurang?! Mengapa aku diperlakukan kejam?!

Aku berpaling pada ayahku. Katanya, “Semua Terjadi karena suatu alasan ..”. Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challenger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?! 73 detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challenger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku, “Semua terjadi karena suatu alasan..”. Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.

Aku menang karena aku telah kalah, Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

(Diposting oleh Pretty L Napitupulu ke hkbpmonang@yahoo.com pada 13 Juni 2005 pukul 13.00 WIB) 

Note: hkbpmonang@yahoo.com (HKBP Parmonangan Resort Medan Perjuangan Distrik X Medan Aceh, tempat pelayanan masa LPP II 2004 – 2005 dan tempat keberangkatan menerima tahbisan kependetaan)

35 tahun Peristiwa Chalenger. (ASS)

VITAMIN PENYEGAR JIWA Lain di Dalam, Lain di Luar

Penginjil terkenal DL Moody pada suatu hari pernah berkhotbah di kota Chicago, Amerika Serikat. Didalam gedung kebaktian tersebut ia membuat sesuatu yang aneh. Ia menyuruh orang memotong sebuah batang kayu yang besar. Batang kayu itu sudah kering dan mati. Lalu Moody mengupas kulit sebatang pohon besar yang lain yang masih segar dan basah. Dengan kulit segar, ia membungkus batang kering tadi, meletakkannya di tengah-tengah ruang kebaktian, sehingga orang yang datang harus meloncati batang tadi. Mereka semua heran dan tidak mengerti maksudnya. Pada waktu berkhotbah, Moody bertanya: “apakah saudara-saudara melihat batang kayu yang besar? Semua menjawab: Ya! Ditegaskan lagi, “nah saudara perhatikan bahwa kulitnya basah, tetapi dalamnya kering. Banyak orang Kristen seperti batang kayu tadi. Diluarnya kelihatan hidup, dibungkus dengan agama Kristen yang bagus. Tetapi di dalamnya mati, belum mempunyai kehidupan rohani. Masih mati di dalam dosa, belum memiliki kemenangan atas dosa”.

Sumber:

Spirit Motivator

VITAMIN PENYEGAR JIWA: Belajar dari Islandia

Bangsa mana di dunia yang paling bahagia? Ternyata bukan bangsa super power seperti Amerika Serikat, bukan juga bangsa Eropa, bukan juga bangsa Indonesia yang melekat dengan falsafah nerimo, dan pasrah. Gallup Organization melakukan survey dan hasilnya bangsa yang paling bahagia adalah penduduk Islandia (Iceland). 82% penduduk dari bangsa yang berjumlah 267 ribu jiwa ini menyatakan bahwa mereka puas dengan kehidupannya. Apakah Islandia merupakan negara kaya, maju dan indah sehingga berbahagia? Islandia dikenal sebagai negara Fire and Ice, memiliki gunung merapi yang paling aktif, tetapi juga memiliki 4 ribu mil gletser. Pada musim dingin, negara ini hanya mencicipi terang selama 4 jam sehari. Bangsa ini bahagia bukan karena situasi dan kondisi yang mengelilinginya, tapi karena bangsa ini memiliki kemampuan untuk menikmati dan mensyukuri apa yang mereka miliki, termasuk ketidakstabilan hidup! Mari kita memiliki kemampuan yang sama.

Sumber:

Spirit Motivator

VITAMIN PENYEGAR JIWA: 4+5=13

Di Canada pernah dilakukan percobaan pada dua ekor kuda penarik beban. Hasilnya, kuda yang satu mampu menarik beban 5 ton, dan kuda yang kedua mampu menarik beban 4 ton. Kuda tersebut kemudian disatukan untuk menarik beban, tahukah anda berapa beban yang bisa ditarik kedua kuda itu bersama? Apakah 9 ton? Ternyata kedua kuda tersebut mampu menarik beban 13 ton. Lalu dari mana kekuatan 4 ton tersebut? Itulah kekuatan dari Kesatuan dan Kebersamaan.

Sesungguhnya manusia tercipta untuk berinteraksi satu sama lain. Kita dirancang bergantung satu sama lain, baik pada manusia atau mahluk hidup lain. Ketika Adam diciptakan, ada kekosongan saat ia sendiri sehingga diciptakan si Hawa sebagai rekan sekerjanya. Mereka juga bergantung pada flora dan fauna di Taman Firdaus. Karakter manusia itu tetap ada pada saat ini. Kita tidak dapat menggapai kesuksesan seorang diri. Selalu ada dukungan, baik langsung atau tidak langsung, dari orang lain. Kita sering merasa bangga dengan kesuksesan kita sendiri, kita tidak sadar bahwa banyak orang telah turut ambil bagian dalam kesuksesan tersebut, mulai dari keluarga, rekan-rekan dengan tugasnya masing-masing, bahkan pembantu yang telah mempersiapkan banyak hal untuk kita. Sekecil apapun andil mereka, mereka telah menolong anda untuk mencapai kesuksesan.

Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” (1Korintus 1,10)

Sumber:

Spirit Motivator