LITURGI PARTANGIANGAN KELUARGA, 11 NOPEMBER 2020

Bernyanyi BE.15:1+3 “Marpungu Do di JoloMon”

Aut na saribu hali ganda, saringar ni soarangki/ Naeng nasa gogo bahenonhu, mamuji Debatanta i/ Paboa las ni rohangki, hinorhon ni pambaenNa i.

♫  Unang ma modom ho tondingku, sai ngot ma ho sai hehe ma/ Radot ma ho di ulaonmu, sai puji Tuhan Debata/ Sai pangke nasa malomi, mamujimuji Tuhan i.

Votum – Introitus – Doa (P- Pemimpin; K-Keluarga; S- Semua)

P-  Di dalam nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi.

K- Amin

P-  Demikianlah FirmanKu yang keluar dari mulutKu: Ia tidak akan kembali kepadaKu dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kuhendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. Ayo, semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah juga anggur dan susu tanpa bayaran! Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepadaNya selama ia dekat! Marilah kita berdoa: Ya Tuhan Allah! Kasihanilah kami, karena kami tidak dapat berbuat sesuatu apapun kalau Tuhan tidak bersama dengan kami. Berilah hal-hal yang rohani bagi kami supaya dapat melakukan kehendakMu. Sertailah kami supaya kami bersama dengan Tuhan melalui FirmanMu, oleh karena AnakMu Tuhan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bernyanyi BE.232:1-2 “Sian Sude Parulian na Arga”

♫   Sian sude parulian na arga, Sada huboto hutiop tongtong/ Jesus Tuhanku Ho arta na arga, Na mangatasi sudena antong/ Tangkup Tuhanmu tung tiop hataNa, Sai pangasahon ma bagabagaNa.

♫  Jesus Tuhanku sai Ho huhaposi, Pataridahon tu au holongMi/ Pangidoanku tu Ho sai tangihon, Basabasahon tu au ngoluMi/ Asa di Ho au di harajaonMu, Lao patulushon pasauthon hataMu.

Pembacaan Alkitab dan Renungan: YAKOBUS 5,1-6

P-    Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu!

K-   Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!

P-    Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir.

K-   Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu.

P-    Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan.

S-    Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.

“MENCARI DAN MENGGUNAKAN KEKAYAAN DENGAN BENAR”

Jemaat Tuhan Terkasih,

Salahkah orang kristen menjadi kaya? Tidak salah! Sebab dalam Alkitab sejak awal manusia sudah diperintahkan agar bekerja dengan rajin. Yang salah jika dalam mencari kekayaan itu kita mengutamakan mencari kekayaan dari pada Tuhan dan menghalalkan semua cara agar supaya menjadi kaya. Dan mengenai kaya, Alkitab juga tidak mengajarkan bahwa semua orang kaya adalah orang berdosa, namun apa yang digambarkan Yakobus dalam perikop renungan kita minggu ini merupakan ciri dari banyak orang yang kaya yang perlu dihindari, kita akan mempelajarinya dibawah ini:

1). Mengumpulkan harta pada hari-hari terakhir (ay 3).

Yang dimaksud dengan “mengumpulkan harta/uang” di sini tidak sama dengan bekerja mencari nafkah! Kitab Suci mengharuskan kita bekerja untuk mencari nafkah dan karenanya ini bukanlah dosa. Bahkan kalau kita bekerja untuk mengumpulkan uang untuk tujuan tertentu (yang bisa dipertanggungjawabkan), seperti ingin membeli rumah dsb, itu tentu tidak bisa disalahkan! Yang dikecam oleh Yakobus di sini adalah orang yang mengum­pulkan harta/uang, demi harta itu sendiri. Jadi harta adalah tujuan akhir dari orang itu. Ini adalah cinta uang/harta dan ini adalah dosa. Di sisi lain, yang dimaksud dengan harta belum tentu berbentuk uang. Dalam ayat 2-3 ada kata ‘busuk’ yang jelas menunjuk pada makanan (gandum, jagung); juga disebut tentang ‘pakaian’ karena pada saat itu harta memang sering ada dalam bentuk pakaian; dan juga disebutkan tentang emas dan perak. Karena itu kalau kita tidak menimbun uang, tetapi menimbun mobil, rumah / tanah, permata / perhiasan, dsb, maka itu termasuk menimbun harta juga! Orang-orang kaya mengumpulkan uang pada hari-hari terakhir sebetulnya hari-hari terakhir adalah saat dimana manusia harus lebih mendekat kepada Tuhan, bersiap sedia menghadapi kedatangan Kristus yang keduakalinya, menyucikan dirinya, melayani Tuhan, belajar Firman Tuhan, berdoa dsb (Ibrani 10:24-25). Tetapi orang-orang kaya ini justru menimbun harta untuk dirinya sendiri!

2) Menahan upah buruh (ay 4).

Dalam Ulangan 24:14-15 jelas disebutkan larangan memeras buruh/pekerja dan sebaliknya. Sebaliknya agar membayar upah buruh tepat pada waktunya, karena sebagai orang miskin ia mengharapkan dan membutuhkan uang itu. Tetapi orang-orang kaya ini tidak mempedulikan hukum Tuhan, dan mereka menahan upah buruh. Jadi, dalam usaha mereka untuk menjadi lebih kaya, mereka tidak segan-segan menindas dan merugikan orang lain / buruh mereka. Mereka berusaha menda­patkan harta dengan cara yang tidak adil dan tidak halal. Sebetulnya, berdasarkan Yak 4:17, orang kaya yang tidak menolong orang miskin/menderita, sudah dianggap berdosa. Apalagi mereka ini bukan hanya tidak menolong, tetapi bahkan menindas!

3) Hidup berfoya-foya dan membunuh orang benar (ay 5).

Kitab Suci memang tidak menyuruh kita untuk hidup sebagai pertapa. Kitab Suci tidak melarang kita untuk berpesta/ bersenang-senang. Tetapi orang kaya di sini, melakukannya secara kelewat batas. Mereka berpesta pora dan memuaskan hati mereka setiap hari. Dan faktor yang memberatkan kesalahan mereka: adalah yang dihukum dan dibunuh adalah ‘orang benar’. Tentang siapa yang dimaksud dengan ‘orang benar’ di sini, ada yang mengatakan Yesus, Yohanes Pembaptis, Stefanus, atau orang-orang kristen lainnya.

Jemaat Terkasih,

Akibat sikap dan perbuatan orang kaya ini, menyebabkan Allah bertindak. Apakah tindakan Allah? (1). Memberi kesengsaraan kepada orang-orang kaya itu (ay.1). Kesengsaraan akan di alami jika tidak bertobat. Kalau kita perhatikan dengan sungguh-sungguh ayat 1, sangat jelas nuansa bahwa kesengsaraan yang akan dialami bukan saja nanti setelah kematian, tetapi juga di dalam hidup. Dan hal ini benar. Ada banyak kesaksian mengenai hal tersebut. Seperti tidak mengalami kedamaian, kegelisahan, kekuatiran, kekosongan dalam hati, kesumpekan, stress karena pekerjaan, penyakit dan macam-macam problem yang lain. (2) Menghancurkan kekayaan mereka (ay 2-3). Kalau setan bisa menghancurkan harta dan anak-anak Ayub dalam satu hari, maka Allah pasti lebih berkuasa untuk menghancurkan harta dari orang-orang kaya itu. Kata-kata ‘busuk’, ‘ngengat’, dan ‘karat’ menunjukkan bahwa Allah bisa menghancurkan kekayaan mereka dengan bermacam-macam cara. Juga dapat berarti bahwa semua kekayaan itu sifatnya fana, tidak kekal. Ia hanya berguna selama hidup di dunia ini, dan kegunannya juga sangat terbatas. Artinya tidak semua dapat dibeli dengan uang, atau diperoleh dengan harta benda. Oleh karena itu Yesus mengatakan dalam Matius 6:20 agar fokus utama adalah mengumpulkan harta di sorga; sebab di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.

Jemaat Terkasih,

Saat ini kita akan sampai kepada kontemplasi (perenungan) untuk kita hidupi: Pertama, Nas ini mengingatkan bagaimana seharusnya kita sebagai orang percaya bekerja/mencari “kekayaaan” dan menggunakan hasil pekerjaan kita (kekayaan) dengan benar, artinya sesuai dengan kehendak Allah. Perikop kita tidak menyebutkan tips mengenai hal ini. Namun melalui kecaman Yakobus kepada orang kaya mengingatkan kita agar memahami bahwa harta kekayaan yang kita miliki, bagaimana pun banyaknya semuanya itu bersifat fana, artinya tidak kekal. Karena itu seharusnya kita lebih fokus terhadap harta yang kekal sebagaimana telah diingatkan Yesus dalam Matius 6:19-20, kemudian tidak menjadi sombong dan terlebih semena-mena terhadap sesama manusia dan Tidak hanya mementingkan diri sendiri dengan hidup berfoya-foya. Prinsip semakin banyak diberi semakin banyak dituntut tanggungjawab. Artinya semakin banyak harta kekayaan kita, semakin banyak juga dituntut agar menjadi saluran berkat kepada orang lain, khususnya yang membutuhkannya. Kedua, Alkitab sangat menekankan agar orang percaya rajin bekerja. Sejak awal, yakni mulai cerita penciptaan sudah menekanan hal tersebut. Perhatikanlah Kejadian 1:28, demikian juga Kejadian 2:15. Manusia yang diciptakan Allah tersebut diberi mandat serta tugas disamping menaklukkan serta menguasai bumi juga mengusahakan dan memelihara taman Eden itu. Demikian juga dalam Amsal 6:6-9, Salomo bahkan menyuruh orang yang malas bekerja agar belajar kepada semut. Dan Paulus lebih keras lagi. Ia mengatakan agar orang yang malas bekerja janganlah diberi makan. Jadi rajin bekerja haruslah juga dipahami sebagai panggilan orang percaya. Sebagai kesaksian. Dengan kata lain tanda orang percaya seharusnyalah nampak dalam ia rajin bekerja. Dan orang yang rajin sebagaimana yang diperintahkan Tuhan akan diberkati, akan mempunyai cukup makanan bahkan tidak hanya itu tetapi juga akan memiliki harta kekayaan.

Bernyanyi BE.492,1-2 “Na Mora Tutu”

♫  Na mora tutu, sangap damang i, Ibana nampuna sude arta i/ Nang sere, nang perak, nang hepeng sude/ Tapuji Ibana, unduk hita be/ AnakkonNa do au, anakkonNa do au, Dibaen Tuhan Jesus, anakkonNa do au

♫  Na ro Jesus i, AnakNa do i lao mate, lao hehe, manaek sian i/ Rade ingananku, dibaen Jesuski/ Di Surgo hutangku, disi Damang i, AnakkonNa do au, anakkonNa do au, Dibaen Tuhan Jesus, anakkonNa do au

Doa Syafaat

Bernyanyi BE.792:1 “Pasupasu Hami O Tuhan” (Persembahan)

♫ (Ref.) Pasupasu Hami o Tuhan, Sai usehon dameMi/ Sai ampehon tanganMi Tuhan, Lehon tu au gogoMi/ Di portibi on,  baen ma au Tuhan, Habaoran ni las ni roha. Tu na marsak i,  tu na dangol i, Gabe pangapuli i. Pasupasu Hami o Tuhan Sai usehon dameMi Sai ampehon tanganMi Tuhan Lehon tu au gogoMi.

 Doa Persembahan – Doa Bapa Kami – Amin, Amin, Amin

P- Ya Allah, Bapa Kami yang di Surga, kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami. Di akhir ibadah ini kami menyerahkan persembahan kami sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah agar dapat dipergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Amin. Secara bersama mari mengucapkan Doa Bapa Kami ….

S-  Menyanyikan: Amin, Amin, Amin.

LITURGI PARTANGIANGAN KELUARGA, 04 NOVEMBER 2020

Bernyanyi BE.135:1-2 “Marpungu Do di JoloMon”

♫  Marpungu do di joloMon, Marsada roha hami on, O Jesus Tuhannami/ Ho, Raja na tarsilang i, Na pinatimbo i muse, Sai ro ma Ho tu hami/ Olo, jalo, Ma tangiang, pamujian, di goarMu/ Ala holong ni rohaMu.

♫  Na metmet di mulana i, Sai dipararat Ho do i, i ma harajaonMu/ Lam ganda do bilangan ni, Na paboahon hataMi, Baen sangap di goarMu/ Jesus, tulus, Baen sangkapMu, sosoanMu, hajolmaon/ Asa olo paluaon.

Votum – Introitus – Doa (P- Pemimpin; K-Keluarga; S- Semua)

P-  Di dalam nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi.

K- Amin

P-  Bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya dan Ia akan bertindak. Berdiam dirilah dihadapan Tuhan dan nantikan Dia. Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, sebab Tuhan mencintai hukum dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihiNya. Marilah kita berdoa: Ya Tuhan Allah yang Maha Pengasih! Kami berterima kasih kepadaMu karena Engkau memanggil kami ke dalam pengharapan yang kekal. Karuniakanlah kepada kami Roh Kudus, supaya kami kuat dalam perlawanan mengalahkan keinginan-keinginan duniawi, dan supaya kami mencari hal-hal yang ada di surga. Kuatkanlah kami mengalahkan segala kuat kuasa kegelapan yang sanggup menghalangi perjalanan kami menuju kebahagiaan yang kekal. Teguhkan iman dan pengharapan kami, dan tumbuhkanlah dalam diri kami penguasaan diri, supaya kami menang pada akhirnya, pada saat mana kami akan menerima mahkota kemuliaan, karena AnakMu, Tuhan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin!

Bernyanyi BE.118:1-2 “Paian Ma Di Hami”

♫   Paian ma di hami, O Jesus asiMi, Asa tung unang hami Diansi musu i.

♫   Paian Tuhannami HataM di hami be, Asa martua hami Nuaeng nang sogot pe.

Pembacaan Alkitab dan Renungan: DANIEL 6,1-15

P-    Darius, orang Media, menerima pemerintahan ketika ia berumur enam puluh dua tahun.

K-   Lalu berkenanlah Darius mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja atas kerajaannya; mereka akan ditempatkan di seluruh kerajaan;

P-    membawahi mereka diangkat pula tiga pejabat tinggi, dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu; kepada merekalah para wakil-wakil raja harus memberi pertanggungan jawab, supaya raja jangan dirugikan.

K-   Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.

P-    Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apa pun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya.

K-   Maka berkatalah orang-orang itu: “Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!”

P-    Kemudian bergegas-gegaslah para pejabat tinggi dan wakil raja itu menghadap raja serta berkata kepadanya: “Ya raja Darius, kekallah hidup tuanku!

K-   Semua pejabat tinggi kerajaan ini, semua penguasa dan wakil raja, para menteri dan bupati telah mufakat, supaya dikeluarkan kiranya suatu penetapan raja dan ditetapkan suatu larangan, agar barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, maka ia akan dilemparkan ke dalam gua singa.

P-    Oleh sebab itu, ya raja, keluarkanlah larangan itu dan buatlah suatu surat perintah yang tidak dapat diubah, menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali.”

K-   Sebab itu raja Darius membuat surat perintah dengan larangan itu.

P-    Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.

K-   Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya.

P-    Kemudian mereka menghadap raja dan menanyakan kepadanya tentang larangan raja: “Bukankah tuanku mengeluarkan suatu larangan, supaya setiap orang yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa?” Jawab raja: “Perkara ini telah pasti menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali.”

K-   Lalu kata mereka kepada raja: “Daniel, salah seorang buangan dari Yehuda, tidak mengindahkan tuanku, ya raja, dan tidak mengindahkan larangan yang tuanku keluarkan, tetapi tiga kali sehari ia mengucapkan doanya.”

P-    Setelah raja mendengar hal itu, maka sangat sedihlah ia, dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel, bahkan sampai matahari masuk, ia masih berusaha untuk menolongnya.

“AJAKAN MEMILIKI INTEGRITAS IMAN MUMPUNI”

Jemaat Terkasih, Nama Daniel adalah nama dari orang Ibrani yakni dani’el yang berarti Allah adalah Hakimku. Ia terkenal dengan ketaatan dan kesetiaanya kepada TUHAN, Allah Israel dan sekaligus mampu menjadi saksi iman di tengah pembuangannya di Babel. Siapa sesungguhnya Daniel? Daniel terlahir sebagai bangsawan dan lahir sekitar tahun 625 sM (1:3-4). Ia mendapatkan pelajaran yang sangat keras melalui pengalaman hidupnya yang dibawa ke dalam pembuangan oleh raja Nebukadnezar. Pada saat mengalami pembuangan itu, Daniel berusia sekitar 20 tahun. Menarik untuk disimak bahwa Daniel bersama dengan beberapa orang muda terpilih dalam rekrutmen bekerja di istana raja. Awal pertama mereka harus mengikuti kegiatan pelatihan yang sifatnya “ikatan dinas” yaitu setelah tiga tahun belajar dan dididik  dalam pengetahuan keistanaan mereka wajib bekerja kepada raja (bd.1:4,5). Alkitab menyebutkan bahwa ada 4 orang dari Yehuda yang lolos seleksi yakni Daniel (kemudian disebut Beltsazar = kiranya ibu dewa bel melindungi raja); Hananya yang berarti yang dikasihi Tuhan (kemudian disebut Sadrakh = Disinari oleh Dewa Matahari Ba); Misael yang berarti Siapakah Allah? (kemudian disebut Mesakh= hamba dari Dewa Shach); dan Azaraya yang berarti Tuhan adalah penolongku (kemudian disebut Abednego = hamba dari dewa Nego). Karier para pemuda Yehuda ini terbilang sangat baik dan terus menanjak, istimewa Daniel yang diberi nama sebutan orang Babel, yakni Beltsazar itu. Dalam pasal 2:48, Nebukadnezar  mengangkatnya menjadi kepala penguasa di propinsi Babilonia dan kepala gubernur dari seluruh orang-orang bijak dari Babilonia. Puncak karier Daniel adalah ketika ia berusia 90 tahun, pada masa pemerintahan Raja Darius dari Media, yang mengangkat Daniel menjadi salah satu dari tiga pejabat Raja dan bahkan Sang Raja sempat berpikir untuk menetapkannya menjadi pemimpin seluruh Kerajaannya.

Jemaat Terkasih, Terdapat beberapa catatan penting yang perlu didalami untuk mengungkap kesuksesan dibalik karier Daniel ini, yakni:

  1. Dalam ayat 1-4 kita disuguhkan suatu kenyataan menarik bahwa Daniel terpilih sebagai salah satu dari 3 Pejabat Tinggi Kerajaan yang membawahi 120 pejabat wakil raja di seluruh kerajaan. Tugas utama Daniel adalah menjadi pengawas terhadap para wakil raja serta secara khusus menjaga wibawa raja agar kekuasaan dan kekayaan raja dapat diper-tanggung-jawabkan dan tidak terjadi kerugian. Posisi ini bisa dibilang cukup “basah” dan sangat menjanjikan untuk dapat peluang memperkaya diri sendiri atau bahasa modern sekarang Korupsi. Mengapa tidak? Seluruh wakil-wakil raja yang membawahi luasnya kerajaan itu, dan bahkan sampai daerah jajahan sekalipun wajib untuk melaporkan apapun kondisi dan perkembangan kerajaan kepada Daniel termasuk juga barangkali jumlah upeti dan kekayaan raja. Dengan kata lain, 3 orang ini termasuk Daniel adalah pejabat tertinggi setelah Raja Darius tentunya. Satu-satunya pejabat yang mengawasi dan dapat memerintah Daniel adalah Raja sendiri. Tapi adalah mustahil seorang Raja melakukan pengawasan melekat kepada mereka bertiga sebab tugas itu sudah dilimpahkan kepada mereka sendiri (bd.Ay.3). Maka peluang untuk terjadi kejahatan “korupsi” sangatlah mungkin tanpa sepengetahuan raja. Daniel bisa saja memanfaatkan posisi dan jabatannya itu demi kesenangannya. Namun kita menemukan hingga akhir kisah ini, Daniel tetap “bersih” dari penyalahgunaan jabatan dan kekuasaan.
  2. Daniel bukan saja hidup “bersih” dari penyalah-gunaan jabatan dan kekuasaan, ia bahkan mampu untuk bekerja dengan baik dan berhasil dalam tugas dan tanggung-jawabnya itu. Hal ini terbukti lewat suksesnya Daniel “mengkaryakan” posisinya untuk kejayaan kerajaan sehingga oleh raja ia dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi lagi dari rekan-rekan sekerjanya. Daniel disiapkan menjadi penguasa seluruh kerajaan Darius (ay.4). Dengan kata lain, Daniel adalah seorang pekerja keras dan bukan pribadi yang cepat puas terhadap capaian diri. Ini tidak berarti bahwa Daniel seorang yang ambisius dan tidak pernah ingin berhenti mencapai posisi. Bukan, Daniel tidak seperti itu! Hal ini disebabkan, menurut ayat 4, karena Daniel memiliki roh yang luar biasa. Apapun maksud dari pernyataan ayat tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa Daniel memperoleh “Karunia” lebih dari mereka yang lain karena TUHAN menganugerahkannya. Dapatlah dikatakan bahwa semakin besar karunia yang ia miliki, semakin tinggi juga nilai capaian dan pertanggung-jawabannya kepada Sang Pemberi karunia. Artinya, talenta itu tidak ditanam Daniel dalam tanah.
  3. Mengapa Daniel mampu mencapai prestasi sedemikian? Kita pastilah sepakat bahwa itu atas anugerah TUHAN, Allah Israel yang juga adalah Allah-nya Daniel. Namun, hal yang perlu ditelusuri adalah kehadiran Allah bagi Daniel pastilah ada alasannya.

Jemaat Terkasih, Mengapa ia begitu disertai TUHAN; apakah yang sudah dilakukan Daniel? Jawabannya kita temukan pada sikap dan sifat Daniel sebagai pribadi yang dikasihi Allah, yakni: Pertama, Daniel hidup dalam ketaatan (6:5,6). Sesuatu yang penting dan utama dari tokoh ini adalah Daniel seorang pribadi yang memiliki semangat rohani yang luar biasa. Hal ini nampak dan jelas dinyatakan dalam ayat 5 bacan kita bahwa ketaatanNya kepada Allah dilakukan lewat “hidup bersih” dari segala kesalahan dan penyelewengan aturan kerajaan; yang diimbangi dengan Ketaatannya beribadah kepada Allah. Daniel berhasil melakukan apa yang dikehendaki raja. Nilai kepercayaan raja tidak disia-siakan Daniel. Ia berhasil dipercayai manusia sehingga tidak satupun ditemukan kesalahan terhadapnya. Di sisi lain, kedekatannya dengan TUHAN adalah nilai lebih dan nilai beda dari para pejabat kerajaan. Kehidupan spiritualitasnya demikian baik yang justru terbentu karena hidupnya yang selalu beribadah kepada TUHAN. Kedua, Daniel memilih menyenangkan TUHAN dari pada manusia (6:11-12). Disebutkan di atas bahwa Daniel taat pada aturan kerajaan. Namun Daniel juga memiliki prinsip hidup spiritualitas yang teruji. Saat aturan kerajaan menghalanginya untuk beribadah kepada Allah, Daniel lebih memilih taat kepada TUHAN, Allah-nya dari pada aturan dan ketetapan manusia. Perhatikanlah apa yang terjadi pada ayat 11 dan 12 bacaan kita. Harusnya jika ingin “aman” dari masalah hukum, bisa saja Daniel mengambil langkah taktis yang kompromistis yaitu: untuk sementara menunda beribadah kepada TUHAN selama 30 hari (aturan ayat 8) dengan keyakinan “pastilah TUHAN mengerti” kondisi ini. Luar biasanya adalah, Daniel tidak memilih langkah “aman” ini. Apa yang ia lalukan? Daniel sadar bahwa ada larangan tentang beribadah kepada TUHAN, Allah. Kalaupun Daniel tetap berniat beribadah, harusnya ia segera menutup jendela dan kemudian berdoa diam-diam kepada TUHAN, Allahnya. Namun justru yang dilakukannya berbeda. Pada ayat 11 pasal 6, Daniel justru berdoa dengan jendela yang terbuka mengarah ke Yerusalem dan tentu saja efeknya, setiap orang dapat melihat dan mendengar ketika ia sedang berdoa. Akhirnya ia ditangkap. Daniel Fokus pada misi Allah bagi raja yang mencoreng kekudusan-Nya karena menajiskan alat-alat Bait Suci yang kudus itu. Harta dan kekuasaan tidak mampu mengalihkan Daniel pada prioritas utamanya ketika dihadirkan TUHAN dalam pembuangan tersebut, yakni menjadi jurubicara-Nya bagi bangsa tersebut. Inilah alasan sikap dan sifat Daniel sehingga ia menjadi pribadi yang berhasil di tengah pergumulan pembuangan dan sekaligus menjadi pribadi yang sangat di kasihi TUHAN, Allah Israel.

Jemaaat Terkasih, dari kisah Daniel ini, apa yang menjadi perenungan bagi kita untuk memiliki iman mumpuni? (1). Jangan hanya bangga dan berhenti pada menjadi orang KRISTEN yang percaya, tapi jadilah orang yang dapat DIPERCAYA! Daniel adalah pribadi yang sangat dipercayai dikalangan istana termasuk raja karena sikap dan sifat yang ditunjukkannya. (2). Pada jaman Daniel bangsa Media menyembah berhala. Tetapi Daniel justru 3 kali sehari berlutut untuk berdoa dan menyembah Allah dan setia beribadah kepadaNya. Lingkungan seringkali memperngaruhi pola pikir, pola tutur dan pola laku setiap orang. Tapi hal ini tidak mempengaruhi Daniel. Mengapa? Karena ia setia kepada Allah. Pada bagian akhir justru bukan lingkungan pembuangan itu yang mempengaruhi Daniel, namun justru kerajaan itu berhasil dipengaruhi Daniel karena imannya (bd. 6:26-28). Daniel adalah contoh pribadi yang memiliki integritas iman yang mumpuni ketika ia tidak mampu dipengaruhi oleh keadaan apapun, karenanya mari belajar hidup taat dan Setia sebagaimana Daniel. Amin

Bernyanyi BE.769,1-2 “Tu Debata Do Panghirimonhi”

♫ Tu Debata, do panghirimonhi/ Di tano laut, nang awangawang i/
Ibana do, haposanhi/ Tongtong do, diramoti langkangki/ (Ref.) Torop pe mara manahopi au, Debatangki do sumarihon au/
Pos rohangki, sonang do au/ Ibana do na mandongani au.

♫  Amporik i, nang bungabunga i/ Ro di sude, na tinompaNa i/ Na metmet nang na balga i Ibana do, na marmuduhon i/ (Ref.) Torop pe …

Doa Syafaat

Bernyanyi BE.753:1+3 “Dipardalanan Jesus Di Jolongku” (Persembahan)

♫  Di pardalanan Jesus di jolongku, Holong ni tanganMi, manogu au/ Nang di ngolungku, Ho do sombaonhu, Tung sonang mardalan raphon au/ (Ref.) Huboto do tangkas panoguonMu,
Diiringiring Ho do langkangki/ Sahat rodi, ujung ni  pardalanhu/ Togu ma au jonok tu lambungMi.

♫  Patogu ma, Tuhan haporseaonku/ Asa polin tu Ho, manghirim au/ Tu Surgo i, patulus pardalanhu/ TondiMi, maringan ma di au/ (Ref.)  Huboto do …

Doa Persembahan – Doa Bapa Kami – Amin, Amin, Amin

P- Ya Allah, Bapa Kami yang di Surga, kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami. Di akhir ibadah ini kami menyerahkan persembahan kami sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah agar dapat dipergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Amin. Secara bersama mari mengucapkan Doa Bapa Kami ….

S-  Menyanyikan: Amin, Amin, Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

LITURGI PARTANGIANGAN KELUARGA, 28 OKTOBER 2020

Bernyanyi BE.125:1-2 “Marlas ni Roha Hita On”

♫  Marlasniroha hita on, mamuji Debata/ Ai asi ni rohaNa i, do bongot tu rohanta i/ Umbaen nuaeng mardomu i, dison sadari on
Dison sadari on.

♫   Dibahen i manggogo be, ma hita on sude/ Mamuji Tuhan Jesus i, Parasiroha godang i/ Sibaen las ni rohanta i, nuaeng nang sogot pe, Nuaeng nang sogot pe.

Votum – Introitus – Doa (P- Pemimpin; K-Keluarga; S- Semua)

P-  Di dalam nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi.

K- Amin

P-  Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa. Bangunlah hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar! Aku mau bersyukur kepadaMu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagiMu di antara suku-suku bangsa. Marilah kita berdoa: Ya Tuhan Allah Bapa kami, bimbing dan kuatkanlah kami dengan RohMu agar kami mendengar dan menerima FirmanMu. Teguhkanlah FirmanMu di dalam hati kami supaya kami menjadi baru dan Kudus. Tolonglah kami agar kami semakin percaya kepada AnakMu Tuhan Yesus Kristus, dan memperoleh hidup yang kekal. Amin.

Bernyanyi BE.473:1-2 “Tung Na Muba Rohangku”

♫    Tung na muba rohangku dibaen Tuhanki, Dung Jesus maringan di au/ Nunga sonang au on, tung dame rohangki, Dung Jesus maringan di au, Dung Jesus maringan di au, Dung Jesus maringan di au, Tung na sonang do au dung tu Jesus au lao,
Dung Jesus maringan di au.

♫   Au na lilu hian dapot sambulongki, Dung Jesus maringan di au/
Nunga sae dosangki dibaen mudarNa i, Dung Jesus maringan di au, Dung Jesus maringan di au, Dung Jesus maringan di au, Tung na sonang do au dung tu Jesus au lao, Dung Jesus maringan di au.

Pembacaan Alkitab dan Renungan: 1KORINTUS 3,10-17

P-    Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.

K–   Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.

P-    Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami,

K–   sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu.

P-    Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah.

K–   Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.

P-    Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?

S–    Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.

“REFORMASI SPIRITUALITAS”

Jemaat Terkasih,

Permasalahan jemaat di Korintus memang sangatlah kompleks.  Tidak saja perpecahan yang disebut Paulus sebagai biang keladi, tapi juga sesuatu yang jauh lebih penting dari itu.  Pelbagai tekanan pun bermunculan untuk merongrong, baik dari dalam maupun luar, iman mereka.  Tidak sedikit penginjil-penginjil palsu berkeliaran di sana.  Tentu saja hal ini tidak bisa dianggap sepele, pasalnya beberapa penginjil palsu itu hendak menggantikan Dasar yang Teguh itu yakni Tuhan Yesus Kristus dengan  dasar lain. Kondisi ini jelas betul terlihat dalam surat Paulus pada pasal ini. Dasar  yang dulu telah Paulus letakkan (iman kepada Kristus) terancam diganti oleh dasar-dasar dan hikmat-hikmat lain. Oleh karena itu, dengan tegas Paulus kembali mengingatkan jemaat Korintus.

Jemaat Terkasih, Jika sebelumnya Paulus meminjam beberapa istilah dari dunia pertanian, dengan mengidentifikasisikan diri dan rekannya sebagai “penanam dan penyiram”, kini Paulus menggunakan istilah-istilah dari dunia pertukangan sebagai ilustrasi untuk menghadapi para penyesat itu.   Menunjukkan diri sebagai “ahli bangunan” yang cakap digunakkannya untuk menunjukkan keseriusan, kematangan, dan keberhikmatan sebagai seorang “pelayan Tuhan” yang telah meletakkan dasar penting, yakni Yesus Kristus itu sendiri.  Tidak satupun niat diri Paulus untuk bersombong diri, tidak! sebab dalam ayat 10, ia juga menyebut, bahwa apa yang dilakukannya itu pun atas karunia Allah semata.  Dengan demikian, tidak seorang pun boleh mengganti “fondasi” dari sebuah keberimanan. Dasar iman kristen, dasar jemaat, atau dasar gereja, bagi Paulus satu-satunya adalah Kristus itu sendiri.  Bukan suatu sistem hikmat manusia, dan bukan juga injil yang dimodifikasi agar sesuai dengan penalaran atau logika.  Hanya Kristus Dasarnya! Jika orang hendak membangun, maka silahkan saja meneruskan membangun diatasnya, tanpa menggeser, atau menggantikan sama sekali pondasi yang telah dijejakkan.  Tentang proses meneruskan pembangunan di atas dasar, kelak, di hari yang tepat akan dibuat jelas oleh Allah sendiri. Seperti apapun material yang digunakan untuk membangun, baik itu material dengan kualitas tinggi dan tahan lama seperti emas, perak, batu permata, atau justru material yang mudah hancur seperti kayu, rumput kering atau jerami, yang terpenting dibangun di atas dasar yang telah ditentukan. Dan Paulus pun tidak bermaksud menilainya atau menghakiminya secara frontal.  Namun ada beberapa hal yang tersirat dibalik pernyataan Paulus yang perlu betul-betul disikapi.  Pergeseran kualitas dari material yang bertahan lama, kepada material yang mudah rusak, dari bahan unggul ke bahan rapuh mengindikasikan sebuah ketidakpuasaan Paulus pada apa dia perumpamakan sebagai materi tadi.  Hal ini kemungkinan besar menunjukkan kegelisahan sekaligus keprihatinan Paulus terhadap pemberitaan yang tidak sepenuhnya dilakukan dengan maksud yang murni.  Pewartaan Injil yang dikerjakan dengan motivasi rendah, seperti kesombongan atau ambisi pribadi dari pewartanya. Tapi apapun dan bagaimanapun itu di hari akhir nanti Allah akan menunjukkan kemurnian dari setiap karya pelayanan yang dikerjakan. Dia akan menguji sejauh apa nilai kekekalan (materi yang bertahan lama) dari segala sesuatu, termasuk menguji motif-motif yang tersembunyi dari mereka yang telah menjadi pelayan-pelayan Allah.  Dengan apa mengujinya?  Ya, dengan api.  Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji (memiliki kualitas/nilai kekal), maka akan mendapat upah. Akan tetapi, apabila dalam pengujian dengan api pekerjaannya itu terbakar (tidak memiliki nilai kekekalan), maka orang itu sendiri yang akan menderita kerugian.  Meskipun si pelayan akan tetap diselamatkan, namun Alkitab mencatat, dia akan diselamatkan layaknya diangkat dari dalam api. Suatu ungkapan untuk menunjukkan kondisi yang “hampir tidak diselamatkan”.

Jemaat Terkasih, Bagaimana kita menghubungkan Nas renungan saat ini ke dalam hidup kita? Fakta membuktikan bahwa semakin tinggi suatu bangunan atau gedung, semakin dalam dan semakin kokoh fondasi yang harus ditanam.  Jika tidak, saat badai atau goncangan datang menyerang, bangunan tersebut pasti tidak akan mampu berdiri tegak atau bakalan roboh.  Begitu pula tak seorang pun dapat menduga dan mengira kapan datangnya angin, badai atau goncangan dalam kehidupan ini.  Oleh karena itu penting sekali memiliki fondasi hidup yang kuat dan kokoh, supaya ketika angin, badai, gelombang atau goncangan melanda kehidupan ini kita tetap mampu berdiri tegak dan tak tergoyahkan! Dengan apakah kita membangun fondasi hidup ini?  “Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak.”  (1Kor.3:10b-13a).  Tuhan Yesus berkata,  “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Mat.7:24-25).  Jika kita membangun fondasi hidup kita di atas Batu Karang yang teguh yaitu Tuhan Yesus dan firman-Nya, kita akan menjadi kuat, sekalipun harus melewati angin, badai, goncangan dan gelombang kehidupan.  Rasul Paulus menasihati,  “…hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”  (Ef.6:10). Saat ini banyak orang tak berdaya dan akhirnya tenggelam dalam badai dan gelombang kehidupan karena mereka membangun fondasi hidupnya di atas perkara-perkara yang ada di dunia ini atau hal-hal yang sifatnya jasmaniah, sedangkan hatinya menjauh dari Tuhan.  Sayangnya apa yang selama ini mereka andalkan, harapkan dan bangga-banggakan, tak mampu menolongnya, karena itu kita mesti melakukan pembaharuan (Reformasi) Spiritualitas kita, mari membangun hubungan yang baik dan tidak terputus dengan dasar iman dan sumber air hidup kita. Jika hubungan kita terputus dengan Tuhan, maka kita akan menjadi, seperti “mata air yang kering” (2Ptr.2:17). Usahakanlah hubungan kita dengan TUHAN tidak pernah putus walau banyak rintangan dan permasalahan hidup yang kita hadapi. Amin.

Bernyanyi BE.184,1+6 “Nunga Tung Jumpang Au Ojahan”

♫ Nunga tung jumpang au ojahan, Ni tondingki na mago i/ Mudar ni Jesus do manahan, Saleleng ni lelengna i/Nang mago pe portibi on, Tongtong do hot ojahan on.

♫ Ojahan on do ingananku, Saleleng au di tano on/Sai i ma hangoluhononku, Saleleng so tos hosangkon/Tongtong do sipujionki, Tuhanku Sipangolu i.

Doa Syafaat

Bernyanyi BE.697:3-4 “Molo Ho Do Huihuthon” (Persembahan)

♫  Hupelehon ma diringku, mangihuthon lomoMi/Ndada be na olo salpu, na manggohi rohangki/Ho tongtong ihuthononhu, Jesus na palua au/Ho sambing do oloanhu, ala ni~i martua au.

♫  Marparange na badia, ma au di adopanMi/Sai patau ma au tiruan, songon pinangidoMi/Ho tongtong ihuthononhu, Jesus na palua au/Ho sambing do oloanhu ala ni~i martua au.

Doa Persembahan – Doa Bapa Kami – Amin, Amin, Amin

P- Ya Allah, Bapa Kami yang di Surga, kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami. Di akhir ibadah ini kami menyerahkan persembahan kami sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah agar dapat dipergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Amin. Secara bersama mari mengucapkan Doa Bapa Kami ….

S-  Menyanyikan: Amin, Amin, Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alkitab dan Pohon sebagai lambang pertumbuhan Iman Kristen yang harus  terpelihara dengan baik.

LITURGI PARTANGIANGAN KELUARGA, RABU 21 OKTOBER 2020

Bernyanyi BE.15:1+3 “Aut Na Saribu Hali Ganda”

♫   Aut na saribu hali ganda, saringar ni soarangki/ Naeng nasa gogo bahenonhu, mamuji Debatanta i/ Paboa las ni rohangki hinorhon ni pambaenNa i

♫   Unang ma modom ho tondingku, sai ngot ma ho sai hehe ma/ Radot ma ho di ulaonmu, sai puji Tuhan Debata/ Sai pangke nasa malomi, mamujimuji Tuhan i.

Votum – Introitus – Doa (P- Pemimpin; K-Keluarga; S- Semua)

P-  Di dalam nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi.

K- Amin

P-  Demikian Firman Tuhan Yesus; AjaranKu tidak berasal dari diriKu sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku. Barangsiapa mau melakukan kehendakNya, ia akan tahu entah ajaranKu ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diriKu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air Hidup. Marilah kita berdoa: Ya Tuhan Allah yang Mahakuasa, Bapa yang selama-lamanya. Kasih sayangMu sajalah yang menyertai kami dari mulanya sampai sekarang ini, dan hanya karena KasihMu, Engkau memberikan Kabar Kesukaan bagi kami dan berilah Roh Kudus, supaya kami mengerti pimpinan dan bimbinganMu yang Agung itu. Tetapkanlah FirmanMu di dalam hati kami, supaya hati kami damai, senang dan baharu oleh karena AnakMu Yesus Kristus Tuhan kami. Amin.

Bernyanyi BE.218:2-3 “Tong Do Tau Haposan”

♫    Sai tong didongani Na porsea i, Jala ganup ari Ro basaNa i/ Tu na so marganggu Di gogoNa i, Na mandok Tuhanku, Na sun denggan i/ Tu na so marganggu, Di gogoNa i / Na mandok Tuhanku Na sun denggani.

♫   Guru di Ibana, Sude tano on, Sintong do hataNa Na tu hita on/ Asi ni rohaNa, Na sumurung i/ Dipatongontongon Tu lomoNa i, Asi ni rohaNa Na sumurung i Dipatongontongon Tu lomoNa i.

Pembacaan Alkitab dan Renungan: 1RAJARAJA 17,1-6

P-    Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: “Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.”

K–   Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya:

P-    “Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan.

K–   Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana.”

P-    Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan.

S–    Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.

“PEMELIHARAAN ALLAH SAAT MASA SULIT”

Jemaat Tuhan Terkasih,

Dalam teks renungan kita saat ini, digambarkan terjadinya satu peristiwa yaitu kemarau panjang yang melanda Kerajaan  Israel. Pada masa itu yang menjadi raja adalah Ahab. Di dalam masa pemerintahannya bangsa Israel jatuh ke dalam berbagai macam dosa. Penyembahan berhala terjadi di mana-mana sehingga bangsa Israel semakin jauh dari Tuhan. Mereka terus melakukan perbuatan yang sangat dibenci Tuhan. Ahablah yang membawa mereka untuk menyembah berhala. Melihat dosa yang diperbuat bangsa Israel, maka Tuhan mengutus Elia untuk menemui Ahab untuk menyatakan penghukuman atas dosa yang mereka perbuat. Elia langsung menjatuhkan vonis bahwa tidak akan terjadi hujan kecuali Elia mengatakannya. Maka terjadi kemarau panjang yang lamanya kira-kira tiga tahun setengah dan sudah bisa ditebak terjadilah krisis air. Bagaimana kita memahami peristiwa ini dan menghubungkannya dalam hidup kita? Ternyata dalam peristiwa ini, Allah tidak pernah meninggalkan kita bahkan di saat situasi paling sulit sekalipun. Oleh karena itu kita akan merenungkan satu tema yaitu pemeliharaan Allah di saat sulit, yakni:

Menyediakan tempat berlindung (ayat 1-3).

Saat kemarau terjadi sudah pasti krisis air. Kita dapat membayangkan bagaimana situasi di Timur  Tengah yang sebagian besar adalah padang  pasir. Udara pasti sangat panas, tanaman layu dan akhirnya mati demikian juga dengan binatang karena tidak memperoleh makanan. Ini merupakan masa yang sangat sukar. Karena kemarau yang terjadi lamanya tiga tahun setengah, suatu masa yang cukup lama. Situasi seperti ini bukan hanya kekurangan air, tetapi juga bahan makanan. Kalaupun ada makanan bagaimana cara mengolahnya jika tidak ada air. Kita  mungkin mampu bertahan beberapa hari tanpa makan, tetapi sulit untuk bertahan jika tanpa air. Air adalah unsur yang vital bagi kehidupan manusia. Ketika terjadi kemarau, biasanya juga dibarengi dengan datangnya berbagai jenis penyakit. Di tengah situasi yang demikan Elia sang nabi Tuhan pasti sangat menderita. Apakah Tuhan  membiarkan Elia menderita? Tidak! Justru di tengah situasi yang demikian Allah menyuruh Elia untuk pergi ke tepi sungai Kerit (ay.3). Mengapa Tuhan menyuruh pergi ke tepi sungai? Jawaban sederhana yaitu supaya Elia tidak kesulitan air. Tetapi lebih dari itu Allah ingin menyatakan kuasa pemeliharaan-Nya. Singkat cerita Elia pun pergi ke tempat yang Tuhan suruh. Di tepi sungai Kerit untuk sementara Elia tidak kekurangan air karena tinggal di tepi sungai dan sudah pasti airnya cukup banyak. Apa kesulitan yang kita alami sekarang? Masih mampukah kita terus hidup di dalam Tuhan, beriman kepada Tuhan. Kita harus meyakini bahwa Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk menolong orang-orang yang Dia kasihi. Ingatlah selalu akan janji-Nya bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita berjalan sendirian. Dia Allah yang Immanuel, Allah yang selalu beserta dengan kita. Kapanpun dan dimanapun kita berada. Dia akan menuntun kita ke tempat perteduhan seperti yang sudah Ia lakukan terhadap Elia. Marilah kita menyerahkan hidup kepada Allah dan hidup mengandalkan Dia.

Mencukupkan segala kebutuhan (ayat 4).

Masa kemarau panjang yang dihadapi Elia tidak hanya menimbulkan kesulitan air tetapi juga makanan.  Jika kita baca ayat selanjutnya diceritakan bahwa saking lamanya kemarau air di sungai Kerit menjadi kering. Elia yang kini tinggal di tepi sungai kerit tentu membutuhkan makanan. Tetapi darimana ia harus mendapatkan makanan? Masalah makanan Elia itu menjadi urusan Tuhan. Pada akhirnya kita dapat melihat bagaimana cara Tuhan mencukupkan kebutuhan Elia. Sungguh sangat ajaib, yaitu dengan memakai burung gagak untuk membawa roti dan daging. Bagian ini kita lihat di pembahasan selanjutnya.

Jemaat Tuhan Terkasih,

Mungkin kita pun seringkali mengalami berbagai macam tantangan dan kesulitan hidup. Mungkin sekarang kita bergumul dengan keluarga, ekonomi yang semakin susah, pekerjaan, atau pun tantangan lain yang datang silih berganti. Satu-satunya sandaran kita adalah hanya pada Tuhan saja. Jikalau dulu Elia mengalami masa yang cukup sukar ditolong Tuhan, maka Tuhan yang sama pun akan menolong kita dari berbagai macam beban dan pergumulan yang sekarang kita hadapi. Milikilah hubungan yang akrab dengan Tuhan sehingga kita dapat menemukan apa yang Tuhan mau  kita lakukan. Dia Allah yang kita sembah adalah Allah yang selalu senantiasa mencukupi kebutuhan hidup kita. Jika kita mempunyai dosa yang belum dibereskan segera bereskan supaya tidak menjadi penghalang berkat Tuhan bagi hidup kita. Pernahkah kita merasa kekurangan di dalam hidup kita?Atau pernahkah kita mengalami kesulitan hidup tetapi justru Allah berkarya secara nyata. Sehingga kita terlepas dari kesulitan hidup yang kita alami. Mari kita terus bersandar kepada Allah dan percayalah bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita.

Menolong dengan cara yang ajaib (ayat 5-6)

Di depan kita sudah membahas bahwa di dalam kondisi kemarau panjang Elia tidak kekurangan air. Sekarang kita akanm melihat bagaimana cara Tuhan mencukupkan makanannya. Sebagai Allah yang mahakuasa, Allah menolong Elia dengan cara yang sangat ajaib yaitu melalui burung gagak yang membawa daging dan roti. Setiap pagi dan petang (ay.6). Ada sesuatu yang sangat menarik terjadi pada burung gagak. Pertama burung gagak adalah jenis burung yang dianggap haram, tetapi justru Allah memakainya untuk memelihara Elia. Kedua, burung gagak adalah jenis burung yang memakan daging, tetapi sekarang malah membawa daging untuk dimakan oleh Elia. Ketika saya merenungkan ini, sungguh membuat saya  kagum akan kebesaran Allah, dengan cara yang Ia kerjakan ketika menolong Elia. Cara kerja tidak bisa kita selami. Timbul satu pertanyaan yang juga mengapa Elia mengalami pertolongan yang sangat ajaib? Jawabannya adalah karena Elia taat pada semua yang Tuhan  ia kerjakan (ay.5). Kembali pada pertolongan ajaib yang dialami Elia, ini  memberitahukan kepada kita bahwa Tuhan tidak pernah kekurangan cara di dalam menolong kita. Dunia ini milik Tuhan termasuk hidup kita. Hanya untuk mencukupi kebutuhan dari setiap hamba-Nya itu kecil buat Tuhan. Kesulitan apa yang sedang kita alami, ketahuilah bahwa Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk menolong kita dari beban hidup.  Kiranya pemeliharaan yang telah Allah lakukan terhadap Elia dapat menghibur setiap kita. Jangan pernah ragu untuk mempercaya Tuhan Yesus, karena Dia adalah Allah yang hidup, yang selalu memperhatikan setiap anak-anak-Nya. Sungguh kita adalah orang-orang yang berbahagia karena dijaga, dipelihara, dan selalu disertai Tuhan. Amin.

Bernyanyi BE.268,3-4 “Debatangku Do Donganhu”

♫  Debatangku do donganku, Tung na ganggu m’au disi?/Nda tongtong hangoluanku, Asi ni rohaNa i? Pos do rohangki disi Debata do donganki Salelenglelengna i.

♫ Debatangku do donganku, Na manogu au tongtong. TioponNa do tanganku Nang lao suda bohalhon/ Pos do rohangki disi, Debata do donganki, Salelenglelengna i.

Doa Syafaat

Bernyanyi BE.140:2-3 “Girgir Ma Hamu” (Persembahan)

♫   Ndang jadi hamu Mabiar ale, Sai pangke burju Gogom sasude/ Nang hehe sibolis Mamolgak hamu, Sai tatap ma Jesus pargogo tutu

♫  Radoti burju, HataNa sude/ Sai monang hamu, BaenonNa muse/ Ibana do Raja, Na tong monang i. Torop pe aloNa sumurut do

Doa Persembahan – Doa Bapa Kami – Amin, Amin, Amin

P- Ya Allah, Bapa Kami yang di Surga, kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami. Di akhir ibadah ini kami menyerahkan persembahan kami sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah agar dapat dipergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Amin. Secara bersama mari mengucapkan Doa Bapa Kami ….

S-  Menyanyikan: Amin, Amin, Amin.

LITURGI PARTANGIANGAN KELUARGA, 14 OKTOBER 2020

Bernyanyi BE.205:1-2 “Ale Jesus Tuhannami”

♫  Ale Jesus Tuhannami, Bereng hami na dison/ PinarmahanMi do hami, Saluhutna na dison/ Sai asi rohaM di hami, Sai pangolu hami on.

♫  Ale Jesus, togu hami, Asa unang mago be/ Manang ise sian hami, Sai porsea ma sude/ Sai na hot di Ho ma hami, Dao ma jea sasude.

Votum – Introitus – Doa (P- Pemimpin; K-Keluarga; S- Semua)

P-  Di dalam nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi.

K-  Amin

P-  “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, hidup dengan rendah hati dihadapan AllahMu?” Marilah kita berdoa: Ya Tuhan Allah yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih! Kami merendahkan diri di hadapanMu dan memohon: Penuhi dan terangilah hati kami dengan RohMu, supaya kami semakin membenci dosa kami, dan mulai merindukan  FirmanMu yang Kudus. Biarlah FirmanMu yang Kudus tumbuh dalam hati kami, sehingga kami menghasilkan buah-buah yang baik. Kami mohon semuanya itu karena Tuhan Yesus Kristus, Tuhan Kami. Amin

Bernyanyi BE.743:1-2 “O Tuhan Togotogu ma Au”

♫    O Tuhan togutogu ma au, Tu dalan lomo ni rohaMi/ Raphon Ho sonang mardalan au, Nang rahis maol sidalananki/ TondiMi baen manggohi au on, Margogoihon au naposoMon/ Pasangap Ho di ngolungkon, Paima sahat tu Surgo au on.

♫   Panghulingi ma au O Tuhan, Na rade tumangihon hataM/ Sai tumpahi ruasMu Tuhan, Na uasan nuaeng di hataM/ Sai patau ma au on naposoM, Manjou halak na dao sian Ho/ Ro di na so tumanda Ho, Muba gabe pangoloi di Ho.

Pembacaan Alkitab dan Renungan: YOHANES 2,1-12

P-    Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ;

K–   Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.

P-    Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”

K–   Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.”

P-    Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”

K–   Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.

P-    Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan mereka pun mengisinya sampai penuh.

K–   Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya.

P-    Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu — dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya — ia memanggil mempelai laki-laki,

K–   dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.”

P-    Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

S–    Sesudah itu Yesus pergi ke Kapernaum, bersama-sama dengan ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya dan murid-murid-Nya, dan mereka tinggal di situ hanya beberapa hari saja.

“YANG MENGANDALKAN TUHAN, TIDAK AKAN MALU”

Jemaat Tuhan Terkasih,

Cerita tentang Yesus merobah air menjadi anggur hanya terdapat dalam Injil Yohanes, tidak terdapat di kitab – kitab yang lain. Yohanes mencatat kejadian ini sebagai peristiwa mujizat pertama yang dilakukan oleh Tuhan Yesus di saat pesta perkawinan di kota Kana daerah Galilea. Dan hingga kini setiap orang berkunjung ke Kana selalu dibuat suatu Ibadah di Gereja Kana, mengingatkan peristiwa yang dahulu dilakukan Yesus dan sekaligus melakukan acara peneguhan keluarga (Suami–Istri) jikalau ada yang memintanya. Tuhan Yesus dan murid – muridNya diundang ke pesta perkawinan di Kana juga ibuNya, Maria. Tidak dijelaskan apa peranan Ibu Yesus dan Yesus, namun yang jelas Ibu Yesus punya peranan yang penting. Hal itu dapat dilihat pada ayat 3, dimana Maria cukup direpotkan oleh karena kehabisan anggur. Apapun peran dan kehadiran mereka disana pasti mereka tidak mengharapkan terjadinya kekacauan. Begitu jugalah kita hadir dimana – mana harus punya tanggung jawab untuk melancarkan acara–acara, bukan membuat kekacauan. Apapun ceritanya, yang jelas Yesus diundang dan hadir ditempat itu, dan pasti yang punya hajatan tidak pernah menduga hal kekurangan itu terjadi. Seringkali dalam kehidupan ini, kita menghadapi hal yang sama sebagaimana yang punya hajatan, muncul masalah tak terduga  namun kita tidak udah takut karna kita telah menghadirkan Yesus ke dalamnya. Undanglah Yesus pasti Ia hadir tepat pada waktuNya.

Jemaat Terkasih, Kerjasama didalam suatu kegiatan adalah hal yang terpenting, demikian juga di Gereja dan rumah tangga. Hal itu yang dilakukan oleh Ibu Yesus pada Yesus dan para pelayan. Petunjuk dan perintah dari sang Ibu yang penuh tanggung jawab. Dan para pelayan pun mendengarkan dan melaksanakan apa yang disuruh, walaupun agak merasa aneh dengan mengisi tempayan dengan air. Namun keanehan dimata kita menjadi sebuah keajaiban, Air menjadi anggur. Semakin aneh lagi Yesus menyuruh untuk membagi – bagikan “air” itu kepada tamu. Hal ini kan mengundang resiko lagi, bisa – bisa semakin runyam, namun mereka melaksanakan kehendak Yesus. Ternyata dengan kerjasama dan mendengar serta melakukan PerintahNya pasti ada jalan keluar, bagi Tuhan tiada mustahil (Luk.2:37), dan bagi orang yang percaya juga tidak ada yang mustahil (Mark.9:23). Air berubah menjadi anggur bahkan menjadi anggur terbaik sesuai dengan pengakuan tamu undangan yang hadir (ay.10). Luar biasa, bagi orang yang percaya dan mau melakukan kehendakNya maka pasti yang terbaik selalu hadir, dalam rumah tangga maupun di dalam kehidupan ini. Yesus tidak pernah mempermalukan setiap orang percaya padaNya, maka Ia akan tolong jikalau kita meminta kekuatan dan petunjuk padaNya. Namun masih ada juga yang mengakui dirinya Kristen, namun belum mengikut dan menjalankan kehendak Yesus. Jadi kita tidak heran masih ada orang-orang atau keluarga-keluarga yang mengeluhkan masalahnya. Jika hal itu masih ada, nyatakanlah itu pada Yesus dan hadirkanlah Yesus ditengah hidup dan keluarga.

Jemaat Tuhan Terkasih, Sekarang mari kita memetik pelajaran dari renungan saat iniPertama, apapun alasannya, hadirkan Yesus didalam hidup dan keluarga kita. Ketika Yesus hadir, damai sejahtera akan hadir sebagaimana pesta di Kana. Kedua, tidak selamanya jalan hidup kita mulus dan rata, namun terkadang ada mendaki dan bebatuan, artinya walaupun kita percaya akan keberadaan Yesus dalam hidup kita, kita tidak terlepas dari masalah, ada saja kendala yang kita dihadapi. Mari belajar dari para Murid yang berlayar bersama Yesus di Danau Galilea, ada angin dan gelombang (Mark.4:35–40). Ketiga, Ketika menghadapi masalah nyatakan itu pada Yesus, itulah kekuatan kita. Yang pasti Yesus menjadi tempat curahan hati dan doa kita, tempat mengungkapkan hal – hal yang menyakitkan dan beban berat (Mat.11:28). Semua kita punya beban, punya persoalan namun kita berterima kasih ada Yesus dalam hidup kita. Keempat, dengarkan dan lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Yesus. Dia tidak akan mempermalukan setiap orang percaya yang menuruti kehendakNya. Orang yang berharap pada Yesus tidak pernah dipermalukan sebagaimana Ibu Yesus dan para pelayan. Ingat Tuhan Yesus akan menjadi penolong bagi kita, orang yang percaya padaNya. Amin.

Bernyanyi BE.216,2+5 “Gargar Dolok”

♫  Na nidok ni Debatangku, Patut huundukkon I/ Sai mangolu do tondingku, Molo huihuthon I/ Asi ni rohangKu do, Ndang na munsat sian ho.

Sai patogu ma rohangku, O Tuhan di hataMi/ Unang pola au be ganggu, Paima bagabagaMi/ Asi ni rohangKu do, Ndang na munsat sian ho.

Doa Syafaat

Pokok-Pokok Doa: (1) Warga Jemaat yang sakit, yang terkait Covid-19 atau tidak, (2) Kedisiplinan dalam menjalankan Protokol Kesehatan; (3). Proses Pembangunan Gedung Sekolah Minggu dan Rumah Pastori; dll …

Bernyanyi BE.443:1-2 “Dung Tuhan Jesus” (Persembahan)

♫   Dung Tuhan Jesus nampuna au, Songgop dameNa, biarhu lao/ Taripar gogo ngoluNa I, Nasa dosangku naung sae do I/ Tabaritahon holongNa I, Didia Tuhan tudoshon i? Tuk manumpahi, tarlobi da/ Sasada Jesus pinuji ma.

♫  Di Ho ngolungku, las rohangki, Jumolo Jesus siluaMi. PangiringonMu, tolongMu I, Mangalo dosa nang rohangki/ Tabaritahon holongNa I,  Didia Tuhan, tudoshon i? Tuk manumpahi, tarlobi da Sasada Jesus pinuji ma.

Doa Persembahan – Doa Bapa Kami – Amin, Amin, Amin

P- Ya Allah, Bapa Kami yang di Surga, kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami. Di akhir ibadah ini kami menyerahkan persembahan kami sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah agar dapat dipergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Amin. Secara bersama mari mengucapkan Doa Bapa Kami ….

S-  Menyanyikan: Amin, Amin, Amin.

LITURGI PARTANGIANGAN KELUARGA, 07 OKTOBER 2020

Bernyanyi BE.222:1+4 “Tu Jolo ni Tuhanku”

♫  Tu jolo ni Tuhanku, Huboan diringkon/ Ibana do Rajangku, Sigomgom rohangkon/ Sai guru di Ibana, Sudena langkangki/ Sai asi ni rohaNa, Pature bogashi.

♫  Ditiop do tanganku, Sai dihehei do au/ Sai tong jonok Tuhanku, Ndang dung Ibana dao/ TondiNa patorangkon, Tu au holongNa I /Sai lam huhadengganhon, hansit ni silang i.

Votum – Introitus – Doa (P- Pemimpin; K-Keluarga; S- Semua)

P-  Di dalam nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi.

K-  Amin

P-  Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Marilah kita berdoa: Ya Tuhan Allah yang Mahakuasa dan Mahapengasih. Engkau menghendaki agar kami hidup dan berbahagia. Berungkali dan dalam pelbagai cara Tuhan berbicara kepada kami agar kami bangun dari kegelapan dan mengenal kebahagiaan yang dari Tuhan. Karena itu kami merendahkan diri dan memohon kepadaMu: Berikanlah kami Roh Kudus agar kami percaya akan kasihMu dan mendengar FirmanMu yang menjadi dasar pengharapan kami akan hidup yang kekal, yang Engkau sediakan di dalam Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin

Bernyanyi BE.670:1+3 “Tarbege Soara na Joujou”

♫    Tarbege soara na joujou, Tongos ma sondangmi/ Tung torop parbegu di na holom I, Tongos ma sondangmi/ Tongos ma, Barita na uli Mandungoi na modom I/ Tongos ma Barita na uli, Mandungoi na modom i.

♫   Unang sai tarhinsu pintu ni roham, Tongos ma sondangmi/ Baritahon Hata Hangoluan I, Tongos ma sondangmi/ Tongos ma Barita na uli,
Mandungoi na modom I/ Tongos ma Barita na uli, Mandungoi na modom i.

Pembacaan Alkitab dan Renungan: KELUARAN 18,17-23

P-    Tetapi mertua Musa menjawabnya: “Tidak baik seperti yang kaulakukan itu.

J-    Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.

P-    Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah.

J-    Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan.

P-    Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.

J-    Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya.

P-    Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya.”

“MEMIMPIN DENGAN TEORI YITRO”

Jemaat Tuhan Terkasih,

Musa adalah salah seorang pemimpin besar dan terhormat di kalangan bangsa Israel. Disebut demikian oleh karena sejarah Alkitab menampilkannya sebagai tokoh yang memimpim pembebasan bangsa Israel dari penjajahan Mesir. Tetapi sebelum Musa tampil sebagai pemimpin yang berwibawa dan disegani oleh masyarakat dan para penguasa Mesir, terlebih dahulu Musa mengalami berbagai macam peristiwa dan kondisi, baik yang menyenangkan maupun yang menakutkan. Ketika Musa menghadapi semua keadaan tersebut, tentu ia belum memahami maksud dan tujuannya, selain ia manghayatinya hanya sebagai keterpaksaan karena keadaan tidak memberinya pilihan lain, akan tetapi dari perspektif teologi kepemimpinan dapat dipahami bahwa semua peristiwa yang dialami Musa sebelumnya, memberikan kontribusi pada pembentukan karakter atau mentalitas pemimpin di dalam diri Musa. Selain itu, pengalaman-pengalaman masa lalu dalam mengatasi setiap persoalan juga merupakan proses pendidikan bagi Musa untuk meningkatkan keterampilannya dalam menangani berbagai masalah, akan tetapi setelah Musa berada pada posisi sebagai pemimpin bangsa Israel, ternyata pola kepemimpinannya belum cukup efektif. Dengan kata lain, proses pendidikan yang telah dilalui, baik secara formal maupun secara praktikal di Mesir dan di padang belum cukup untuk membuat Musa menjadi seorang pemimpin yang berhasil. Dalam situasi memimpin perjalanan umat Israel di padang gurun, Musa masih harus mempelajari pola kepemimpinan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Jemaat Tuhan Terkasih, Yitro, yang adalah mertua dari Musa, mengkritik dengan nada yang cukup keras terhadap sistem kepemimpinan Musa. Tetapi tentu saja kritik Yitro tersebut harus dilihat sebagai bagian penting dari proses pelatihan untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas kepemimpinan Musa, mengingat bahwa hubungan Yitro dengan Musa adalah hubungan antara orang tua dan anak, atau hubungan pendidik dan anak didik. Memang agak jangggal kelihatannya, sebab sejak mula tidak biasa kalau Musa mengerjakan sesuatu sendiri. Tatkala ia dipanggil Tuhan di semak belukar, ia mengaku tidak pandai berbicara, itu sebabnya Tuhan memberikan Harun sebagai pendampingnya. Namun herannya saat ini, ia menjalankan kerjanya sendiri. Melihat keadaan yang rumit ini maka Yitro memberikan saran dan ide yang cemerlang. Sungguh munculnya tidak terduga sama sekali. Zaman sekarang sering kali orang yang lebih tua dianggap kuno, kolot tidak berteknologi dan sebagainya. Namun beda dengan Musa, ia mau belajar dari mertuanya, sebab ia tahu paling sedikit ada pelajaran yang berharga yang dapat diperolehnya. Coba kita lihat jurus cemerlang apa saja yang diajarkan Yitro kepada Musa?

  1. Musa harus menjadi penengah, antara Allah dan rakyat. Dengan demikian maka kehidupan Musa sendiri harus membawa prioritas kepada Tuhan. Dengan demikian ia boleh mengerti dengan jelas apa yang diinginkan-Nya.
  2. Musa harus mengetahui Kehendak Alllah supaya penyampaiannya kepada rakyat Israel tidak salah
  3. Musa harus mendelegasikan tanggung-jawabnya kebeberapa orang Yitro menyerankan Musa mencari orang-orang yang cakap, takut akan Allah dan dapat dipercaya. Orang itu juga harus benci kepada pengejaran suap. Hanya merekalah yang boleh menjadi pemimpin (18:21) Cara kerja yang disaran Yitro ini yang dipakai hingga hari ini oleh para ahli management dan juga organisasi-organisasi resmi. Pendelegasian tugas, sehingga menciptakan sinergi yang lebih besar. Apa yang menjadi pelajaran kita hari ini? Sebagai seorang percaya kita harus menentukan prioritas dalam hidup kita. Terlalu banyak tuntutan yang harus dijalankan dalam kehidupan orang percaya. Tanpa pertolongan Tuhan kita tidak sanggup menjalaninya. Makanya prioritaskan hidup kita agar senantiasa berjalan di dalam kehendak Tuhan.

Jemaat Tuhan Terkasih, Apa yang menjadi pelajaran kepemimpinan mendasar kepada kita untuk dilaksanakan dalam Keluarga (Rumah Tangga), pekerjaan dan Masyarakat? Pertama, kita tidak boleh mengabaikan hubungan kita dengan Allah. Jadi demi menjaga agar hubungan kita semakin dewasa dihadapan Tuhan maka kita perlu pengalaman dengan Tuhan. Maka untuk mendapatkan pengalaman itu maka kita perlu sungguh-sungguh belajar firman Tuhan, setelah itu kita perlu juga mengalami hubungan yang intim dengan-Nya dengan demikian maka kita dapat menceritakan kepada orang lain. Kedua, kita tidak boleh mengabaikan keluarga. Hubungan dengan Allah tidak boleh menggantikan hubungan kita dnegan orang-orang beriman sekitarnya terutama keluarga. Lihatlah Musa, di saat sibuk dengan segala tugas, ia masih sempat bertemu dengan isteri dan anak-anak dan juga dengan mertuanya. Tetapi jika ada seorang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya. Orang itu murtad dan lebih buruk dari seorang beriman (1Tim.5:8). Ketiga, kita tidak boleh mengabaikan tanggung-jawab pekerjaan kita. Di dalam Kolose 3:23-24 rasul Paulus mengatakan, “Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan baguimu sebagai upah” Jadi fokus memusatkan perhatian kepada segala tugas dengan penuh tanggung jawab sangat penting. Membaca Alkitab, melayani Tuhan itu penting bagi orang percaya, namun kalau pada saat jam kerja Anda membaca Alkitab dan melayani Tuhan; maka Anda telah melalaikan tanggung jawab sebagai orang percaya di tempat kerja. Keempat, tidak mengangap remeh siapapun, baik dia orang yang lebih muda, maupun yang lebih tua, mereka yang lebih lemah atau bawahan. Mungkin bagi banyak orang menganggap sang mertua itu orang kolot dan ketinggalan jaman, namun bagi Musa justru mertuanya sebagai sang penyelamat sebab idenya sangat cemerlang dan munculnya tanpa di duga. Jika tidak ada intervensi Tuhan, kita yakin semua ini tidak bakal terjadi. Lihatlah Tuhan Yesus, ia tetap menghargai semua orang, termasuk orang yang berdosa bahkan mereka yang memusuhi-Nya. Lalu sebagai pengikut-Nya kita melakukan kesalahan yang besar bila kita menganggap remeh orang lain. Tuhan menciptakan semua manusia unik, mereka memiliki kelebihan tersendiri. Mari kita ambil kesempatan untuk melihat kelebihan orang lain, tinggalkan kebiasaan yang selalu menganggap rendah seseorang. Mana tahu, mungkin Anda saat ini yang akan dipakai Tuhan memberi ide cemerlang pada orang lain?

Jemaat Tuhan Terkasih, Saat ini mari kita lihat dari posisi sebagai Pemimpin Rohani. Menjadi pemimpin rohani bukanlah mudah. Saat terpanggil menjadi pemimpin rohani, seseorang harus memikirkan pertumbuhan rohani yang dipimpinnya dan senantiasa memperbaiki diri, agar lebih optimal dalam melayani Tuhan dan gereja-Nya. Namun, kesibukan kerap membuatnya kelelahan secara fisik dan mental. Begitulah situasi Musa saat menjalani panggilan sebagai pemimpin Israel. Musa mesti menghadapi bangsa Israel yang tegar tengkuk. Namun, ia berusaha memimpin dan melayani bangsa Israel dengan sebaik mungkin. Ia menunjukkan sikap rendah hati dengan kesediaannya untuk belajar pada mertuanya. Imam Yitro mengerti beban dan kelelahan Musa saat itu. Ia menasihati Musa untuk mengangkat hakim-hakim guna mengurangi bebannya (ay.17-23). Musa mendengarkan nasihat mertuanya yang dapat mengoptimalkan pelayanannya (ay. 24)-suatu bukti akan kerendahan hatinya. Beban pelayanan begitu berat dan kadang-kadang kita tidak dapat memikulnya seorang diri. Jika kita kelelahan, akhirnya pelayanan kita malah tidak efektif atau kita bisa melupakan waktu teduh bersama Tuhan. Itu berbahaya sekali bagi kondisi kerohanian kita! Jika ada seseorang yang bersedia menasihati, cernalah baik-baik, siapa tahu nasihat itu berguna bagi kita. Saat kita hebat, kita perlu ingat bahwa kita perlu banyak penasihat yang dapat menolong kita bertumbuh baik secara pribadi maupun dalam pelayanan yang sudah Tuhan percayakan saat ini, karena itu, MINTALAH TUHAN MEMBERI TELINGA UNTUK KITA MAU MENDENGARKAN NASIHAT ORANG LAIN. Amin.

Bernyanyi BE.723,1-2 “Tu JoloM o Tuhan”

♫  Tu joloM O Tuhan, sahat ma diringkon, Pangke ma au hombar tu lomoM/ Molo ndang Ho Tuhan, maringanan di au, Diringkon ndang mararga be I/ (Ref.) tung pogos pe dison manang sonang tahe marsigantung tu Ho sasude Holan Ho huihuthon ndang be diringkon Togutogu ma tu na ture

Tu joloM O Tuhan, sai gara rohangkon, Tung unduk do mangoloi Ho/
TondiMi ma tongtong, margogoihon au on, Mangulahon lomo ni rohaM/ (Ref.) Tung pogos pe dison …

Doa Syafaat

Pokok-Pokok Doa: (1) Warga Jemaat yang sakit, yang terkait Covid-19 atau tidak, (2) Kedisiplinan dalam menjalankan Protokol Kesehatan; (3) Wabah Covid 19 dapat dikendalikan; (4)Proses Pembangunan Gedung Sekolah Minggu dan Rumah Pastori; dll …

Bernyanyi BE.690:1+4 “Hibul Rohangku” (Persembahan)

Hibul rohangku tu Tuhan Jesus, Sude ngolungku di Tuhan Jesus/ Ihuthononku do Tuhan Jesus, Ndang olo au sumurut be.

♫  Beta ihuthon ma Tuhan Jesus, Ho na dijou do, roham patulus/ Beta ihuthon ma Tuhan Jesus, Sai unang ho sumurut be.

Doa Persembahan – Doa Bapa Kami – Amin, Amin, Amin

P- Ya Allah, Bapa Kami yang di Surga, kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami. Di akhir ibadah ini kami menyerahkan persembahan kami sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah agar dapat dipergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Amin. Secara bersama mari mengucapkan Doa Bapa Kami ….

S-  Menyanyikan: Amin, Amin, Amin.

 

LITURGI PARTANGIANGAN KELUARGA 30 SEPTEMBER 2020

Bernyanyi BE.4:1+3 “Sai Puji Debata”

♫  Sai puji Debata Dibaen asi rohaNa/Huhut tongtong basa Di nasa tinompaNa/ Ria ma hita be Mamuji Debata/ Ai sesa do nuaeng Dosanta i dibaen.

♫  Dibahen i tama Pujion ni rohanta/ Tuhanta Debata Nang Jesus pe AnakNa/ Nang pangondian i Naung ro tu hita on/Manggonti Jesus i Pujion do tongtong.

Votum – Introitus – Doa (P- Pemimpin; K-Keluarga; S- Semua)

P-  Di dalam nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi.

K-  Amin

P-  Dari jauh Tuhan menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setiaku kepadamu”. Marilah kita berdoa: Ya Allah Bapa kami yang di Surga! Berikanlah bagi kami Roh kedamaian dan kebenaran supaya kami mengerti kehendakMu, dan dengan segenap kekuatan kami dapat melakukan kedamaian dan kebenaran itu oleh karena AnakMu Tuhan Yesus Kristus Tuhan kami. Amin.

Bernyanyi BE.719:1-2 “Hubege SoaraM O Jesus”

♫    Hubege soaraM O Jesus, Hubege soaraM O Jesus/ Hubege soaraM O Jesus, Na manjouhon “ihuthon ma au”/Togu au Jesus Tuhanku, Iringiring ma langkangku/ Patuduhon ma dalanMu,Asa unang unang lilu au.

♫    Hupasahat ma diringku Hupasahat ma diringku Hupasahat ma diringku  Mangihuthon Jesus Tuhanki/ Togu au Jesus Tuhanku, Iringiring ma langkangku, Patuduhon ma dalanMu, Asa unang unang lilu au.

Pembacaan Alkitab dan Renungan: 1KORINTUS 11,8-12

P-    Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki.

K-   Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.

P-    Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat.

K–   Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.

P-    Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.

“KITA SETARA DIHADAPAN TUHAN”

Jemaat Tuhan Terkasih,

Dalam tradisi orang Yahudi, perempuan tidak memiliki hak dan kebebasan yang sama dengan laki-laki. Namun, dalam perikop ini, Paulus memberikan kebebasan kepada perempuan di dalam gereja. Hal ini tampak dari diperbolehkannya mereka melayani – berdoa dan bernubuat – dalam gereja. Namun, di samping kebebasan itu, Paulus memberikan persyaratan yaitu bahwa dalam kebebasan untuk melayani, perempuan harus mengenakan tudung. Mengapa? Pertama, bagi mereka yang sudah menikah, jika tidak menudungi kepalanya itu menandakan ketidaksetiaannya kepada suaminya, dan sedang mencari laki-laki lain. Mereka akan menjadi sama para perempuan tunasusila yang memang sedang mencari laki-laki. Kedua, dalam dunia Yunani dan Yahudi, suami adalah kepala dari istri. Ketika istri tidak menudungi kepalanya, ia menghina suaminya. Itulah sebabnya Paulus menginginkan suatu perbedaan yang sangat hakiki bagi perempuan yang melayani, yaitu bahwa dia adalah perempuan yang setia terhadap suami, dan menghormati suaminya. Meskipun demikian, Paulus perlu menegaskan bahwa keharusan wanita memakai tudung ini tidak berarti menunjukkan wanita lebih rendah daripada pria, karena baik pria maupun wanita sama berharga di mata Tuhan dan saling memerlukan satu dengan yang lain. Demikian juga, di masa kini, wanita tidak boleh direndahkan atau diperlakukan sewenang-wenang hanya karena ia adalah kaum yang lebih lemah. Justru Alkitab mencatat demikian supaya para pria melindungi, mengayomi dan mengasihi wanita. Wanita juga harus mendapatkan kesempatan yang sama dengan pria dalam bidang apa pun, termasuk dalam pelayanan di rumah Tuhan, tanpa melupakan peran dan fungsinya yang unik sebagai wanita.

Jemaat Tuhan Terkasih, teks kita saat ini sering disalahpahami sebagai teks yang berbicara tentang sikap dan penampilan wanita dalam berliturgi. Hal ini kurang tepat. Lebih tepat apabila teks ini dipahami sebagai komentar Paulus mengenai penampilan yang tepat bagi pria dan wanita dalam berdoa dan bernubuat. Banyak problem dalam kehidupan jemaat di Korintus muncul sebagai akibat dari sikap meremehkan dan acuh tak acuh terhadap hal-hal fisik dan kelakuan yang baik, padahal sikap remeh dan acuh tak acuh terhadap hal-hal fisik ini dapat mengantar kepada pelecehan yang lebih serius atas kewibawaan dan kebebasan Kristen, serta merusak tujuan sesungguhnya dari tindakan liturgi dan ibadah. Paulus juga mendorong umat Korintus untuk menghargai perbedaan gender. Tindakan menolak perbedaan ini oleh Paulus dianggap sebagai tindakan menolak tatanan yang dimaksudkan Allah dalam menciptakan pria dan wanita. Rasul Paulus dalam ayat 7-12 menggunakan cerita penciptaan dari Kejadian pasal 2. Laki-laki diciptakan oleh Allah, dan perempuan berasal dari laki-laki, laki-laki (bukan perempuan) secara langsung adalah “sinar dan gambaran Allah”. Urutan tatanannya adalah; wanita, laki-laki, Allah. Dalam ayat 8-9 Paulus mengelaborasi gagasan ini, dan pada ay.10 ia menerapkannya pada kerudung. Akan tetapi pada ayat 11-12 koreksi dimasukkan: wanita dan pria adalah sama; mereka saling membutuhkan satu sama lain.

Jemaat Tuhan Terkasih, Tindakan umat Korintus yang kelihatannya sepele ternyata ditanggapi secara serius oleh Paulus, bukan karena tingkah laku jemaat wanita di Korintus menimbulkan kekacauan di dalam komunitas jemaat, melainkan karena mereka melecehkan tatanan ciptaan Allah. Kepada para wanita yang tidak menutupi kepalanya Paulus tidak memberikan perintah khusus untuk melakukan sesuatu, tetapi Paulus mengajarkan bahwa wanita disalahkan apabila dalam beberapa hal mengabaikan perbedaan mereka dengan para pria, termasuk perbedaan di dalam Gereja. Teguran ini tepat untuk segala keadaan, bahkan apabila seseorang mengklaim jika apa yang disampaikan Paulus ini tidak merujuk pada perilaku publik, melainkan perihal pelayanan di rumah. Dalam kekristenan, khususnya Alkitab, laki-laki dan perempuan pada dasarnya memiliki status dan peran yang sama. Mereka diciptakan segambar dengan Allah dan berasal dari satu sumber. Laki-laki berasal dari Allah dan perempuan berasal dari laki-laki. Laki-laki dan perempuan ditempat di dunia ini secara bersama-sama dalam satu kesatuan, dalam sebuah relasi baik personal/pribadi maupun kerja. Mereka berfungsi untuk mengelola, memanfaatkan dan memelihara dunia ciptaan Tuhan dan sekaligus berreproduksi untuk melanjutkan keturunan/manusia. Namun dalam lingkungan umat Kristen sejak awal maupun hingga saat ini, ada saja pandangan dan sikap yang membeda-bedakan kedua jenis kelamin itu. Ini memang dipengaruhi oleh budaya atau adat istiadat di mana umat itu berada. Ini yang perlu dipahami oleh kita sebagai orang Kristen pada masa kini dan dengan begitu kita tidak menerima dan menerapkan begitu saja ajaran dan praktek yang merendahkan salah satu pihak, terutama perempuan. Melihat status dan peran laki-laki dan perempuan sebagaimana diciptakan oleh Tuhan, ada persamaan atau kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Ini yang perlu diperjuangkan oleh setiap orang percaya. Amin.

Bernyanyi BE.730,1+3 “Sai Patau Ma Diringku Ale Tuhan”

♫  Sai patau ma diringku ale Tuhan, Papatarhon hinauliMi Tuhan/ Suru ma tondiMi, saor tu rohangki/ Lao papatar HolongMu tu donganki.

♫  Sai patau ma diringku ale Tuhan, Papatarhon hinauliMi Tuhan/ Suru ma TondiMi, saor tu rohangki/ Lao patandahon diriM tu donganki.

Doa Syafaat

Bernyanyi BE.123:1+3 “Ale Dongan na Saroha” (Persembahan)

Ale dongan na saroha, manjalahi dame i/ Dompak Jesus tapasada, holong ni rohanta i/ Ai Ibana do ulunta, hita do ruasNa i/ Tuhan Jesus do gurunta, hita siseanNa i.

Sai pasada ale Tuhan, angka na porsea i/ Asa masihaholongan, songon na pinatikMi/ Di bagasan hasintongan, i do pinangidoMi/ Sai padomu angka dongan, na tutu sinondangMi.

Doa Persembahan – Doa Bapa Kami – Amin, Amin, Amin

P- Ya Allah, Bapa Kami yang di Surga, kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami. Di akhir ibadah ini kami menyerahkan persembahan kami sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah agar dapat dipergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Amin. Secara bersama mari mengucapkan Doa Bapa Kami ….

S-  Menyanyikan: Amin, Amin, Amin.

LITURGI IBADAH PARTANGIANGAN KELUARGA, 23 SEPTEMBER 2020

Bernyanyi BE.205:1-2 “Ale Jesus Tuhannami”

♫   Ale Jesus Tuhannami, Bereng hami na dison/ PinarmahanMi do hami, Saluhutna na dison/ Sai asi rohaM di hami, Sai pangolu hami on/

♫   Ale Jesus, togu hami, Asa unang mago be/ Manang ise sian hami, Sai porsea ma sude/ Sai na hot di Ho ma hami Dao ma jea sasude/

Votum – Introitus – Doa (P- Pemimpin; K-Keluarga; S- Semua)

P-  Di dalam nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi.

K-  Amin

P-  Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi kita. Marilah kita berdoa: Ya Tuhan Allah, Bapa kami yang Maha Pengasih! Kami berkumpul di tempat ini memohon dari segenap hati kami: Kuatkanlah iman kami agar dapat memiliki cara hidup yang baik sesuai dengan kehendakMu. Jaga dan peliharalah kami sampai pada akhir hidup kami, oleh karena AnakMu, Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bernyanyi BE.826:1-2 “Gohi Au Tuhan”

♫   Gohi au Tuhan marhite HataMi/ Gohi au Tuhan marhite HataMi/ Songon hudon na rumar do au Tuhan di sumurMi/Gohi au Tuhan marhite HataMi.

♫   Gohi au Tuhan marhite HataMi/ Gohi au Tuhan marhite HataMi/ Na mauas do tondingku O Tuhan di HataMi/ Gohi au Tuhan marhite HataMi.

Pembacaan Alkitab dan Renungan: LUKAS 14,12-14

P-  Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.

KTetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.

S-  Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

KEPEDULIAN KEPADA DISABILITAS

Jemaat Tuhan Terkasih,

Kisah ini dimulai ketika Tuhan Yesus dan murid-muridnya diundang makan bersama oleh seorang Farisi dalam pesta jamuan yang mewah (14:7-11). Tuhan Yesus melihat dan menyaksikan banyak tamu yang berebutan untuk duduk ditempat terhormat dengan cara mengambil tempat paling depan. Itulah sebabnya Ia mengajar para murid tentang kenyataan ini dan menyampaikan “barangsiapa meninggikan diri, akan direndakan dan barang siapa merendahkan diri akan ditinggikan”. (ay.11). Selesai mengajarkan itu, Tuhan Yesus menyarankan sesuatu kepada tuan rumah tentang bagaimana cara mengundang orang ketika membuat pesta. Inti dari pengajaran Yesus kepada tuan rumah yang mengundangnya adalah: sesungguhnya lebih baik mengundang orang miskin dan terlantar dari pada mengundang orang kaya. Sebab dengan mengundang orang terhormat atapun kaya, mereka pasti membalas kebaikannmu. Namun jika mengundang orang susah dan miskin, mereka sudah pasti tidak mampu membalasnya, Namun Tuhan sendiri yang akan membalas kebaikanmu itu. Bagaimana memahami ucapan Tuhan Yesus ini? Sebelumnya marilah kita melihat dan memahami kondisi kehidupan dan status sosial saat itu. Di Israel kala itu, orang miskin, orang cacat, orang lumpuh dan orang buta tidak mendapat tunjangan sosial karena belum terpikirkan oleh penguasa pada jaman itu. Jadi di tengah-tengah masyarakat jaman itu ada cukup banyak orang miskin yang terlantar. Mereka umumnya adalah orang-orang cacat yang tidak dapat bekerja, dan dengan demikian tidak memiliki penghasilan. Mereka biasanya bergantung pada sedekah untuk bisa bertahan hidup. Dan Tuhan Yesus, pada jaman itu, berkata, “Undanglah orang-orang miskin.” Mengapa? Karena mereka tidak akan mampu untuk balas menjamu kita! Lalu apa keuntungan buat kita dengan mengundang para gelandangan yang tidak akan mampu membalas jamuan saya? Banyak orang berpikir bahwa seharusnya yang kita undang adalah mereka yang mampu untuk balik menjamu kita. Begitulah, cara Allah berpikir bertentangan dengan cara manusia berpikir. Ini adalah teguran yang jauh lebih sering kita langgar ketimbang kita jalankan, kita mengundang teman-teman, saudara, kerabat atau juga tetangga kita yang mampu, orang-orang yang ingin kita dekati demi suatu hubungan yang saling menguntungkan, bukankah begitu? Ini adalah suatu praktek yang sudah umum dijalankan oleh orang dunia. Untuk apa anda mengundang seseorang tertentu? Karena pada umumnya setiap orang ingin membangun suatu hubungan yang baik dengan orang itu dan berharap dapat memperoleh manfaat dari hubungan ini.

Jemaat Tuhan Terkasih, Jikalau diperhadapkan dengan kondisi kehidupan sosial kita saat ini  kita akan menemukan: (1) Banyak orang mengundang orang-orang tertentu dengan tujuan untuk mendapatkan manfaat bagi diri sendiri. (2) Banyak memberi dengan harapan untuk dapat menuai suatu hasil dari orang yang menerima pemberian itu. Mengapa? Karena perhatian sering hanya tertuju pada urusan kehormatan ataupun keuntungan. Akan tetapi Tuhan Yesus berkata, “Jika engkau mengejar hasil langsung dari dalam hidup ini dan dari orang-orang di sekitarmu, maka engkau tidak akan memperoleh upah dari Allah.” Ajaran Tuhan terasa sulit karena kita tidak berpikir seperti Dia. Cara kita berpikir condong kepada cara pikir dunia. Kita terikat dalam cara pikir dunia. Dalam benak kita, maka tindakan yang pantas dilakukan adalah tindakan yang memberi keuntungan bagi kita. Prinsip yang sering dibangun dalam dunia ini adalah: “Jika saya mengundang seseorang, saya perlu menghitung manfaat apa yang bisa saya dapatkan dengan mengundang orang itu”. Apakah itu keliru? Tentu saja TIDAK. Sebab bukankah demikian seharusnya terjadi dalam hal memberi dan menerima? Namum pemikiran itu walau kelihatan BENAR, akan menjadi berbeda dengan ajaran Firman Tuhan. Yakni cara dan prinsip memberi berbuat kebajikan menurut Tuhan Yesus. Bagaimana jalan pikiran Tuhan Yesus? Ia memberitahukannya di ayat 13, “Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan,” bukan sekadar acara makan bersama akan tetapi suatu perjamuan, pesta makan yang tentunya perlu biaya besar, apa yang harus anda lakukan? Ia berkata, “Undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu.” Ingatlah pada ucapan Tuhan Yesus yang tercatat di dalam Kisah 20:35, Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.

Jemaat Tuhan Terkasih, Dalam ayat-ayat yang kita bahas hari ini, Tuhan Yesus berkata, “Jika kamu mengundang seseorang, tanyakanlah pada dirimu sendiri, apa yang engkau inginkan? Apakah engkau mengundangnya supaya nanti ia mengundangmu juga sebagai balasannya? Dengan cara berpikir seperti itu, kita sudah mendapatkan upah. Upah untuk kita langsung lunas terbayar. Akan tetapi jika kita melakukan kebaikan kepada orang-orang yang tidak mampu membalas kebaikan kita, maka akan muncul suatu ketidakseimbangan. Kita memberi sesuatu dan tidak mendapatkan balasan langsung. Allah adalah Allah yang adil dan Ia akan bertindak untuk mengembalikan keseimbangan itu. Dengan demikian, Allahlah yang akan membalas perbuatan baik yang sudah kita kerjakan itu. Pertanyaan penting yang perlu direnungkan adalah, Balasan dari siapakah yang kita inginkan? Dari manusia ataukah dari Allah? Kita semua pasti akan lebih memilih menerima balasan dari Allah ketimbang dari manusia, bukan? Akan tetapi kita juga perlu menyadari bahwa untuk dapat melakukannya tentu tidaklah mudah, dan sudah pasti sangat berat. Dari bacaan Firman Tuhan hari ini, ada beberapa hal yang perlu kita renungkan dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni:

  1. Apabila kita mengerjakan suatu kebaikan kepada orang lain, apakah motivasi dibalik perbuatan kita ini? Banyak orang melakukan kebaikan agar beroleh kebaikan pula dari orang lain. Itu sungguh manusiawi dan wajar. Namun sebagai orang percaya kita diajarkan bahwa perlu cara pandang ini kita naikkan ke level yang lebih mulia sesuai kemauan Tuhan. Apakah kemauan Tuhan itu? Kita harus berbuat baik kepada semua orang walaupun kita tahu bahwa kelak nanti kita tidak memperoleh balasan setimpal dari orang itu. Motivasi kebaikan yg kita buat harusnya menjadi kesaksian iman kita, sehingga tidak harus beroleh balasan baik juga dari orang lain. Itulah yang dituntut dari Tuhan untuk kita kerjakan.
  2. Apakah keuntungan dari mengerjakan kebaikan tanpa berharap balasan dari orang lain? Jawabnya adalah Tuhan sendirilah yang akan membalas kebaikan itu. Ini memberikan suatu hal yang lebih sukacita sebab bukan manusia yang membalas kebaikan kita, namun Tuhan sendiri yang turun tangan untuk membalas semua perbuatan mulia itu.

Saat ini Firman Tuhan meneduhkan kita untuk merubah cara pandang atas segala kebaikan yang kita kerjakan. Berbuatlah terus kebaikan, walaupun mungkin tidak mendapatkan balasan. Sebab sesuai Firman Tuhan hari ini, suatu saat nanti Tuhan sendirilah yang akan membalas semua kebaikan yang kita lakukan tanpa pamrih itu. Kerjakanlah semua hal seakan untuk Tuhan dan bukan kepada manusia. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk melakukannya. Amin.

Bernyanyi BE.724 “Tuhan Baen ma Ngolungkon”

♫  Tuhan baen ma ngolungkon, parbadiai ma di Ho/Pangke ma nang tingkingkon, mamuji pasangap Ho, Mamuji pasangap Ho/

♫  Tanganki di Ho ma i, mangulahon holongMi/ Dohot pangalahongki, sai hombar tu lomoMi, Sai hombar tu lomoMi.

Doa Syafaat

Bernyanyi BE.716:1-2 “Di na Mamolus Sandok Ngolu On” (Persembahan)

♫    Di na mamolus sandok ngolu on, gok do na marsak gale./ Boan sinondang tu na holom i, asa margogo muse./ (Ref.) Bahen ma ahu parhiteanMu, pasupasuM mabaor ma i/ Ale Tuhan hu patupa ma au, baen pasupasu tu dongan sude./

♫     Ula na denggan tu halak sude, songon binaenNa tu ho/ Ingot urupi luhut na gale, gabe parholong ma ho./ (Ref.) Bahen ma ahu …

Doa Persembahan – Doa Bapa Kami – Amin, Amin, Amin

P-  Ya Allah, Bapa Kami yang di Surga, kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami. Di akhir ibadah ini kami menyerahkan persembahan kami sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah agar dapat dipergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Amin. Secara bersama mari mengucapkan Doa Bapa Kami ….

S-   Menyanyikan: Amin, Amin, Amin.

LITURGI PARTANGIANGAN KELUARGA, RABU 16 SEPTEMBER 2020

Bernyanyi BE.135:1+3 “Marpungu Di JoloMon”

♫   Marpungu do di joloMon, Marsada roha hami on, O Jesus Tuhannami/ Ho, Raja na tarsilang i, Na pinatimbo i muse, Sai ro ma Ho tu hami/ Olo, jalo, Ma tangiang pamujian di goarMu, Ala holong ni rohaMu/

♫   Ho do nampuna hami on, Rodi sandok portibi on, Ho ingkon sombaonna/ Nang lan dope na modom i, Hinorhon ni jeana i, Ho do Tangihononna/ Ingkon monang Ho, O Tuhan maralohon haholomon, Ho do Raja sioloan/

Votum – Introitus – Doa (P- Pemimpin; K-Keluarga; S- Semua)

P-  Di dalam nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi.

K- Amin

P-  Tuhan itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepadaNya. Marilah kita berdoa: Ya Tuhan Allah! Kasihanilah kami, karena kami tidak dapat berbuat sesuatu apapun kalau Tuhan tidak bersama kami. Berilah hal-hal yang rohani bagi kami supaya kami dapat melakukan kehendakMu. Sertailah kami supaya kami bersama dengan Tuhan melalui FirmanMu, oleh karena AnakMu Tuhan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bernyanyi BE.755:1-2 “Haposan Ho Tuhan”

♫   Haposan Ho Tuhan, hot do holongMu, Di las ni roha tingki arsak pe/ Asi ni rohaMi nang pambaenanMu, Ho Sipalua pangondingan pe/ Haposan Ho Tuhan, Haposan Ho Tuhan, Ndang na mansohot asi ni rohaM/ Nasa na ringkot di au diparade, Tung ala ni asiM do i sude/

♫   Logo ni ari nang rondo ni ari, Nang tano laut bulan bintang i/ Sude tinompaMi manghatindanghon, Denggan ni basaMi di hami on/ Haposan Ho Tuhan, Haposan Ho Tuhan, Ndang na mansohot asi ni rohaM/ Nasa na ringkot di au diparade Tung ala ni asiM do i sude.

Pembacaan Alkitab dan Renungan: 1RAJARAJA 19,9-18

P- Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”

K- Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.”

P- Lalu firman-Nya: “Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!” Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu.

K- Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.

P- Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”

K- Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku.”

P- Firman TUHAN kepadanya: “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram.

K- Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau.

P- Maka siapa yang terluput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu; dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa.

K-  Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia.”

“PENYERTAAN ALLAH ITU NYATA, JANGAN TAKUT!”

Jemaat Terkasih,

Ada fakta yang tak bisa dipungkiri, hidup kita tidak dapat dipisahkan dari penderitaan. Terhadap hal ini, masing-masing kita, memiliki cara berbeda dalam meresponnya. Untuk menghindari penderitaan, tidak sedikit orang hidup menjauh dari jalan panggilanNya. Salah satunya adalah Elia!Dia yang dipakai Tuhan secara luar biasa, bisa juga putus asa! Ya, Elia putus asa dan meminta mati setelah lari dari ancaman Izebel, permaisuri raja Ahab (19:1-4). Dia ketakutan karena diancam akan dibunuh, ia melarikan diri ke padang gurun dan gua dan minta mati kepada Tuhan. Di ayat 9 dan 13, Allah bertanya, “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” Pertanyaan ini mendorong Elia berefleksi mengenai panggilan dan keberadaannya: apakah ia berada di ‘tempat’ dimana seharusnya ia dipanggil? Elia adalah seorang Nabi yang dipanggil untuk bekerja segiat-giatnya menyatakan firman Tuhan di tengah-tengah bangsanya yang meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala. Tetapi mengapa ia bersembunyi, dalam sebuah gua? Bukankah seharusnya ia berada ditengah-tengah bangsanya menyampaikan firman Allah? Jawaban Elia atas pertanyaan Tuhan menunjukkan apa yang menjadi kegelisahan hatinya. Ia merasa sendirian dan takut dan meninggalkan jalan panggilannya.

Jemaat Terkasih,

Ketika kita memperhatikan dialog Allah dengan hambaNya Elia, ada beberapa hal yang bernilai yang menjadi perenungan kita saat ini, Pertama, Keputusasaan Menyebabkan Kita Salah Menilai Allah. Ketika Tuhan Allah bertanya pada Elia “Apakah kerjamu di sini?”, maka Elia menjawab “Bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan!” (ay.10). Benarkah? Tidak! Dia sedang melarikan diri! Elia tidak mengakui kelemahannya, justru balik menyerang Tuhan. Elia berkata bahwa dirinya bekerja sendirian, sedangkan Tuhan tidak berbuat apa-apa! Elia menunjukkan bahwa hanya dia yang bekerja sendiri, lihat saja semua orang Israel murtad, mezbah-mezbahnya diruntuhkan, semua nabi dibunuh dan dirinya pun diancam! Dimana Tuhan saat ini? Ini yang ditanyakan Elia. Elia salah menilai Tuhan. Dia beranggapan bahwa dia hanya bekerja sendirian, Allah tidak peduli! Bukankah ini yang kita alami jika kita menghadapi pergumulan yang berat dan mulai putus asa. Kita merasa bergumul sendirian! Padahal Tuhan Yesus tidak pernah membiarkan kita bergumul sendiri, Dia ada seperti kehadiranNya dan menanyakan; “Apa yang sedang kita kerjakan di sini?”  Tinggalkan putus asa, lihat Tuhan tidak membiarkan kita bergumul sendiri. Datanglah pada Tuhan Yesus dan sampaikan kondisi kita dengan jujur. Kedua, Keputuasaan Menyebabkan Kita Salah Menilai Kondisi di Sekitar kita. Rasa putus asa menyebabkan Elia memandang pergumulannya sangat berat dan laporannya pada Tuhan pun jadi tidak tepat bahkan berbeda dengan kenyataan! Perhatikan laporan Elia dan keadaan yang sebenarnya di bawah ini (ay.10, 14).

Laporan Elia: Semua orang Israel meninggalkan perjanjian Tuhan, Faktanya: Tidak semua orang Israel meninggalkan perjanjian Tuhan (murtad)     masih ada 7000 orang yang setia. Laporan Elia: Semua nabi dibunuh dan hanya tinggal Elia saja nabi di Israel. Faktanya: Masih ada 100 nabi Tuhan yang disembunyikan Obaja dan terpelihara (18:7,13). Jangan terus dalam keputusasaan, kita jadi sulit melihat kenyataan yang sebenarnya yang seringkali tidak seburuk yang kita lihat dalam ‘kacamata’ keputusasaan. Bangkit dan bersemangatlah dalam Tuhan Yesus ada kekuatan dan pertolongan! Ketiga, Keputusasaan Menyebabkan Kita Tidak Dapat Melihat Campur Tangan Tuhan Dalam Hidup Kita. Keputusasaan Elia membuatnya tidak melihat tangan Tuhan yang sejak mulanya menjangkau hidupnya. Bahkan saat Elia takut dan putus asa, Allah sudah mengulurkan tanganNya untuk menolong, sayangnya Elia sudah dibutakan oleh rasa putus asanya. Bukankah murid-murid Tuhan Yesus mengalami hal yang sama ketika perahu mereka digoncang badai dan hampir tenggelam? Mereka juga tidak mampu melihat Tuhan yang datang dan menyebut Tuhan sebagai hantu! Tuhan tahu pergumulan Elia dan Tuhan bertindak! Bayangkan saja malaikat datang dan memberi makanan dan air untuk diminum (ay.19:5). Seharusnya kehadiran malaikat sangat menguatkan Elia, tetapi tidak demikian itu ‘biasa saja’ bagi Elia. Apakah ada makanan dan minuman yang seajaib yang diterima Elia dari Tuhan? (19:6-8). Munculnya ajaib dan dampaknya pun ajaib, Elia dapat berjalan 40 hari ke gunung Horeb! Tapi itu juga nampaknya tidak menguatkan Elia. Terakhir, Tuhan berfirman dan hadir! Elia masih juga putus asa, nampak dari jawabannya pada Tuhan! (19:9-18). Inilah bahaya putus asa! Putus asa menutup mata dan telinga kita untuk dapat melihat campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan Yesus tidak pernah membiarkan dan meninggalkan anak-anakNya! Ini yang kita temukan dalam Alkitab dan kita mesti mempercayainya, seperti halnya Elia tidak pernah ditinggalkanNya! Lihatlah, jika kita ada sampai hari ini, bukankah karena kekuatan dan kasih Tuhan Yesus? Perhatikan, Tuhan hadir dan berbicara kepada kita lewat firmanNya entah saat renungan pribadi atau di gereja. Bukankah Dia menyapa dan menguatkan kita?

Jemaat Terkasih, Pertanyaan Tuhan kepada Elia juga senantiasa diarahkan kepada kita untuk mengajak kita mengevaluasi apakah jalan kita masih di jalanNya, atau sudahkah menjauhinya karena enggan menderita. Seorang yang ingin hidup setia dalam jalan panggilannya harus rela meninggalkan kenyamanan dan keamanan semu demi panggilannya. Allah berkuasa memelihara hambaNya di dalam berbagai penderitaan karena jalan panggilan itu. Di tengah berbagai kesulitan, ketika badai hidup menerjang, apakah kita merasa hidup ini seolah-olah gelap sama sekali…? Kita lalu merasa sebagai orang yang paling malang di dunia ini. Baiklah kita sejenak berdiam diri. Kita fokuskan pikiran kita kepada hal-hal yang indah dalam hidup ini, mungkin kicau burung yang merdu, atau tawa riang anak-anak di sekitar kita, atau juga para sahabat yang selalu mendukung kita. Percayalah, kita akan menemukan kenyataan bahwa hidup kita tidaklah sekelam yang kita duga. “Ruang putih” dalam kertas hidup kita masih jauh lebih luas di banding satu “titik hitam” beban yang ada di situ.

Jemaat Terkasih, Ada yang berputus asa hari ini? Awas, keputusasaan menyebabkan kita salah menilai Allah, salah menilai kondisi yang sebenarnya dan menghalangi mata dan hati kita untuk melihat campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Bangkit dan bersemangatlah, karena sebenarnya Tuhan kita, Yesus Kristus, tidak pernah membiarkan dan meninggalkan kita bergumul sendirian. Tuhan masih ada dan tetap ada sampai hari ini bahkan ketika kita merasa gagal dan putus asa dalam kehidupan nikah, gagal dalam mendidik anak, juga gagal dalam studi dan pekerjaan, Dia ada dan menolong kita dengan cara-Nya yang bisa spektakuler atau lembut, tenang dan damai. Jangan kita membanding-bandingkan atau mengharapkan pertolongan Tuhan seperti yang dialami orang lain bahkan membandingkan dengan pengalaman masa lalu. Ingat, apapun pergumulan yang kita alami sekarang, Dia ada dan siap sedia menolong kita dengan cara-Nya sendiri.  Amin.

Bernyanyi BE.575 “Puji Ma Debata Na Songkal”

♫    Puji ma Debata na songkal, Pasangap ma goarNa/ Puji ma angka rura dohot lung, angka dolok na timbo/ Dohot hasak ni galumbang sude mamuji Ho/ Langit i, na mansai hembang/ Bintang i, na mansai torang/
Ombun i, na mansai saksak, Pasangaphon Ho, O Debata/ Tung so olo tading au, lao mamuji Ho Tuhan/ Nasa gogo bahenonku, lao  pasangaphon Ho/ Ro di ujung ni ngolungku, sai pujionku Ho/

 Doa Syafaat

Bernyanyi BE.706:1+3 “Godang ni Pasupasu i” (Persembahan)

♫   Godang ni pasupasu i, dilehon Tuhanki/Tarlobi asiasiMi, marhite anakMi/ Jaloma pujianki, Jesus Sipalua i/ Boi au bongot tu Surgo i, Marnida hasangaponMi/

♫    Ndang dung mansohot basaMi, saleleng ngolungki/ Ho ma tongtong pujionki, sangap di goarMi/ Jaloma pujianki, Jesus Sipalua i/ Boi au bongot tu Surgo i, Marnida hasangaponMi/

Doa Persembahan – Doa Bapa Kami – Amin, Amin, Amin

P-  Ya Allah, Bapa Kami yang di Surga, kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami. Di akhir ibadah ini kami menyerahkan persembahan kami sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah agar dapat dipergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Amin. Secara bersama mari mengucapkan Doa Bapa Kami ….

S-   Menyanyikan: Amin, Amin, Amin.

 

LITURGI PARTANGIANGAN KELUARGA, 02 SEPTEMBER 2020

Bernyanyi BE.9:1+3 “Hupuji Holong ni RohaMu”

♫  Hupuji holong ni rohaMu O Tuhan Jesus Rajangki Tu Ho hulehon ma tondingku Ai i do pinangidoMi Huhalupahon ma diringku Mamingkir holong ni rohaMu

 ♫    Huhilala ingkon martuhan Ingkon mangolu au di Ho Ndang jumpang au be hangoluan Aut unang dipatupa Ho Sai Ho do paradiananhu
Sai gok di Ho nama langkangku

 Votum – Introitus – Doa (P- Pemimpin; K-Keluarga; S- Semua)

P-  Di dalam nama Allah Bapa, dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus, yang menciptakan langit dan bumi.

K- Amin

P-  Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling  mengasihi. Marilah kita berdoa: Ya Tuhan Allah yang Mahakuasa, Mahabenar dan Kudus! Engkau melawan dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak, tetapi memohon kepadaMu: Tolonglah kami menjauhi kesombongan, supaya kami jangan tinggi hati, tetapi bimbinglah kami dengan Roh Kudus, supaya kami rendah hati, lemah lembut, penuh cinta kasih, jujur dan sopan terhadap sesama manusia, oleh karena AnakMu Tuhan Yesus Kristus. Amin.

Bernyanyi BE.28:1+4 “Hata ni Jahowa”

♫  Hata ni Jahowa Sipadame jolma Hangoluan i Halalas ni roha Siapuli roha Ni na marsak i Gogo ni Debatangki Paluahon na porsea Sian nasa jea

♫ Hata hangoluan Do nuaeng diboan Parjamita i Na lambok begeon I nuaeng dilehon Tu rohanta i Hita on dijamitai Ai didokkon be do hita Paubahon roha

 Pembacaan Alkitab dan Renungan: KITAB KEJADIAN 37,23-30

P–  Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, mereka pun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu.

KDan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair.

P–  Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar, balsam dan damar ladan, dalam perjalanannya mengangkut barang-barang itu ke Mesir.

KLalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: “Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya?

P–  Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita.” Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu.

KKetika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir.

P–  Ketika Ruben kembali ke sumur itu, ternyata Yusuf tidak ada lagi di dalamnya. Lalu dikoyakkannyalah bajunya,

S–  dan kembalilah ia kepada saudara-saudaranya, katanya: “Anak itu tidak ada lagi, ke manakah aku ini?”

“MANUSIA TIDAK UNTUK DIPERJUALBELIKAN!”

Jemaat Tuhan Terkasih,

Yusuf adalah putra pertama Yakub dari istrinya, Rahel. Yakub sangat menyayangi Yusuf lebih dari saudara-saudaranya yang lain sehingga dia membuatkan Yusuf jubah maha indah. Namun kondisi ini berbanding terbalik dengan saudara-saudaranya yang lain. Yusuf dibenci oleh saudara-saudaranya karena mimpinya yang dirasa merendahkan mereka. Ada dua mimpi Yusuf. Yang pertama tentang berkas-berkas gandum Yusuf yang tegak berdiri, lalu datanglah berkas-berkas gandum saudaranya yang lain dan sujud menyembah berkas-berkas gandum Yusuf. Kedua, mimpi tentang matahari, bulan, dan sebelas bintang yang menyembah Yusuf. Puncak dari kebencian saudara-saudara Yusuf adalah pada saat Yusuf diminta ayahnya untuk melihat saudara-saudaranya yang sedang berada di padang untuk menggembalakan kambing domba. Setelah bertemu dengan saudara2nya, Yusuf dimasukkan ke dalam sumur yang kering, lalu dijual kepada orang Ismael dan dibawa ke Mesir untuk dijual sebagai budak dengan kata lain saudara-saudara Yusuf sudah melakukan human Trafficking.

 Jemaat Tuhan Terkasih, Sesungguhnya bagaimana kekristenan menanggapi ini? Human trafficking atau perdagangan manusia merupakan masalah global yang masih cukup sulit untuk diatasi. Data statistik perdagangan manusia cukup memprihatinkan. Meski data sebenarnya sulit untuk diperoleh, namun diperkirakan setiap tahunnya sekitar 600.000 – 800.000 wanita dan anak-anak menjadi korbannya diseluruh dunia. Dari jumlah diatas, korban di Asia mencapai total terbanyak yaitu sekitar 375 ribu, dimana 200.000-225.000 diantaranya berasal dari Asia Tenggara. Indonesia merupakan kontributor terbesar di Asia Tenggara. Tekanan ekonomi yang berkepanjangan, kesulitan hidup yang membuat banyak keluarga berantakan, rendahnya tingkat pendidikan sehingga mudah terbuai bujuk rayu dan tertipu menjadi alasan utama mengapa kasus perdagangan manusia banyak terjadi di Indonesia. Di sisi lain, tingginya permintaan di beberapa negara, umumnya permintaan untuk dijadikan objek seksual membuat banyak orang jahat yang melihatnya sebagai sebuah peluang usaha. Tidak heran begitu banyak wanita dan anak-anak dibawah umur yang tertipu dengan iming-iming kerja di luar negeri, kemudian mengalami pelecehan seksual dan dijadikan pekerja di lokalisasi. Sungguh keterlaluan bukan? Memang berapa sebenarnya harga seorang manusia? apakah harga manusia itu hanya sesuatu yang relatif dan bisa dinilai dengan segepok uang saja? Apa yang mendasari penetapan harga manusia? Rasanya keterlaluan ketika orang merasa berhak untuk memperdagangkan manusia, karena manusia bukan diciptakan oleh manusia, tapi oleh Tuhan. Di mata Tuhan, manusia punya nilai sangat tinggi. Yang mau diingatkan melalui renungan ini adalah Manusia bukan untuk diperjualbelikan! Kita semua begitu berharga di mata Tuhan. Kita bukan ditebus dengan barang fana, harta kekayaan atau benda-benda yang sifatnya sementara, tapi oleh darah Kristus, yang tak bernoda dan bercacat. Bukankah ini bukti nyata bahwa kita sangat berharga di mata Tuhan? Kita semua dilukis pada telapak tanganNya, dan tetap ada dalam ruang mataNya (Yes,49:16). Tuhan begitu mengasihi kita, maka Dia mengorbankan anakNya yang tunggal untuk menyelamatkan kita (Yoh.3:16), merancang masa depan penuh harapan dalam damai sejahtera bagi kita semua (Yer.29:11), dan menyediakan kita semua hingga berkelimpahan (Mat.13:12). Ini semua fakta bahwa kita bernilai sangat tinggi, sangat istimewa, sangat berharga di mata Tuhan. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya (Ef.1:7). Kita memperoleh pengampunan dosa dan keselamatan oleh darah Kristus sendiri. Bukan hanya ditebus, tapi malah kita dibenarkan oleh darahNya,dan karenanya kita diselamatkan dari murka Allah. (Rom.5:9). Inilah harga manusia di mata penciptanya. Hanya orang yang tidak menghargai ciptaan Tuhan-lah yang tega menjual manusia. Karena kita semua telah dibayar lunas langsung dengan darah Kristus di atas kayu salib,kita tidak boleh lagi menjadi hamba manusia. (1Kor.6:20). Kita semua harus menjaga diri kita baik-baik, hidup penuh kekudusan, bukan karena kita punya sejumlah harga di mata manusia, tapi karena kita sungguh berharga di mata Tuhan.
Hargailah diri sendiri dan sesama, karena kita semua sangat bernilai bagi Tuhan, Pencipta kita. Amin!

Bernyanyi BE.481:2-3 “Godang Dope”

♫     Tuhanta Jesus tiruanmu do Na holong roha di au nang di ho Ai diseahon  do diriNa i Singkatta lao tu hamatean i Ndang na dialang holong roha i Ai naeng di hita hangoluan i

♫    Tatiru holong ni rohaNa i Pinatuduhon ni Tuhanta i Tahaholongi ma donganta i Ai ruas ni Tuhanta do nang i Mardame ma, marsijalangan ma Tatuju ma solhot tu Debata

Doa Syafaat

Bernyanyi BE.656:1+3 “Parhahamaranggion” (Persembahan)

♫    Parhahamaranggion i, lam hot jala togu Singkop ma hasadaon i, di Jesus i burju Rap sauduran hita be marholong na tutu Mardame, marlas roha ma di Jesus i tutu

♫     Ai disagihon do ganup asiasiNa i Asa ringgas huhut burju, di ulaonna i Sai lam serep ma rohamu hombar tu Hata i Parholong roha ma hamu maniru Tuhan i

Doa Persembahan – Doa Bapa Kami – Amin, Amin, Amin

P-  Ya Allah, Bapa Kami yang di Surga, kami mengaku bahwa Tuhan adalah sumber dari segala karunia yang melimpah dalam kehidupan kami. Di akhir ibadah ini kami menyerahkan persembahan kami sebagai persembahan kepada Tuhan. Terimalah dan berkatilah agar dapat dipergunakan untuk pekerjaan dan pelayanan kerajaan Tuhan di dunia ini. Bukalah hati kami mengenal betapa banyak berkat dan karunia yang kami peroleh dari Tuhan, supaya kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam nama Yesus Kristus Tuhan kami. Amin. Secara bersama mari mengucapkan Doa Bapa Kami ….

S-   Menyanyikan: Amin, Amin, Amin.